Dear Mentari Kemudian ada diantara para pengantar yang…


Dear Mentari,

… Kemudian, ada diantara para pengantar yang mentalqinkanku. Menyirami tanah merah hingga ia basah, memadat. Menaburkan bebungaan, hanya kelopaknya saja. Kemudian ada yang menangis, merenung, entah apa yang beliau pikirkan, saya memang tidak tahu. Larut. Tenggelam. Diam. Berdiri mematung, menundukkan, kepala, lalu terisak-isak. Sebelum akhirnya, seorang demi seorangpun melangkah. Ya, beliau mulai menjauh dariku. Untuk meninggalkanku, atau aku yang meninggalkan beliau?

Sedangkan temanku yang terdekatpun, menyatakan putus hubungan. Ai! Betapa menyedihkan kejadian itu. Aku menangis ataukah engkau yang jatuh tersungkur? Saat memandang gundukan tanah nan tertata, rapi. Ya, karena memang belum ditumbuhi oleh rerumputan nan menghijaukan puncaknya.

Teman, sebelum detik itu hadir, saya perlu menyampaikan padamu, “Bahwa saya sangat menyayangimu. Meskipun engkau hanya mewujud mentari yang berevolusi di relung jiwaku. Walaupun engkau hanya mewujud sinar terang nan memantul di istana hatiku. Kemudian, engkau kembali lagi ke asalmu. Ya, untuk menyinari seluruh alam ciptaan-Nya. Namun, yakinlah, teman. Bahwa sinar cemerlang yang pernah bahkan seringkali engkau tebarkan, masih ku bawa hingga saat ini. Di sini, di istana hatiku, engkau menemaniku, meski hanya sinarmu”.

@_Engkau Menyinari Hatiku dengan Cemerlang Akhlaqmu, Teman_@


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s