Akhirnya buku CINTA bagai ANGGUR sampai juga…


Akhirnya, buku “CINTA bagai ANGGUR” sampai juga di pangkuan saya. Meski kebersamaan kami hanya beberapa menit doang, namun saya sangat menikmatinya. Bahagia hingga berbunga-bunga, begini rasa yang menyapa. Sejenak setelah saya menyaksikan sampul buku berjudul “CINTA bagai ANGGUR”. Entah kenapa… Intinya, saya seperti menemukan sesuatu yang hilang seketika itu juga. Bagaimana ini dapat terjadi?

Begini ceritanya. Tadi pagi, bersama kaum hawa yang lainnya, saya membaur. Lalu kami mengambil posisi ternyaman untuk mengisi waktu selama beberapa puluh menit berikutnya. Nah! Saya pun begitu. Setelah menggelar sajadah berwarna hijau muda bercorak keemasan dan hitam, saya pun duduk manis sambil tersenyum lebih indah. Beberapa saat kemudian, muncullah seorang Bunda berusia sekitar tiga puluhan tahun. Beliau mengambil tempat di sebelah kanan saya, yang ternyata masih kosong. Sekilas saya memandang beliau, lalu kita pun bersenyuman. Dengan wajah nan putih bersih cerah berseri, beliau menyambut senyumanku nan mengembang bebas. Aha! Beliau bawa buku, ternyata. “Ai! Bunda yang baik”, fikirku.

Beberapa saat kemudian, saya melihat, beliau memanfaatkan waktu yang menjeda untuk melahap lembar perlembar kertas nan sudah agak usang, memang. Karena tidak mau mengganggu konsentrasi dan keasyikan beliau, saya hanya memandang dengan tatapan mata syahdu.

Pernah saya menemukan judul buku yang beliau baca, dari hasil searching di ‘alam ini’. Sehingga saya jadi pengen membacanya pula. Namun apa daya, di ‘dunia nyata’ ia belum menunjukkan wajah aslinya. Makanya, ketika melihat sang Bunda membaca buku tersebut, saya segera berbunga-bunga. Akhirnya… Ternyata…

Waktu terus berjalan seiring dengan detik jam nan berdenting. Hingga akhirnya, Bunda berehat sejenak dari aktivitas nan mampu mengubah dunia. Sedangkan si “CINTA bagai ANGGUR” terdiam membisu, tanpa gerak. Ia sendiri, teman… 🙂

Melihat kondisi sahabat dalam keadaan luang, maka saya mau berkenalan dengannya. Yes! Saya tak ingin mensia-siakan kesempatan emas ini. “Sabar ya, friend. Tak minta ijin Bunda dulu, yaa…”, bisik jiwaku. Sedangkan fikir mendadak gembira, ceria! 😀 Hahaaa. SEGERA, ku menoleh pada Bunda yang lagi berdzikir, sepertinya. Sembari memiringkan kepala lima derajat saja ke kiri, saya memutar arah pandang ke wajah beliau. Lalu ku beranikan diri menyapa, “Maaf Bun, bukunya bagus. Apakah saya boleh pinjem, sebentar?”. Seraya tersenyum, lalu melayangkan lirikan pada sang “CINTA…”. Bunda pun tersenyum. “Iya, silakan. Bagus isinya”, ungkap beliau sambil meraih “CINTA…”, lalu mempersembahkannya padaku. Alhamdulillâh… “Terima Kasih ya Bunda”, ucapku dengan ringan.

Bersama mata yang berbinar-binar dan hati lega, saya menelusuri lembar perlembar “CINTA…”. Setelah sebelumnya, sinopsis menjadi gerbang perkenalan kita.

‘@-@ bukti “CINTA…” itu ada.


One comment


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s