Senyuman Hari Ini


Ketika senyuman mesti ada, dalam berbagai suasana
Tersenyumlah, wahai sahabat…

 Ada banyak rasa dalam hari-hari yang sedang kita jalani. Setiap kita, mempunyai cara terunik dalam menghadapinya. Baik rasa senang yang menceriakan hati, maupun kebelumbahagiaan yang menyadarkan ia kembali. Lalu ia bergumam lembut, memang ada dua hal dan keadaan yang senantiasa berpasangan. Ya, tanpa keduanya, tentu saja tak berwarna dunia kita. aHa!

Ada yang menanggapi hari dengan senyuman tipis, setiap kali menemui satu batu lonjakan menuju gemilang masa depan. Namun, ada pula yang tersenyum menawan dalam menikmati segala rasa yang ada. Wahai, inikah senyuman yang sebenarnya? Lalu, bagaimana pula dengan beliau-beliau yang menanggapinya dengan hal yang berbeda? Semisal berduka, gitu… Ai! Sungguh, sempurnalah segala rasa bersamanya. Enjoy it.

Ada banyak cara yang dilakukan oleh setiap orang dalam merangkai hari. Bersama kecepatan fikir yang mengalir, ia mulai melangkah dan melangkah lagi. Bahkan tanpa ia sadari, telah jauh pula ia berjalan. Namun ia tidak menyadari bahwa segalanya telah mulai berubah. Tiada lagi ia dapati rasa yang semula-mula tadi menghimpit sanubari, memberati. Ya, karena ia terus bergerak. Begitu pula dengan kita. Maukah kita melangkahkan kaki-kaki ini lagi? Setelah sejenak ia terkagetkan oleh duri-duri yang menusukinya? Aaaaaawww… periiiih, memang. Ia terluka. Namun apa daya, yang terjadi telah terjadi. Lalu, membersihkan bekas cabikan itu, meneteskan obat setetes dua tetes, padanya yuuukssss. Kemudian, kita memperbannya. Agar ia terjaga. Agar ia lokasi ‘derita’ tak menganga.

Ada yang tersenyum mengisi hari, ketika hati tersentuh. Ia kembali untuk berbagi. Ia ada untuk menyampaikan bait-bait pesan yang mulai menepi dari ruang fikir. Ya, pesan itu ada agar mengabadi. Kemudian menjadi bukti sekaligus saksi. Ya, saksi yang meskipun bisu, namun ia mampu menjelaskan pada siapapun yang bertanya padanya. Jawabannya ada pada dirinya.

Ada yang menjejakkan langkah-langkah dengan cepat, ketika berjalan. Sepertinya tiada halangan yang sedang ia tempuhi. Padahal itu terjadi karena ia berpandai-pandai dalam menata langkah yang menjejak bumi. Kemudian tersenyumlah ia kembali. Bersama senyuman yang menebari wajahnya itu, ia pun sedang mewujudkan eksistensi.

Ada yang menemui cerahnya hari dengan terus berbagi, merangkai suara hati. Lalu, ia mensenyumi segala yang ada. Karena semua adalah jejak-jejak diri. Suci, murni, terpatri sejak dini. Wahai… kembali saya saat ini, untuk itu.

***

Wahai sahabat…

Semenjak awal mengenalmu, saya tahu siapa engkau. Bahkan sebelum saya berkenalan denganmu, saya mengerti siapa engkau. Hingga hari ini tiba, setelah kita menempuhinya bersama-sama semenjak saat itu. Ya, awal pertemuanku denganmu, sungguh mengusik relung jiwa. Engkau adalah seorang yang berakhlak baik. Bahagia dapat bersamamu hingga kini.

Wahai sahabat…

Semenjak awal engkau masuk ke ruangan ini, tempat saya berada kini. Saya menyadari bahwa engkau ada dan hadir di hadapan, bersama segala keunikan yang engkau bawa. Ya, keunikan yang melekat pada pribadimu yang sahaja. Betapa satu anugerah yang tiada terkira, ketika kita akhirnya bersama. Alhamdulillah…

Wahai sahabat…

Semenjak awal saya menatapmu, segera terbersit harapan di dalam fikir untuk menjadi salah seorang sahabatmu. Ya, sahabat yang menjadi jalan hadirnya senyuman yang lebih indah lagi dari wajah ini. Hingga akhirnya ia menjadi bukti atas segala suara hati. Ai! Engkau yang tulus memberi, engkau yang tegar menjalani hari, engkau yang hadir ke bumi sebagai bidadari jiwa.

Wahai sahabat…

Sederhana dan sahaja, itulah pribadimu yang terbaca mata dalam nyata. Ya, engkau yang mampu beramahtamah dan bersikap supel. So sweet. Secara tidak langsung, engkau sedang menteladankan pada siapa saja yang memperhatikanmu, tentang arti sikap. Ya, engkaulah guru kehidupan yang tanpa tanda jasa itu. Akan tetapi, percayalah tanda-tanda jasamu ada di sini. Ia bersemayam dengan rapi. Tiada yang mampu mengusik ketenangan, sampai nanti.

Wahai sahabat…

Baiklah… ini untuk kesekian kalinya, saya mengkhususkan jentik jemari merangkai huruf demi huruf , buatmu specially. Karena engkau adalah sahabat yang berarti. Senyumanmu saat ini, mensenyumkanku setiap kali ku mengingatmu. Fitri, namamu.

Wahai sahabat…

Banyak pesan dan bahan pelajaran yang alam-Nya sampaikan pada kita dari detik ke detik waktu. Hingga sampai pula pada hari ini, ia masih ada dan akan senantiasa ada. Selamanya. Dengan menikmati segala yang menghampiri, semoga kita semakin mengerti, bahwa segala yang kita alami adalah bagian dari Kasih Sayang Ilahi. Semoga kita semakin tegar dan kuat dalam menghayati pesan-pesan itu. Untuk menjadi saksi, bahwa kita pernah ada di bumi.

Wahai sahabat…

Tersenyumlah lagi, tersenyumlah lagi, tersenyumlah… untuk menjadikannya abadi di hati.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s