Happy Birds Day


2 Januari 2012…

Saya kurang begitu yakin, akan menyelesaikan semua lembaran yang membentang dalam kalender ini. Ya, karena saya sedang berpikiran demikian saat ini. Yes! Lembaran kalender yang sedang duduk manis di meja kerjaku, mulai ku pandangi satu persatu. Dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa saat ini saya sedang berpikir lebih dalam. Entahlah,… bagaimana dengan hari-hari ke depan yang akan kita jalani. Akankah kita masih bersama di sini, hingga ke akhir 2012 nanti? Meskipun sudah memikirkan dengan sepenuh hati, namun saya masih belum yakin akan sampai di sana. Ya, begini pikiran saya saat ini.

Yan, tolong kasih yang belum kebagian, yaa”, kata Ibu seraya menyerahkan padaku tiga lembar kalender terbaru, tahun 2012. “Iya, baik Ibu. Terima kasih ya, Bu”, jawab saya. Kemudian memeluk erat tiga buah kalender terbaru yang Ibu berikan. Lalu, saya-pun membawanya dengan perasaan senang berhiaskan senyuman pada wajah ini. Satu persatu anak tangga yang berwarna merah itu, saya naiki. Tidak pelan, tidak juga cepat. Biasa saja. Namun, gerakan kaki-kaki ini begitu tenangnya. Dengan irama nan teratur, ia menikmati langkah demi langkah menuju ke tempat yang lebih tinggi. Perjalanan dari lantai satu ke lantai dua, tidak sampai lima menit. Hanya beberapa detik saja, juga sudah sampai. Dari lantai dua ke lantai tiga juga begitu. Tapi untuk saat ini, saya tidak akan langsung ke lantai tiga, teman. Karena niat awalnya saya mau salat Asar. Nah! Setelah selesai berwudu di lantai satu tadi, Ibu datang menyapa.

Setelah selesai menjejakkan kaki-kaki ini hingga sampai di lantai dua, saya pun berbelok sedikit ke arah kiri. Di bagian ini ada ruangan spesial yang Ibu izinkan kami untuk mendirikan salat di sana. Hingga akhirnya, mushala mini terjadilah! Seingat saya, kami mulai memanfaatkan ruangan tersebut untuk salat semenjak Agustus tahun 2011 yang lalu. Ya, bertepatan dengan awal Ramadan pada tahun yang sama. Hingga saat ini, ruangan adem yang beralaskan karpet berwarna hijau tua dengan corak masjid di sekitarnya, menjadi ruangan rehat untuk beberapa saat. Yes! Kami akan mampir di ruangan ini ketika azan Zhuhur dan azan Asar berkumandang. Tidak banyak waktu yang kami habiskan selama berada di sini. Hanya untuk salat doang, terus kami perlu meninggalkannya segera. Untuk kembali melanjutkan aktivitas.

Belum banyak yang berubah, semenjak awal saya berada di sini beberapa tahun yang lalu. Hanya seringkali terjadi pertukaran sahabat. Ya, saat satu sahabat pergi, yang lain akan menghampiri. Sungguh, Ibu begitu telaten dalam memilihkan para sahabat buat kami. Ibu sangat berjasa bagi saya, khususnya. Ibu dengan rona wajah beliau yang penuh dengan kelembutan, mengingatkan saya pada selembar wajah yang selalu saya rindukan. Ibu, dengan senyuman beliau yang hadir saat kami berkomunikasi, mengenangkan saya pada arti ketulusan. Ibu, selamanya beliau berarti. Untuk itulah, saat ini saya hadir kembali pada salah satu lembaran ini, agar saya dapat mengabadikan satu kisah tentang Ibu dan saya. Ibu yang di hadapan beliau, saya pernah menangis tersedu-sedu. Ibu yang saya menyaksikan sendiri, bagaimana pengorbanan yang beliau baktikan pada kehidupan. Ibu, yang dalam masa mengandung, rela bergiat-ria untuk menjalankan aktivitas dalam keseharian. Ibu, yang meneladankan saya tentang bagaimana seorang perempuan itu yang seharusnya. Ibu, yang masakan beliau sungguh enak. Ibu, yang pintar mengolah menu makanan. Ibu, yang aroma masakan beliau seringkali tercium oleh kami. Mmmmm….. sungguh, saya sangat ingin menjadi seperti Ibu, yang disayang suami karena gemar berbagi. Ibu, terima kasihku ini, akan senantiasa mengalir, membanjir, meskipun kelak kita tidak bersama-sama lagi, di sini.

Sangat banyak jejak-jejak cinta yang saya temukan di sini, selama keberadaan saya bersama beliau. Bersama para sahabat yang saya baru kenali, ketika kita berjumpa untuk pertama kali. Bersama, kami menempuhi berbagai uji untuk mengukur nyali. Ya, sejauh apa kami mampu berlari dengan kedua kaki-kaki ini? Bersama, kami belajar tentang arti kehadiran diri di dunia ini. Pun bersama kami saling menyemangati agar terus menerus meningkatkan potensi diri. Agar kelak, kami kembali dapat bereuni meski raga kami yang satu ini, tiada dapat bertemu kembali. Bersama, kami belajar lagi kemudian belajar untuk kesekian kalinya. Ai! Adakah yang dapat kami cinderamatai untuk beliau yang sangat berjasa ini? Kalau bukan saat ini, lalu kapan lagi saya akan menitipkan sebait suara hati menjadi kalimat-kalimat yang berbaris rapi? Kalau memang kelak kita akan berjarak dan tiada akan sempat bertemu muka, biarlah setiap uraian kata yang terangkai saat ini menjadi bukti, bahwa kita pernah bersama dalam nyata.

Tidak akan banyak yang mampu saya ingat dari awal kebersamaan, kalau saya tidak menuliskan bagaimana perjalanan ini bermula. Pun, tidak akan ada lagi kenangan yang pernah terukir di antara kita, kalau tanpa ingatan yang mensenyumi. Apalagi kalau perpisahan benar-benar terjadi, akankah kita berusaha menghalangi? Baiklah, tentang awal kebersamaan, kenangan atas persahabatan, serta akhir yang mengesankan, ia telah, sedang dan akan kita temui. Menikmatinya ketika kita sedang bersamanya di sini, adalah salah satu jalan untuk membangun prasasti keberadaan diri. Lalu, dengan segala kejelian, kita pun mengemasnya dalam bingkai eksistensi. Hari ini kita masih di sini. Hari ini juga, kita sedang bersama, saling mensenyumi. Lalu, kita kemanakan rasa syukur yang dapat menguatkan saat kita rapuh? Kita simpan di mana ekspresi sabar yang dapat menjadi jalan tersenyumnya kita lebih indah lagi? Aha! Untuk keperluan apa kita ada di sini, wahai diri?

Seringkali, saya mengingatkan diri sendiri setiapkali ia akan bersikap. Pun, tidak jarang saya menahannya dengan sangat kuat sekali, agar ia dapat mengendalikan segala tindakan yang akan ia lakukan. Di sini, dari sini, saya belajar untuk berekspresi seraya mempraktikkannya dalam hari-hari. Ada banyak ekspresi yang saya tampilkan; seperti tersenyum-tersenyumi, tertawa-tertertawai, terdiam-terdiami, terseriusi, terkageti, tertangiskan, tersinari, ter…. ter…. teruss… terusskannya di alam mimpi saja. Kini, saatnya kita kembali ke kenyataan.

Semestinya memang begitu. Banyak hal yang ingin kita lakukan dengan hasil yang sempurna. Pun, dengan segera kita mau menikmatinya. Padahal, ada satu kata yang perlu untuk kita pahami terlebih dahulu sebelum ingin tersebut dapat kita raih. Ada satu kata yang perlu kita lewati dan kita jalani terlebih dahulu, agar hasil yang sempurna dapat kita nikmati. Tentang satu kata yang semua kita sedang ada bersamanya. Ya, satu kata itu adalah ‘proses’. Banyak orang beranggapan bahwa setiap orang yang berhasil dan terlihat tenang-tenang saja dalam menjalani hari, tidak pernah mengalami apa itu susah! Pun dengan mudahnya orang beranggapan bahwa segala pencapaian yang sedang orang lain rengkuh adalah atas keberuntungan yang sedang menaungi. Tidak! Tidak begitu, wahai teman. Segera saya mengatakan ‘Tidak’ pada berbagai anggapan tersebut. Karena saya sendiri menyadari dan mengalami akan pentingnya proses sebelum hasil. Tiada hasil yang bernilai tanpa proses yang mendasarinya.

Ketika ada diantara kita yang berpendapat bahwa kebaikan yang banyak orang begitu mudah melakukannya, itu adalah karena ia memang dari sananya baik. Sehingga, sampai kebaikan yang ia lakukan itu tercipta, maka orang yang baik tersebut tidak lagi memerlukan proses yang penuh dengan perjuangan.Tidak! Sekali lagi, saya sampaikan tidak pada pendapat tersebut. Karena kebaikan yang saat ini kita terima, kebaikan yang saat ini sedang menaungi kita, kebaikan yang kita rasakan manfaatnya dengan sempurna. Ya, kebaikan itu tercipta tidak dengan sendirinya. Karena untuk menjadi seorang yang baik, memerlukan perjuangan yang bertaburan ketekunan. Kalau tanpa semua itu, tentu saja semua orang di dunia ini berubah menjadi orang-orang yang baik, seketika.

Tidak semua kita mempunyai pengalaman yang sama. Begitu pula dengan ilmu pengetahuan yang kita dapatkan. Karena masing-masing kita mempunyai langkah-langkah yang berbeda. Walaupun inti dari perjalanan yang kita tempuh adalah sama, meraih ridhaNya. Namun, berbagai rute sedang ada di hadapan dan ia siap menyambut kita yang memilihnya. Dapatkan kita menentukan pilihan sesuai dengan yang kita inginkan, wahai teman… Agar kita mau untuk tersenyum lebih indah lagi. Lalu, kita membersamainya dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan.

***

Berhubung saya juga belum kebagian kalender terbaru di meja kerja, maka itu tandanya satu dari tiga buah kalender yang ada adalah buat saya. “Terima kasih ya, Ibu”, ungkap jiwaku yang bersenandung penuh keharuan. Karena setelah saya amat-amati dengan saksama, ada satu di antaranya yang bercorak. Yes! Ada yang berwarna-warni teman. Dan saya sangat suka dengan adanya banyak warna, terutama kalau ada oren, ijo, putih, biru, dan lain-lain. Yes! Setelah salat Asar, selanjutnya saya melangkahkan kaki ke lantai tiga. Ya, karena di bagian ini saya dan dua orang teman yang lainnya beraktivitas. Sesaat setelah kita berjumpa, saya segera menyerahkan kepada masing-masing sahabat, satu orang dapat satu. “Ada titipan hadiah dari Ibu….”, sapa saya yang disambut dengan senyuman menawan beliau-beliau para sahabatku. Sungguh! Karunia terindah, teman… kita pernah merasakan kebersamaan di sini. Semoga engkau masih ingat, tentang beraneka ekspresi yang pernah saya lukis di wajah ini. Hehehee… It’s my self. And I am enjoy my time. So, keep calm because everything came as an experience and lessons for us. Did you?

Hari ini…

Nah, untuk beberapa paragraf yang setelah ini, saya akan menukar bahasa, wahai teman-teman… karena saya sangat ingin, itu saja. Hohoo.. 😀 I hope, this is a beginning for practice. Because, if we are practicing more then we can fully-fladged. In every moment, we can do it as much as we wish. So, what are you thinking now? Let’s begin it.

Calendrical, there are twelve months in a year. All of months are contain of weeks. And in every week there are seven days. So, we can counting how many days in this year? After counted it, I find 366 days in 2012, did you? In the month of January there are thirty one days, twenty nine days in February, thirty one days in March, thirty days in April, thirty one days in May, thirty days in June, thirty one days in July, thirty one days in August, thirty days in September, thirty one days in October, thirty days in November, and thirty one days in December. Ai! 31+29+31+30+31+30+31+31+30+31+30+31 = 366. I am right? 😀 Next, I wiss recount you about my activities with them. 😉

I choosed the calendar with many birds on it. Yes! Because I like birds so much. With them, I can imagine that some days, we are flying together. With countless birds, we are flying crosscountry. Will you accompany me to make my imagine be reallity? Hahhaaa… 😀 Just kidding. Only practice my English. Because I didn’t use it seriusly, lately. Because -Aku Cinta Bahasa Indonesia- selama ini. And I am using English when I wish to communicate with it, only. And I believe that this International language help me more, when I go abroad. But, now I still in my country, Indonesia. Some day, I wish go abroad; just for sightseeing or for studying, or only make a trip in a month, or live in a long time? Aha! This is one of my dream. Friend, help me to wake up from my dream, kindly. Would you?

In this calendar, every month have a beautiful sentence. I like them. So that, I wish saving it in my note today. I hope, they are helping me as one of motivator and I make them as one of my inspirator in this year. Okay! I wish share all of them, mentioned below:

January: A new year is a new chance to start a new and better life.

Seperti yang kalimat tersebut sampaikan, bahwa tahun yang baru adalah sebuah kesempatan baru untuk memulai kehidupan yang baru dan kehidupan yang lebih baik. Wah! Sungguh indah susunan kalimat yang baru saja saya baca. Di dalamnya terdapat kata-: baru, kesempatan, memulai, kehidupan, lebih baik. Saya yakin bahwa semua kata-kata tersebut, pasti ada maknanya. Kata ‘baru’ mengingatkan saya pada sesuatu yang indah-indah. Karena pada umumnya, yang baru adalah sesuatu yang baru kita temui, kita miliki, atau hanya kita pandangi. Ya, seperti kalender ini yang baru. Saya senang memandangnya. Saya menatapnya lebih sering, ku perhatikan hingga ke seluruh sudutnya, lalu saya merabanya dengan penuh kehangatan. Apa yang ada padanya, saya pahami sungguh-sungguh. Termasuk beberapa kalimat yang bagi saya sangat berarti ini.

Selain kata ‘baru’, juga ada kata yang bermakna kesempatan. Yes! Pertemuan kami untuk pertama kalinya, saya jadikan sebagai kesempatan terindah untuk berbagi. Dengan demikian, saya sedang ‘memulai’ untuk berbagi ketika saya menceritakan pada para sahabat di sini tentang ia. Dengan cara begini, saya yakin akan dapat menjalani ‘kehidupan’ yang ’lebih baik’ bersamanya. Hiiyyyyaaaa! Betapa senangnya, perjumpaan kita saat ini, di sini, wahai burung-burung yang cantik. Akan saya abadikan pula wajah-wajahmu di lembaran catatan ini. Untuk saya perhatikan lagi, ketika nanti kita tidak bersama pada masa yang berikutnya. Wahai sahabat hati, meskipun tiada kicauanmu yang dapat terdengar oleh indera pendengaran ini, namun saya dapat memaknai gerak-mu meski lewat gambar.

“Ingin ku menyentuhmu, namun engkau tidak nyata.

Ingin ku menyapamu, namun tanpa suara yang tersisa.

Ingin ku mendengarkan nada-nada kicaumu dengan membuka jiwa.”

Untuk picture-picture yang berikutnya, silakan engkau memaknainya, wahai teman, by yourself.

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih.” (Q.S Saba (34): 13)

🙂 🙂 🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s