Dua Ribu Sebelas Karakter


Anyeonghaseo

Anyeonghaseo

Gadis lugu yang lebih sering berada di rumah dari pada melangkah. Ia yang belum mengenal apa itu masalah. Ia yang sangat mudah untuk mengalah. Bahkan, ketika ada yang marah padanya, ia hanya mampu mengurai bulir bening berupa permata kehidupan yang akhirnya tumpah, ruah melimpah membanjiri kedua pipinya. Basah. Ai, ia adalah putri kesayangan Bunda dan Ayah. Namun kini, zaman telah lama berubah. Begitu pula dengan aktivitas kesehariannya yang turut merekah. Ia, sekarang sedang melangkah.

Dalam perjalanan panjangnya yang seringkali bertabur hadiah, ia menemukan anugerah yang seringkali membuatnya berucap, “ Alhamdulillah…., terima kasih ya Allah”. Allah, adalah tempatnya mengadu atas segala kesah, keluh dan membagi sumringah. Allah, yang ia yakini sangat dekat dan sangat lekat dengannya. Ia, kini sedang tersenyum meriah bersama-NYA. Ai, betapa beruntungnya sesiapapun yang sedang berada di sampingnya, kini.

Pada suatu hari, akhirnya sang gadispun tersipu. Ia malu pada dirinya sendiri, ketika ada yang mengatakan, “Jangan lupa menikah, yah”. Aha! Serta merta ia tertawa lalu mengatupkan lagi kedua bibirnya nan merah. Ia begitu belia saat itu, dan kesadarannya menyatakan bahwa ia masih dalam masa berbenah. Yang insyaAllah, dalam tahun 2012, Agustus adalah masa terindah dalam perjalanan hidupnya. Yes! Penyampaian hadiah padanya, atas segala upaya dan kegigihan dalam melangkah. Ia baru saja meneteskan airmata, teman. Airmata itu mudah meleleh. Ia terharu dalam senyuman.

Gadis pendiam, yang lebih sering berpikir dalam hari-harinya, lalu ia pun merenungkan atas segala tingkah. Adakah yang saat ini telah berubah? Sering ia bertanya. Masih banyak yang perlu ia pelajari tentang bagaimana cara memaknai kehidupan yang sedang ia jalani. Ya, karena ia adalah seorang yang sangat ingin menjadi lebih baik lagi, dari hari ini. Meskipun waktu yang ia punya hanya hari ini, bahkan detik ini saja, namun niatnya telah lama tertancap dalam jiwa. Bersama kita bisa! Motto yang menjadi senjatanya setiapkali para penggoda bernama suara hati, menyapanya. Dengan demikian, ia sedang meyakinkan fikir, hati dan dirinya sendiri, bahwa ia sedang bersama. Lalu, merekapun bersenyuman sungguh indah, sesaat setelah mereka menyadari atas semua yang mereka alami.

Ruang jiwanya, relung hatinya, pusat fikirnya, adalah prasarana yang seringkali ia manfaatkan untuk mengkonfirmasikan terlebih dahulu, sebelum mereka memulai langkah. Dengan perintah yang telah mereka sepakati bersama, barulah langkah-langkah yang ringan dan tertata mengayun anggun. Sehingga, hari demi hari terasa sungguh cerah. Ceria itu hadir, semenjak mentari pagi menunjukkan dirinya.

Ia adalah gadis desa yang datang ke kota, untuk menjadinyatakan impian dan harapannya yang telah lama hadir. Yes! Seiring dengan perjalanan waktu, proses demi proses ia tempuhi. Berjalan di tengah padang rumput yang menghijau, di bawah terik mentari yang menyengat, bersama semilir angin yang berhembus, sudah biasa ia alami. Bahkan pemandangan yang sama, seringkali ia saksikan. Mendung lalu hujan mengguyur bumi. Subhanallah, alam adalah tempatnya melangkah. Lalu, bagaimana pula ia merasa lelah kalau ia menikmatinya?

Menangis se-jam, sudah tidak jarang lagi ia lakukan. Apalagi untuk menebarkan senyuman, ia melakukannya ketika ia mau. Karena, semua adalah pilihan. Ya, tangisan ataupun senyuman adalah bagian dari warna-warni hidup. Ia sangat memahami tentang hal ini. So, tiada yang dapat membuatnya tersenyum kalau pada satu kesempatan terbaik, ia pengen menitikkan bulir permata kehidupan yang bening itu. Pun, tiada yang mampu mentangisinya, kalau ia inginkan tersenyum bersama waktu. Dan untuk saat ini, dapat engkau saksikan wahai teman, sedang ada yang berusaha untuk membujuknya, “Tersenyumlah, sayang”, begini kalimat yang jiwanya sampaikan lewat detak jantung yang bergerak hebat. Semua yang ia upaya menyisakan kesan, sangat indah. Ada apa dengan mereka? Siapakah sang jiwa yang sedang menyampaikan pinta?

Teman, lupakah engkau dengan satu kata “Cinta”. Ya, jiwa yang sedang menyapanya adalah jiwa yang penuh dengan cinta. Jiwa yang sedang membujuknya adalah jiwa yang penuh dengan kasih dan sayang. Jiwa yang sedang menatapnya dengan pandangan yang penuh makna itu, adalah jiwa yang mampu mengusik konsentrasinya, segera. Kini, terlihat mereka bersenyuman penuh arti. Hingga kita tiada mampu menerka tentang apa yang sedang mereka pikirkan. Tersenyumlah bersama mereka, wahai jiwa yang mampu mensenyumkan.

Sang gadis, perempuan itu tidak lagi berusia tujuh belas tahun. Karena ia telah melewati angka yang indah, angka belia untuk hitungan masa. But, ia masih muda. Semuda jiwanya yang seringkali menyapa lebih rajin. Jiwa yang saat ini sedang ada bersamanya. Ya, jiwa yang membuatnya mampu mensenyumi dunia, jiwa yang menjadi jalan sampaikan ia di sini. Di dunia maya yang mempertemukan mereka. Jiwa itu pulalah yang menjadi jalan baginya untuk mengenal, siapakah ia yang sesungguhnya? Berulangkali tanya yang sama menanyainya. Hingga akhirnya, pada suatu hari yang cerah, mentari menyilaukan arah tatapnya. Hal itulah yang membuat ia belum lagi percaya, tentang arti kehadiran sang jiwa. Siapakah jiwa, siapakah ia?

Meskipun semua orang berbeda, namun ia yakin bahwa perbedaan itulah yang mampu menghadirkan cinta. Bermula pertemuan, bukanlah terasa apa-apa, namun lamanya waktu bersama, mengubah segalanya menjadi mungkin. Akhirnya, mereka pun benar-benar hidup bersama. Ia dan jiwanya yang merdeka, mampu mengubah dunia. Setidaknya, dunia mereka menjadi lebih bercahaya. Karena ada mentari di hati. “My Surya”.

Setiap kali pagi membuka hari, setiapkali itu pula ia merindukan tatapan mentari nan meneduhkan jiwa. Setiapkali mentari menyinari alam-NYA, selama itu pula ia teringat akan kisah perjalanannya dalam menemukan arah yang semestinya ia tempuh. Karena jarak yang sedang ia susuri, tidaklah terlalu jauh ataupun lama. Karena waktu yang ia punyai sangatlah singkat. Hanya ada detik ini saja, selain itu bukan miliknya. So, dengan waktu yang sedetik saat ini, ia mencurahkan segala upaya terbaik yang mampu ia lakukan. Berusaha menikmati waktu yang sedetik adalah salah satu cara untuk dapat menikmati waktu seumur hidup.

***

Untuk kita, perlu melangkah di jalur yang bahkan sangat baru untuk kita lalui. Namun, kita perlu menempuhnya. Meskipun jalan itu sangat asing sama sekali, sesungguhnya di sana ada bahan pelajaran untuk kita pahami. Walaupun jalan yang akan kita tempuhi masih panjang, ternyata, namun kita perlu membuktikannya. Karena apalah artinya mendengarkan dan menyaksikan berita saja, kalau kita belum mengalaminya. Pengalaman adalah hasil pelajaran yang dapat kita abadikan sebagai prasasti eksistensi, bukan? Tentu lebih berkesan”.

Tentang bagaimana corak warna masa depan yang akan kita hadapi? Tidak ada pengetahuan kita atasnya, sedikitpun. Namun, ada satu langkah yang dapat kita gerakkan dalam detik yang sedang kita temui kini, milikilah harapan. Ya, harapan akan kehidupan yang lebih baik dari saat ini. Termasuk harapan untuk mampu menjadi seorang yang baik. Ya, menjadi orang baik, yang kebaikannya menjadi jalan kebaikan pula bagi orang lain. Terutama bagi sesiapa saja yang saat ini ada dan sangat dekat dengan kita. Ya, diri kita sendiri adalah sasaran utama.

Bersaing dengan diri sendiri, untuk menjadi lebih baik darinya, dari waktu ke waktu? Aha! Adalah sebuah perjuangan yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, memang. Namun, selagi kita mau untuk terus berupaya optimal, maka kita mampu, insyaAllah. Bukan untuk menjadi lebih baik dari orang lain, namun untuk menjadi lebih baik lagi dari diri kita sendiri. Begini para pendahulu kita menitipkan pesan. Agar kita kembali tersemangatkan dalam berjuang. Yes! Sebaris pesan ini, senantiasa menari-nari di dalam fikir ini, setiap kali ia alami penurunan kondisi. Ya, ketika fikir yang selama ini kita manfaatkan untuk beraktivitas, tiba-tiba ia ngedrop sejenak.😀 Wah! Terima kasih atas segalanya, wahai para sahabat yang baik.

Wahai teman, hari ini engkau mungkin sedang menangis, atau sedang menderukan sendu dari relung jiwamu, karena sangat jauh dari Ibu. Akibatnya, airmata yang selama ini berdiam di selaput tipis kedua bendungan. Adalah bagian peneropong arahmu dalam melangkah, mulai menumpah bebas. Benarkah? Oia? Engkau sedang menangis betulan, wahai teman…? Menangislah. Kalau memang itu dapat melegakanmu. Enjoy it, only.

***

Ia tidak lagi peduli dengan tatapan mata yang menyingkapkan seluruh rasa yang ia punya. Pun, ia tidak lagi mengindahkan arti suara-suara yang sampai padanya. Ia juga sedang berupaya mengalihkan perhatiannya ke lain arah. Ketika pada satu kesempatan, ia menyaksikan ada bola-bola mata yang mencari-cari kesempatan untuk menembus hingga ke relung jiwanya yang terdalam. Ai! Pandangan apa pula itu? Ia mulai menyadari, ini semua hanyalah hiasan. Apalah artinya menghabiskan masa yang ada untuk hal-hal seperti yang demikian. Bukankah lebih baik kalau kita segera merenungkan arti kehadiran? Lalu, mencari-cari kesempatan untuk menjadikannya seperti yang kita mau. Bukan malah melihat keluar dari diri kita sendiri, lalu membanding-bandingkan antara seorang dengan yang lainnya. Sungguh, bukan hal yang seperti itu yang semestinya kita aplikasikan dalam keseharian. Adalah waktu tidak akan terulang lagi, lalu dengan cara yang bagaimanakah kita memanfaatkan detik ini, wahai teman?

Ia mengakui dengan sepenuh hati, bahwa keberadaannya saat ini di sini, adalah untuk memetik hikmah dan pelajaran dari apa yang disampaikan oleh alam. Lalu, ia mengolahnya di dunia fikiran. Kemudian dengan bantuan perasaan yang seringkali menawarkan bantuan, ia pun mengambil tindakan. Semoga tidak berlebihan. Sederhana dan sahaja adalah jalan kebaikan. Dengan cara ini, ia menjalani hari demi hari dengan penuh ketenangan. Karena, segala upaya sedang ia kerahkan dalam perjuangan. Wahai teman, kesabaran dan ketekunan serta rasa syukur yang berkepanjangan adalah diantara sumber kebahagiaan.

Terlalu mudah ia menitipkan kesan, tapi semudah mengumpulkan pesankah? Bermudah-mudah ia dalam mengumbar perasaan, namun semudah merangkai impiankah? Sungguh mudah ia dalam memaafkan, adakah semudah mengukir senyuman terindah? Sungguh mudah menemukan seorang teman, tapi tidak semudah mengabadikan persahabatan.”

Keramahan, kelembutan, karakter yang bertabur persahabatan, sangat ia sukai. Terlebih lagi tentang senyuman. Karena senyuman adalah jalan yang dapat mensenyumkan siapapun yang menyaksikan kehadirannya. Namun, ketika semua itu ada di kejauhan, saat lingkungan di mana ia berada kini sedang tanpa senyuman, ia hanya mampu berucap seraya merenungkan, “Masih ada harapan”. Semoga, senyuman segera mendekat. Lalu, memeluk erat wajah-wajah yang sedari tadi penuh dengan keseriusan. Hay! Ia punya ide. Ide yang ia yakin seratus persen akan membawa perubahan. Hingga akhirnya, ia memulai untuk tersenyum terlebih dahulu. Lalu, ia pun menebarkannya. Nah! Lihatlah teman… lihatlah… ya, lihatlah…senyuman terindah yang ia impikan selama ini, begitu mudahnya bermunculan. Tidak berapa lama kemudian, kemewahan memenuhi sekitaran. Senyuman sedang menunjukkan keberadaan. Ia senang, lalu beraikan salam. Kemudian menyampaikan kesan, “Terima kasih, teman”. Buat teman-teman yang tersenyum, buat teman-teman yang mencerahi fikir dengan titipan suara hati, senyuman ini.

Berikan apapun yang engkau mau beri, lalu tersenyumlah dalam melakukannya. Sampaikan apapun yang saat ini hinggap di dalam fikir, namun teruslah mendengarkan suara hati. Karena ia seringkali mengingatkan kita untuk kembali. Ya, kembali pada diri sendiri. Karena semua yang terjadi, yang kita alami, yang pernah kita jalani, yang seringkali kita temui adalah jalan bagi kita untuk menyadari, siapa diri ini. Diri yang ada di bumi ini, bukan untuk selamanya, bukan pula untuk membangga diri. Namun, ada satu harapan yang senantiasa kita bangkitkan. “Keep moving”. Selama bumi masih berputar, jalan-jalan yang indah itu sedang membentang. Temukan jalan senyummu.

Ada orang berkata, “Engkau bisa ketika engkau yakin, bahwa engkau bisa”. Lalu, ada pula orang yang menitipkan pesan begini, “Bayangkan terlebih dahulu akan gambaran masa depan yang engkau harapkan terjadi, kemudian melangkahlah untuk mengukirnya dalam kenyataan”. Walaupun dalam menempuhnya memerlukan proses yang panjang, akan tetapi ketika engkau percaya pada Yang Maha Menentukan, maka engkau kembali mau berjalan. Ya, berjalan lagi setelah engkau sakit karena terluka. Kemudian melangkah lagi, setelah engkau beristirahat akibat alami penat yang berkepanjangan. Dunia adalah jalan.

Ia yang lembut hatinya, berkarakter seperti baja, namun wajahnya tenang, setenang semilir angin yang sepoi-sepoi menyejukkan. Waktu itu adalah sore menjelang malam. Dari ufuk barat, ia menangkap mega nan jingga. Wahai sungguh pemandangan yang rupawan, teman. Di pantai dengan pasir yang berlarian tersapu angin, ia melangkahkan lagi kaki-kakinya untuk meninggalkan jejak-jejak terbaik. Kalau bukan karena kebutuhan, tentu ia tidak akan pergi ke pinggir lautan tersebut. Bukankah ia gadis pingitan, yang keluar hanya kalau ada keperluan. Heheheee…😀 Sebuah kisah perjalanan dari seorang sahabat. Kelak, ia menjadi kenangan yang menyisakan keabadian. Kenangan yang kita tahu, sebagai proses dalam merangkai senyuman. Ia menjadi bukti persahabatan.

Buat ia yang saat ini kembali melangkah, teruslah berjuang wahai teman. Engkau adalah titipan terindah dari-NYA. Ketika pada satu waktu engkau merasa lelah dalam berjalan, istirahatlah sejenak untuk menikmati pemandangan. Sungguh, alam dapat membuatmu kembali mengukir senyuman setiapkali engkau merasa ia ada di kejauhan.

🙂🙂🙂

Setelah saya melihat dari total huruf yang saat ini sedang bersusunan, ia baru ada sebanyak seribu sembilan ratus lima pula delapan buah. Ai! Sepertinya, ini adalah tulisan terbanyak yang pernah saya rangkai di dunia maya ini. Baiklah, untuk saat ini, saya akan menyudahi dulu. Cukup dua ribu karakter saja untuk saat ini, yach. Insya Allah, rangkaian yang lebih panjang lagi akan tercipta segera. Wah! Sekarang malah lebih, jadinya dua ribu sebelas😀.”

 


2 comments


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s