Dear Mentari Pagi ini saya duduk manis di…


Dear Mentari,

Pagi ini, saya duduk manis di ruang istana hati. Dengan posisi menghadap ke arah pintu yang terbuka lebar. Yes ia membuka seratus persen. Ditambah pula dengan jendela kaca yang terbuka sekitar sepuluh derajat aja ke arah atas. Ya, karena membukanya bukan ke samping, teman. Lalu, dari arah jendelapun, saya dapat menatap lepas ke depan. Hingga mampu memandang langit nan memutih bercorak biru. Karena berhiaskan awan pagi, nun jauh di atas. Ya, dengan menatap ke depan. Kemudian mengangkat arah pandang dua puluh lima derajat ke atas, dari tempat saya berada kini. Maka langitpun tersenyum menyambut. Lalu, di mana mentari, ya?

Betul. Dari sini, kita tidak akan mampu menyaksikan sunrise yang menakjubkan itu. Kecuali kalau kita mau bergerak ke depan, melangkah menuju halaman, lalu belok kanan. Kemudian menaiki tangga beberapa tingkat. Ya, tangga tersebut adalah jalan menuju kamarnya Hanna Walmarjan. Nah! Dari sana, jelas sangat kerlingan matahari yang bersinar cerah pagi ini. “Tatap mataku lekat, ku silaukan pandangmu”, ucap sang mentari secara tidak langsung. Ketika kita masih saja mengumbar pandang ke arahnya. “Ai! Kok gitu, sih…? Kan kita berteman, wahai mentari”, saya berargumen. So, sudah semestinya, kan, kalau kita berpandangan. Hola… Lalalaa… 😀

Pagi yang sejuk, bersama semilir angin yang membuai ini, saya isi dengan cuci mata. Sambil memandang keluar, tersenyumku pada sinar mentari yang memantul pada atap bangunan nan berdiri kokoh di hadapan. Ya, bangunan tersebut adalah blok B. Bangunan yang berdiri menantang arah matahari terbit itu, berada tepat di depanku. Berseberangan dengan ruang istana hatiku. Dengan bebatuan kecil, namun bukan pasir yang menghubungkan tanah tempat kami berpijak. Sehingga teriakan kecil nan riuh, dengan suara khas bebatuan akan segera terdengar. Ketika ada diantara kami yang menginjaknya. Yes! Kami mesti melakukan ini, teman… Agar dapat sampai di blok tetangga depan. Oia, di blok B, ada beberapa perempuan muda yang menempati. Beliau adalah Mammy, Teh Yuli, dan Widhie. Itu untuk lantai satu. Sedangkan lantai duanya ada Hanna Walmarjan. Yang ruang beliau berada paling pinggir. Sehingga, kalau kita menghabiskan semua anak tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua, maka ruang tempat beliau berada lah yang kita temui pertama kali. Namun, ketika kita mau ke sana, maka Hanna tidak akan ada di ruangan. Karena, beliau lagi merapikan pakaian di lantai satu. Ya, di tempat khusus yang tersedia bagi perapih pakaian. Lokasinya, tepat di samping ruangan bercat putih yang ditempati oleh Siti dan Ukhti. Beliau adalah tetanggaku yang lain. Ai! Indahkan? Tempat kami berkumpul, wahai teman.

Selanjutnya, saya masih memandang keluar. Wow. Subhanallah… Segarnya cuaca pagi ini membuat kaki-kaki ini terasa membeku. Namun, ia meninggalkan kesan tersendiri. Ketika kesegaran angin nan bertiup lembut, diiringi dengan kicauan burung pipit-burung pipit nan berterbangan memecah sunyi. Suara alam nan menambah alami, tempat saya berada kini. Lalu, sebagiannya bertengger dengan anggun, seraya berayun-ayun di untaian kabel listrik nan berbaris. Kemudian, berpindah, berloncatan, berkicauan, riang gembira. Untuk saling bersapaan, berantem-beranteman, lalu akur lagi. Hehe…

Saya takjub dan terpesona sungguh, ketika ada seekor kupu-kupu cantik melambai-lambaikan sayapnya yang putih. Ai! Kecil wujudnya. Ia melayang dengan ringan, bebas… Ia tersenyum padaku. Saya pun tersenyum, menatapnya berkeliling di sekitaran. Maha Suci Allah, Pencipta kita.

@_Ruang Istana Hati_@


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s