Image

Jalan jalan ke kota Solo …


“Jalan-jalan ke kota Solo?”.
“Insya Allah…”, jawabku.

***

“Solo? Sendiri?
Artinya olangan?”, fikirku mengumbar tanya. Ai! “Kota Solo tidak sendiri, lho Yan”, sapa hati pada tanya yang menebar tadi. Ia ikut nimbrung untuk merilekskan kembali fikirku yang sempat terbang.

Demimu wahai saudara saudariku yang saat ini ada di Solo. Dengan senyuman ceria indah berseri sehangat sinar mentari hari ini, saya me-list kota Solo sebagai salah satu kota yang ingin saya kunjungi, berikutnya. Agar saya dapat mengingatnya lagi, ketika hari ini telah pergi. Maka saya menuliskannya. Yes! Meski baru ini yang mampu saya upayakan saat ini. Ya, merencana. Dengan tujuan untuk memperpanjang silaturrahim di antara kita.

😀 aHa! Bapak RT. Ya, beliau pernah menjabat sebagai ketua RT. Begini kabar yang disampaikan oleh burung merpati, pada satu hari yang telah berlalu, padaku. Ketika pada sore yang damai itu, percakapan via telepon terjalin sudah. But, ini baru kabar burung. “Lha, mengapa kita tak tanyakan langsung pada yang bersangkutan, ya? Agar jelas pesan itu. Tentang benar atau tidaknya”, lagi dan lagi fikir menyela. Ai! Engkau benar-benar my soulmate, fren. “Baiklah, waktu itu kan hadir. Yang sabar, yaa”, saya menanggapi fikir.

Ummi Aisyah, nama istri beliau. Uni As, kami akrab menyapa Uni ketika masih kecil dulu. Beliau adalah tetangga keluarga kami di kampung halaman tercinta, Saok Laweh. Sawah Hilia, nama desa kami. Desa yang adem, unik dan ayem. Unik? Ya, karena di belakang rumah-rumah penduduk bagian pinggir, ada belantara persemakan, dan pepohonan yang rindang meneduhkan. Alam, mengharukanku setiapkali fikirku bertamasya ke masa kanak-kanak.

Rumah kami bersebelahan. Sehingga kami bertetangga, bersaudara. Apa yang terjadi dengan Uni dan keluarga, keluarga kami segera mendeteksi. Pun begitu pula dengan Uni, kami saling mengabari tenang apa yang kami alami. Kisah berlanjut seiring waktu. Kebersamaan yang kental, merekatkan jiwa-jiwa kami dalam mengisi masa. Sampai akhirnya, Uni pun menemukan tambatan hati. Yes! Beliau menikah dengan Mr. Right. Setelah beliau berdua direstui dan resmi untuk melanjutkan perjalanan kehidupan berjamaah, lalu keluarga baru tersebut beralih ke kota Solo. Ya, sejak saat itu, Uni As dan Kak Kanan, tinggal bersama di perantauan. Ketika itu, saya masih berumur belasan tahun. Beginilah lebih kurang, hasil penelusuran memory saya tentang latar belakang persaudaraan kami.

“Bukankah hari ini libur? Mainlah ke Solo, Yan”, pinta beliau, via telepon pagi ini. “Ai! Libur satu hari, how about the time?”, fikirku.

Mr. Right. Ya, begitu tampilan tulisan yang berkedipan di layar handphoneku. Ketika kita bersilaturrahim melalui suara. Akan tetapi, saat saya kembali memandang layar penuh sinar berukuran dua puluhan sentimeter ini, nama itu tiada. Betul. Karena beliau menghubungiku dengan angka yang sangat asing bagiku. Beliau pakai handphone teman, ternyata. Hehee… Tak hanya ada satu cara. Kita telah Allah titipi akal yang jeli. So, memanfaatkannya, menggunakannya, adalah pilihan. Agar kita dapat tersenyum bersamanya. Seperti icon ini ~> 🙂 , icon yang ini ~> 😆 , dan ini 😀

Sure, ternyata beliau mengakali, gimana caranya agar saya mau menerima telepon dari beliau. Karena beliau beralasan, setiap kali beliau mengcall, tidak pernah lagi saya menreceived it. “Oia…aa… 😀 Tolong maafkan saya 🙂 “, I am so surprised menanggapinya. Bukan sengaja, namun demi menjaga. Ya, setelah saat itu, ketika beliau menawari saya untuk menjadi yang ke dua. (“Huwaawaawaaa… Ibundaaaaa . . . Saya perlu menjawab apa, Bun?”, jiwaku meratap dalam tanya, pada Ibunda yang jauh di mata).

Hahaa… 😀 Kak Kanan memang suka bercanda. Dan inilah ciri khas beliau dari dulu. Hingga kini, masih tersisa. Saya memaklumi dan mengerti, bahwa setiap kita memang unik. Allah Menciptakan kita, dengan beribu makna. Bersama karakter terbaik yang kita bawa, semoga kita selalu merasakan kehadiran-Nya.

¤Innallâha ma’ana¤

Wajah Uni As yang penuh senyuman…
dengan balutan gamis nan menghiasi tampilan raga beliau dari hari ke hari…
ditambah kerudung rapi sebagai hijab…
Ai!
muslimah shalehah itu saudariku…
beliau mendidik buah hati dengan cermat…
Dek Rahmat, Nanda dan Adam, adalah para mujahid yang beliau bina…
kemudian Dek Asyhifa Zein (23112009), adalah calon mujahiddah tangguh masa depan…
insyaa Allah…
lalu, ada seorang putri cantik yang juga bersama beliau sampai kini, “Bagaimana kabar pendidikannya, Dek?”

@_Buat Saudara-Saudariku di Solo, khususnya dan di manapun umumnya, saya akan seringkali Merindukanmu_@

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s