Mutiara ketaqwaan kembali menebarkan bulirannya tiada henti Hingga…


Mutiara ketaqwaan kembali menebarkan bulirannya tiada henti. Hingga sampai pula ia ke lantai hari nan kembar siam dengan selembar sajadah. Sajadah biru bercorak kotak-kotak unyil kemewahan, trapesium-trapesium unik kehidupan, dan segitiga nan menautkan dua hati di puncaknya.

“Ya Rabbana, satukan hati-hati kami dalam cinta-Mu. Kumpulkan ia dalam kebersamaan yang terlama. Dalam waktu yang tidak terhingga. Lalu, damai melingkupinya selama-lamanya. Bersama-Mu”.

Selain bercorak kotak-kotak, trapesium-trapesium dan segitiga-segitiga tadi. Ada pula corak yang lainnya. Yes! 😀 Beberapa belah ketupat nan menempel, mengingatkanku kini, pada “Katupek Pitalah” nan lueszsyaaaat rasanya itu. Wahai, pul-kam yuuk… kita pul-kam. Agar dapat menikmatinya.

Lalu, ada juga corak yang mewujud lingkaran kecil-lingkaran besar. Pun, yang tidak mau ketinggalan adalah corak berbentuk persegi panjang, hingga umbul-umbul tipis nan menjuntai di kedua ujungnya. Ia ada untuk mempercantik hamparan tempat ku bersujud.

Ai! Belum dan tidak akan pernah kering kiranya, aliran sungai dari jiwa. Sungai yang akan terus mengalir, menuju muara kasih sayang. Ya, ia mewujud bening kesejukan. Kesejukan yang tiada akan mampu tergantikan oleh damainya tiupan bayu. Meski semilirnya terkadang datang dengan tipis, untuk menggonta-ganti tampilan diri. Ya, agar kita terpesona padanya. Tidak. Sekali-kali tidak. Kesejukan yang seperti ini, tidak terganti dengan apa pun juga. Karena sejuk nan ia sampaikan, adalah kesejukan nan berteman kehangatan. Wahai, bayangkanlah, rasakan, alamilah. Maka kita dapat ber-screaming ria seketika itu juga. Saat kita telah menemukan bagaimana wujudnya. “Menangislah…”, niscaya engkau sedang bersamanya. Lalu, biarkan matamu nan terjaga, untuk tenggelam beberapa lama. Ya, mengatupkannya.

***

Ada beberapa jenis tangisan. Maksudnya, mengapa kita menangis? Adakah karena kita berduka sedemikian dalam, ketika belum mampu menerima kenyataan. Ataukah karena kita sedang mengarungi kesyahduan bersama alam?. Ya, seraya menikmati ‘view’ yang alam-Nya perankan, kita begitu mudahnya menitikkan setetes demi setetes bening penyejuk. Bening yang kita ambil dari dasar jiwa. Lalu, kita pun menikmati… menghayati… mensenyumi… menandai… serta mengambil pelajaran darinya. Pelajaran untuk kita jadikan sebagai jalan dalam melanjutkan perjalanan ini.

Lalu hadirlah sebuah tanya, “Apa hikmah yang ia titipkan untuk kita, yaa…?”. Lalu, kita kembali tersenyum lebih indah…¥.^

@No. Pribadi pukul 23.03

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s