Sampai Berjumpa Teman


Sebelum cerah mentari memuaikan embun pagi

Ku mengukir namamu di jendela istana hati

 Sebelum cerah mentari pagi menyinari bumi, sebelum titik-titik embun luruh ke bumi, sebelum kicau beburung meramaikan hari, sebelum penduduk bumi bergerak, melangkah, berlari-lari… Sebelum, ya sebelum semua itu terjadi. Baris-baris cita kembali hadir untuk memenuhi ruang fikir ini. Lalu, tiada ingin ku menyimpannya tanpa sempat terukir. Oleh karena itulah teman, kini, pada pagi ini, sebelum dan sebelum semuanya datang, ingin ku menitipkan suara hati. Ya, suaranya yang hadir segera, seseger yang kembali kita rasakan setelah haus memeluk erat tenggorokan ketika mentari bersinar hebat. Legaaaaaa… semua kembali ringan dan terang, saat berlahan ku menyentuhkan ujung-ujung jemari ini di atas tuts-tuts secara acak. Ya, saya memilih huruf demi huruf yang saya suka untuk ditempatkan terlebih dahulu. Sampai akhirnya, satu persatu kata mulai terangkai. Dan inilah hasilnyaaaa….😀

Wahai teman, apakah yang engkau rasakan ketika seseorang yang selama ini ada bersamamu, tiba-tiba merencanakan untuk melangkah? Lalu, bagaimana pula keadaan di sekelilingmu saat itu. Ketika seseorang tadi lebih sering memandangmu dengan sorot mata yang tidak biasa? Ya, ketika ia menunjukkan pada kedua bola matamu melalui pesan yang tersirat. Bahwa di sana, di dalam dirinya ada aura yang sempurna. Aura yang kita tahu itulah kasih dan sayang yang memancar.

Wahai teman, pernahkah engkau menempuh masa yang menjadi jalan pembatas antara engkau dan seseorang tadi? Ya, seseorang yang ternyata tidak akan bersamamu untuk selamanya. Karena ia mempunyai jalan hidupnya sendiri. Jalan hidup yang akan ia jalani karena ia berani untuk memilih semenjak dini.

Wahai teman, ketika banyak orang berkata bahwa “Kecantikan adalah sikap”. Maka saya adalah salah seorang yang mendukungnya. Sehingga saya membenarkan apa yang ia katakan. Kecantikan dan Sikap? Apakah hubungan antara keduanya?

Wahai teman, wajahmu yang terlihat rupawan dan menawan, bukanlah alasan bagimu untuk menunjukkan pada alam-Nya bahwa engkau seorang yang gagah. Namun, sikapmu yang bijaksana dan penuh kesantunan mampu menjelaskan semuanya tentangmu. Pun, tidak perlu engkau berorasi ke seluruh penjuru negeri, kalau hanya untuk menyampaikan bahwa engkau  adalah seorang yang hebat. Namun, sikapmu yang sopan dan gerak-gerikmu yang mencerminkan bahwa engkau mempunyai kepribadian. Ya, ia adalah hiasan sepanjang zaman. Ai! Engkau benar-benar rupawan bersamanya, teman.

Wahai teman, kecantikan wajah yang senantiasa engkau pamerkan, bukanlah penentu keikhlasan. Namun, sejauh apa engkau mampu memberikan keteladanan. Itulah jalan kebaikan yang perlu engkau perjuangkan. Ya, perlu perjuangan.

Wahai teman, senyumanmu adalah lambang kebahagiaan. Namun, sejauh apa engkau mampu tersenyum ketika semua itu belum lagi engkau rasakan? Ai! Saya percaya bahwa engkau mampu, teman. Karena engkau adalah teman seperjalanan.

Wahai teman, menjelang detik-detik pertemuan, mungkin engkau merasakan sesuatu yang tidak mudah untuk diungkapkan. Deg-degan… kaannnn? Namun, ketika engkau menyadari dan menikmatinya, maka itulah kenikmatan. Rasakan.

Wahai teman, pagi yang datang, menjadi jalan bagi kita untuk melanjutkan langkah-langkah lagi. Semburat sinar mentari yang mengintip dari balik dedaunan adalah salah satu bukti, bahwa kita masih ada di bumi. So, mau mengapa lagi? Yuuuuuksss kita mandiiiii pagiiiii…..😀

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s