Bermandikan Sinar Mentari


Ekspresi Syukur

Ekspresi Syukur

Cita-citanya semenjak dahulu adalah menjadi seorang Insinyur Pertanian. Padahal, saat cita itu mulai terajut, ia belum mengenal betul apa itu insinyur. Namun, tentang pertanian ia sangat memahami. Karena kedua orang tuanya adalah petani. “Yes! Aku bersyukur menjadi anak petani”, begini ia berekspresi kini. Seraya mengirimkan senyuman yang lebih indah pada mentari yang bersinar cerah pagi ini, ia pun melangkahkan kaki. Lalu, ia akan memulai aktivitas pagi ini bertemankan sebait lirik menyenandung suara jiwa, :

“Hamparan kehijauan di sekelilingku kini,

menjadi saksi atas syukur ini,

teriknya mentari yang mulai meninggi,

menjadi bukti atas persahabatan kita di bumi,

Wahai seluruh alam… sambutlah diri ini,

Temani ia saat melangkahkan kaki-kaki ini,

Teduhi ia saat terik mentari menyengati kulit tipis ini,

Payungi ia dari guyuran hujan nan membasahi,

Sejuki ia dengan semilir angin nan membuai,

Tolong pandu langkah-langkah kami,

Agar ia terus berada pada jalur yang terbaik,

Wahai semesta rasa… gembira kita semenjak pagi, berujung ceria pada sore hari,

Tertawa kita saat membuka hari… bahagia ketika malam menyelimuti ,

Bersama pinta mendoa diri pada Sang Ilahi Rabbi, bimbinglah kami dalam perjalanan ini,

***

Ia yang mudah sekali menangis, kini sedang tersenyum ceria penuh kemenangan. Bersama pancaran sinar mentari pagi yang menaburi diri, ia sampaikan pada dunia bahwa tiada yang sama selama kita masih bersama. Maka setiap beda yang tercipta, ia jadikan sebagai kesempatan untuk terus berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Bukanlah kita yang menentukan, namun usaha dan upaya yang kita jalankan, menjadi peneguh tegaknya tubuh yang melangkah. Agar ia kembali bangkit setelah rapuh, agar kembali melangkah setelah rehat untuk mensegarkan diri. “Alhamdulillah, mari kita melangkah lagi”, bisik sang sahabat yang sedari tadi hanya memandangi.

Semenjak bergaul dengan para sahabat yang mempunyai motivasi yang tinggi, maka ia mulai merasakan arti kehadiran mereka di sisi. Setiap waktu mereka saling menyalurkan potensi diri, baik dalam nyata, maupun lewat rangkaian doa yang terus mengalir ketika raga kembali membentang jarak. Namun mereka berucap, bukankah jarak yang mendekatkan kita? Ya, dalam hati yang terus memancarkan tekad, mereka terus memperbaiki diri dari hari ke hari. Dengan menyadari keberadaannya di bumi, buat apa? Bukankah kita ada untuk saling menguatkan? Begitu mudahnya mereka memunculkan semangat dalam diri. Ai! Bukti persahabatan ini, akan terus abadi meski nanti mereka tiada lagi di bumi, tempat mereka melangkah kini.

Bertemankan para sahabat yang luhur budi pekertinya, lembut hatinya namun penuh dengan kebijaksanaan. Ketika pada suatu masa mereka berkesempatan jumpa, dengan sebaik-baiknya mereka gunakan masa itu untuk berbagi. Saat kebersamaan masih menaungi, inilah waktu kita, “Yes! Bersama kita bisa!.” Akan tetapi, saat salah seorang sahabat telah kembali pulang, untuk selama-lamanya, maka rangkaian Al-Fatihah terus mereka kirimkan. Karena takdir yang menentukan sedangkan mereka hanya menjalani. Namun teman sejati, selamanya ada meskipun raga tiada lagi membersamai. Engkau ada di sini, wahai sahabat bersama kami… tersenyumlah dari duniamu yang baru. Kelak, kami juga akan sampai di sana. Tolong doakan kami selamat dalam perjalanan ini, yaaa.

Haru, sendu, pilu dan sejenisnya adalah rasa yang kembali menyapa, namun ia tidak boleh berlangsung lama. Kita perlu menggantinya dengan rupa yang sebaliknya. Bukankah berlarut-larut terlalu lama dalam rasa yang sama, dapat membuat kita terbuai goda? Yuuuks kita tersenyum ceria. Jadikan ia sebagai penghias rasa, yang akan membuat kisah hidup kita menjadi lebih berwarna. Membersamainya kadang-kadang saja, hanya saat ia menyapa. Ya, iyaaalaah… kalau kita mau menikmati indahnya rasa yang ada, beraikan ia dengan sepenuh jiwa. Tempatkan semua pada lokasi yang seharusnya, maka kerapihanpun tercipta lebih lama. Engkau boleh meminjam rasa yang ada, untuk engkau bawa serta dalam melangkah. Engkau boleh menuai aneka pinta dalam rangka menambah tinta penyegar warna. Engkau juga dapat menyampaikan berbagai kesan dan pesan yang tercipta, agar menjadi pelajaran dan pengalaman selamanya. Engkau ada untuk hal yang sama, namun dengan makna yang berbeda.

Senyuman, bahagia, gembira dan sejenisnya, ai apa lagi yaa? Semua itu adalah warna hari yang memperbarui jiwa. Dengan menjadikannya sebagai langkah awal untuk menghadirkan damai di dalam hari, kemudian mereka mulai membuka diri. Bersama para sahabat yang berbaik hati, mereka saling bergenggaman tangan untuk saling membantu, “Kita perlu lebih baik dari hari ini”. Naananananaaaaaaaaa….. yaayayayayaaaaaaa…. Indahnya menikmati kehangatan dan persahabatan karena Ilahi.

“Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga

Seindah hati kita, walau kita kan terpisah.”

(-…Edcoustic; Sebiru hari ini…-)

Waktu yang menyediakan dirinya untuk menciptakan kebersamaan, mereka manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Walaupun mereka menyadari itu tidak untuk selamanya. Karena selama dunia masih membentang, maka selama itu pula perpisahan akan tercipta. Namun, kesempatan yang ada mereka jadikan sebagai langkah-langkah untuk mengukir keindahan yang seindah-indahnya. Agar setelah waktu tersebut berakhir, maka mereka dapat mengenangkannya lagi. Ai! Benar apa yang pernah Ibunda pesankan, “Rimbun dedaunan di pohon tidak akan selamanya. Pada satu musim ia kehijauan, pada masa yang selanjutnya ia berubah warna menjadi keemasan, lalu menguning. Dan setelah itu, maka ia pun menjadi berwarna kecokelatan, lalu gugur ke bumi.” Begitu alur perjalanan yang kita tempuhi. Oleh karena itu, selagi masa mengenalkan kita pada kebersamaan, adalah baiknya kita manfaatkan ia. Sudahkah kita bersyukur hari ini, wahai diri? Adakah syukur tersebut mewujud dalam nyata, yang dapat kita saksikan dengan tatapan mata yang indah ini.

Hari kemarin, ia telah berlalu dengan segala kenangan-kenangannya. Segala kenangan yang ada, tidak semuanya indah. Namun, masih ada hari ini untuk kita berubah. Selama kita masih ada hari ini, maka masih ada harapan bagi kita untuk menjadikannya sebagai kenangan yang terindah. Semoga kita dapat bermudah-mudah dalam upaya meninggalkan kesan yang terbaik pada hari ini, yaach. Saya sayang padamu, wahai sahabat. Engkaulah jalan kebaikan yang senantiasa membentang indah. Saya tempuhi hari ini di atas kebaikanmu yang melimpah. Saya sampaikan ucapan terima kasih atas segala upaya yang engkau kerahkan, dari hati. Hingga saya dapat mengenal siapa diri ini, untuk apa ia ada di sini. Wahai sahabat, tindakanmu yang tidak terlihat mata, sekalipun. Mengesankan satu arti tersendiri bagi diri ini. Sungguh mulianya budi pekertimu. Rela berbagi tanpa kenal waktu. Pagi, siang, malam hingga pagi kembali menyapa hari, engkau terus dalam bakti. Engkau mentari di hatiku.

Dalam hari ini yang bertaburan sinar mentari, di bawah pancaran sinar kebaikan yang ia tebarkan, ada makna tersirat yang dapat saya petik. Lalu, saya pun memetiknya dengan sangat hati-hati, untuk saya titipkan di lembaran ini. Pesan yang selamanya akan menjadi bukti, bahwa sosok yang bersinar secerah mentari pagi adalah engkau. Ya, siapapun engkau yang seringkali menunjukkan bukti bahwa engkau ada di bumi. Engkau yang mempunyai niat suci untuk menjadi hambaNya yang berbudi. Tidak masalah tentang masa lalumu yang walau bagaimanapun rupanya. Ia hanya kenangan, bukankah demikian wahai teman. Tersenyumlah hari ini, seindah sinar mentari itu. Ai, saya engga kuasa menatap sorot matanya yang tajam sedemikian. Hehhee… 😀 Adalah baiknya berteman dengan bunga-bunga yang lucu ini. Seraya menyambut sapaan dari kupu-kupu yang melebarkan sayapnya. Ai! Mereka adalah para sahabat yang sangat mengesankan. Engkau selamanya di hati, wahai kupu-kupu yang manis. Engkau adalah sahabat terbaik yang pernah saya tahu. Engkau menjadi penyejuk pandangan mata yang sempat tersilaukan karena dengan sengaja, saya memberanikan diri untuk memandang sang mentari.

Selagi pagi masih berseri-seri, gemerlapan oleh tetesan embun yang masih tersisa. Mari kita kembali memetik beberapa makna dari keberadaan kita di sini, saat ini. Karena kita hadir di sini adalah untuk mengenal diri, lalu memperhatikan sekeliling. Oia, selain itu, juga ada rerumputan nan menghijau. Dan ia belum kita sapa dari tadi. Hihii… pardon me.

Wahai rumput-rumput hijau, engkau cantik sekali….?! Engkau menitipkan kenangan pada kami yang menghampirimu. Alangkah eloknya lambaianmu saat menyambut kami tadi. Terima kasih ya, atas anggukanmu menyetujui. Eeei! Engkau sangat bersahabat dengan sang mentari. Begitu pula dengan semilir angin yang tidak terlihat oleh kami. Namun, kami yakin bahwa kalian adalah kumpulan para sahabat yang senantiasa saling menguatkan”.

Ketika teriknya sinar mentari menimpa tubuh rumput-rumput nan menghijau, ia tersejukkan oleh belaian angin. Mereka saling membersamai. Ketika tiupan angin mengusik ketenangan rumput-rumput itu, maka mentari sampaikan suara hati, “Wahai sahabat, lihatlah mata ini sedang tertutup oleh gemawan, namun ia kembali berusaha untuk mensoroti bumi.” Betul, angin bersemilir sepoi-sepoi, ketika mentari tertutup awan, lalu sesaat kemudian, ia mengabarkan pada rumput-rumput bahwa kesejukan segera mereka kirimkan.

Ketika kita mau menyempatkan waktu untuk memperhatikan aktivitas para penghuni alam ini, maka kita dapat tersenyum saat ini juga. Ya, senyuman yang kita sampaikan pada mereka sebagai bukti bahwa persahabatan yang sedang mereka rangkai juga ada buat kita. Bersahabat dengan alam, sungguh mampu menenangkan jiwa segera. Baiklah teman, lebih baik rasanya kalau kita tidak berlama-lama bermandikan sinar mentari. Karena ia mulai meninggi. Kalau kondisinya sudah begini, maka berteduh adalah pilihan yang dapat kita lakukan saat ini. Berteduh, di mana kita akan berteduh, kalau tiada pepohonan di sekitaran? Mmm… bukankah jalan masih terbentang? Yukks kita menyusurinya lagi.

Ketika satu aktivitas yang sedang engkau jalani terhambat oleh berbagai alasan yang menghalangi, maka pastikan ada solusi. Bukankah fikir yang Allah titipkan masih ada hingga saat ini? So, dengan menyadari akan kesempurnaan ciptaanNya bernama diri, maka kita dapat mengakrabi diri sendiri. Bukan untuk menjadikan ia seperti orang lain. Namun menjadikannya lebih baik lagi. Ketika saat ini ia tergoda oleh puji, maka segera tafakuri, siapa diri ini? Lalu, kalau memang engkau alami hal yang sebaliknya, tersenyumlah . . . lalu tersenyumlah lagi. Niscaya indahnya hari ini menjadikan engkau lebih mudah untuk menyerukan syukur dari dalam diri atas apa yang ia alami. Pun, mengajarkan kita untuk bersabar, semua pasti ada hikmahnya. Bukankah kita ada di sini untuk memetik hikmah demi hikmah yang berserakan? Lalu, kita mengumpulkannya menjadi kisah-kisah yang akan memprasasti. Yes! Untuk membuktikan eksistensi. Karena kita juga pernah ada di bumi. 😀

***

Sehari, dua hari, belumlah cukup untuk mencapai impian yang terpatri semenjak awal. Begitu pula dengan ia yang semula ingin menjadi insinyur pertanian. Karena sampai saat ini, ia masih ada di sini. Namun demikian, ia sangat mensyukuri terlahir sebagai anak petani. Jalan yang sedang ia tempuhi kini adalah yang terbaik. Dan ia menjadikannya sebagai inspirasi hati. Walaupun bukan menjadi insinyur pertanian, namun menjadi penata kebun adalah juga pilihan. Karena ia sedang merawat sebuah kebun yang sampai saat ini sedang berhiaskan bunga-bunga nan cantik. Bukan kebun pada picture di atas, namun kebun yang ia maksudkan adalah sekepinghati. Ya, karena hati adalah kebun tempat bertumbuhnya keimanan. Kebun yang selamanya memerlukan perawatan yang intensif. Yes!

Sebulan, dua bulan, pun belumlah cukup untuk menata kebun yang ada. Karena kebun seringkali ditumbuhi oleh rumput-rumput nan menyelingi. Oke, saat ini, mari kita merawatnya lagi. Lalu, ia pun beranjak dari tempat di mana ia sedang duduk-duduk tadi. Untuk melanjutkan perjuangan hari ini. Karena ia tidak akan selamanya berada di sini. Ia sangat percaya akan takdir dan lingkaran rezeki. Berserah diri menjadikan kita lebih bersyukur karena masih Allah beri kesempatan untuk ada di bumi pada hari ini.

Kemudian, iapun melangkah dengan tidak lupa membaca  “Bismillah… Bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laahaula walaa quwwata illaa billaahil’aliyyul’adziim”, pada permulaannya. Lalu, dengan senyuman nan meriah, ia pun meneruskan perjalanan lagi, untuk mencapai segala yang perlu ia capai. 😀 Termasuk meraih impian untuk menjadi insinyur pertanian yang belum kesampaian tadi.

Yakinnya, bersama Allah, tiada yang tidak mungkin. Segalanya akan menjadi mungkin dengan ukuran kekuasaanNya yang tiada bandingan dengan apapun juga. Kita hanya menjalani, sedangkan keputusan terbaik berada pada pemilik diri yang menggenggam hati-hati ini. Teruslah berjuang, wahai sahabat. Engkau yang saat ini berada di sana, juga percaya, kan? Akan adanya perubahan takdir kalau kita berusaha. Ya, dengan berbekal keimanan, yang tidak bisa menjadi bisa. Dengan bertemankan keteguhan, yang sebelumnya papa akan berpunya. Kalau bukan untuk saling mengingatkan, lalu untuk apa lagi kita ada di dunia yang fana ini? Bukankah setelah ini kita akan kembali pulang, ke kampung halaman yang abadi. Untuk selanjutnya, kita tiada akan ada lagi di sini. Ai! Apabila kita menyempatkan waktu untuk mengenali dunia lain setelah ini, maka kita akan bermudah-mudah untuk mensabari diri atas inginnya yang belum terpenuhi. Lalu, ia kembali bersyukur atas terpenuhinya kebutuhan. Memang tidak semua yang kita inginkan tercapai detik ini. Namun, yakinlah bahwa yang kita butuhkan baru sampai pada keadaan saat ini. Then, tersenyumlah lagi…

Hari ini, tepat pada hari Rabu, hari ia terlahir ke bumi. Ya, hari ini adalah awal yang menentukan siapa ia pada hari yang selanjutnya. Ketika pada hari Rabu yang telah berlalu beberapa puluh tahun yang lalu itu, ia menangis karena terpisah dari rahim Ibunda tersayang, bukankah lebih baik kalau saat ini ia mengenangkan semua sebagai pengingat diri. Bahwa saat ini ia dapat menatap mentari pagi. Sedangkan pada waktu yang sebelum ini, tiada mampu ia berbuat apa-apa selain hanya menangis. Kini, ia sedang berada di alam terbuka. Tempat di mana ia dapat berjumpa dengan siapa saja. Ya, siapa saja yang mau ia temui sedang berada sangat dekat dengannya. Termasuk Ayah dan Bunda, meskipun jauh di mata, namun sangat dekat di hati.

“Wahai Ayah Bunda, Ananda berjanji untuk berbuat yang terbaik pada hari ini, untuk membuktikan bahwa kita adalah keluarga yang sejati. Yes! Perjuangan hari ini merupakan awal kebahagiaan nanti. Sedangkan hari esok belum pasti untuk kita jalani”.

🙂 🙂 🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s