Masih Adakah? Meski Sebaris Senyuman Hari Ini


Good Luck Yaa…

Good Luck Yaa…

Malam ini, setelah kembali dari Sangga Buana, saya teringat pada sesuatu. Yes! Ada persediaan buah yang segar. Hingga akhirnya, saya pun makan mangga malam-malam. What’s? Ada apa ini? Hihiii…😀 Tidak ada apa-apa, teman. Hanya saja, saya pengen mengupas mangga yang Siti My Neighbour kasih, semenjak dua hari yang lalu. Berhubung padatnya jadwal beraktivitas belakangan ini, maka keberadaan sang mangganya terabaikan begitu saja. Nah! Malam ini adalah kesempatan terbaik untuk mencicipinya. Setelah mengupas lembar perlembar kulitnya yang segar, maka saya segera memotong mangga menjadi kecil-kecil. Dengan ukuran berbentuk kotak-kotak yang unik. Ya, kotak tersebut tidak seperti kotak pada umumnya. Karena ada sebagian sisinya yang tidak datar, namun seperti lengkungan, gitu.😉 (Ada yang mauu… hohoo… udah ga ada lagi…).😀 Setelah itu, saya menyimpannya di dalam sebuah mangkok kecil yang telah bersiap untuk menyambut.  Satu persatu, potongan itu berjatuhan menimpa mangkok yang tersenyum. Ia bahagia, karena ada yang mengisi kekosongannya. Ia tersenyum, karena ada yang memanfaatkan dirinya. Pun, ia berbahagia karena ia bermakna. Mangkok saja tersenyum ketika ada yang menjadikannya berarti. Lalu, bagaimana pula dengan kita yang mempunyai hati nurani? Berbahagiakah kita saat ada yang mengulurkan tangan untuk kita sambut? Tentu senyuman paling indah yang kita punya akan mengembang segera, ia menembang suara jiwa.

***

Hari ini…

Di dalam dunia kenyataan, tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Di dalam kemungkinan tersebut, akan terdapat bermacam-macam ekspresi yang terhadirkan. Ada kalanya kita menemukan ekspresi berupa pengabaian, terdiamkan begitu saja. Pun ada ekspresi di mana kita mendapat sambutan yang penuh dengan kehangatan. Pada lain kesempatan, kita bertemu dengan pujian beserta pernak-perniknya yang bercorak aneka ragam. Ada kesempatan pula untuk berjumpa cacian yang mampu menggerakkan perasaan untuk segera mengambil tindakan. Ai! Begitu kejelasan mulai menampakkan diri, maka senyuman dan kebahagiaan kembali mengembangkan aura penuh kenangan. Ini adalah kehidupan kita.

Di dalam dunia pendidikan, seringkali kita berjumpa dengan banyaknya perhatian. Ya, berbagai bantuan dan pengertian menjadi teman yang senantiasa kita rasakan. Kita mengalami apa itu pemaafan, termasuk pula senyuman yang segera dapat kita pandangi dengan tanpa membutuhkan waktu yang lama. Ya, dunia pendidikan adalah dunia yang selamanya memberikan kita ketenangan, kesejukan dan kedamaian. Lalu, selama keberadaan kita bersamanya dapat kita mengambil banyak pengalaman dan pengajaran. Setiap kesempatan perlu kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Dunia yang penuh dengan kenyataan dan dunia pendidikan, adalah dunia yang mempunyai kesamaan. Ya, ia sama-sama mengajarkan kita untuk kembali mau menumbuhkan kesabaran dan kesyukuran dalam menjalani kehidupan. Bagaimana tidak? Seperti yang kita pernah juga mengalami. Bagaimana kita dapat tiba-tiba berada pada tingkatan masa pendidikan yang paling tinggi selama di sekolah dasar, kalau kita tidak mau menempuh tingkat terbawah untuk pertama kalinya. Atau? Tiba-tiba! Kita sudah berada di kelas enam, aja. Aha! Sungguh hal yang seperti ini tentu akan mengundang banyak pertanyaan. Bukankah kita belajar mengenal tulisan dan bagaimana menikmati bacaan, dimulai semenjak kita berada pada kelas satu? Lalu, dengan berbagai proses yang terus kita lakukan, dengan prosedur yang kita ikuti beserta aturan-aturan yang telah tercipta. Maka kita terus melanjutkan masa pendidikan. Pada tahun pertama, memang kita masih berada pada tingkatan terbawah, masa pendidikan di sekolah dasar. Lalu, kalau kita rajin dan gemar menyimak ketika guru sedang menerangkan pelajaran. Kemudian kita menempuh ujian yang menjadi batas antara satu tingkat dengan tingkatan lainnya. Maka pada tahun kedua, kita akan berada pada tingkatan yang berbeda. Yes! Setahun kemudian, kita kelas dua. Lalu, begitu seterusnya, sampai akhirnya kita menamatkan masa pendidikan dengan kostum yang suci dan berani tersebut. Untuk selanjutnya, kita boleh melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Ketika kita sukses menempuh masa pendidikan, kita pasti senang dan bahagia. Apalagi kalau kita menjadi juara kelas, yang berarti kita adalah salah seorang anak didik yang mempunyai kelebihan. Yes! Juara satu, juara dua atau tiga? Ini tergantung pada kerajinan, keuletan dan kejelian kita dalam mengikuti pelajaran. Bagaimana dengan pemahaman yang mampu kita peroleh dalam masa pendidikan?

Pendidikan ada banyak jenisnya. Pendidikan formal dan pendidikan informal adalah bagian dari jenis pendidikan. Pendidikan formal, pada umumnya kita jalani semenjak kita berusia sekolah. Ya, ia bernama pendidikan teka, esde, esempe, dan selanjutnya. Kita menempuh pendidikan formal dengan berbagai tujuan. Adapun salah satu tujuannya adalah agar kita mempunyai ilmu dan pengetahuan. Selain itu, juga memberikan kita banyak pengalaman. Pengalaman yang kita peroleh dalam masa pendidikan formal, dapat kita temukan ketika kita bergaul dengan siapa saja yang sedang melakukan hal yang sama dengan kita. Ada teman-teman seperjuangan yang juga menempuh masa pendidikan, ada guru-guru yang rela berkorban untuk mendidik kita agar menjadi para siswa yang baik. Pun, ada lingkungan yang kita kunjungi beserta masyarakat yang kita kunjungi setelah jeda masa pendidikan kita jalani.

Setelah masa pendidikan kita tempuhi, maka secara langsung maupun tidak langsung, kita akan berhubungan dengan masyarakat. Ya, masyarakat yang lebih luas lagi cakupannya. Masyarakat yang dapat menjadi jalan bagi kita untuk menyampaikan ekspresi. Masyarakat yang sepenuhnya ada untuk menemani kita dalam melanjutkan pendidikan pasca pendidikan formal. Di dalam kehidupan bermasyarakat, kita akan mengenal beraneka jenis karakter manusia. Lebih kurang, sama dengan beraneka karakter yang juga kita temui ketika kita masih menempuh pendidikan formal. Ya, kita bertemu dan bersama dengan teman-teman yang berbeda-beda, bukan? Masih ingatkah kita pada teman-teman kita yang bermacam-macam latar belakangnya? Masih ingatkah kita dengan teman-teman yang tidak sama warna kulitnya? Masih ingatkah kita dengan teman-teman yang wajahnya pun tidak ada yang sama. Lalu, masih ingatkah kita dengan para guru-guru kita yang banyaaaaaak sekali. Coba kita ingat-ingat lagi, hayoo. Berapa orangkah jumlah guru-guru kita, semenjak kita teka, esde, esempe, hingga kita menamatkan masa pendidikan formal. Dapatkah kita mengingat nama-nama beliau semua? Setelah saat ini kita tidak dapat bertemu dengan beliau lagi? Ya, beliau adalah guru-guru kita yang tanpa tanda jasa. Wahai para guru yang berbudi, terima kasih kami untuk didikan yang engkau berikan pada kami.

Nah! Begitu pula dengan lingkungan masyarakat yang sedang kita kunjungi pasca pendidikan formal tersebut. Di dalam masyarakat, kita juga bertemu dan bersama dengan teman-teman yang beraneka jenisnya. Teman-teman tersebut adalah para sahabat kita dalam meneruskan pendidikan, kini. Ya, selamanya kita adalah dalam masa pembelajaran. Selagi napas masih mengalir deras, selama itu pula kita menempuhi masa pendidikan. Selama kita masih ada di dunia, maka ia adalah sarana kita untuk terus belajar. Adapun alam yang membentang dengan segala kemegahannya, adalah guru-guru kita yang berbudi. Sedangkan lokasi sekolah kita adalah bumi. Ai! Betapa luasnya tempat kita belajar kini, yach. Tidak ada yang dapat membatasi, kemana kita akan pergi untuk mencari ilmu dan pengetahuan. Karena perpustakaan kita bernama ‘Perpustakaan Rasa’. Sedangkan kantin-kantin yang akan kita kunjungi saat bel pertanda jam istirahat berdenting, adalah ‘Kantin Persahabatan‘.

Dalam jeda waktu selama rehat dari masa belajar, kita dapat menemui teman-teman yang berasal dari kelas-kelas yang lain. Kelas yang sebelumnya memisahkan kita. Kelas yang menjadi batasan kita untuk bebas bertemu muka. Karena di kelasnya, para sahabat juga sedang belajar. Wah! Bahagianya terasa, saat bel istirahat berdenting…. kita kembali jumpa wahai para sahabat. Jeda waktu yang dapat kita manfaatkan untuk refresh our mind agar ia kembali segar, cerah dan berseri-seri indah berbunga-bunga, hhhhmmmmm…. harum semerbaknya mencuatkan nyali untuk meneruskan perjuangan ini. Karena kita tidak belajar hanya di ruang kelas saja, kelas yang menjadi pembatas pertemuan kita. Akan tetapi, selagi kita masih mau belajar, maka di manapun, bersama siapapun, kapanpun, kita dapat saling mengingatkan. Bersama, kita dapat berbagi pengalaman, lalu mengalirkan ilmu dan pengetahuan yang kita tahu. Kita adalah para siswa kehidupan.

Di luar kelas yang menjadi tempat menuangkan gagasan, kita masih perlu mendapatkan pelajaran. Adapun bahan-bahan pelajaran yang kita peroleh dari luar kelas, sangat beragam. Pelajaran tentang bagaimana cara untuk memaafkan, pelajaran tentang bagaimana cara mengukir senyuman penuh keikhlasan, pelajaran tentang bagaimana cara menitipkan rasa syukur atas kehidupan. Pun, pelajaran tentang kesabaran yang selamanya perlu kita perhatikan. Ya, karena tidak selamanya apa yang kita inginkan adalah yang kita butuhkan. Nah! Di sini, kesabaran mengambil peran. Ia segera memberikan jawaban, untuk menenangkan pikiran, hati dalam menjalani berbagai godaan. Bahwa harapan kita akan menjadi kenyataan, selama kita mau untuk mewujudkannya. Bukankah kehidupan artinya perjuangan? Kalau kita tidak mau berjuang, siapa pula yang akan memberikan kita kemenangan pada akhir masa pembelajaran?

Dalam jeda waktu belajar di ruang kelas yang memisahkan kita, mari kita berbagi tentang berbagai hal. Membuat janji yang kita ikrarkan untuk melanjutkan belajar bersama-sama di ‘Bawah Pohon Harapan’, seraya mendiskusikan tentang tugas-tugas yang Ibu/Bapak Guru berikan. Oia, tugas yang Ibu/Bapak Guru kita berikan, sama kan? Karena kita belajar materi yang sama pula, meski kelas kita berbeda. Sedangkan jarak perjalanan menuju pulang, yang kita tempuhi juga sama. Bagaimana kalau kita melalui jalan yang sama? Ai! Alam yang sedang kita jadikan sarana untuk berpijak adalah jalan yang indah. Di pinggirnya ada sungai-sungai kebaikan yang mengalirkan gemericik kesejukan. Coba dech, kita pandangi lebih jauh ke pinggir kiri dan kanan jalan yang sedang kita tempuhi. Di ujung sana, ada pepohonan rindang berdaun kehijauan. Ia sedang berbaris rapi. Kalau kita merasa lelah dalam perjalanan, berteduh di bawahnya untuk beberapa jenak, adalah pilihan. Tapiiiiii….. jangan lama-lama yaaa, nanti ketiduran, karena pohonnya adalah pohon beringin yang sudah berusia puluhan tahun. Eits! Saya jadi ingat sepohon beringin yang sedang menjulang anggun di sebuah sudut Taman Makam Pahlawan, Cikutra. Kapan-kapan, saya bersama Siti My Neighbour ke sana ach. Mau menatap lagi nisan-nisan yang berbaris rapi. Nisan yang menjadi pembatas antara pertemuan para insan yang masih hidup dan yang telah berpulang.

Oia, saya jadi ingat Siti saat ini. Siti, adalah salah seorang tetanggaku di sini. Siti yang akhir-akhir ini jaraaaaaangggggggg banget kita bertemu. Siti yang super sibuk sekali dengan aktivitas beliau yang tiada henti-hentinya. Ai! Padahal kami adalah para tetangga yang sudah bersama di sini semenjak beberapa tahun yang lalu. Begini cuuueeerrrriitttaaannyaaa; “Pada akhir tahun 2006 – 25 Desember, saya lebih dahulu ada di wisata ini. Entah mengapa, tiba-tiba saya sudah ada sini. Wah! Indahnya hidup ini… menjadi bagian dari kehidupan yang menitipkan banyak hikmah. Hikmah yang hadir menyapa diri, ataukah kita yang melangkah untuk menemuinya? Waktu dan usia kita yang hanya sementara ini, ada untuk kita syukuri. So, berada jauh dari keluarga untuk beberapa masa, ai! Saya belum biasa! Namun, apa boleh kita kata dengan ucap yang tanpa suara, tiba-tiba saya sudah berada di sini. Untuk meneruskan perjuangan. Buat Bapak Ir. Adriza, M.Si yang menjadi jalan sampaikan saya di sini, kepada Ibunda Elly Watti Noorhan, SE.MM yang baik hati, saya menitip salam dan senyuman hari ini. Terima kasih ya, Bap. Terima kasih, Ibu. Doa-doa terindah yang Ibu dan Bapak kirimkan, menjadi salah satu jalan hadirkan inspirasi. ** Banyak kebaikan yang beliau sampaikan pada diri ini, tidak akan hilang untuk sekejap mata memandang. Kebaikan budi yang beliau tebarkan, boleh kita contohi dan teladani. Buat keluarga yang beliau bangun dengan senyuman bahagia, semoga abadi hingga ke akhirat nanti. Atas banyak pesan, makna dan materi yang beliau limpahkan selama ini bagi saya untuk dapat melanjutkan pendidikan formal, adalah bukti bahwa di dunia ini, kebaikan itu pasti ada. Bagi para penggerak kebaikan yang setiap waktu mendayakan diri untuk berbagi, saya sangat menghargai. Terima kasih terdalam atas segalanya. Ya Allah, titip salam buat beliau semua…

Kini, masih di lokasi yang sama seperti akhir tahun dua ribu enam yang lalu, ada sahabat yang menjadi salah seorang tetanggaku di sini. Siti My Neighbour, Siti yang baik hati. Pernah untuk beberapa bulan, Siti tidak nge-kost di sini. Karena beliau sedang Praktik Kerja di kota yang berbeda. So, Siti perlu meninggalkanku sendiri di sini.. Syahdu di dalam hati, ketika kita akan berpisah. Jauuuuuuuh, jarak yang membatasi pertemuan raga kami adalah saksi yang menjadinyatakan segala mimpi. Saya berharap untuk dapat bertemu dengan Siti lagi. Kemudian, kami menjadi tetangga-tetangga yang baik dalam melanjutkan perjuangan ini. Ai! Segera, ingatan membawaku pergi ke masa yang telah lama berakhir. Saat Siti terbaring sakit. Engkau pasti bisa, Nduk! Semangatmu akan terus menyala untuk mensenyumi ragamu yang tidak berdaya. Yakinku, jiwamu sedang menunjukkan pada dunia bahwa engkau adalah pribadi yang kuat.

Alhamdulillah, kini Siti sudah lebih dahulu berangkat beraktivitas. Ya, beberapa jam yang lalu, beliau telah berangkat pergi. Beliau rajiiin sangat. Sering, ketika saya belum membuka jendela kamar pada pagi hari, Siti sudah tidak ada lagi. Lalu, saat saya sudah kembali ke kost-an yang kita namai “Wisata Baroedak Dodol”, untuk berehat raga beberapa waktu, saya temui Siti belum kembali. Ai! Siti adalah yang tadi memberi saya sebuah mangga. Terima kasih ya Siti My Neighbour.

“Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. ” (Q.S Al-Insan [76]: 11)

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s