Tentang Kepedulian yang Tertunda


Ketika kita mau peduli pada sesama, maka lepaslah segala kesan yang tersimpan

Bebaskan fikir kita untuk dapat menghayati pesan dari alam-Nya

Wahai sahabat. Berbicara tentang kepedulian, seringkali kita lepas darinya. Aha! Kita? Saya aja kali ya.😀

Peduli adalah sebuah kata yang sangat penting untuk kita telusuri lagi tentang keberadaannya saat ini. Ada di mana ia? Bagaimana kondisinya? Lalu, kapan ya, terakhir kali kita memakainya?

Wahai sahabat, bukan untuk tidak mau peduli tentang apa yang sedang terjadi dengan duniamu saat ini. Bukan pula tentang kehangatan kita yang tersimpan sejenak. Ai! Bukan pula untuk mencari-cari alasan, mengapa semua ini terjadi. Ya, tentang kepedulian yang tertunda.

Wahai sahabat, justru karena peduli yang telah mengait di relung hati ini. Maka saya peduli untuk merangkai kata tentang satu kata ‘peduli”. Karena saya peduli padamu teman. Karena sayang yang telah tidak mampu lagi untuk sekadar diungkapkan dalam susunan kata yang seberapapun juga. Bukan. Sekali lagi bukan. Bukan karena tidak peduli. Namun karena adanya prinsip saling menjaga yang telah terpatri kuat di dalam ruang jiwa. Sehingga sampai saat ini, ia masih tertunda. Ya, kepedulian ini masih tertunda padamu. Tolong maafkan saya ya. Atas kesempatan yang terus mengalihkan pandangan mata ini. Kesempatan yang mencuri sebagian bahkan lebih banyak waktuku untuk menunda kepedulian.

Wahai sahabat, kedekatan raga kita saat ini. Kehangatan yang tercipta di antara kita, termasuk pula beraneka ekspresi yang kita jalin dari waktu ke waktu. Semoga menjadi bukti bahwa satu kata ‘peduli’ tidak lagi tertunda. Karena ia telah menjadi nyata. Ya, senyata tatapan mata kita yang saling melekat erat, menaut, lalu saya pun melanglangbuana ke dalam bening matamu yang teduh itu.

Wahai sahabat, sungguh! Tiada lagi kata yang mesti kita ungkapkan atas pesan cinta yang disampaikan oleh kedua peneropong arah yang sela-menyela ini. Ai! Tersipu saya karena bening bola matamu yang menyiratkan sinar benderangnya akhlakmu.

Wahai sahabat, ketika kita masih dapat bersama sampai saat ini. Walau pun hanya sejenak saja waktu yang dapat kita ikat. Namun saya yakin, engkau hadir untuk membawa banyak pesan yang dapat menjadi jalan terbukanya mata ini lebih lebar lagi. Lalu, ia pun menatap alam-Nya dengan secemerlang-cemerlangnya tatapan yang pernah ada.

Wahai sahabat, satu kata peduli yang hanya terdiri dari enam huruf ini, sangat mengusikku. Apalagi karena hadirnya engkau yang menyampaikan kata yang sama. Sehingga satu kata ‘peduli’ yang sederhana ini, segera menjadi topik penting pembahasan kita kali ini. Nah! Agar ia selamanya ada dan dapat saya ingat kapanpun saya mau, maka saya pun menyampaikannya di sini. Salah satu lembaran catatan hati Yani. Semoga pada suatu hari nanti yang kita tidak tahu kapan itu? Ia menjadi lebih berarti. Pun menjadi pesanan terbaik untuk kita agar menjadi lebih peduli. Sehingga ia tidak lagi tertunda.

Wahai sahabat, sangat banyak pesan tersirat yang engkau sampaikan dalam waktu yang kita habiskan bersama saat ini. Pada waktu yang kita isi dengan bersharing ria pada malam yang belum sepenuhnya gulita. Ya, karena pelita masih menyala di sekeliling kita. Sedangkan cahayanya masih ada. Tentu saja cemerlang cahaya menjadi salah satu teman kita. Yah! Inilah yang utama.

Wahai sahabat, satu waktu yang perlu kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya adalah saat ini. Saat ini adalah sekarang. Sedangkan sekarang adalah waktu yang sedang kita jalani. Lalu, saat ini kita lagi apa? Apakah kita sedang benar-benar peduli dan kita menyadarinya?

Wahai sahabat, pernahkah engkau mengalami suatu keadaan. Ketika pada suatu hari, engkau sedang berjalan. Lalu, dalam perjalanan yang sedang engkau tempuh. Engkau bertemu dengan seorang yang sedang melangkah pula? Pernahkah, teman? Lalu, ketika pada suatu hari yang lain engkau kembali melanjutkan langkah-langkah kakimu. Namun di lokasi yang berbeda dengan perjalanan yang engkau tempuh beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, dalam perjalanan tersebut, engkau kembali berjumpa dengan seorang yang sama? Pernahkah engkau mengalami hal yang seperti ini, wahai sahabatku yang baik…🙂

Wahai sahabat, ketika hal yang serupa  engkau alami. Lalu apa yang engkau fikirkan ketika engkau sedang berpapasan dengan seorang  pejalan tersebut? Sedangkan engkau belum sempat berkenalan dengan beliau, pada waktu engkau pertama kali bertemu. Ai! Pedulikah kita pada seorang dalam pertemuan itu? Pertemuan yang menjadi jalan perjumpaan kita untuk kedua kalinya?

Wahai sahabat, saya yakin bahwa pertanyaan ini hadir, atas peduliku padamu. Karena engkau adalah sahabatku…😉


6 comments


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s