Ketika Mulut Tak Ingin Bicara


Surat Cinta Untuk Jiwa

Surat Cinta Untuk Jiwa

Ketika mulut tak ingin bicara, maka izinkan hati untuk menemui Rabbnya.

Ya, semudah ini cara yang dapat kita lakukan untuk kembali mau berhusnuzan, apabila kita bertanya lalu belum ada jawaban. Sungguh! Hari-hari yang akan kita hadapi menjadi lebih berseri seketika. Bagaimana tidak, wahai temanku yang baik. Dengan mengurangi berbicara yang tidak terlalu penting terhadap manusia, maka kita dapat bersegera menyapa Sang Cinta. So, tidak akan pernah lagi terhadirkan fikiran yang tidak semestinya ada. Bukankah segala sesuatu terjadi dengan makna? Termasuk pula satu hal tadi. Ketika sesaat setelah kita mengajukan pertanyaan, namun jawaban belum lagi hadir di hadapan. Bagaimana? Apa yang engkau pikirkan tentang hal ini?

Setiap kita pasti mempunyai warna-warni kepentingan terhadap orang lain. Karena kita tercipta sebagai insan sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Sehingga tidak dapat dipungkiri lagi, interaksi akan terjadi diantara kita. Apakah kita yang saat ini masih berusia muda dan belia, maupun yang lebih tua dari kita. Tentu masing-masing kita seringkali menggunakan predikat insan sosial ini sebagai alasan untuk menemui sesiapa saja yang perlu kita temui. Ya, betul. Untuk memenuhi kebutuhan tentunya. Namun, kalau bukan untuk hal yang demikian kita mungkin mempunyai alasan yang lainnya. Nah! Semakin banyak waktu yang kita pakai untuk menemui para sahabat di sana, maka semakin besar peluang bagi kita untuk menambah ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan. Tapi intinya, kembali lagi kepada diri kita pribadi, untuk keperluan apa kita berinteraksi?

Sungguh! Saya menyadari bahwa tidak akan banyak yang dapat kita lakukan dengan sendiri. Apalagi kita terlahir dengan hati nurani yang maunya kita tenangkan, dengan pikiran yang maunya kita alirkan, dengan diri yang inginnya kita bawa kemana-mana. Oleh karena itu, dengan seluruh kemampuan yang kita upayakan, maka kita berusaha untuk mewujudkan kemauan dan keinginan sang diri. Sehingga banyak langkah pun kita jejakkan. Berulangkali tangan-tangan ini kita ayunkan, agar antara kaki-kaki yang sedang melangkah dengan gerakannya menjadi senada. Namun, kembali lagi kepada niat awal kita berbuat, adakah ia (hati, pikir, dan diri kita ini benar-benar) membutuhkannya? Ya, apakah para sahabat kita yang paling dekat ini membutuhkan apa yang sedang kita upayakan dengan sungguh-sungguh. Apakah semua itu menjadi kebutuhannya? Karena semua aktivitas yang sedang kita lakukan adalah akan kita pertanggungjawabkan pada suatu hari yang pasti nanti. Tentang mata yang memandang. Pun tentang hati yang bicara dan kita berani-beraninya mensuarakan apa yang ia kata. Tentang pendengaran yang senantiasa bersiaga untuk menangkap berbagai nada. Tentang indera peraba yang selamanya perlu kita jaga, adakah ia baik-baik saja? Untuk indera penciuman pun begitu, adakah ia bersyukur atas keberadaannya bersama kita?

Ketika kita membawa para sahabat kemanapun melangkah, bagaimana tanggapannya terhadap apa yang ia terima? Apakah ia sedang bergiat ria untuk menjalankan fungsinya dalam rangka membantu kita? Ataukah, ia bersikap semaunya saja? Wahai, mereka semua berada dalam tanggung jawab kita. Karena kita sedang bersama-sama dengannya. Bukankah kebutuhannya adalah kebutuhan kita pula. Sedangkan kemauan dan keinginannya pun begitu. Adakah ketika ia mau kita juga begitu, atau malah sebaliknya? Apakah ketika ia mengungkapkan keinginannya, kita juga sedang menginginkan hal yang demikian?

Tidak mudah memang, mengatur sebuah organisasi bernama diri. Kalau kita belum mempunyai pengetahuan tentang semua itu. Tetapi, kalau mau, kita dapat belajar sekarang juga. Datangilah pusat-pusat ilmu pengetahuan yang ada di mana saja. Lalu bersegeralah kita mengetahui apapun yang ingin kita ketahui. Ai! Bukankah kita sayang kepada para sahabat yang menemani? Kita tidak dapat meninggalkannya begitu saja, kalau kita tidak ingin bersamanya. Bukankah kita adalah satu kesatuan yang tercipta untuk bersama-sama di dunia. Lalu, kita ini ngapain aja bersamanya? Apakah kita sedang mengoptimalkan perkembangannya? Apakah kita begitu peduli padanya? Ya, para sahabat yang sangat dekat dengan kita adalah diri kita yang bersahaja. Siapapun ia, walau bagaimanapun kita mengenalnya selama ini, selamanya ia akan tetap membersamai kita. Ya, sedekat apakah kita dengannya? Adakah ia bahagia bersama kita? Adakah kita bersamanya sedang merancang arah dan tujuan yang sedang kita pandangi dari kejauhan. Lalu bersama kita melangkah lagi. Yes! Bersama kita bisa.

Tidak mudah memang, untuk mengenal organisasi-organisasi lain di luar sana. Ya, pribadi lain yang saat ini sedang berada di seluruh penjuru dunia, pun begitu. Semua kita adalah organisasi-organisasi yang mempunyai arah dan tujuan. Buat apa coba? Sebuah organisasi ada, kalau tanpa arah dan tujuan yang jelas. Mau kita bawa kemana keberadaannya? Tentu di sini, manajemen sangat kita perlukan. Agar keteraturan yang sedang terlaksana dapat membuktikan, bahwa di dalam organisasi terdapat satu tim yang solid.

Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menciptakan sebuah tim yang solid. Salah satunya adalah dengan memahami, bahwa setiap anggota tim membawa karakternya masing-masing. Ya, setiap anggota tidaklah sama, pada awalnya. Dan untuk selanjutnya tidak akan pernah sama. Hati yang hadir dengan lebih banyak perasaan yang menaunginya, pikiran dengan kebebasannya yang mampu mempesona jiwa. Sedangkan raga yang terlihat nyata pun demikian. Masing-masingnya mempunyai latarbelakang yang berbeda. Adakah kita mengenali siapa yang saat ini sedang bernaung dalam organisasi kita?

Walaupun kita mempunyai latarbelakang yang tidak sama, namun kalau kita mempunyai tujuan yang sama, maka bersama kita bisa! Ya, seringkali saya mengatakan “Bersama Kita Bisa” di sini. Untuk menguatkan visi dan menjalankan misi. Karena tanpa bersama, siapalah kita ini? Bukankah kita adalah makhluk sosial yang tercipta dengan beragam kebutuhan. Dan kebutuhan tersebut akan terpenuhi, kalau kita saling membantu untuk memenuhinya.

Terkadang, setiap anggota dalam organisasi kita mempunyai masalahnya masing-masing. Masalah tersebut ia bawa ketika kembali lagi setelah menjauh untuk sementara. Ya, karena ia perlu melangkahkan kaki-kakinya untuk berehat sejenak ataupun untuk memenuhi kebutuhan yang lainnya. Karena tidak semua waktu yang hanya dua puluh empat jam ini, ia habiskan bersama ‘organisasi kita’. Nah! Pada saat itulah, perlu kejelian kita untuk mengenali, ada apa dengannya? Apakah satu dari anggota tim kita baik-baik saja? Bagaimana kondisi terakhirnya, sebelum berpisah dengan kita untuk sementara? Lalu, bagaimana kondisi terkininya saat menemui kita lagi?

Ai! Semua ini membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi. Walaupun hanya untuk mengetahui, how is your feeling now? Wahai hati sang sahabat yang berbagi rasa? Apa yang baru saja engkau alami, setelah kita berjarak untuk beberapa waktu. Adakah engkau masih dalam kondisi yang sama dengan waktu kita berpisah, sebelumnya. Ataukah kini, engkau sedang berubah. Hai… engkau sahabat yang selamanya memerlukan perhatian. Peduli sangat diri ini padamu, karena kita adalah sahabat sejati. Setia sampai nanti, hingga dalam waktu yang tidak pasti. Akhir usia menjemput kita di dunia ini. Ai! Kemanakah ia akan membawa kita? Adakah keindahan akan kita nikmati di ujung perjalanan nanti? Atau dapatkah engkau merasakannya, semenjak saat ini?

Kemudian, ada lagi anggota organisasi yang perlu kita pedulikan. Ia yang telah kembali saat ini, setelah beberapa saat menerbangkan diri. What do you thinking now? Wahai pikiran yang kebebasanmu melebihi luasnya alam raya. Ke alam mana engkau baru saja pergi? Engkau yang selamanya berarti, engkau adalah titipan dari-Nya. Apa yang baru saja engkau saksikan di luar sana? Adakah kabar baik untuk kita, ataukah berita yang sebaliknya. Eh, engkau tadi membaca apa, hayoooo…. 😀 “Peta….. peta….. peta…..”, jawab pikir berulangkali. Namun ia tidak bersuara. Hanya saja, ada jawaban yang berkeliling, berlari-lari di sekitar ruang inspirasi. Ia tidak akan pernah pergi, sebelum kita menangkapnya, lalu menitipkan di sini.

Ketika kita membaca, yakinkan hanya yang berarti. Kemudian, berbekal petunjuk dari peta yang tadi sang pikir baca, kita dapat melangkah lagi, bersama-sama. Untuk meneruskan perjalanan ini. Karena, perjalanan yang kita tempuh untuk mencapai tujuan, tidaklah dapat kita prediksi. Apakah masih jauh jarak yang membentang? Ataukah sudah beberapa langkah lagi? Aha! Bahkan kita juga tidak akan pernah bisa mengetahui, apakah kaki-kaki ini masih sempat melangkah meski satu langkah lagi? Lalu, sebelum itu kita telah meninggalkan dunia ini. Wallaahu a’lam bish shawab. Ya Rabbi, Bimbingan-Mu selamatkan kami hingga ke ujung perjalanan nanti.

***

Dari dua dunia yang sama-sama indah ini, kita dapat saling mengisi. Dengan pertemuan di alam maya yang serba mewah dan megah ini, kita dapat memetik buah-buah hikmah setiap hari. Apakah itu berupa suara hati yang tersalurkan dalam rangkaian kata-kata yang bertebaran di sana sini? Apakah dari cakap-cakap yang tercipta ketika berkomunikasi? Bahkan dari selembar lukisan yang berwarna-warni, kita dapat pula memulai untuk merangkai sebuah tulisan yang berisi.

Pernah pada suatu hari, ketika saya sedang asyik berjalan-jalan di dunia maya ini. Dalam keasyikan yang membuai diri untuk berlama-lama di sini, saya menemukan sebaris kalimat yang unik. Kalimat yang sampai saat ini, saya tidak mengetahui bunyinya apa. Tapi intinya, saya tertarik olehnya. Dengan segenap keberanian, akhirnya saya melanjutkan perjalanan bersamanya. Bersama kalimat yang akhirnya membawa saya ke sebuah ruang hati. Saya mengikutinya saja. Ya, mengikuti kemana ia pergi. Dari satu simpang ke persimpangan lainnya, ia merengkuh jemari-jemari ini. Dalam perjalanan, seringkali kami melewati pemandangan yang indah sekali…. it’s very beautiful view yang pernah saya pandangi. Pemandangan yang menawarkan bantuan, meminjamkan senyuman, kemudian memberikan kehangatan. Hampir saja saya tergoda olehnya. Untuk menetap bersamanya. Dengan konsekuensi ditinggalkan oleh kalimat yang menarik tadi. Namun, inikah takdir ataukah kebetulan? Sampai saat ini, saya masih belajar untuk mengenali, kalimat yang pertama kali saya baca, apa bunyinya yaa? Tapi yang penting, ia berarti. Karena ia adalah jalan. Jalan yang akhirnya saya lalui dengan semangat yang tinggi. Yes! Setinggi cita-cita yang masih menggantung nun di langit jiwa. “Wahai engkau ‘kalimat yang tidak terkenali’, terima kasih, ya.”

Kita tidak pernah tahu, pada kalimat yang mana kita akan menemukan senyuman. Pun, kita tidak akan pernah menyadari, pada titik yang ke berapakah, semua ini akan berakhir. Namun kita perlu terus melangkah untuk melanjutkan perjalanan ini. Perjalanan yang sedang kita hayati dengan benar-benar. Perjalanan yang mungkin sebentar lagi tidak akan dapat kita lanjutkan, karena “Waktu Anda Telah Habis”. Yach, kelamaan mikir siich, lalu kapan mulainya? Bukankah untuk mensuarakan isi hati, cukup dengan menggerakkan jemari ini di atas tuts-tuts yang bertebaran. Kemudian, menselaraskannya dengan apa yang tadi kita pikirkan. But, yang perlu kita ingat adalah buat apa? Ya, apa tujuan kita melakukan semua ini. Apakah untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang belum kita jawab? Apakah untuk menemui Rabb kita? Ai! Bukankah untuk dapat menjadi lebih dekat dengan-Nya, adalah dengan mengingati-Nya setiap waktu yang kita punya? Sedangkan di sini, kita tersibukkan oleh gerakan jemari yang cepat sekali. Wah! Bagaimana ini? Saya tidak tahu mau menulis apa lagiiiiiiiiiiiiiiii. Tiada lagi yang dapat hadir dari pikir ini, apalagi suara hati. Karena rasanya, ia telah plong seketika. Akan tetapi, kalimat yang perlu ada saat ini mesti lebih dari dua ribu dua belas karakter. Sungguh, suasana yang seperti ini begitu terasa beraaaaaaaaaaaaaaaaaaat sekali. Bagaimana iniiiiii…?? Wah! Banyak-banyakin iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii dan aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa nya aja ah. Agar semua ini segera berakhir. Karena masih banyak lagi aktivitas yang perlu kita lakukan, teman, selain di sini. Ya, kita tidak hanya ada di sini. Masih ada alam lain yang perlu kita jalani. Ya, dunia yang penuh kenyataan sedang menanti.

Wahai teman, dapatkah engkau membayangkan bagaimana kondisi organisasi yang sedang saya kelola saat ini? Organisasi yang timnya pada pergi. Yach! Ketika pikirku tadi berkata, “Saya tidak mau lagi menemanimu di sini, karena saya masih perlu melangkah lagi untuk melihat-lihat alam yang luas di sana”, begini ia berkata. Sesaat sebelum akhirnya, ia pun meninggalkanku di sini. “Lha, mau ke negeri mana ia?”, tanya hati yang baru menyadari akan kepergian pikir secara tiba-tiba. “Saya juga tidak tahu, teman. Karena tadi engga bilang pastinya ke mana. So, saya senyum-senyum aja di sini untuk membersamai jemari yang sedang merangkai kata”, jawab bibir yang akhirnya bicara. Ahahahahaaaa… akhirnya, kami tertawa bersama. Setelah menyadari, bahwa kita sekarang sedang berada di dunia maya. Dunia yang menjadi jalan bagi kita untuk melihat-lihat apa yang sedang terjadi di luar sana. Termasuk sebuah ruang hati yang dulu pernah kita kunjungi untuk pertama kalinya, akhirnya kita mampiri lagi. 😀

Dunia maya ini, adalah dunia mimpi yang penuh dengan janji-janji. Adapun salah satu janjinya adalah bahwa kita dapat mencapai apa yang mau kita capai. Itupun kalau kita giat dan berupaya untuk mewujudkannya. Begini inti dari sebuah kalimat yang pernah saya baca. “Proseskah itu”, tanya sang pikir yang tiba-tiba mampir. Ia segera bertanya karena ia ada untuk hal itu. “Eh, pikir kita telah kembali lagi. Ia memang aneh, yaa. Pergi semaunya, setelah itu datang lagi,” bisik jemari seraya tersenyum pada wajahku. “Eits! Tidak baik berlama-lama dalam mimpi-mimpi ini. Mari kita segera kembali ke dunia yang asli,” ajak pikir yang tidak menyadari, kalau tadi kami membicarakan tentang ia. Hahaaa… 😀 Sorry, Sob!

Sebenarnya, saya sudah tidak mau di sini lagi. Karena belum ada lagi yang perlu saya curhatkan. Tapi…. tapi…. dan tapinya lagiiiiiiii….. 😀 karakternya masih kurang dari dua ribu dua belas. So, akhirnya saya masih di sini sampai semuanya terselesaikan. Yes! Bukankah segala sesuatu yang belum tuntas perlu kita tuntaskan terlebih dahulu, agar kita dapat merasakan aura kebebasan dalam pikir, dan ketenangan bersama jiwa. Semua akan terjaadi setelah semuanya berakhir. Bukankah begitu, teman?

Eh, ternyata selama ini saya keliru. Setelah saya perhatikan lagi, pada bagian kiri bawah halaman tempat saya bercurhat ria, ternyata yang perlu lebih dari dua ribu dua belas bukan karakternya, tapi words. Oia, bedanya apa yaa? Hhohohoho… maaf yach, wahai diariku yang baik. Lain kali saya tulisi lagi dirimu yaa. Dengan suara hati yang hadir, juga dengan hasil pikir yang perlu mengalir, via jemari yang tersenyum. Hingga akhirnya “Mentaripun Tersenyum”, pada kita.

🙂 🙂 🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s