Langit Malam [tanpa] Rembulan


Malam
Malam

Tentang bagaimana hari esok? Ai! Satu senyuman hari ini menjadi jalan untuk senyuman yang lebih indah lagi.

Tentang nanti sore bagaimana? Ai! Satu senyuman yang kita mulai ukir semenjak siang ini adalah awal hadirnya lebih banyak senyuman lagi nanti, ketika waktu itu datang.

Tentang malam yang akan bertaburan bintang? Ai! Siapa yang bilang, ia akan menghilang? Karena selamanya, bintang-bintang yang berkerlipan ada di dalam jiwa-jiwa yang mau tersenyum semenjak saat ini.

Tentang persahabatan antara para insan yang sedang menjalani hari yang datang dan pergi silih berganti? Ai! Tiada yang dapat memungkiri akan perubahan kondisi hati yang senantiasa berbolak balik ini.

Tentang keinginan yang masih ada di dalam harapan? Ai!  😀 Tertawakan saja apabila ia belum menemui diri ini. Karena lama-lama ia juga tahu sendiri, tentang bagaimana upaya yang sedang kita usahakan untuk dapat membersamainya.

Tentang bagaimana menu hari ini yang akan kita nikmati? Ai! Alangkah indahnya kalau kita mengingati selalu, ya ingat akan perputaran roda kehidupan. Ya, tidak selamanya menu hari ini bertaburan nasi yang putih dan bening saja, seperti halnya kemarin yang telah berlalu. Semoga kelezatan yang kita nikmat hari ini dapat menjadi jawaban atas segala tanya yang pernah hadir, “Kapan yaa… kita enak makannya?”.

Tentang rute perjalanan yang sedang kita susuri saat ini? Ai! Bagaimana bisa kita mengetahui arah tempuh yang akan kita tempuhi, kalau kita belum pernah melakukan survey terlebih dahulu.

Tentang rencana yang pernah kita susun? Ai! Keputusan terindah ada dalam Kuasa-Nya, kita perlu memahami agar senyuman ini kembali rela menemani wajah-wajah kita.

Tentang genggaman yang telah kita satukan? Ai! Perkuat ia dengan terus memperbaiki diri. Kalau sekarang, kita lagi dalam kondisi yang bagaimana?

Tentang ucapan syukur yang belum lagi mengalir? Ai! Emangnya kita siapa? Yang berani-beraninya mengendalikan takdir? Bukankah ada yang Maha Menentukan bagaimana hal yang semestinya terbaik buat kita saat ini.

Tentang buliran permata kehidupan yang sedang menemani saat ini? Ai! Ia adalah penyejuk jiwa yang senantiasa tidak lelah berzikir, ingatannya pada hari akhir semoga dapat meringankan segala pikir yang segera mampir.

Tentang budi baik yang masih tersimpan di ruang jiwa-jiwa kita? Ai! Yakinkan ia bahwa pikiran sedang bergiat ria dalam rangka menemukan solusi terbaik. Lalu, ia bertanya, “Apa yang dapat kita persembahkan pada beliau-beliau yang berkontribusi padanya.

Tentang perjalanan jiwa melintasi samudera kehidupan? Ai! Sejauh ini, saya masih belajar untuk mengenalnya. Lalu, mengajukan sebaris tanya padanya, “Bagaimana rasanya? Hahahaa…”

***

Untuk menjadi seorang seniman, engkau memang perlu tampil berbeda dengan yang lain. Caranya adalah dengan menciptakan satu keunikan tersendiri pada dirimu. Ya, keunikan yang tidak ada satu orangpun yang dapat menyamainya. Dan bersamanya, maka engkau dapat menunjukkan kelebihanmu dari kebanyakan orang.  Namun ada satu hal yang perlu engkau ingat bahwa engkau pun memiliki kekurangan. Yakinlah, keduanya dapat menjadi jalan untuk menyadarkanmu lagi akan adanya makna penting dari kehadiranmu di dunia ini. Agar pada saat engkau berada pada ketinggian, engkau tidak gamang karenanya. Begitu pula pada saat engkau berada di dataran rendah, engkau tetap percaya diri untuk melangkah.  Lalu, menyusuri jalanan kehidupan yang memang tidak selamanya menjanjikan senyuman ini dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi bersamanya, engkau masih dapat tersenyum kapanpun engkau mau. Tersenyumlah dengan jiwamu yang merdeka. Walaupun untuk saat ini, wajahmu telah basah kuyup oleh butiran permata kehidupan yang segar.

Untuk dapat tersenyum, kita tidak dapat memaksakan diri. Selagi kita percaya akan perputaran roda kehidupan, maka kita dapat menikmati apapun yang sedang kita jalani. Ketika pada suatu waktu jiwamu seperti teriris-iris karena ada sembilu nan melukainya, perih memang. Ia sakit. Iiiiiiih,…. 😀 Lalu, tersenyumlah saat itu juga. Karena saat itu adalah awal hari yang paling membahagiakan. Bukankah setelah kesulitan ada kemudahan?

Untuk menjadi seorang yang pemaaf, pun tidak perlu kita sampaikan kepada siapapun. Adalah suara hati yang akan seringkali mengingatkan, bahwa “Yakinkah kita masih akan hidup sampai satu detik setelah ini? Lalu, buat apa kita menyimpan segala kerumitan yang kita hadirkan sendiri? Buat apa? Apakah kita akan membawanya ketika kita akan berpulang? Bukankah sebaiknya beban yang memberatkan pikiran seperti ini, kita tinggalkan saja. Lebih cepat lebih baik. Dengan demikian segera terbersit untuk segara memaafkan siapa saja yang belum kita maafkan”. Ai! Mudahnya cara untuk mensenyumkan wajah-wajah kita kembali, ya. Walaupun masih beraaaaaaaaaat baginya untuk melakukan hal yang serupa. Namun, dengan latihan yang berkepanjangan, segalanya menjadi lebih mudah.

Untuk sampai kepada harapan yang telah kita cita-citakan, memang jalannya berliku namun indah. Ada tangisan yang mengurai berbagai rasa, hingga senyuman sampai bahan tertawaan pun ikut menyelingi. Kalau kita lagi menangis, ya menangis saja. Kalau saatnya tersenyum, boleh dong kita tebar-tebarkan.

Pukul 02.00 dini hari…

“Bun… Bun… Lihat dech di jendela”, sapa Tya padaku, yang sepertinya terdeteksi mulai siuman. “Ooooaaaaammmm, ada apa Tyaaa?”, dengan ekspresi setengah melayang di udara, saya menjawab pada Tya yang segera memandang ke arah atas, tepat di ujung jendela. Jauuuuuuuuuuuuuh pandangan yang ia tunjukkan. Pandangan yang menarik saya untuk bersegera mengikutinya, ternyata tidak sia-sia. Benar, teman. Lihatlah… ya, lihatlah nun jauh di langit malam, ada rembulan yang tidak temaram. Ia berkilau dalam kelam. Sudah purnamakah semalam?. “Ai! So, sweet. Ini adalah hadiah malam ini buat kita”, begini tanggapan yang saya lontarkan pada Tya yang terus memandang bulan.

Tepat pukul dua dini hari, rupanya. Ketika saya memalingkan pandangan ke arah jam beker yang sedang duduk manis di atas tipi, di kamarnya Tya. “Tyaaa… ini kan jam dua. Bener, kan?”, sepertinya saya masih belum bangun. Buktinya, masih antara percaya dan tidak, namun sepenuhnya saya percaya. Bahwa ini bukan mimpi. Ada rembulan yang sedang tersenyum menawan di langit malam. Bukankah ini adalah awal hari yang penuh dengan senyuman? Ketika pada awal hari kita sudah mengusahakan untuk merangkai senyuman, maka senyuman yang berikutnya akan segera berdatangan. Ya, ia perlu membersamai teman-temannya yang telah lebih dahulu berdatangan kepada kita.

Sebelum tidur, sengaja kami tidak menutup kain gorden yang menggantung di tirai jendela kaca. Entah mengapa? Tidak seperti biasanya memang. “Insya Allah, aman..”, kata Tya, seraya menenangkan saya yang belum mau tidur, sebelumnya.  But, akhirnya memang engga ditutup sama sekali, hingga jarum jam berada pada angka dua titik nol nol. Akan tetapi, kaca jendela tetap rapat, terkunci pula dengan sangat erat. Karena, memang aslinya kita-kita pada engga nyaman, kalau tidak begitu. Hingga pemandangan yang rembulan pertontonkan terlihat jelas oleh mata ini, saya masih mengucek-nguceknya dengan lembut. Mata yang nyatanya ada untuk menyaksikan keindahan alam, yang sedang Allah perlihatkan pada kita. Ya, betapa Kasih Sayang-Nya tiada terbilang. Ini, baru penampilan malam, apalagi kalau ditambah dengan suasana pagi hari yang menjadi lebih menarik dengan hadirnya sang mentari. Ini,  adalah dunia kita. Pokoknya malam dengan rembulan yang sedang tersenyum menawan, sangat berkesan dech. Malam yang indah. Seingah hati yang mau bersyukur.

Gorden itu berwarna biru tua. Warna biru tua adalah warna kesukaan Tya. Tya adalah salah seorang temanku di sini. Ai! Semalam itu kita nginep, ceritanya. Hahaa… setelah sebelumnya Tya yang seringkali berkunjung ke istana hatiku. Hohoo… kita memang soulmate yang tiada akan pernah terpisahkan sampai di ujung usia. Oia, Tya, juga telah menganggap saya sebagai salah seorang saudara perempuannya. Bukan hanya saudara perempuan biasa. Namun, lebih dari kakak. Karena, memang saya berusia lebih tidak sampai setahun saja dari beliau.

Tentang keindahan hari demi hari yang seringkali kami habiskan bersama, ada banyak kisahnya. Terutama hari libur yang kita manfaatkan untuk berjumpa. Karena pada hari-hari biasa, memang kita tidak bebas untuk bersua. Sebelumnya, ada pula kisah yang menawan pada hari kemarin. Yes, kita ber-hair spa gratis- ria pada siang harinya.  Hair Spa? Gratis? Yes! Karena, kita dapat voucher, ketika pada tanggal 25 Desember, sempat ke salon. Hohoo… itu lho, tentang pengalaman pertama-ku ke salon. Kalau Tya, beliau bilang sudah pernah sebelumnya. Namun tidak dengan saya. Sudah…?

Gimana kalau kita lupakan salon untuk sementara? Karena saya sangat ingin ke sana lagi, kalau mengingat seorang Ibu yang telah berjasa untuk memberikan perawatan padaku. Ibu yang baik, begini pikirku hadir, tiba-tiba. Ibu Tutik, begini nama beliau. Tutik? Ya, sebuah nama yang mengingatkan saya pada sebuah nama yang lainnya. Namun, saat ini beliau tiada lagi di sisi. Beliau telah lebih dahulu pulang ke kampung halaman yang abadi. Tapi, berbeda dengan Ibu Tutik di salon, beliau yang telah berpulang, kerapkali saya sapa dengan panggilan Mba Tutik. Karena beliau berasal dari Pulau Jawa.

Aku haruuu, saat berkisah tentang hal ini…

Lalu, setelah bersalon ria. Kita pun menghirup udara sore pada liburan kali ini, di dekat tugu berlogo burung Garuda yang berdiri tegak di sekitar Gazibu.  Setelah beberapa lama menyaksikan pertunjukkan dari para pengendara motor yang bergaya entah apa namanya… hati kami pilu… Ada-ada saja. Masa iya, para pengendara tersebut bisa berdiri di motor, dengan satu roda motornya ke atas. Kadang kala, roda motor bagian depan yang berfungsi sendiri, sedangkan yang lainnya ada di awang-awang. Dan begitu pula sebaliknya. Kami tidak mau lama-lama dengan suasana begini, karena engga tegaaaaaaaaaaaaa aja, ngeliatnya.

Sebelum kita pulang ke rumah masing-masing, hujan turun sedikit demi sedikit. Ada yang kecil-kecil, yang sedang-sedang saja, dan ada pula yang lebih gede. Tapi, pada umumnya kecil-kecil. Engga merata gitu. Jadi, namanya hujan rintik-rintik aja ya. Lebih tepatnya gerimis. Nah, berhubung hujan rintik-rintik dan Tya engga bawa payung sebelum hujan, maka akhirnya kami pun pulang bareng. Hehee.

***


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s