Senyuman Buat Ibunda


Ibunda. Sejenak sebelum kita berjumpa dengan beliau dalam tatapan mata.  Ada tangisan pada lembar wajah beliau yang mulia. Begitu pula dengan kita, sejenak setelah kita merasakan bagaimana suasana alam dunia. Maka kita pun menangis. Oaaa… oaaaa…. Lalu, suara kita nan memang sangat asing di indera pendengaran Ibunda saat itu pun, memecahkan konsentrasi beliau seketika itu  juga. Ya, saat beliau melahirkan kita dengan sukses. Alhamdulillah… Akhirnya, penantian panjang yang membuat kita merasa nyaman di alam rahim, usai sudah. Sampai saat ini, hari ini, kita masih ada di alam yang menangiskan kita, wahai teman. Dunia… ya, dunia. Saat pertemuan dengannya, kita menangis. Lalu, akankah saat perpisahan dengannya, kita akan begitu pula? Semoga tidak, yaa..  Karena kita tidak ingin, kan? Suasana yang sama berlangsung untuk kedua kalinya. Apalagi itu terjadi dalam waktu yang tidak sama.

Ibunda. Memang beliau menangis, ketika kita belum hadir ke alam dunia ini, wahai teman. Namun, segalanya berubah saat kita hadir di hadapan beliau. Senyuman itu… senyuman yang memancar dari wajah Ibunda bersama aura yang penuh kelegaan, menjadi salah satu jalan, menangisnya kita semakin kencang lagi. Oaaaaaaa…. Oaaaaaaaaa……. Ibunda, rasa sakit yang beliau rasakan pada waktu itu, belum terobati.

Ibunda.  Sakit, perih, luka yang beliau alami, semua adalah demi kita. Agar kita dapat pula merasakan bagaimana indahnya kehidupan di dunia ini. Lalu, apa yang kita lakukan, wahai teman? Saat kita telah benar-benar ada di dunia. Tempat di mana Ibunda pernah menanti kehadiran kita dengan tetesan airmata yang membanjiri pipi beliau. Ya, alam yang Ibunda manfaatkan untuk mempersiapkan prosesi penyambutan kita, meski dengan untaian airmata yang mengalir. Lalu, maunya kita apa?

Ibunda. Tangisan Ibunda memang tidak terlihat nyata oleh kita. Namun getaran jiwa kita yang saling menyapa, memesankan segalanya. Bahwa saat itu, Ibunda benar-benar tersiksa…? Iya, kan Bun? Namun, Ibunda menikmatinya, sebagai bagian dari ibadah yang perlu Ibunda tunaikan. Sungguh, mulianya engkau wahai Ibunda. Kasih sayangmu, cinta, dan harapan yang Ibunda senantiasa tautkan, sampai saat ini masih ada dan akan selalu ada.

Ibunda. Beraneka rasa yang Ibunda tanggungkan, belumlah mampu terbalaskan. Apakah dengan berai bening permata kehidupan yang mencurah bebas saat ini? Ataukah dengan balasan apapun juga? Tidak. Tidak akan pernah ada yang mampu menandingi betapa tulusnya pengorbanan seorang Ibu terhadap anak, buah hati permata jiwa tercinta.

Ibunda. Kasih yang membentang “sepanjang jalanan”, sedang Ananda susuri. Agar dapat terungkapkan satu persatu, ada apa di balik semua itu. Ya, agar Ananda tahu, mengapa Ibunda melakukan semua itu. Demi pengorbanan yang belum terbalaskan.

Ibunda. Doa-doa terindah yang Ibunda layangkan, meski jauh dari ujung pulau, menjadi salah satu penyentuh asa. Agar ia terus melambai-lambaikan sayapnya. Ai! Untuk menjemput Ananda, menemui Ibunda di sana.

Ibunda. Ketika kesempatan untuk berjumpa kembali hadir menyapa kita, maka ada satu kata yang saat ini telah menjadi sempurna. Ya, ketika kata itu telah sempurna, maka Ananda pun tersenyum saat mengucapkannya. Tidak lagi menangis seperti dulu, ketika bibir ini masih terbata melantunkannya. “Doa”. Ya, Doa Ibunda adalah salah satu jalan yang dapat mensenyumkan Ananda kini. Ketika Ananda masih ada di alam dunia ini. Alam yang mentangisi Ananda ketika awal berjumpa dengannya. Ai! Dunia. Ia ada-ada saja.

Ibunda. Terima kasih ya, atas segalanya. Meski untuk saat ini Ibunda masih jauh di mata, namun di dalam hati yang senantiasa bersama, kita dapat saling bersua. Ya, doa adalah jembatan yang mempertemukan kita dengan kehendak-Nya. Jembatan yang mampu menyampaikan kita pada segala cita yang telah kita sangkutkan nun jauh di ujung sana. Doa adalah penghubung antara dua jiwa yang saling mendamba.

Ibunda. Bersua kita diawali dengan tangisan. Lalu, kebersamaan kita pun tidak jarang berhiaskan ia. Selanjutnya, ketika kita pernah berpisah untuk sementara, tangisan juga menyempatkan waktu untuk menghampiri kita. Namun, ketika nanti kita berpisah untuk selama-lamanya, hal yang serupa semoga tiada. Sedangkan ia telah berubah wujud menjadi senyuman. Ya, senyuman yang menjadi jalan tersenyumnya kita saat ini.

Ibunda. Memang benar, ya Bun. Tersenyum itu dapat menjadi jalan cerahnya wajah, lalu berbinarnya kedua bola mata kita. Selain itu, jiwa pun menjadi tenang seketika itu juga. Ya, senyuman adalah jalan bahagia bagi insan di dunia.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s