Pelangi Rindu Buat Ayah Saat ini ku kembali…


[Pelangi Rindu Buat Ayah]

Saat ini ku kembali teringat
kenangan masa kecil ku.
Sayup-sayup terdengar
kring-kring sepeda tua
ayahku.
Berlahan tapi pasti, suara itu membawa ku kembali
ke masa kecilku.
Karena pada usia itu aku
selalu menantikan suara
kring-kring sepeda ayah
ku setiap menjelang Maghrib.
Dengan harapan sang ayah
masih menyisakan nasi
yang dibungkuskan sang
amak sewaktu pagi,
menjelang beliau berangkat kerja ‘makan upah’ di sawah
orang.
Dengan tambahan
sepotong bakwan atau
tahu goreng.
Walaupun demikia…. continiu……. Today at 12:58am · Like

🙂 -¥€$$- 🙂

😀 Hahaa… Paragraf di atas, saya peroleh dari Oddy sang adikku tersayang. Ya, ketika pada sebuah kesempatan terbaik, saya menemukan catatan singkat yang telah beliau ukir dengan indah. Adapun catatan pendek tersebut, berjudul “Teringat Masa Kecil”. Ai! Temanya adalah Ayah dan Amak. Subhanallah, saya yakin, beliau pasti kangen banget sama kedua orang tua kita. Uni juga, Ted… “I belong them so much”.

Oddy, adalah adik kandungku yang laki-laki atu-atunya yang tersisa di dunia ini. Karena, adik-adikku yang lainnya, sudah lebih dahulu menemui-Nya, ketika adik-adik masih kecil banget. Pada umumnya, adik-adikku tersebut meninggal dunia pada usia balita. Innalillâhi wainna ilaihi râji’ûn. Kita hanya hamba-Nya, yang pasrah akan ketentuan-Nya. “Iya, kan friend?”, (senyum).

Masa usia kita. Bicara tentang berapa lama lagi ia akan membersamai raga ini, kita tidak pernah tahu. Esokkah kita berpulang? Atau nanti sore, kah? Ai! Tapi kalau sedetik lagi, gimana? Wah! Memang kita tidak pernah tahu, sebelum kita mengalaminya.

***

Tentang kisah masa kecil, yang ingin ku share saat ini berhubungan dengan Amak dan Ayah juga. Sama seperti Oddy, yang tadi berkisah tentang aktivitas beliau setiap sore. “Menunggu Ayah Pulang”. Namun, ada embel-embelnya, yaitu beliau “Berharap Ayah kembali dengan membawa sisa bakwan dan tahu yang Amak bekalkan pada pagi harinya”. Hehee… Kalau saya jugaaa… 😀 “Asyiik Ayah dataaang”. Lalu dengan gembira tiada batasnya, kitapun berlarian, menjemput beliau. Ya, kejadian ini terjadi setiapkali kami mendengarkan suara “Kriiing…kriiing… dari kejauhan”. Dan indera pendengaran kami sudah sangat akrab dengan nada yang terdengar barusan.

Ayahku bukan Bapak Pos, yang datang untuk menyampaikan titipan. Bukan. Bukan, teman. Meskipun ada suara kriiing… kriiing, yang menemani beliau setiap hari, untuk kembali pada kami. Dan itu pertanda, Ayah memanggil. Dan tandanya lagi, Ayah meminta jemputan dari buah hati beliau tercinta. Ya, kami yang beliau sayangi. “Wahai Ayah, Kami Rindu, zaman itu. Setiapkali putaran fikir menyampaikan kami pada kisah masa kecil”.

Lalu hari ini, saya ingin mengurai kerinduan yang telah mengabadi…
“Bapak Pos, ku titip rindu nan mewujud, buat Ayah, Amak dan keluarga”.

***

Kepercayaanku…
Melahirkan ingatan…
Menumbuhkan benih-benih kasih sayang…
Menyisakan titik-titik rindu…
Memuaikan airmata dalam haru…

Yakinku…
Perpisahan kita kini untuk sebuah pertemuan,

Hatiku…
Ia telah membelah diri,
saat sebagian pergi,
sisanya ku tata kembali,
meski ia memang tak utuh lagi,
namun aku sayang padanya,
selamanya.

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s