Wahai teman Ku kembali untuk mengukir senyuman untukmu…


Wahai teman…

Ku kembali untuk mengukir senyuman untukmu. Lalu, membentanglah ia di atas lembar kanvas kehidupanku, saat ini.

Wahai teman…
Adakah engkau dapat menyaksikan keberadaannya? Ya, meski masih sederhana tampilannya kini. Namun yakinlah, ku sedang mewarnainya lagi. Dengan warna-warni cat dari karakter yang engkau oleh-olehkan. Ya, setiapkali engkau berkunjung ke hadapan kanvas ini. Lalu engkau menitipkan warna yang telah engkau persiapkan sebelum engkau mampir, in here. Untuk menjadi tambahan warna dalam hari-hariku.

Wahai teman…
Terima kasih ya, atas kesudianmu untuk mengambil peran. Sehingga keberadaanmu menjadi bagian dari aneka warna yang ada dalam kanvas hidupku ini. Ai! Senangnyaa… Dapat bersamamu lagi.

Wahai teman…
Siapapun engkau, dari mana pun engkau berasal. Pun sedang berada di manakah engkau kini, aku tak tahu. Namun yang aku tahu bahwa keberadaanku di sini adalah untuk mencari tahu tentang ketidaktahuanku itu. Lalu, bersamamu ku menjadi tahu tentang apa yang belum ku tahu. Buktinya, setelah engkau hadir, maka aku pun menjadi tahu tentang siapa engkau. Yes! Engkau adalah sahabatku.

Wahai teman…
Engkau baik-baik di sana, aku pun begitu.
Engkau tersenyum adalah senyumanku.
Engkau merasakan rindu, aku pun begitu.
Engkau beraikan airmatamu atas segala rasa yang tidak engkau harapkan terjadi. Maka begitu juga denganku. Lalu, bagaimana kondisi fikirmu kini? Sesaat setelah engkau menyadari, bahwa ternyata kita sehati, kan… 😀 Yes!

Wahai teman…
Aku hanya insan biasa, sama sepertimu yang juga hamba-Nya. Nah! Kita sama-sama tiada berdaya dan juga tak mampu berupaya. Jika tanpa pertolongan dari-Nya. Lâhaula wa lâ quwwata illâbillâhil’aliyyul’adzîm…

Wahai teman…
Hari ini sungguh menarik yaa. Ia indah, cantik dan lucu. Ai! Apalagi mentari itu. Ia sedang tersenyum padaku. Bersama kerlingan matanya nan kemilau, ia memesankan sebait lirik, buat kita;

“Subhanallâh… Lalu nikmat-Nya yang mana lagikah yang pantas untuk kita dustakan? Ketika mata kita masih berkesempatan untuk saling bertatap”.

Iya, begitu pesan tersirat yang ku terima darinya, mentari pagi yang sedang bersinar cemerlang, itu. Ai! Ingin sangat ku memetiknya, lalu ku bawa pulang, dey… ^_* Kemudian ku tempatkan ia di salah satu dinding dalam istana hatiku. Agar terang benderang ruangannya membuatku ‘anteng’ bin betah berlama-lama di bawah terpaan sinarnya. Astaghfirullâhal’adzïm… Mimpiku berlanjut, padahal sudah pagi begini. [pipi memerah, tertampar terik mentari 😆 ]. Aku malu, terus-terusan bermimpi. Apabila aku tidak segera bangkit, bangun, berdiri, melangkah lalu bergerak untuk merealisasikannya. Maka mimpi-mimpiku yang indah itu akan selamanya menjadi mimpi. Ai! Sorry mpi… Ku perlu melangkah lagi. Untuk membuktikan padamu, bahwa engkau ada. Tak hanya mimpi yang tertata. Namun, engkau nyata.

Ini, buktinya. Alhamdulillâhirabbil’âlamîn…
🙂 🙂 🙂

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s