Maka tersenyumlah ketika engkau masih mampu untuk melakukannya…


Maka tersenyumlah, ketika engkau masih mampu untuk melakukannya saat ini. Sebelum engkau benar-benar tidak berhak lagi dengannya. Oia, mengapa engkau tersenyum, teman? Adakah karena engkau betul sedang berbahagia? Atau malah yang sebaliknya?

Ketika danau yang luas tidak mampu kita renangi, apalagi mengarungi samudera nan membentang. Ya, karena samudera itu, lebih luas dari danau, teman. Ai! Saya menyadari, bahwa engkau telah mengetahui tentang hal ini. Lalu, buat apa saya membahasnya di sini, saat ini? Semata-mata adalah untuk menjadi pengingat bagi diriku yang satu ini. Ya, ia yang terkadang merasa terombang ambing oleh luasnya samudera kehidupan. Ia yang seringkali membuatku tersenyum geli atas tingkahnya nan terkesan aneh bagiku. Bagaimana tidak? Pernah suatu hari, ketika kami sedang sibuk melangkah, bersama. Tiba-tiba ragaku bilang, dia mengantuk. Lalu mataku pun terpejam seketika itu juga. Padahal saya masih sangat ingin bekerjasama dengannya. Ya, untuk membantuku dalam menyemaikan beraneka rasa yang ku punya. Eits! Aneh engga tuh, padahal kan kita berteman. Semestinya ia menemaniku dalam mengisi waktu kita bersama. Karena kita berteman. Namun, tiada yang bisa ku daya,
karena ia telah terlelap. “Sungguh, temanku sang raga perlu berehat”, gumamku bersama senyuman. Enjoyour rest time, ya friend. Nanti kita dapat bersama lagi, ya.

@ Dear Mentari . . .
Sebelum saya ketiduran di angkot, karena ada macet. So, saya bermain-main di sini


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s