Hapeku Sayang, Tertinggal Pulang


Tidak ada lagikah gunanya ia? Lalu, mengapa engkau tidak membersamainya saat ini? Why? Hayoo. Mengapa engkau meninggalkannya? Ia sendiri saat ini, terdiam dalam sepi. Kegelapan adalah temannya kini. Wahai, tidak kasihankah engkau padanya? Katanya sahabat, namun begitu mudahnya engkau melupakannya. Ai! Sungguh, tidak semestinya engkau begitu padanya.

Tidak sekali dua kali kejadian yang serupa berlangsung. Bahkan, hal yang seperti ini telah terjadi berulang kali. Meskipun tidak sering, memang. Namun, bagaimana perasaannya saat ditinggalkan? “Pasti ia lagi sedih, terdiam, yakin dech”, suara hati membisiki. “Hehehee… Sorry, My Silver Eighpy. Saya sayang padamu. Sure”, sapa pikir yang dari tadi thinking more. Ya, ia sedang mengingat-ingat, bagaimana prosesnya sampai sang Eighpy itu tertinggal. Berbalik ke masa lalu yang baru tertinggalkan beberapa jam saja, sangat mudah memang. Sampai akhirnya, ia mengingat sesuatu. Yes! Sekarang hapeku sayang sedang duduk manis di meja tempat kita beraktivitas siang tadi. Iya, sangat jelas. Bukankah tadi kita mengisi ulang baterainya yang sudah meninggal? Yap! Betul. Akhirnya sayapun membenarkan. Bahwa sang hape sedang tertinggal. Bukan sengaja, namun memang sudah nasibnya demikian. Yang sabar ya, friend. Saya sayang padamu. Meskipun saat ini engkau jauh di sana. Yakinkan engkau baik-baik saja, ya. Walaupun jauh di mata.

***

Ketika kita pulang nanti, tiada harta yang menemani. Termasuk “Hapeku Sayang”, yang seringkali kita gunakan saat berkomunikasi dengan beliau-beliau yang jauh di sana. Saat nanti waktu itu telah tiba, akankah “Hapeku Sayang” masih ku ingat? Ataukah ia tertinggalkan begitu saja, seperti yang terjadi hari ini. Akankah ia mengingatku, seperti ingatanku padanya saat ini? Saat aku telah pulang, tapi tidak membawanya pulang. Begitu pula nanti, ketika aku pulang untuk selama-lamanya. Ia tidak akan aku bawa sama sekali. Jangankan untuk mengingatnya, ia memang tidak boleh ikuuuut. Ai! Kasihan…

Lalu, bagaimana beliau yang jauh di sana dapat mengetahui tentang keberadaanku, nanti. Karena nanti aku benar-benar tidak membawa Hapeku Sayang. Ya, beliau yang seringkali berkomunikasi denganku untuk saling bertukar kabar. Agar kami dapat melepas kerinduan meskipun dengan nada-nada yang terdengar jelas. Ketika nanti kepulangan itu terjadi, akankah komunikasi antara aku dan beliau-beliau yang selama ini saling merindukan, masih terulang? Wahai, “Hapeku Sayang”. Saya yakin banget. Bahwa kita tidak akan selamanya bersama. Engkau hanya sarana, yang menjadi pelengkap kehidupan hamba di dunia. Lalu, bagaimana ketidakbahagiaan ini datang menyapa akan ketiadaanmu?

“Hapeku Sayang”, ia memang tidak secanggih alat komunikasi yang pernah ada pada zaman modern ini. “Hapeku Sayang”, ia yang sederhana namun mampu menyimpan banyak rahasia. Aha! Ada banyak rahasia di sana, hahaa😀 Rahasia yang semestinya tidak rahasia. Rahasia yang semua kita sudah mengetahuinya. Rahasia kita yang menjadi pengetahuan untuk kita bersama. Tentang engkau dan aku yang setia dalam persahabatan. Ya, menurut saya begitu. Karena bersama “Hapeku Sayang”, saya dapat memandang-mandang banyak aktivitas insan di luar sana. Beliau yang pernah saya kenali, beliau yang pernah saya temui, beliau yang setiap kali saya ingat, lalu saya memampiri kemah-kemah yang beliau bangun di dunia maya ini. Namun kini, “Hapeku Sayang, Tertinggal Pulang”. Walaupun demikian, kejadian yang sudah tidak asing ini, menjadi salah satu inspirasi bagi saya untuk bercurhat ria di salah satu halaman ini. Agar saya juga ingat, bahwa saya pernah mempunyai satu sahabat yang setia menemani. Meskipun saat ini ia tiada di sisi, “Hapeku Sayang”.

Sekilas menceritakan tentang ia yang baru berusia belum genap satu tahun. Ya, meskipun usianya sudah bertahun-tahun, namun kami baru bertemu semenjak beberapa bulan yang lalu. Kebersamaan kami di dunia ini bermula semenjak April 2011. Dan hari ini, Januari tanggal 5, Alhamdulillah… kami masih bersama, tapi ia tiada di depan mata. Oh, nooo…. memang sedih ya, kalau kita belum lagi bersama. Padahal kita sudah sahabatan semenjak lama. But, apa daya. “Hapeku Sayang, Tertinggal Pulang”.

Biasanya, ada yang mengingatkan saya sebelum pulang. “Awas! Hapenya, Teh… nanti ketinggalan”, kata Teh Feni pada suatu hari. Dan pada kesempatan yang berikutnya, beliau bilang begitu lagi. Setiap kali beliau menyaksikan pada jam pulang, sang “Hapeku Sayang” masih terdiam sendiri di ujung meja. Hihiii… saya sangat beruntung, mempunyai teman-teman yang baik. Beliau adalah alarm dalam kehidupanku. Dering kebaikannya yang terdengar berulangkali, menjadi jalan yag mengingatkan saya untuk kembali terjaga. “Bangunlah, sayang… mari kita kembali melanjutkan langkah-langkah ini bersama”, begini sapa yang sampai ke ruang jiwa. Ketika suatu hari saya terlelap terlalu lama dalam buaian mimpi yang menenggelamkan seluruh raga dalam istirahat panjangnya. Wah! Beruntungnya saya dalam kehidupan ini. Beruntungnya saya yang Allah titipkan beliau-beliau yang berbudi. Terima kasih teman atas ketulusan hati dan kerelaan untuk berbagi. Meski berbagi kebaikan, saya senang dapat mengenalmu. Saya bahagia dapat mengingatimu, saya semakin bersyukur akan segala karunia yang indah ini. Alhamdulillah…

Saya, sama seperti engkau, beliau, dia, mereka, di sana. Kita sama-sama pernah lupa, right? Ai! Siapa yang merasa tidak pernah lupa sama sekali? Padahal kita tercipta sebagai insan yang alpa dan khilaf. Lalu, sudah berapa kali kita terhinggapi olehnya? Dapatkah kita menghitung semuanya? Kalau bukan karena Dia Mengingatkan, mana mungkin kita mempunyai ingatan yang begitu kuat. Tapi, Allah sangat Pengasih dan Penyayang. Dia Yang Menjaga ketika kita lupa, sehingga kita terjaga bersama-Nya. Lalu, siapa yang selalu kita ingat dalam berbagai kesempatan? Ketika usia kita masih ada hingga saat ini. Ketika kepulangan yang sesungguhnya belum menemui. Ya, kita masih ada kesempatan saat ini untuk mengingat-Nya. Walaupun sebelum ini kita lupa pada-Nya, namun ia mengirimkan hamba-hamba terbaik-Nya untuk menjadi jalan yang mengingatkan kita kembali. Betapa beruntungnya kita ya… dapat bersama-sama dengan beliau yang peduli akan keselamatan kita. Ya, beliau yang tidak hanya mementingkan diri sendiri. Beliau yang sebenarnya sudah cukup bahagia dengan keadaan yang beliau alami saat ini. Namun, beliau masih saja mengingat kita lalu bertanya tentang bagaimana dengan kondisi kita? Beliau selalu mengingatkan. Jangan lupa yaa..

Setiap kali ingatan ini hadir, ada satu aktivitas yang harus kita syukuri. Nikmatnya ingat. Ya, ingatan adalah nikmat yang perlu kita syukuri. Karena tanpa ingatan yang saat ini ada bersama kita, niscaya tiada satupun aktivitas yang dapat kita lakukan. Lalu, untuk keperluan apa kita masih ada di sini, kalau tidak melakukan apapun? Bahkan untuk mengingat saja kita belum lagi mau. Ingatan, adalah sahabat yang menyenangkan. Kita bahagia saat ini, karena kita mengingat bahwa kita pernah bahagia pada masa lalu. Lalu, kita tersenyum seraya terus mengingatnya.

Oia, saya ingat satu kalimat yang pernah saya baca, intinya begini, “Kebahagiaan itu ada dua jenisnya. Yaitu kebahagiaan pada masa yang telah berlalu, dan saat ini kita mengingatnya, lalu kita merasa bahagia saat ini. Karena ingatan akan kebahagiaan pada masa yang telah berlalu tersebut. Kemudian bahagia yang kedua adalah kita benar-benar bahagia saat ini, dan kita menikmatinya.” Ya, begitu lebih kurang, inti dari kalimat yang pernah saya baca, entah di mana. Namun kini, saya mengingatnya. Dan saya menitipkannya di sini saat ini. Agar nanti, catatan ini dapat menjadi jalan bagi saya untuk mengingat kembali bahwa kebahagiaan itu ada dua jenisnya. Kebahagiaan pada masa lalu baru kita sadari saat ini, dan kita mengingatnya lalu kita bahagia. Kemudian, kebahagiaan hari ini yang kita sadari. Yes!

Berbicara tentang kebahagiaan, pasti semua kita pernah mengalaminya. Apakah kebahagiaan yang datangnya dari luar diri kita, ataupun kebahagiaan yang kita munculkan dari dalam diri kita sendiri. Hingga akhirnya kita benar-benar merasakan bahagia. Adapun kebahagiaan yang datang dari luar diri kita dapat berupa penerimaan-penerimaan kita terhadap berbagai hal yang memang kita terima. Seperti; saat menerima hadiah; siapa yang tidak bahagia saat menerima hadiah? Lalu, menerima senyuman dan kebaikan; siapa yang tidak senang kalau tiba-tiba ada orang yang tersenyum dengan wajah indahnya, pada kita. Yang kebetulan, saat itu kita lagi manyun. Hohooo. Baiklah, tentang kebahagiaan yang hadir menyapa pasti ada banyak jenisnya. Dan semua kita tentu pernah mengalaminya, iya.. kann..?

Nah! Ada lagi kebahagiaan yang dapat kita hadirkan dari dalam diri kita terlebih dahulu. Maka kita dapat merasakan apa itu bahagia. Ya, hal ini terjadi, ketika belum ada lagi kebahagiaan yang menyapa dari luar diri kita. Maukah kita membawa ketidakbahagiaan dalam hari-hari yang sedang kita jalani? Ai! Kita dapat merasakan bahagia kapanpun kita mau, wahai teman yang baik. Berbahagialah saat ini. Walaupun engkau sedang tidak bersama sahabat yang selama ini menjadi jalan bahagiamu. Ya, tersenyumlah pada dirimu yang saat ini sedang belum bahagia. Tersenyumlah padanya dengan sepenuh hatimu. Walau sebentar saja, sempatkanlah waktumu untuk berdiri di depan sebuah cermin, ketika engkau merasakan kebelumbahagiaan. Lalu, pandangilah wajahmu dengan penuh kasih sayang. Kemudian tanyai ia, “Ada apa denganmu, wahai sahabat?”. Kemudian, bersiaplah untuk menerima jawabannya. Sungguh, ini adalah aktivitas yang sedang saya laksanakan saat ini. Ia berkesan.

Senyuman terindah yang engkau berikan pada dirimu sendiri, sangat berpengaruh pada kebahagiaannya. Ia menjadi bahagia bersama-sama denganmu, karena engkau sangat memperhatikannya. Ya, kepedulianmu itu begitu menakjubkan baginya. Apalagi kalau selama ini, engkau belum pernah menyapanya, sekalipun. Kok bisa? Padahal ia adalah sahabat kita yang terdekat. Ketika sahabat-sahabat yang lainnya tiada di sisi. Percayalah, selama kita peduli pada sahabat, sahabat juga lebih peduli lagi kepada diri kita. Meskipun belum ada bukti nyata yang ia tampakkan di hadapan kita sebagai ekspresi kepeduliannya, namun yakinlah bahwa ia mempunyai niat yang baik pada kita. Dengan niat tersebut, ia menyampaikan kepeduliannya pada kita sahabatnya. Adakah kita merasakan hal yang demikian? Dapatkah kita menemukan sahabat yang kebaikannya tidak terbayarkan?

Ketika “Hapeku Sayang” perlu diiming-imingi dengan bayaran terlebih dahulu, baru akhirnya ia dapat berfungsi untuk menyampaikan kita pada kebahagiaan. Saat ia perlu kita hidupkan lagi kalau ia sudah meninggal; [baca;diisi ulang baterainya], saat ia tidak akan mau menyapa kita kalau kita tidak menyapanya, ia adalah sahabat yang berwujud, namun hakikatnya tiada. Ia hanya punya raga, namun tidak dengan rasa. Ia hanya punya raga, namun tidak dengan pikiran. Ia adalah benda mati yang hanya akan berfungsi optimal kalau kita yang mengaktifkannya. Ia adalah sahabat yang akan berpindah, kalau kita yang memindahkannya. “Hapeku Sayang”, engkau baik-baik saja kan?😀 Iiiiiich, rindu saya padamu, teman. Adakah engkau menerima pesan-pesan yang belum terbalas atau panggilan yang belum terjawab? Wah! Saya kembali ingat padamu, teman. But, sekarang saya tetap akan melanjutkan catatan ini hingga nanti masanya tiba. Ia mencapai lebih dari dua ribu dua belas.

Lha. Terbukti kan? Bahwa engkau adalah salah satu sahabat yang berjasa, bermanfaat dan membawa kebaikan. Catatan ini adalah peran yang dapat engkau jalankan, selama ketiadaanmu teman. So, ingatan akan teman dapat berwujud catatan-catatan ringan. Ini adalah catatan tentang teman yang tidak punya rasa, teman yang tidak punya pikir, teman yang hanya benda mati. Lalu, bagaimana pula dengan ingatan pada teman yang kehidupannya berjalan dengan baik? Ya, teman yang kebaikannya terus berjalan. Dapatkah kita merangkai lebih banyak catatan lagi tentangnya. Yes! Bersama kita bisa.

Saya sangat senang dengan kejadian yang berlangsung saat ini. Karena akhirnya, saya dapat merangkai catatan dengan judul “Hapeku Sayang, Tertinggal Pulang”. Hohoo…😀 Hari yang indah. Seindah ingatan yang kembali menemani. Seindah ingatan yang menjadi jalan hadirkan kebaikan. Wah! Baiknya ia, meninggalkan kenangan dengan catatan yang terhadirkan. Salam dan keselamatan, semoga tercurahkan senantiasa pada semua penggerak kebaikan, di manapun engkau berada.. wahai teman.

Teman yang hadir dalam ingatan, meskipun ia tiada dalam pandangan, adalah jalan hadirkan senyuman. Apalagi, teman kita tersebut seringkali berbuat kebaikan. Siapakah ia? Dari manakah asalnya? Ai! Saat ini ia ada di mana? Bagaimana keadaannya saat ini? Teman, meskipun jauh di sana, selamanya engkau bermakna. Untuk senyuman terindahmu yang pernah engkau titipkan. Untuk kalimat-kalimat terbaikmu yang pernah engkau tuliskan. Untuk suara lembutmu yang sempat engkau perdengarkan. Untuk tatapanmu yang penuh dengan kasih dan sayang. Untuk gerak, sikapmu yang engkau peragakan. Ai! Meskipun engkau bukan peragawati ataupun peragawan, namun semua ekspresi yang pernah, sedang dan akan engkau sampaikan, adalah jalan hadirkan senyuman yang lebih indah lagi. Wahai teman, terima kasih ya. Meskipun saat ini kita belum lagi dapat bersama dalam pertemuan, namun selamanya ingatan menjadi jalan bahwa kita sedang dalam kebersamaan. Kebersamaan yang kita cipta untuk merangkai bahagia. Kebersamaan dalam ingatan ini adalah jalan bagi kita untuk kembali menyadari, siapa diri ini? Buat apa ia ada di sini? Lalu, kita kembali mentafakuri atas apa yang ia jalani. Adakah saat ini ia sedang mengingat? Lalu, siapakah yang hadir dalam ingatannya? Adakah ia ingat pada Yang Selalu Ada untuknya? Adakah ia mengingat satu nama yang selamanya menjadi Sumber Ingatan? Adakah ia mengingat satu nama yang, kalau tanpa izin dari-Nya, maka kita bukanlah siapa-siapa. Dan tidak akan pernah menjadi seperti yang kita mau. Lalu, mana syukur kita atas segala cita yang mewujud nyata? Mana kesabaran kita pada berbagai niat yang hingga saat ini masih ada di relung jiwa?

Hari ini …

“Teh Feniiiiiiiiiiii…… sorrryyyyyy”, sapa saya pada beliau, yang ternyata sudah datang duluan. “Iya, Teteh, hapenya engga diaktifin, yaa”, jawab beliau dengan ekspresi wajah yang so cool and beautiful. “Coba liatin di belakang Teteh, ada apa”, seraya tersenyum, saya segera duduk di kursi. Lalu, membuka laci yang sebelumnya terkunci. Lalu beliau pun berpaling ke kanan lalu menoleh sekitar sepuluh derajat ke belakang. “Tu, kan. Teteh kalau engga diingetin…”, begini tanggapan dari Teh Feni, pertama kali kami berjumpa lagi hari ini. Lalu, sayapun tersenyum…. seperti ini.😀

Sore harinya…

Sebelum beliau pulang, Teh Feni malah menitipkan selembar kertas di samping saya. Seraya bilang begini, “Teh… Nanti kalau mau pulang, liat ini dulu, yaa..😀 “. Ketika sebelumnya beliau telah bilang, “Teh, nanti hapenya lupa lagi, lho. Hayo, ambil sekarang aja. Namun, saya bilang, nanti pas mau pulang aja, … Opz! “Sahabat itu adalah alarm yang tidak pernah kehabisan energinya. Sahabat itu adalah sinar yang tidak pernah padam. Seperti halnya mentari yang senantiasa bersinar cemerlang, meski tidak tampak dalam nyata. Aslinya ia ada untuk menyinari dunia kita.”

Heheheee...

Heheheee...

“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S An Nahl [16]: 119)

 :)🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s