Sejenak ku terdiam berdiri tegak mematung dalam perjalanan…


Sejenak ku terdiam, berdiri tegak mematung dalam perjalanan ini. Ya, meski tak terlalu lama, memang. Namun aku menyadari, saat ini aku baru mulai melangkah lagi. Setelah langkah-langkah kaki ini tiba-tiba beku untuk beberapa saat.

***

Aku? Siapa aku? Yang melangkah dalam panjangnya jalan untuk ku tempuhi. Seorang yang lebih sering belajar untuk berdamai dengan alam-Nya. Kemudian kembali menyapa jalan yang membentangkan jarak, belum ketemu ujungnya. Ya, jalan masih panjang, sedang usia? Ku tak pernah tahu kapan ia berakhir. Nah, betul. Berdiamku sejenak adalah untuk mengingat kematian.

Kematian, adalah satu detik yang akan kita jelang. Ia menjelma sebuah zaman yang pasti akan kita tempuh. Zaman yang menjadi pemisah antara kita dan segala kenikmatan dunia ini. Lalu, kapankah ia datang? Benar, kita tidak tahu kapan? Namun, hanya ada satu pilihan yang dapat kita upaya dalam menyambutnya, tersenyum. Ya, tersenyum kita saat ini, karena membayangkan sehamparan keindahan yang sedang membentang di hadapan. Yes! Kita mendambakan akhir kehidupan yang indah, kan friend? So, tersenyumnya kita saat ini, semoga menjadi jalan nan menghantarkan kita pada sang dambaan. Husnul khatimah, harapan hati. Ya, karena ia berdamai dalam menyambut hari yang sangat menentukan itu. Sedetik lagikah, kesempatan hidup ini tersisa?

Hamba yang beriman, seringkali memilih senyuman untuk menjawab tanya hatinya. Atas berbagai keadaan yang ia jalani. Sedangkan ia belum memahami sepenuhnya tentang makna yang akan ia peroleh dari keadaan tersebut. Ya, senyuman adalah jawaban. Dengan demikian, ia dapat merefresh fikirnya yang semula hadir. Boleh jadi, tanggapan yang ia berikan atas kejadian demi kejadian, belum ia fikirkan dengan benar. Makanya, tersenyumlah ia lebih dahulu, seraya berfikir dalam tanya, “Ada hikmah apa ya, yang dapat saya peroleh dari semua ini? (termasuk apa yang sedang ia temui). Ya, fikirnya hadir beriringan dengan senyuman lebih indah pun mengembang bak kuntum mawar nan merekah. Putih warnanya. Subhanallah, indahnyaa… Apabila kita menyempatkan waktu untuk tersenyum terlebih dahulu, lalu memikirkan. Sebelum kita menanggapi, apa yang ada. So simple, buat mensenyumkan wajah ini. Setelah itu, fikir yang cemerlang pun tersenyum pada kita. Karena ia positif.

Siapa ya? Yang tidak menyukai yang positif-positif? Saya yakin dan percaya, kalau semua kita suka, kan? aHa…?! Mengapa pula saya mengurai kata dengan tanda tanya (?) nan mengalir? Ya, seperti saat ini. Yakin dech, bahwa berfikir positif itu indah. Karena ia mampu mensenyumkan wajah kita kembali, setelah ia tak beraturan. Engkau percayakan? Tentang ketulusan mentari dalam menyinari bumi? Ia cemerlang, karena ia memancarkan sinar yang ada pada wujudnya. So, cemerlangnya wajahmu bersama senyuman, karena engkaupun mempunyai sinar, wahai teman. Ya, sinar yang tanpa engkau sadaripun, sedang mencari celah untuk menampakkan wujudnya. Agar engkaupun tahu, bahwa ia ada.

@ Dear Mentari . . .
Mentari itu adalah engkau, wahai teman.

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s