Duduk manis ku di hadapan lembaran daun anggrek…


Duduk manis ku di hadapan lembaran daun anggrek tanpa bunga, sore ini. Lalu, memandangku, nun jauh ke depan sana. Jauuuh banget. Lihatlah teman, jejeran perbukitan di hadapanku. Indah susunannya, mampu mengatupkan pelupuk mataku, segera. Kemudian, dalam posisi yang demikian, saya merasakan sepoi bayu mengelus wajah ini. Lembut, tipis, ringan dan kalem. So, sweet. Saya menikmatinya, sempurna.

Lalu, lihatlah, teman. Sejauh pandanganku menatap, di ujung sana, hanya ada kabut putih kebiruan. Ya, grey warnanya. Namun, sebelum engkau menembus kabut tipis tersebut, saksikanlah jejeran atap-atap itu. Ya, atap rumah-rumah penduduk nan berbaris, menambah indahnya pemandangan alam yang sedang kita nikmati.

Wahai, dari sini pun, engkau dapat mendengarkan suara laju kendaraan bermotor nan hilir mudik. Dari arah mana sumber suara-suara itu ya? Sejenak, saya berpaling, memutar arah pandang, untuk menemukan sumber suara. Nah..!, itu dia. Lihatlah ke sebelah kanan sana. Yes! Tepat empat puluh lima derajat, telunjukku mengarah. Ternyata, ada jalan raya di sebelah kanan. Jalur yang dipakai oleh kendaraan roda dua dan roda empat, untuk bergerak. Mereka saling berpacu, mendahului dan berkejaran. Entah apa yang sedang ada dalam fikiran para supir dan pengemudinya, yaa…?

Semoga beliau semua sedang mengingat Allah subhanahu wa Ta’ala, âmîn ya Rabbal’âlamîn…

@ Dear Mentari . . .
Dalam suasana begini, saya belum mampu menangkap sinarmu lagi, wahai teman…


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s