Menjelang mata kita terpejam Alangkah indahnya kalau kita…


Menjelang mata kita terpejam. Alangkah indahnya, kalau kita memanfaatkan waktu yang tersisa ini untuk bermuhasabah. Lebih sering, tentu lebih baik. Ya, sebelum mata kita benar-benar terpejam. Untuk selanjutnya, ia tak mau membuka lagi. Ketika waktu yang menghentikan denyut nadi dan mendiamkan detak jantung kita hadir, menyapa. Ya, apa yang telah kita laksana dalam mengisi masa yang sebelum itu. Wahai teman,…

Tidak akan lama kita di dunia, hanya sementara saja. Kemudian, kita akan menempuh perjalanan yang berikutnya. Tentu saja di alam yang lain. Lalu, tahukah kita? Akan hadirnya, kapan? Sungguh tak pernah kita mengenalinya terlebih dahulu. Bahkan untuk sekadar berbasa-basi sekalipun, ia tak mau. Saat ia hadir di pintu kehidupan kita, maka ia langsung meraih kita, untuk ia bawa menjauh dari raga. Kendatipun raga mengelak. Namun, ia tidak akan mampu berdaya, meski meronta ia menahan kita untuk lebih lama lagi menemaninya.

Wahai ragaku nan tersenyum, menjagalah, bergiatlah, berlatihlah, bertemankan sahabat yang rajin. Seperti mentari itu, yang rajin bersinar, untuk menerangi harimu.

@ Dear Mentari . . .
Sahabatku yang rajin bersinar ¥_^


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s