Menaburi Harapan di dalam Taman Kesempatan Enam belas…


[Menaburi Harapan di dalam Taman Kesempatan]

Enam belas bulan yang tersedia sebelumnya, kini yang tersisa hanya beberapa bulan lagi. Dua bulan, lebih tepatnya. Setelah itu, kita siap untuk menempuh jalur yang selanjutnya dalam rangka meneruskan perjuangan dalam perjalanan kehidupan ini, teman. Ya, masih genap dua bulan lagi. Yes!

***

Berulangkali ku menatap cerahnya mentari hampir setiap pagi. Berulangkali pula ku melangkahkan kaki-kaki ini di bawah pancaran sinarnya, pada siang hari. Terkadang ia bersinar begitu terik, hingga melelehkan persediaan keringat di sekujur tubuhku. Bermandikan ia, aku pun mengalami.

Bahkan, tidak jarang pula, sang mentari mengintip dari balik awan. Hingga teriknya tidak begitu terasa. Namun hanya ada keteduhan nan memayungi raga ini. Ai! Pernah juga ia menyelimuti diri dengan awan gelap dan menakjubkan. Ia takluk oleh gemawan. Hingga ia tak lagi terlihat rupawan, dalam kondisi yang demikian. Sampai akhirnya, alampun turut menyangsikan tentang keberadaan mentari. Lalu, bertangisanlah ia mengingati, menanyai, “Ada apa gerangan yang engkau alami wahai mentari..? Sampai engkau belum mau menunjukkan diri. Sure, kami merindui cerah pancaran auramu nan cemerlangkan alam-Nya”. Lalu, merekapun meneteskan bening-bening nan suci. Sedangkan kita menamainya dengan ‘(Huj(i)an’.

Namun kini, pagi ini, mentari bersenyuman dengan alamnya. Mereka saling memberi. Mereka bertukar energi. Mereka berdamai. Mereka sungguh akrab, erat dan bersahabat. Hingga kedekatan itu menuai senyuman di wajahku pula. Wahai mentari, wahai alam, engkau adalah jalan bahagia. Pesonamu pun mampu menembus alam maya, sekalipun. Ai! Seiring hadirnya senyuman, ku merasakan ada degup yang antik di dada. Inikah rindu yang meleleh?

Mentari, engkau sempatkan pula menjentikkan kemilau sinarmu di mataku. Perih terasa. Ai! Tanpa ku sadari, aku telah memandangmu terlalu lama. Maafin aku, yaa. 🙂 Sepertinya engkau kurang menyenangi apa yang ku perbuat. Hingga engkau membalas tatapku, begitu. Atau, ini hanya perasaanku saja yang menilaimu demikian. Ai! Engkau membuatku berfikir lagi, bertanya lagi, merenungi segala yang ku alami kini. Tentang “Arti Hadirku di sini”. Ya, who am I? yang beraninya memandangmu seperti tadi. Bukankah hal itu dapat mempengaruhi kesehatan mata ‘hati’ ku…

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s