Bersamamu teman saya belajar mengurai rasa sekata demi…


Bersamamu teman, saya belajar mengurai rasa, sekata demi sekata. Menyusun huruf satu satu, dengan cara memilih dan memilah. Mana huruf yang pas untuk bersandingan dengan huruf yang lainnya. Lalu, di bagian manakah? Kita perlu memberinya jarak. Ataupun tanda-tanda baca. Ai! Belajar kita terus belajar, bersama. Agar kita dapat mengetahui, mengabadikan, lalu menguraikan bahasa jiwa. Lalu, kita menatanya dalam sebuah lembaran hati, berjudul ‘My Surya’. Agar engkau pun tahu, semua ini adalah tentang kita, engkaudanaku.

Namun kini, semenjak hari ini, kita akan berpisah dulu. Untuk sementara saja, yaa, pintaku. Karena sebenarnya, saya pun tiada inginkan ini terjadi, di antara kita. Akan tetapi, “Bukankah hidup ini adalah pilihan, wahai teman”. Oleh karenanya, kita bebas memilih, atas segala yang ada ini. Demi kebaikan bersama, yakinku.

Wahai teman…
Derai airmata nan mengalir deras, menjadi teman dalam mengentaskan serpihan rindu yang akan hadir setelah ini. Rindu padamu, teman. Ya, rindu akan rasa nan menautkan jiwa-jiwa kita lebih erat lagi. Lalu, dapat pula kita merasakan rasa terindah yang tercipta detik itu juga. Keindahan yang belum akan mampu kita uraikan dalam susunan huruf-huruf tua ini. Karena ia adalah rasa yang belia. Rasa yang mampu menyentuh alam bawah sadar kita. Sampai akhirnya, kita terlarut bersamanya, lamaaaaa banget. Lalu, dengan cara terbaik, kita mengemasnya, membungkusnya rapi. Engkau menghiasi box yang engkau pilih, menjadi menarik sedemikian rupa. Untuk selanjutnya, engkau menitipkannya di istana hatiku. Yes! Terima kasih yaa. Saya berusaha menjaganya, teman… Karena ia berisi kumpulan rasa, darimu. Sedangkan saya, pun demikian. Tak mau saya mendekapnya saja, box yang telah rapi ini. Ataupun menyimpannya lagi di istana hati ini. Karena saya, telah menemukan tempat yang terbaik untuk menaruhnya. Yes! Ruang hatimu, masih ada yang kosong, kan… Teman…? Kalau memang masih, tolong izinkan saya untuk memasukinya. Agar saya dapat menyimpan segenap rasa yang tadi telah kita kemas bersama. Boleh, kah?

“Ya, silakan teman.,..”, jawabanmu itu, mampu menenangkanku lebih lama. Setelah ia berada dalam cuaca nan belum tepat.

“Ok, saya menyimpan sekeping hati ini, yang telah ku tata sederhana, di ruang jiwamu. Tolong… Bantu saya dalam mengelap debu-debu yang akan hadir beterbangan di sekitarnya, untuk masa yang selanjutnya. Karena ia titipan dari-Nya”.

@ Dear Mentari . . .
Di sudut ruang harimu, ada senyumanku

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s