Menjadi Cantik dalam Sekejap


Inner Beauty

Inner Beauty

Hohooo, terlalu hiperbola ya? Rangkaian kata yang tercipta pada judul catatan untuk saat ini. But, saya suka. 😀 So, duduk manislah huruf demi huruf yang hanya terdiri dari dua puluh lima buah tersebut pada posisi puncak. Yes! Ialah kalimat yang pertama kali terbayang dalam fikiran saya, sebelum rangkaian tulisan ini tercipta. Makanya, yang pertama kali saya ketikkan pada keyboard adalah “Menjadi Cantik dalam Sekejap” itu tadi. Tidak seperti biasanya. Saya yang lebih sering merangkai bagian isi terlebih dahulu, baru menyusun judul. Namun, untuk kali ini memang berbeda, teman. Ya,    agar nanti saya tidak lupa padanya. Karena dapat engkau bayangkan, bagaimana usaha yang saya kerahkan untuk mengingatnya, semenjak awal ia muncul dari arah fikir ini, hingga akhirnya ia tumpah di sini. Sungguh! Perjuangan yang penuh dengan kenangan. Indahnya, ketika saya menyempatkan waktu untuk mengingati kini.

Menjadi cantik dalam sekejap. Yes! Dengan pandangan mata yang berbinar-binar, ditambah senyuman yang mengembang bebas, saya teringat pada lembaran ini. Iya, tempat yang akhir-akhir ini saya manfaatkan untuk menyimpan segala yang ada. Untuk ku kenang-kenang, nanti. Ihiy! Buat apa lagi ya? Kalau bukan untuk mengingatkan diri, bahwa saya pernah mengalami hal yang seperti ini. Dan nanti, ia belum tentu akan saya jalani lagi. Karena apa yang terjadi saat ini, adalah sesuatu yang pasti.

Inner Beauty? Siapa sih yang tidak mengenal dua kata yang penuh dengan tanda tanya ini. Ya, setidaknya, di dalam rangkaian kalimat ini, ada satu buah tanda tanya yang sedang mengikutinya. Apa pendapatmu wahai teman, ketika mendengar kata “Inner Beauty?”.

Apakah inner beauty dapat kita ketahui dari penampilan yang cantik dan menarik secara nyata? Atau, kita  perlu mendalami terlebih dahulu untuk memahami sang inner beauty? Ataukah dengan menyelami lautan jiwa hingga ke dasar nurani? Baru kita dapat mengetahui makna dari inner beauty yang istimewa ini? Wahai teman, pada hari ini saya mempunyai kisah yang menyentuh, berkesan, dan penuh dengan mimpi. Ya, dapat engkau bayangkan, bagaimana perasaan yang saya alami kini, ketika mendapati segala yang terjadi. Aku terharu, sekaligus berbunga-bunga bahagia.

Inner beauty itu ternyata tidak perlu kita cari, karena ia ada bersama kita saat ini. Siapapun engkau, bagaimanapun rupamu, engkau mempunyai inner beauty. Walau sejauh apapun jarak yang engkau tempuh hanya untuk mendapatkan jawaban dari satu pertanyaan tadi, engkau tidak akan dapat memperolehnya, karena jawabannya ada di dalam dirimu sendiri. Karena tadi, ada seorang Ibu yang berpesan pada saya, begini bunyinya, “Memang, yaa. Tidak ada alasan untuk berkata kita tidak punya biaya untuk meneruskan pendidikan. Selagi ada kemauan, pasti ada jalan. Intinya, mimpikan apa yang kita harapkan terjadi, lalu berjuang dan melangkahlah dalam mewujudkannya. Insya Allah, tercapai. Lalu, bermudah-mudahlah dalam memberikan kemudahan kepada orang lain, agar kemudahan senantiasa mengikuti kita. Perbaiki diri lebih sering, dengan cara menata niat lebih hati-hati. Allah Maha Tahu segala isi hati. Yakinilah dengan sepenuh hati, rezeki tiada akan pernah terganti. Kalau kita gemar memberi, kebaikan selalu menaungi. Kalau tidak kini, yakinkah kita akan hidup satu detik lagi?”.

Seorang Ibu yang baru saya kenal hari ini, dalam kesempatan kita berjumpa untuk sebuah keperluan. Ya, saya yang menghampiri beliau lebih awal, lalu kita pun berbagi tentang makna perjalanan ini. Kita terlibat percakapan panjang selama lebih kurang satu jam. Whaaa..? 😀 Bukan ngerumpi, namun menyampaikan suara hati. Yes! Akhirnya, kami curhat-curhatan gitu. Akan tetapi, beliau yang lebih banyak bertanya kepada saya, tentang bagaimana prosesnya hingga saya sampai di sini. Beliau mengurai lebih rinci hingga ke akar-akarnya. Sampai akhirnya, beliau tahu bahwa saya masih berada di sini sampai saat ini, adalah atas kemurahan dan kebaikan dari hamba-hambaNya yang baik hati. “Wahai, sungguh mulianya Bapak tersebut, ya, berbudi”, inilah salah satu ekspresi yang beliau tampilkan, sesaat setelah saya berkisah lebih luas tentang banyak nama yang mempunyai andil atas diri ini.

Beliau adalah jalan jalan kebaikan yang sedang membentang indah. Adalah para hambaNya yang semoga senantiasa Allah tebari dengan pahala nan melimpah, Ya Allah, syukur ini tiada bertepi, melebihi luasnya samudera yang membentang di bumiMU nan megah. Balasi amal kebaikan beliau semua, dengan pahala yang lebih baik, di sisiMU, ya Rabb. Semoga saya dapat pula mencontohi jejak terbaik dan teladan yang beliau tinggalkan. Hingga saya dapat pula menempuhnya, untuk menjadi jalan kebaikan. Aamin ya Rabbal’alamiin. Karena dengan berbagi, senyuman akan lebih sering menghiasi bumi. Perkenankan kami untuk memperindah kado yang akan kami persembahkan padaMu, dengan senyuman-senyuman yang akan terukir itu, ya Rabb.

Wajah-wajah ikhlas dan penuh ketulusan, menatap kita dengan mata yang lebih ceria. Mereka berbahagia, mereka lega. Mereka akhirnya dapat merasakan bagaimana cerahnya masa depan yang sedang membentangkan tangannya untuk memeluk erat sesiapa saja yang sedang melangkah menuju padanya. Itulah wajah sebuah masa yang penuh dengan genangan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang terukir. Wajah sebuah masa yang sedang mensenyumkan dunia dengan segala keindahannya.

Wahai, bagaimana dengan wajah pendidikan kita saat ini? Adakah kita merasakan, bagaimana pahitnya kehidupan yang sedang berlangsung, bila tanpa pendidikan dan ilmu pengetahuan? Pernahkah kita merasakan, bagaimana getirnya hari-hari yang sedang dijalani, kalau tanpa harapan akan masa depan yang lebih baik?  Mampukah kita membayangkan bagaimana wajah-wajah polos itu dapat tersenyum, kalau tanpa asa dan cita yang kita titipkan padanya? Lalu, mampukah mereka melangkah untuk membuktikan cintanya pada Ayah dan Bunda kalau jalan yang kita bentangkan belum terdeteksi? Tentu saja mereka mampu, kalau mereka mau. Ya, kemauan adalah pelita dalam kehidupan. Pelita yang dapat menyalakan obor harapan. Ia menerangi hati dan fikir.

Bagaimana bisa, hanya dengan membayangkan saja, akan segala liku dan perjuangan yang mereka tempuh untuk mewujudkan segala harapan. Kalau kita belum mau memberikan kontribusi yang berarti. Lalu, apa yang sedang kita gulirkan kepada mereka, yang saat ini sedang bersiap untuk bergerak. Adakah bola voli, bola basket, bola pingpong, atau bola mata yang menatap dengan penuh kasih sayang? Sudahkah kita menyusun draft tentang rencana kita ke depannya? Tentang gambaran hari-hari yang penuh dengan cerita? Ya, hari-hari di mana banyak bola mata nan bening sedang menempuhi masa pendidikannya, dengan gembira. Mereka adalah anak-anak yang mempunyai cita dan harapan. Mereka adalah para penerus kita. Mereka yang akan menyampaikan tatapan penuh cinta pada generasi selanjutnya, setelah kita. Mereka merasakan bahagia, lalu kebahagiaan tersebut mereka tunjukkan pada dunia. Karena mereka sedang berada di sana. Dunia pendidikan adalah dunia penuh cinta.

Bagi siapapun yang peduli akan dunia pendidikan, maka tersenyumlah saat ini juga. Ya, tersenyumlah lebih indah, karena dunia pendidikan merupakan jalan bagi kita untuk dapat tersenyum. Tersenyumlah wahai sahabatku, maka engkau cantik dalam sekejap. Tersenyumlah dengan hatimu.

Kecantikan hati adalah inner beauty, yang semua kita dapat mempunyainya. How can? Berbagilah, lalu tersenyumlah. Memberilah, lalu lupakan. Maka engkau dapat menemukan betapa indahnya hidup ini terasa. Bukankah dengan keindahan yang menaungi, kita dapat merasakan adanya satu getaran aneh dari dalam diri ini. Ia bernama suara hati. Hati yang berbicara, lalu terciptalah wujudnya berupa nada-nada nan memelodi ke seluruh penjuru bumi. Hingga engkau dapat merasakan bahwa ia sedang menyalurkan kekuatan yang sangat terang. Dengan kekuatan cahaya, engkau dapat mengitari semesta ini. Wwooooww…  😀 Yuuuuks kita mampir sejenak di negeri matahari.

Cahaya yang berasal dari benderangnya qalbu merupakan salah satu asset berharga bagi siapapun yang merindukan hari penuh sinar. Lalu, sudah sejauh apakah kita mampu membenderangkan qalbu yang tersimpan nun jauh di dalam diri? Sudahkah kita mengenal siapa diri ini? Ya, diri yang membawa hati tempat tersimpannya inner beauty. Hati yang menjadi awal hadirnya niat untuk berbagi. Hati yang kalau kita tidak berhati-hati, maka ia akan membawa kita pada dunia lain. Dunia yang tidak abadi ini. Dunia yang menjadi tempat persinggahan sementara. Dunia ilusikah itu? Atau dunia mimpi yang mengusik keberadaan diri? Wahai hati, adakah engkau terjaga, saat ini. Atau malah sedang terlelap dalam buaian kesibukan duniawi.

Cahaya yang memandu kita untuk melangkah menuju padaNYA adalah Cahaya Kehidupan. Kalau kita menyadari keberadaan sang cahaya, maka kita pasti sedang bergiat diri dalam mengikutinya. Namun, kalau siapa diri ini saja kita belum mengenali, bagaimana pula kita akan melangkahkan kaki? Akankah kita membiarkannya tanpa arti?

Kalau kita sudah mengenali siapa diri ini, tentu kita akan mempunyai rasa peduli padanya. Dengan kepedulian yang telah tumbuh tersebut, maka kita akan merawatnya agar terus subur.  Kepedulian untuk merawat diri, adalah salah satu bukti kecintaan pada diri sendiri. Nah! Ada banyak cara yang dapat kita lakukan saat mencintai diri sendiri. Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan memperhatikan kebersihannya. Menjaga kebersihan jasmani dan ruhani merupakan aktivitas terpenting yang perlu terus kita lakukan. Ai! Betapa manajemen waktu sangat kita perlukan, ya? Agar kebersihan keduanya dapat kita nikmati. Wah! Kalau hanya memikirkan akan hal ini, tentu kita tidak akan punya waktu untuk mengerjakannya. So, let’s do it.  😀

Mari kita bayangkan terlebih dahulu, untuk merawat satu tangan saja, kita perlu waktu spesifik. Agar ia dapat terjaga kebersihannya. Begitu pula dengan kaki-kaki nan melangkah ini, ia perlu kita perhatikan. Mau kemana ia mengantarkan kita hari ini, dan selanjutnya? Ai! Tidak mungkin, kan ya? Kalau ia sembarangan melangkah. Nanti bisa-bisa nyasar, ya. Kalau kita tidak mengendalikannya dengan baik. Hal yang sama juga berlaku pada wajah, yang terdiri dari hidung, mata-mata yang berkerlingan, bibir yang –tersenyum……. adakah senyumannya tulus?  Kemudian, telinga yang kiri dan telinga kanan, apa yang sedang ia dengarkan saat ini? Masihkan ia berfungsi optimal? Adakah kita memperhatikan kondisi terakhirnya? Masihkah ia bersama kita saat ini?  Check sound. Check sound. Heheeee… “Bagi yang saat ini, telinganya masih ada, … itu adalah rezeki. Lalu, bagaimana kita memanfaat kebersamaan dengannya?”.

Wah! Ternyata tubuh kita itu rameeeeee personelnya yaa. Itu baru beberapa bagian fisik yang terlihat oleh mata. Lalu, bagaimana dengan kondisi yang belum terlihat oleh tatapan nyata? Bagaimana dengan detak jantung yang saat ini berdebar? Bagaimana pula dengan bagian terindah itu, ruhani kita…. wahai teman. Sudahkah kita menge-cek kondisi terbarunya? Ada kabar apa yang ia sampaikan pada kita? Adakah ia beraikan syukur atas keakraban yang sedang kita bina bersamanya, atau malah sebaliknya. Seberapa sering ia bersabar dalam menanggapi beraneka warna hidup ini?  Mampukah kita mengenali mereka semua yang saat ini sedang ada bersama kita? Adakah kita menyempatkan waktu untuk mengetahui dan memahami tugas dan fungsinya masing-masing? Sudahkah mereka bekerja optimal sesuai dengan yang seharusnya? Lalu, mau kita bawa kemana arah kehidupan yang sedang kita jalani bersamanya? Wahai temanku yang baik. Diri ini adalah titipan dari Allah subhanahu wa Ta’ala. Dan akan kita pertanggungjawabkan kelak, di hadapanNya. Engkau pasti sudah paham banget tentang hal ini.

Wah! Kalau kita berlama-lama mencuekinnya, alangkah kasihannya dia. Aha! Sorry, my self. Akhir-akhir ini, engkau suka mood-mood-an saat mau makan, jadual istirahat juga tidak beraturan, suka mikir yang aneh-aneh, sampai-sampai mau berkunjung ke negeri matahari segala. Bukankah di sana suasananya begitu panas? Atau, ada lagi yang berbeda dari biasanya, engkau mau jalan-jalan ke negeri China, yaa. Ai! Kalau yang ini, saya mendukungnya. Semoga cita mengantarkan kita menelusuri jalan di sepanjang Big Wall, Aamin. Eh… rupanya, kebugaranmu pun tergoda untuk merehat raga. Akhirnya, mengalirlah buliran bening permata kehidupan hampir setiap hari, karena atiiiiiiiiiiiittttt.. Waah, saya berlebihan yaa. Baiklah, mari kita kembali berdamai dengan kehidupan. I admire you, so much. Wahai indahnya hari-hari yang sedang mensenyumi.  Pesona yang engkau tebarkan, mengusikku untuk segera melangkahkan kaki untuk bermanja diri. Yuuuuuks kita perawatan lagi. 😀 Thank you so much, ya Kaito.

***

Beberapa saat kemudian….

Wwwweeeerrrrrr……, fresh!. “Dunia menjadi semakin indah  saja, yaa”, sapa sang jiwa yang tersenyum-senyum menyaksikan saya.

Setiap kita pasti mempunyai pengalaman pertama.  Pengalaman apapun itu namanya, kalau yang pertama, pasti berkesan. Betulkaaaaaaannnn? Begitu pula dengan saya. Karena saya sama seperti engkau, dia, mereka, beliau di sana. Saya juga seringkali mempunyai pengalaman pertama. Bahkan semua aktivitas yang pernah saya jalani merupakan pengalaman pertama. Ya, gitu dech. Nah, hari ini adalah pengalaman pertama saya beraktivitas ke salon. Sebelumnya, terbersit tanya di dalam hati, “Sebenarnya, Ibu-ibu lagi ngapain aja di salon, yaa.. ?”. Namun, setelah menjalani dengan sepenuh hati, baru saya mengerti kini. Hohoooo… 😀 Ternyata, ada banyak aktivitas menarik yang terjadi di sana. Aktivitas yang menjadi jalan tersenyumku saat ini. Tersenyum karena bahagia. Bahagia karena akhirnya, impian yang menjadi kenyataan kembali bertambah satu.

Lalu, ngapain saya ke salon? Hhmmm… Biasa, seperti saudara-saudara semuanya, pasti kita berangkat ke sebuah tempat, kalau ada keperluan dan kepentingan, iyaaaa kann? Nah, tadi itu, saya berangkat bersama Kaito yang menemani. Kaito, oh, Kaito. Engkau menjadi jalan yang mengenalkanku pada dunia lain. Dunia yang asing, namun mengesankan.

Apalah artinya merawat kecantikan jasmani, kalau ruhani kita belum? Betapa beruntungnya ruhani yang terpelihara. Niscaya inner beauty yang terdeteksi  menjadikan hari semakin berseri-seri. Ai! Bagaimana dengan alam fikir yang turut menjadi jalan kebaikan. Adakah kita memperhatikan perkembangannya?  Karena kecantikan yang sesungguhnya adalah apabila fikir, jasmani dan ruhani selaras dan serasi. Niscaya dapat kita saksikan keindahan alami dari salah satu hasil ciptaan Allah di dunia ini. Ia adalah diri ini. Sesosok insan yang seringkali kita perhatikan di depan cermin. Seraut wajah yang menguraikan senyuman dalam hari-hari. Maka, sempurnai kehadirannya dengan berbagi. Itulah inner beauty yang sejati.

🙂 🙂 🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s