Bapak minta tolong ya Mau konfirmasi tentang…


“Bapak, minta tolong ya. Mau konfirmasi tentang pengambilan barang hari ini. Apakah jadi?”, pesan terkirim.

“Barang? Barang apa ya? Barang-barangan? Barang bekas? Apa barang apa ya…”, jawaban yang ku terima.

“1 (satu) dus cukup besar berisi beberapa dus sepatu”, pesan kembali terkirim, sukses!

“Sepatu apa ya? Sepatu besi? Sepatu kulit? Apa sepatu kuda?”, pesan masuk ke istana hati. Tanpa terdeteksi oleh para punggawa nan mengawal.

“Sepatu serupa tempo hari. Bapak, cepet dech, ada apa engga###..”, intonasi pesan mulai bernada -re-.

“##### artinya apa tuh? Engga ngerti. Maksudnya saya mau di beliin sepatu lagi, gitu???”, pesan kembali masuk dengan membawa tanda-tanda “punctuation” melengkung nan bertitik di bawahnya. Tanya.

***

Hayoo…
Siapa yang ngerasa pernah sms-an sama saya pada suatu siang? Ya, tepatnya tadi. Ketika mendung hari menyelimuti diri. Yang mengakibatkan hati dan jiwaku tertawa lepas. Karena ia sangat menikmati segala yang ia jalani saat itu.

Wahai,
Bapak nan baik hati, berbudi, rajin, tulus dalam mengabdi. Saya sangat salut dengan beliau yang loyal dan setia. Bekerja dengan jiwa. Berbagi tanpa pernah jeda. Ai! Dari beliau pula, saya mengetahui arti kekompakan. Meski pada saat yang memerlukan konsentrasi penuh, beliau masih tega berusil ria. Hingga saat yang mempengalamankan itu hadir, kita “kena bersama”. Ya, pada hari yang sepagi itu, badai mengamuk. Hingga samudera nan luas pun tumpah ke daratan. Akhirnya, banjirlah alam nan permai. Basah. Kuyup ia. Karena tumpahan airnya. Eits! Laut hampir tergerus semua. Hingga ke dasarnya. Yang mengakibatkan ia kering saat itu juga. Maka, bertebaranlah banyak makhluk penghuninya ke daratan. Termasuk butiran-butiran mutiara, lengkap dengan karangnya. Ia menggoda daratan dan pasir yang ia temui. Ya, mereka bersapaan, saling bertanya kabar. Kemudian, muncullah sebuah pertanyaan indah ini dari bibir mungil karang nan sedikit membuka, “Apa yang sesungguhnya terjadi?”. Kemudian ia pun mengatupkannya lagi. Untuk menjaga mutiara yang ia peluk erat dalam dekapannya nan perkasa.

***

Puncak keusilan nan membawa hikmah. Tentang badai nan menggelorakan laut jiwa. Akan tetapi, di sanalah kita menemukan makna. Bahwa, tidak selamanya usil berguna. Karena terkadang, ia mampu mengamuk rasa. Mengobrak abrik pantai kesabaran. Lalu mengenai pepohonan nan memagari sang pantai. Nah! Kalau ia tak kokoh? Kiranya, dapatlah kita membayangkan apa yang akan terjadi. Dunia pun tertawa seraya berkata, “Wahai manusia, engkau ada-ada saja.” 😀

@No. Pribadi pukul 19:02


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s