Suatu hari di awal malam Duduk dua orang…


Suatu hari di awal malam. Duduk dua orang gadis di teras rumahnya. Seraya menatap langit nan berwarna jingga kemerahan, mereka bersenyuman. Saat mata bertemu mata, di sana ada kejujuran. Ya, dengan menatap mata yang terbuka, kita dapat menemukan, di sana ada pesan. Seperti halnya kedua gadis muda tadi. Seorang di antaranya, sedang menatap ke arah dua telaga bening milik sahabatnya. Yes. Beliau bersahabat, semenjak beberapa tahun yang lalu. Persahabatan yang masih mengatup rapat itu, membawa mereka pada pertemuan di awal malam itu.

***

Hanna wal Marjan, nama salah seorang dari mereka. Sedangkan yang lainnya adalah saya. Hahaa… 😀 Lalu, siapakah saya? (* Silakan tanya Hanna, untuk lebih jelasnya. Karena saya yakin, beliau sangat mengenal. Tentang siapa saya.

***

Sapaan lembut di awal pertemuan kita, menjadi jalan terbukanya komunikasi yang selanjutnya. Wahai, untuk apa saya dan Hanna duduk di teras? Padahal malam sudah mulai menyapa? Bukan tanpa makna. Karena saya yakin. Bahwa apapun yang kami lakukan adalah berarti. Kalau tak? Mana mau kami begini.

“Hannaaa, gimana kabar calon suaminya? Apakah beliau baik?”, sapa saya membuka pembicaraan. “Alhamdulillah”, jawab Hanna berteman senyuman yang berbunga-bunga. Ai! Saya dapat merasakan apa yang beliau alami kini. “Lalu, ketemunya kapan lagi, Han?”, tanya saya seraya nyengir, tertawa tertahan, lalu tersenyum pula saya. Hehee. Lalu, Hanna menjawab, (malu-malu gitu), “Udah, kemarin pas Hanna pulang. Kita ketemu. ‘Dia’-nya datang ke rumah Hanna. “Oupz… Trus dia mandang Hanna dong, yaa…”, ceria wajahku membayangkan. “Ia, tapi Hanna senyum aja”, jawab Hanna sambil memandangku, tersenyum Hanna padaku. (OooO… Seperti ini ya, Han, senyumnya, hatiku berkata. Sedangkan wajahku membalas senyuman beliau). Yes. Di dalam mata itu, ada harapan yang indah. (lalu kami terdiam sejenak,..)

“Oia, Han… pasti calon suami Hanna seneng yaa… Akan beristri wanita shalehah. Beruntungnya beliau… Trus beliau anak shaleh kan Han?… Sama seperti Hanna”, ceriwisku mengungkap tanya yang tercipta. “Hehee..! 😀 Hanna kan jadi malu. Insya Allah… Beliau shaleh”, jawab Hanna dengan mata berbunga mawar merah muda, yang harum semerbak aromanya. Haruum…, segar dan muda.

***

Bait-bait rasa menebari hari demi hari,
gempita bahagia penuhi ruang istana hati,
sujud syukur pada-Mu wahai Pencipta kami,
atas segala yang kami jalani,
harapan pada-Mu yaa Ilahi,
tenteramkan sekepinghati ini,
dan pasangannya yang entah di mana kini,
titip rindu dan salam murni,
pada beliau calon pemimpin kami,
tenangkan hati beliau… bersama ingatan yang lebih sering pada-Mu, wahai pemilik diri-diri kami.

@Titip rindu dan salam dari kami


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s