Family Gathering


Sudah lama memang. Namun, lama bukanlah pertanda keusangan. Ya. Begitu kalimat yang saat ini ada dalam pikiran saya. Hahaa.. :D  Mampirnya sekejap saja, namun mampu mengulang cerita yang telah tercipta.

Pada zaman dahulu kala, Family Gathering terlaksana. Masa itu memang telah berlalu hampir tiga tahun, memang. Tepatnya, beberapa hari lagi, angka tahun tersebut akan genap. Yes! Tinggal menghitung hari, teman. Karena tanggal delapan belas dan sembilan belas Desember adalah salah satu hari bersejarah dalam perjalanan hidup saya di alam dunia ini. Sejarah yang selamanya akan terukir jelas di lubuk hati. Sejarah yang akan abadi untuk waktu yang terus bergulir. Ya, karena tepat pada tanggal tersebut, kami ber’family gathering’ ria. Bersama personel CGD yang lainnya, kami berangkat menuju Lembang. Lembang?  Ya, saya masih ingat sampai saat ini.

Sesungguhnya, banyak hal dan kejadian dalam hari-hari yang terjadi dan saya alami. Namun demikian, saya yang seringkali alpa ini akan tidak mudah untuk mengingat peristiwa demi peristiwa yang banyak tersebut, kalau saya tidak segera menuliskannya. Ya, begitulah saya. Semoga dengan menuliskan sebaris ataupun dua baris kalimat singkat saat ini, saya menjadi mudah untuk mengingat lagi beraneka peristiwa yang indah-indah.

Ketika itu, dalam beberapa tahun yang lalu, saya belum mengenal betul siapa-siapa yang ada di sekitar saya. Karena memang demikian adanya. Karena  masih belianya usia kebersamaan kami. Namun sekarang, setelah sekian lama kita bersama di sini, dalam naungan gedung yang sama persis seperti yang dulu, di bawah langit-Nya yang membentang indah. Pun masih di bawah terik sinar mentari yang menerangi bumi, saya mulai mengerti bahwa kita bersama saat ini adalah untuk saling melengkapi.

Betul, tiada mendung yang bergelayut terlalu lama. Setelah beratnya menyimpan volume yang berlebihan, maka tumpahlah keseluruhan. Pun, tidak selamanya mentari menyinari dengan sinar cerianya yang menyenangkan hati. Karena sebentar lagi, keteduhan jiwa dan kedamaian fikiran siap untuk menjadi penghibur diri, ketika derasnya hujan mengguyur bumi. Ya, selama kita ada di alam dunia ini, tiada yang abadi. Hanya nanti ketika kita sampai di kampung halaman yang sesungguhnyalah, akan terbuai diri dengan segala niat dan bakti.

Wahai, bersyukurlah diri, lalu bersabarlah dalam menjalani, bukankah dunia adalah jalan diri dalam upaya menuju Sang Cinta Sejati? Ya, lalu, apa lagi yang perlu kita pertanyakan meski dalam sunyi yang membisiki relung hati? Ketika hati ini begitu tenangnya bersenandung. Lalu, bahagialah … bahagialah … saat ini.

***

Namun sepertinya, belum ada family gathering lagi…

***

Bagaimanapun keadaan dan kondisi yang sedang kita alami, kalau kita menikmatinya, maka suasana hati akan mengikuti. Bukankah menikmati waktu adalah salah satu kunci untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu? Ya, bagaimana kita  akan menjadi merasa lebih baik, kalau kita malah menjadikan hari ini yang hanya ada saat ini sebagai sesuatu yang tiada harganya. Ai! Sungguh, bukan hal yang demikian yang kita mau, kan ya friend?

Berbincang tentang menikmati waktu, sebenarnya kapanpun kita mau, kita dapat menjalaninya. Ya, karena saat ini adalah kesempatan tersebut. Maka sekarang terserah pada kita, apakah kita mau melewatkannya begitu saja? Atau malah bergiat ria untuk memanfaatkannya.

Malam, hanya sekejap…

Siang pun hanya sesaat…

Seiring dengan bergulirnya waktu, keduanya akan meninggalkan kita. Bahkan tanpa sempat kita menyadarinya, malam dan siang sebenarnya sedang berlari, ia bergerak cepat sekali! Sekejap saja kita berpaling, maka alhasil kita tidak akan dapat lagi menemui siang dan atau malam pada hari ini. Ya, begitu.

Malam, bergerak pesat!

Siang juga berlalu bagai kilat!

Tidak terasa, Desember kembali hadir, bahkan saat ini ia telah berjalan sebagian. Waih! Ada kesan dan pesan yang bagaimanakah akan kita sisipkan di dalamnya? Seorang yang menghargai waktu, tentu kembali mengintrospeksi diri, tentang pemanfaatan waktunya hari ini. Lalu, bagaimana dengan kita?

Tidak terasa, Desember sudah akan berakhir, bahkan hanya beberapa hari lagi, ia akan sampai ke ujungnya. Hingga akhir tahun 2011 akan kita jelang pula. Ammmmm… ada sekelumit kisah yang tercipta dalam tahun ini. Ada banyak peristiwa yang menyentuh hati. Termasuk, proses. Ya, dalam tahun dua ribu sebelas ini, begitu banyak proses yang terlewati. Adakah kita menyadari, wahai diri?

Tidak terasa, Desember hari ini akan sampai pada ujungnya. Ya, angka lima belas tersisa beberapa jam lagi. Sedangkan kita, tidak akan mampu untuk menghalangi pergerakannya. Kalaupun kita mau, cegat saja ia. Lalu, peluklah erat, agar tidak pergi. Namun, bukan untuk itu kita ada. Hanya saja, kita penting untuk menjadikan detik ini berarti. Walaupun sebentar lagi, kita tidak lagi bersama-sama dengannya. Relakanlah…

Tidak terasa, Desember lima belas telah mencapai malamnya. Seperti halnya siang-siang  sebelumnya yang bersinarkan mentari, namun siang tadi, tidak! Karena sang raja siang terkalahkan oleh awan gemawan yang menaungi bumi. Tapi, tidak usah engkau bersedih, kawan, karena esok mentari kan bersinar lagi membawa senyuman terindah buat bumi dan indah ini, yakinlah. Begitu pula, seperti malam-malam yang telah tertinggalkan, malam ini tiada cahaya rembulan, teman. Gelap menggulita jagad raya, ternyata. Aha! Namun, usahlah engkau mengerutkan keningmu, teman, karena masih ada pelita. Nyalakan ia, lalu membacalah. Baca peradaban.🙂 Lebih baik kan, yaa… ?😀

Tidak terasa, Desember tahun ini akan segera pergi. Untuk meninggalkan kita yang sempat ada bersamanya. Lalu, ada hadiah apa yang dapat kita bingkiskan padanya yang akan berlalu? Cukupkah dengan mengukir senyuman dari bibir ini? Ataukah cukup dengan menguntai barisan kata yang jemari susun dengan rapi? Atau malah kita mentertawakan ia yang sempat menyimpan kelucuan-kelucuan di bilik hati? Hmmm,,… sepertinya, menangis adalah pilihan. Aha!  Kita menangis saja, yuukksss saat melepasnya…?

 Atau….

Bagaimana kalau kita lanjutkan saja rangkaian kalimat-kalimat ini, wahai teman. Jadi, kita sedang dalam upaya untuk menitipkan bait-bait suara jiwa padanya. Agar ia dapat membawanya, dan menebarkannya. Lalu, bait-bait tersebut dapat bertumbuh, mewujud benih-benih harapan. Ya, benih-benih terbaik yang akan berkembang merimbun, lalu berbuah kebahagiaan. Yes!

“Saat ini, saya sedang membayangkan “Acara Family Gathering” terlaksana. Ya, bersama warga villa wisata Dodol, tempat kami berkumpul kini. Ingiiin sangat rencana ini berlangsung, meriah! Dan, salah satu tujuan yang saya mau adalah “Kebun Teh”. -Bagaimana dengan teman-teman, yaa? -.

Kebun teh, adalah salah satu tempat impian yang sangaaaat ingin saya kunjungi. Kesejukan yang ia tawarkan, melambai-lambaikan jemarinya selalu, setiap kali fikirku terbang bebas ke masa depan. Ya, keberadaan diri ini di antara dedaunan teh yang semerbak merupakan masa depan yang indah dalam bayangan fikirku. Ai!, Safa yang mau menemaniku ke sana yaa….? Wahai semesta, dekatkanlah kami (Akudandia).

Kebun teh, I miss you so much… Ber’family gathering ria’ menujumu, atau hanya piknik sehari doang, bolehlah. Karena saya ngidam banget dengan kebun teh, pokoknya, saya ngidam banget ke kebun teh, ngidam banget ke kebun teh, pengeeeeeeeeeennnnn. Ya  Allah… Engkau Maha Tahu, rintihan hatiku, di malam yang segulita ini… *0*.

Sebelum tahun dua ribu sebelas benar-benar berganti dengan tahun setelahnya, saya sudah perlu sampai di kebun teh. Sampai di sebuah lokasi yang saya impikah sejak jauh-jauh hari. Yach, semenjak dulu, ketika masih esempe, teman. Lamaaaaaaaa kan, impian ini bertengger di fikirku. Ai! Betapa engkau dapat membayangkan bagaimana keadaannya saat ini. Ya, impianku itu. Impian agar dapat menjejakkan kaki-kaki ini di perkebunan teh yang menghijau. Segeeeeeer. Fresh, dan sumringah, senyuman menebari hari, bersama mentari.

***

Teman, berhubung malam telah menanjak tinggi sekali, kini saatnya mimpi-mimpi ini terpending dulu. Lalu, saat untuk melanjutkan mimpi telah hadir pula. So, ketika kesempatan ini hadir, mengapa kita tidak menangkapnya? Yes! See you, mentari pagi…🙂 Esok hari lebih cerah dengan senyumanmu nan merekah. Yakinku. Selamat melanjutkan langkah. Bersinarlah di bumi tempatmu berada kini, dengan indah. Karena memang, untuk itu engkau ada. Semoga bakti dan pengabdianmu hari ini, berbalaskan pahala termewah, megah dan berkelimpahan anugerah. Aamiin ya Rabbal’alamiin.

😀 Oia, semoga mimpimu indah, malam ini….😀

“Menatap mentari yang menyinari, diri, … Ya Rabb, padaMU kami memuji”.

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s