Sebegitu sehatinya kah kita Wahai sahabat Bersamamu saya…


Sebegitu sehatinya kah, kita? Wahai sahabat… Bersamamu, saya memperoleh banyak kemudahan. Darimu pun saya mendapatkan banyak kebaikan. Ya, saya mengerti bahwa engkau adalah salah satu jalan. Hingga sampaikan Kebaikan-Nya padaku. Karena dalam berbagai kesempatan terbaik, engkau membantu. Bersedia tanpa ku minta. Apalagi yang mengalasankanku untuk tidak meneteskan permata kehidupan saat ini? Ai! Beruntungnya saya. Bersyukurnya saya dapat mengenalmu. Bahagianya saya berteman denganmu. Meski kita baru mengenal. Lagi dan lagi, begitu. Baiklah, saya sangat menikmati kebersamaan kita. Meskipun ini tidak akan berlangsung lama. Ya, tiba-tiba saya berpikir demikian. Lalu dengan secepatnya, fikirpun menganggukkan kepalanya. “Ya, betul!”, begini ucapan yang ia sampaikan. “Engkau perlu mengingat”, katanya pula. “Ingatlah, pada Siapa engkau perlu bergantung?”, cerocosnya pula. “Ya, maksud saya sih, hanya untuk kebaikanmu”, ehehehee… 😀 Lagi-lagi ia masih bercuap. “Agar engkau tidak kecewa. Itu saja, wahai sahabatku tersayang, yang selalu membawaku kemanapun engkau pergi. Lalu, engkau bertanya padaku saat engkau membutuhkan jawaban sesegera mungkin”, wahai lagi-lagi saya mendengar celotehan. Namun, suara yang terakhir berbeda dari yang sebelumnya. Suaranya lebih merdu. Sehingga sayapun tersenyum dalam menyimaknya. Lalu ucapnya lagi, “Bukankah? Tempat bergantung kita hanya Satu. Lalu, begitu pula dengan harapan. Simpanlah ia pada Yang Satu tadi. Berikut pengemasannya. Agar harapan kita aman dan tenteram. Karena ia telah berada pada posisi yang tepat. Di lokasi yang tiada pernah dapat terpikirkan oleh sang pikir yang tadi berceloteh. Maupun oleh suara lembut yang tiba-tiba mengingatkan. Tidak. Tiada akan pernah terpikirkan oleh kita. Di mana tempat itu berada. Terasa? Atau teras? Aha! Terasi, aja yuuuk. Nah! Kan bersamanya, kita bisa bikin sambel yang gurih dan yummy, yaa. Mmmm…Oupz! No. Engga jadi. Karena, umumnya rasa sambel pasti pedas kan? Karena ia terbuat dari Cabe. Yang berasa hot, gitu… Kalau kita konsumsi. Nah, kan kita perlu menghindari ‘kepedasan’. Agar kesehatan kita terjaga. Ocres?

Baiklah, kini saatnya kita kembali mengingat tentang banyak kebaikan yang kita terima. Dan semua itu ternyata berasal dari orang yang berbeda. Mulai dari yang masih kecil, hingga para tetua. Wahai sahabat… Betapa berharganya beliau-beliau semua. Lalu, saat kita masih saja belum mau berterima kasih, apa arti semua itu kita terima?

Kebaikan demi kebaikan yang mengalir sedemikian rupa. Termasuk beraneka macam ekspresi yang kita peroleh dari beliau semua? Semua itu menjadi jalan bagi kita untuk dapat melangkah sampai saat ini. Ya, beliau adalah jalan yang membentang indah untuk kita. Lalu, siapkah kita? Ketika jalan yang akan kita tempuh, ternyata terputus! “Cut!”, begini Sang Sutradara bilang. Lalu, para aktorpun berhenti berakting, seketika itu juga. Kemudian, semua pun usai.

Ya, sebelum jalan itu terputus. Saat kita masih melangkah. Sudahkah kita membalas kebaikan demi kebaikan yang kita terima? Wahai sahabat… Saya hanya mampu menunduk. Speechless. Menyaksikan tanda tanya tersebut. Berikut kalimat indah yang membersamainya. Tanpa bahasa. Tanpa huruf-huruf yang bercengkerama. Ya, dalam kondisi yang sama. Ketika saya membutuhkannya, tiba-tiba para huruf menghilang. Ngumpet. Entah di mana. Sehingga tidak mudah bagi saya untuk memanggilnya. “Engkau masih punya pilihan, do’a. Ya, do’akan beliau. Bersama kita mendo’akan beliau, yuuuks..?!”, sapa sebuah suara. Lalu, saya menoleh cepat. Ke kiri, ke kanan, menengadah, yaa… Memutar pandangan, segera. Namun, tiada seorangpun di dekatku. Sepi. Sunyi. Senyap. Seperti saat ini. Iiii… Takut, engga? Kalau dalam suasana begini. Ketika tiada yang menemani. Namun tiba-tiba ada suara yang menyahut, pelan, lirih, halus, dan cepat. Dari manakah sumber suara?

Ketika jalan terputus. Maka kita sedang berada di pantai. Kesejukan semilir angin yang bertiup. Ditambah lagi dengan pemandangan lepas di hadapan. Membuat terlena mata memandang. Wahai, lihatlah sahabatku… Di ujung sana ada sebuah kapal. Terlihat kecil. Karena masih jauh. Namun, lama kelamaan, ia mendekat. Dekat. Lalu berlabuh di depan mata. “Mari, kita berangkat”, sapa Sang Nahkoda. Seraya tersenyum. Lalu, kamipun melanjutkan perjuangan. Untuk berlayar, mengarungi samudera kehidupan. Bersama kita bisa!

@clipper ship


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s