Ia Meminangku dengan Bismillâh Hanna wal…


“Ia Meminangku dengan Bismillâh…”. (Hanna wal marjan)

Sebaris kalimat yang saya terima dari Hanna. Sesaat setelah kita jumpa lagi sekembalinya beliau dari kampung halaman, Garut. Semalam beliau datang.

Hanna adalah salah seorang sahabat baikku di kota ini. Hanna yang baru saja menjalani prosesi lamaran, tepatnya pada malam Senin. Ai! Selamat yaa, Han.

“Hanna pasti berbunga-bunga yaa”, ceriwisku pada beliau. Di antara kalimat obrolan yang terangkai pada pagi ini. Bersama para sahabat yang lain, tentunya. Ya, ada Siti dan Ukhti di sini, teman. Lalu, Hanna menjawab dengan tatapan mata yang mengekspresikan bagaimana suasana hati yang beliau alami ketika itu. Kemudian beliau tersenyum. Senyuman yang penuh makna. Senyuman yang mengandung hikmah. Senyuman yang sedetik kemudian, melahirkan nuansa takjub dalam relung jiwaku.

“Ia meminangku dengan Bismillâh…”, jawab Hanna. Yes! Hanna wal marjan, panggilan sayangku pada beliau. Aha! Namamu indah sekali, teman. Pernah suatu hari saya bertanya pada beliau, tentang arti kata ‘wal marjan’. “Nah! Marjan itu maknanya indah, jawab Hanna seraya tersenyum. “Wah! Seindah apa Han?”, tanyaku lagi. Tanya yang ku harap dapat mengurai rasa penasaranku nan mulai menggunung. Kemudian, Hanna pun tersenyum lagi. Senyuman yang ku coba menangkap apa maknanya. Ya, senyuman yang mengesankan satu harapan tersembunyi. Senyuman itu terukir pada wajah Hanna, lalu ia melekat di dinding hatiku. Wahai, bahagianya dapat mengenalmu, teman. Terima kasih ya, untuk menjadi bagian dalam perjalanan hidupku. Engkau mentari di hatiku.

***

“Oia? Beneran, Han? Hanna dipinang dengan “Basmallah”? Lalu gimana prosesnya Han? Ia datang sama siapa aja? Berapa orang, Han? Trus berapa lamanya di rumah Hanna? Hanna pasti berbunga-bunga kan?”, tanyaku mengalir tanpa henti. Sedangkan Hanna kembali menunduk. Kemudian menatap mataku seraya mengalirkan senyuman yang sampai saat ini, masih ku pakai. Senyuman itu engkau berikan padaku, cuma-cuma, teman. Ai! Engkau memang baik. Kebaikan yang engkau tebar, tiada dapat ku menggantinya. Ya, kebaikan yang bertaburan seramai sinaran mentari saat menyinari bumi, pagi ini.

“Iya, Bun. Ini beneran. Ia dan lima orang lainnya, datang ke rumah Hanna ba’da Magrib. Sampai jam sembilanan. Karena kita ngobrol-ngobrol dulu. Nah! Ada juga sesi tanyanya, begini, “Apakah Hanna mencintai sang calon suami?”. Hahaa… 😀 Saya, Siti, dan Ukhti pun tertawa serempak. Kita bahagia, bergembira dan ceria mendengarkannya. Sedangkan Hanna, sibuk menata wajahnya yang mulai memerah. Ai! Engkau makin cantik, teman. Dengan ekspresi yang begini.

Hanna, suatu hari nanti kita mengerti. Bahwa semua ini ada hikmahnya. Ya, demi cinta nan mulai berputik. Semoga ia menghasilkan buah yang dapat kita nikmati bagaimana rasanya. Manis, nikmat dan . . .

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s