Teman Dari jejak jejak ringkas yang engkau tinggalkan…


Teman… Dari jejak-jejak ringkas yang engkau tinggalkan. Sedangkan ia belum tersapu oleh waktu, maka aku jadi tahu bahwa engkau pun pernah ada. Ia menjadi pertanda, simbol dan prasasti darimu. Kalau memang engkau pernah menapakkan kaki-kakimu nan kekar di tanah yang sama dengan yang aku tempuh kini. Ya, kini aku sedang berada di sini, tanah yang engkau lewati, dulu.

Teman… Dalam perjalanan panjang yang sedang ku tempuh kini. Diantara jeda waktu yang bergulir tiada henti, ku sempatkan waktu untuk mengamati jejak-jejakmu. Jejak yang ku tahu adalah hasil pergerakanmu. Sekaligus menjadi bukti bahwa engkau begitu peduli. Ai! Dengan demikian, aku dapat menyusurinya. Lalu mengikuti arah telapakmu, yang mengambil posisi maju. Terima kasih, yaa.

Teman… Aku yakin. Bahwa engkau masih ada, sampai saat ini. Aha! Dan engkau sedang tersenyum, seperti ini. 🙂 Wahai, indahnya ketika ku membayangkan wajahmu dalam ekspresi yang menakjubkan itu. Ingin sangat ku menatap wajahmu nan kemilau. Karena dari sana ada aura nan memancarkan cemerlangnya fikirmu. Ditambah lagi dengan beningnya akhlak yang menghiasi jiwamu. So sweet. 😀 Yes!

Teman… Engkau sedang membuatku terharu. Hingga buliran bening permata kehidupan yang telah bersiap siaga, segera menyerbu wajahku. Tanpa aku sempat menghadangnya. Ya, begitulah aku, yang sangat mudah mengharu dan terharu. Apalagi ketika aku merindukanmu. Iyes! Rindu… 😦

Teman… Engkau juga pernah muda, kan? Lalu, apa saja yang engkau lakukan dalam mengisi masa mudamu itu? Aku ingin tahu. Agar aku dapat pula meniru, mencontoh dan meneladanimu. Boleh, kan yaa. Agar masa mudaku pun menjadi masa yang bermakna. Untuk ku kenang nanti, ketika ujung usia menyambutku. Mumpung kini, aku masiiìh muda. Hehee, belum terlambatkan ya? Untuk membenah diri sejak saat ini.

Teman… Kapan-kapan, boleh ya? Kita jumpa dan bereuni. Agar kita dapat saling menceritai tentang arti ‘sahabat berbagi’. Ya, supaya aku lebih mengerti, bahwa memang benar sahabat berbagi itu mudah ditemui dan tidak hanya ilusi. Namun ia ada di alam ini. Berwujud, nyata dan ia juga punya raga, tak hanya hati. Ya…

Teman… Pernah juga kan? Engkau mendengar tentang sebuah kata ‘Mentari’. Lalu, apa yang sedang engkau fikirkan saat mendengarkan tentang ia?

Teman… Kita tidak pernah tahu kan ya, kapankah akhir usia menjemput diri. Lalu, apa yang sedang kita persiapkan dalam menantinya? Kemudian bagaimana kita mengisi waktu yang ada diantara saat ini dan detik tersebut? Ya, detik-detik yang penuh rahasia. Kapan ya?

Teman… Ketika kita masih memiliki kesempatan dan waktu saat ini. Akankah ia kita sia-siakan? Ya, detik-detik yang bisa jadi adalah detik-detik rahasia tadi. Wallâhu a’lam bish shawab.

Teman… Kita tidak akan pernah tahu tentang hal itu. Karena ia adalah rahasia terbesar, yang pernah kita tahu.

Teman… Sambutlah ia dengan langkah-langkah ringanmu. Seraya menaburi hari dengan bunga-bunga senyuman yang lebih indah dari waktu ke waktu. Lalu nikmatilah semerbak yang melingkupi di sepanjang perjalananmu. Karena sesungguhnya waktu kita tidak banyak lagi. Hanya tersisa sedetik saja. Ya, detik yang tersisa itu adalah ‘detik ini’.

Teman… Ku rangkai semua ini, untuk mengingatkan diri. Karena ia perlu peringatan dan diperingatkan lebih sering. Agar diriku ingat. Bahwa ia hanya punya detik ini, sama sepertimu juga.

‘@-@ Mengisi detik-detik rahasia, dengan tak mensia-siakan detik demi detik.

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s