Ketika itu menjelang Shubuh Ku sempatkan waktu mengingatmu…


Ketika itu, menjelang Shubuh…
Ku sempatkan waktu mengingatmu utuh…
Dari ujung kaki, hingga kepala, ya.. seluruh tubuh…
Namun segala upayaku luruh…
Meski sekujur badanku telah basah berpeluh…
Sungguh!

Tak perlu sebenarnya ku melakukan hal yang seperti tadi, teman. Karena engkau tanpa tangan, kaki, kepala, apalagi tubuh nan utuh. Apalagi untuk ku sentuh. Tak akan pernah itu terjadi. Namun aku masih percaya, engkau ada. Karena engkau adalah mentari di hatiku.

Mentari, memang kini ia tiada di sini. Jangankan untuk menampakkan diri, tanda-tanda saja tak terlihat. Kalau ia ada. Namun yakinku, ia dalam perjalanan, kini. Untuk berevolusi, menyinari, menerangi belahan bumi yang lain, di sana.

Mentari, engkau berarti bagi kehidupanku, specially.
‘@-@ meski tak bersinar, namun di hatiku engkau menyinari.


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s