Quote

Warna-warninya nan memikat, sungguh mengesankan

Warna-warninya nan memikat, sungguh mengesankan

Nak… Saat ini, engkau belum ada.  Ya, karena sampai hari ini, belum ada Ayah di samping Bunda. Ya. Namun demikian,  Bunda masih bergiat, melangkah, menyusuri jalanan kehidupan yang penuh dengan hiasan. Nak, kelak engkaupun tahu, bagaimana rasa yang Ibunda alami saat ini. Ai! Itupun kalau engkau benar-benar mau mengerti tentang semua yang Bunda rasakan kini.

Nak… Sampai akhirnya, engkaupun hadir di sini, tepat ketika Ayah dalam suasana yang begitu peduli. Ya, beliau sangat menyayangimu, mencintai dan merindukanmu. Itulah hari kelahiranmu. Nak, tolong jaga beliau dengan baik ya, ketika nanti Bunda mendahului kalian semua. Ya, karena kita tidak pernah tahu kapan akhir usia ini. Namun Ibunda janji, senantiasa menjagamu. Meskipun nanti dunia kita telah berbeda sekalipun.

Nak… Syukur terdalam yang seringkali menukik hingga ke dasar jiwa dan itu seringkali Ibunda alami, adalah tentang arti memberi. Ai! Sungguh! Engkau memang belum sepenuhnya mengerti tentang semua ini. Namun Ibunda yakin, bahwa engkau masih berusaha mencari tahu tentang makna dari kata yang Ibunda sampaikan tadi. Benar kan, yaa..? Nak, itu semua karena peduli kami padamu, Ayah Bundamu. Kami yakin, engkau sedang tersenyum saat ini, karena tidak berapa lama lagi, engkau sudah benar-benar memahaminya. Karena engkau sangat rajin mengoleksi beraneka tanya yang segera engkau ajukan pada kami. Yach, engkau memang anak yang manis, buah hati yang kami cintai.

Nak… Dunia kita sama. Ya, ketika pada suatu waktu engkau ingin mengenali siapa kami, Ayah Bundamu, maka cukup engkau susun hanya beberapa huruf saja di lembaran ini. Ya, karena di sini, ada jejak-jejak yang telah berhasil kami rangkai. Termasuk tentang kerinduan yang Ibunda alami saat ini, sebelum engkau ada. Nak, baik-baik dalam menjaga diri yaa.

Nak… Selama dunia masih berputar, selagi mentari bersinar untuknya, maka selama itu pula engkau perlu terus bergerak. Bukan untuk Ibunda, bukan buat Ayahandamu, namun demi masa depanmu yang lebih baik. Karena kami, tidak selamanya ada di sisimu. Karena kami pun akan (telah) pergi ke lain negeri. Nak, negeri itu yang abadi. Teruskan perjuangan yaa.

Nak… Setiap kali engkau menyaksikan senyuman mentari dari ufuk timur, maka pagi yang sama sedang engkau jalani. Pagi yang menjadi jalan tersenyumnya Bunda dalam mengisi hari. Ya, pagi yang mengawali langkah-langkah ini. Nak, saat itu pula yang menjadi mula pertemuan kami, Ayah Bundamu. Keren kan?😀 Karena itulah, Bunda sangat menyukai pagi. Terlebih lagi ketika ada mentarinya yang mensenyumi. Subhanallah, rasa-rasanya ingiiiiiiiiiiiin selamanya dalam suasana yang sama. Karena pada waktu itu, Ibunda menatap senyuman yang sangat khas. Ayahmu.

Nak… Doa-doa yang engkau alirkan saat ini, setangkai atau dua tangkai kuntumnya, sangat berarti bagi kami. Meskipun sebenarnya, semua itu sudah seringkali engkau lazimi. Nak, perbanyak dzikir yaa. Karena itulah jalan kita untuk kembali berfikir, apa makna diri ini hadir?

Nak… Saat ini, engkau pasti tahu kan, ya? Apa yang semestinya engkau baktikan. Ya, segera yaa. Karena waktumu tidak akan lama lagi. Semoga umurmu yang tersisa, menjadi semakin bermakna dari hari ke hari. Nak, dah dulu yaa… Bunda mau rehat, sampai berjumpa; “Kami menantimu…”.

“Meski tidak ada Mama dan Papa, namun Ayah dan Bunda, engkau punya. Berbeda itu biasa, selama kita masih di dunia”.

🙂🙂🙂

Kami Menantimu…


One comment


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s