Menanti Mentari Menatap Mawar Putih


Mawar putih mensenyumiku nan terpana padanya.
Putihmu menyejukkan hati, wahai sahabat…

Mentari. Seperti hari-hari yang telah berlalu, kini cuaca yang sama kembali menyapa. Teduh. Tanpa mentari hari ini. Ai! Padahal, saya sangat senang ketika ia ada untuk menyinari bumi dan megah ini.

Mentari. Meskipun sinarmu tiada untuk saat ini, wahai teman. Engga apa-apa. Karena di sini, saya ada teman, koq. Mawar putih. Ia sedang tersenyum, ketika saya sempatkan waktu untuk menatap kelopak-kelopaknya nan memukau, dari kejauhan. Lalu, saya segera mendekatinya. Karena saya tertarik padanya. Lalu, apa yang membuat saya tertarik? :D  Padahal sang mawar tak menjulurkan tali atau apapun pada saya.  Secepat kilat, saya berusaha menemukan jawaban yang tadi hadir dari fikir ini. Senyuman. Ya, begitu teman. Senyuman adalah jawabannya.

Mentari. Engkau tahu engga? Alam  di mana saya berada kini, berselimutkan embun dan mulai menguap, namun pelan. Sehingga sampai saat ini, masih tersisa sebentuk asap putih nan tipis di sekitaran. aHa! Ya!😀 Seperti masih pagi gitu, friend. Padahal sudah jam segini. Hmmm…  Engkau pasti masih tidur, ya? Dan pastinya, sedang terkalahkan oleh gemawan nan menggumpal itu, kan? Eits! Dalam fikirku yang lain segera terbersit suara, “Engkau sedang bersinar di belahan bumi yang lain”. So, saya pun membenarkan apa katanya tadi, bahwa engkau masih ada. Meski bukan di sini. Mentari. Oia, bagaimana kabarnya semesta yang di sana, friend?

Mentari. Baiklah. Walaupun engkau belum bersinar lagi. Namun saya masih terus bergerak, kok. Ni buktinya. Saya ada untuk mengabadikan kisah tentang ketidakberadaanmu. Agar nanti engkau tahu, sampai saat ini, saya masih mengenangmu. Ya, karena engkau adalah sahabatku. Yes!

Mentari. Nanti, kalau engkau sudah selesai menyinari alam-Nya yang di sana, engkau pasti kembali lagi ke sini, kan ya? Untuk bersinar, tentunya. Yakinku. So, dengarkanlah wahai sahabat, meski tanpa telinga yang nyata. Saya ungkapkan suara jiwa, “Ku masih menanti hadirnya sinar cemerlangmu, friend”. Sampai berjumpa kembali ya. Mesti bersama sinarmu yang lebih benderang. Oks?!😀

Mentari. Engkau begitu berarti. Engkau adalah temanku dalam perjalanan ini. Engkau menerangi. Engkau membawa senyuman ke hati ini, kapanpun saya mengingatmu. Engkau, sahabat diri.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s