Berkumpul dengan ulama lalu kita nangis nangis berjamaah…


Berkumpul dengan ulama, lalu kita nangis-nangis berjamaah. Wahai, so sweet end romance, pastinya kan yaa… 😀

Ai! Ini fikiran saya ada- aja ada yaa. Masa iya? Kebersamaan dan keberamaian kita terhabiskan dengan tetesan bening permata kehidupan. But, sure. Saya ingin habiskan waktu yang ada dan masih tersisa di masa-masa usia ini, bersama beliau. Ulama.

Beliau yang kembali mau dan mampu menjadi jalan berurainya airmata tanpa kita sadari. Entah mengapa, tiba-tiba alirannya sudah menganak sungai di kedua pipi ini. Nah! Masalahnya, sungai itu tanpa muara, teman. So, mengalirlah ia ke dalam. Menggenang di pelupuk mata. Setiap kali saya teringat akan sosok wajah nan penuh kedamaian itu. Ya, para ulama, adalah beliau yang membawa taman berjalan. Hingga saya sangat senang menyaksikan bunga-bunga senyuman dari aura nan beliau tebarkan.

Tak bersekat, namun lekat. Yaa Allah, mudahkanlah urusan beliau… para hamba-Mu yang menjadi jalan ilmu. Hingga Engkau senyumkan hati-hati beliau lebih sering. Lalu, izinkan kami kembali berkumpul Yaa Rabb, setelah perpisahan yang sementara pada ujung pertemuan kami.

@_AsA nan menjadi Nyata_@


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s