Anda Putus Asaa? Ga Kenaaal


Tema Hari Berwarna-warni
Tema Hari Berwarna-warni

“… SABAR DAN tak kenal putus asaa..” (D’Massiv-Jangan Menyerah)

Adalah D’Massiv sedang bersenandung mengingatkan diri, sesaat sebelum saya memulai catatan pagi ini. Pagi yang memberi jalan bagi saya untuk kembali mempunyai kesempatan untuk melangkah dan menikmatinya. Kesempatan yang hanya datang sekali. Kesempatan hidup pagi ini adalah karunia yang terindah dari-Nya. Karunia yang perlu untuk diri ini sadari, bahwa bersama-Nya ia perlu melakukan yang terbaik. Meskipun kita tidak terlahir sempurna, namun kita perlu bersyukur atas berbagai keadaan yang sedang kita hadapi saat ini. Anugerah? Ai! Adalah ia titipan dari Sang Pencipta kita, Rabb Yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada kita hamba-hamba-Nya.

“Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah…. tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik….” Lalu lirik terus mengalir, menyentak qalbu untuk kembali mau bertafakur dan memanggil pikir untuk segera mengambil andil tentang apa yang perlu ia lakukan. Nah! Ketika itulah, ia memerintahkan saya ini untuk segera duduk manis di sini, seraya tersenyum pada tuts-tuts yang mentertawakan saya sedari tadi. Ai! Bersama  jemari yang tersenyum, ia memandang pada wajahku yang sudah berubah seketika. Berubah? Ya, karena tiba-tiba saya merasakan ada yang berubah pada tatapan mata ini. Ia menjadi berat,. Perlahan memang, namun efeknya itu lho. “Mataku berubah menjadi ‘sebesar bola pingpong’,   begini Siti My Neighbour menyampaikan setiap kali beliau menyadari, bahwa menangis itu ternyata membuat mata kita bulet. Ahaahaaa… 😀 Emang menangis itu adalah kenikmatan terindah, teman. Namun, setelahnya, apa yang terjadi? Buktikan saja, sendiri. Matamu akan menjadi berat.

Berhubung aktivitas pagi yang indah ini perlu berhiaskan senyuman, maka segera saya menatap lembaran bening nan bercahaya ini. Lalu, memandu jemari untuk mau mengambil peran. Yes! Bersama kita bisa. Wahai jemari-jemariku nan cantik, dengan pertolongan yang engkau berikan untuk mau berlari kesana kemari, maka akhirnya senyuman pada wajah kita segera menunjukkan diri. Ya, bersama aktivitas yang jemari lakukan, kita dapat tersenyum segera. Bagaimana tidak? Lihatlah apa yang sedang mereka lakukan. Dengan kecepatan yang memang tidak secepat kilat, namun bernada, ia terus saja bergerak. Ia bergerak atas dasar perintah dari pikir yang telah hadir sedari tadi. Kemudian, suara jiwa membisiki, “Apakah tema hari ini.” Mmmm… tanya yang ia sampaikan, tidaklah mampu jemari jawab, untuk saat ini. Karena ia sedang bersibuk ria untuk menata hati yang sedari tadi mulai bergerak dan kemudian mengajak perasaan untuk ikut dengannya. Eits! Kebersamaan mereka itu lho, yang menjadi jalan mengalirnya permata kehidupan semenjak pagi menjelang.

Ketika itu, mentari pagi belum memancarkan sinarnya. Masih kelam, teman. Ya, terang yang belum lagi kelihatan. Nah! Pada suasana tersebut, saya terbangun dari rehat panjang. Saya akhirnya siuman juga, setelah rasanya lamaaaaaaaaaaaaa banget belum lagi melihat indahnya dunia nyata. Ketika, di alam sana, ada sebaris nama yang saya pandangi dengan jelas. Nama yang mengingatkan saya pada siapa pemiliknya. Namun, sampai saat ini, wajah tersebut belum lagi mampu menampakkan diri. Wajah yang semestinya saat ini terukir jelas dalam ingatan ini. Nama, yang akhir-akhir ini seringkali mampir menemaniku dalam melanjutkan langkah-langkah ini. Nama yang semestinya ada dalam rupa. Bukan hanya nama yang datang dengan tiba-tiba, lalu ia pergi lagi. Nama itu milik siapa, yaa?

Tidak mudah memang, untuk mengingat sebuah nama, kalau kita belum lagi mau untuk berlatih dan melatih ingatan untuk mengingatnya. Karena kita adalah insan yang seringkali terpana akan perjalanan pikir yang seringkali bergerak ke mana-mana. Pikir yang selamanya akan terus mencari jalan. Setelah ini ia mau ke mana lagi ya? Pikirkan, lalu… jalankan. Pikirkan, lalu tebarkan ia dalam rangkaian senyuman. Hingga akhirnya, nama yang pernah ia ingatpun berlalu seketika. Tidak mudah memang, untuk menyimpan sebaris kata berupa nama. Namun, kalau kita berupaya untuk menemukan jalan dalam mengabadikannya, maka ia selamanya ada. Dan kita akan menjadi lebih mudah dalam menemukannya lagi, ketika pada kesempatan yang lain kita ingin mengingatnya.

Terhanyut dalam keadaan, adalah aktivitas yang selamanya akan membuat kita tidak mau untuk bangkit. Ia menggoda kita untuk berlama-lama dengannya. Keadaan yang belum semestinya kita berikan perhatian, pun keadaan yang hadir, semoga menjadi sebuah ingatan bahwa kita ada untuk saling mengingatkan. Keadaan yang menyampaikan sebuah bahan pelajaran untuk kita pahami. Ya, bukankah kehidupan yang kita jalani hingga sepagi ini, adalah proses untuk terus belajar? So, mengambil pelajaran terbaik darinya adalah pilihan.

(sejenak, ku terdiam)

Terdiam untuk mengenangkan kisah perjalanan yang telah aku jalani sebelum ini. Kenangan yang selamanya akan menjadi bahan pelajaran. Pelajaran yang kembali mengingatkan diri ini pada arti hadirnya di dunia. Dan pelajaran itu pula yang menjadi jalan sampai saat ini jemari masih berlarian. Ia sedang membantu aku dalam mengungkapkan apa yang hati ini rasakan, mengapa ia menangis pada pagi hari? Ia yang sedang berusaha untuk mengabadikan apa yang pikiran ini layangkan padanya. Eh, pernah pada satu detik yang lalu, ia menyampaikan saran pada mereka berdua, “Sepertinya, dari winamp yang sedang mengalun, ada inspirasi. Mari kita bergerak sejenak, menujunya, bagaimana?,” sapanya. Kemudian pikir berputar-putar sejenak. Karena ia mulai menyadari, bahwa memang ada suara-suara yang sangat asing terdengar. “Hayuuu… kita ke winamp”, ajaknya. Kemudian, hati yang sedari tadi asyik menyimak, menjawab dengan cepat dan semangat, “Oh, yess!”. Kemudian, kami bersama-sama menyaksikan pertunjukan yang winamp perdengarkan. Ai! Di sini ada tampilan yang menarik hati. Baiklah, untuk beberapa lama, kita bermain-main bersamanya.

Tidak banyak waktu yang kami habiskan di lembaran winamp. Namun, waktu yang hanya beberapa menit tersebut, telah menciptakan sebuah picture. Nah! Dari picture tersebut, kami pun beraikan suara jiwa. Karena, alunan yang winamp sampaikan tentu saja bermakna. Dari semua itu, kita pun dapat mengambil pelajaran.

Ada lirik-lirik yang menginspirasi. Ada lirik-lirik yang mewakili suara hati. Hahahaaa… 😀 Lirik-lirik tersebut, pada awalnya saya engga ngeh, kalau sebenarnya, ia sudah lama membersamai. Namun, pada kesempatan pagi ini, kepedulian padanya menjadi jalan untuk dapat menciptakan sebuah catatan. Yach, karena kalau hanya mendengarkan saja tanpa menyimak, maka bahan pelajaran yang pernah kita pelajari akan menjadi terlewatkan begitu saja. Tahukah engkau teman, saat ini saya sedang belajar memaknai lirik-lirik yang bersenandung itu. Seperti halnya belajar di hadapan seorang guru, maka saat ini saya pun mencatat inti-inti dari materi yang saya simak dengan sepenuh hati. Untuk selanjutnya, akan kembali saya baca pada suatu saat nanti. Yes! Kalau hanya mendengarkan, menyimak, namun tidak mencatat, maka kita tidak akan mudah untuk mengingatnya dengan cepat. Kalau kita mencatat, insya Allah, kapanpun kita mau mempelajarinya lagi, akan mudah bagi kita menemukannya. Apalagi catatan kita online. Yang hanya dengan beberapa kali klik, maka kita akan segera menjumpainya lagi. Ai! Memang ini yang sebelumnya pernah hadir di dalam pikir ini pada masa yang telah berlalu. Yes! Impianku menjadi kenyataan. Senangnyaaaa…. 😀

Untuk itulah teman, salah satu tujuan mengapa saat ini saya berada di sini semenjak pagi hari, bahkan sebelum mentari mensenyumi, adalah untuk mengabadikan hari. Termasuk pagi yang berhiaskan permata kehidupan. Ai! Saat ini, saya sedang tersenyum. Senyuman yang saya tebarkan untuk menemani jemari dalam berdikari. Ia sungguh membantu. Terima kasih wahai jemari, untuk mengingatkan diri ini. Ingatan yang menjadi jalan kita untuk belajar lagi. Karena belajar adalah sebuah kemestian, selama kita ada di dunia. Belajar yang dapat menyampaikan kita pada zaman yang penuh dengan senyuman. Senyuman itu akan lebih indah lagi dari hari ini. Senyuman yang kembali dapat mengingatkan kita pada sebuah nama. Ya.

Belum lama kiranya, kita berada di dalam lembaran ini. Belum sampai lima tahun. So, bagaimana bisa kita akan menyerah dan berputus asa begitu saja? Kalau kita inginkan sampai pada tujuan, maka kita perlu untuk terus melangkah. Meskipun langkah-langkah kecil jemari yang berjarak tidak sampai sepuluh senti dari keberadaannya. Karena ia telah mengambil posisi masing-masing. Yes! Ternyata, saat ini kita sedang mengetik dengan sembilan jemari saja yang berfungsi optimal. Karena, setelah saya amat-amati, ada satu jemari yang hanya memandangi saja aktivitas teman-temannya. Ya, jempol kiriiiiii…. 😀 “Mengapa engkau tidak mengambil peran untuk menyusun kata?,” tanya sang pikir yang hadir untuk menggodai. Ternyata, sang jempol engga menjawab. Karena ia sedang serius memperhatikan teman-temannya yang sedang bergerak. Lalu, bagaimana denganmu teman, adakah engkau mengetik dengan kesepuluh jemarimu? Atau, gimana?

Bicara tentang metode pengetikan, saya teringatkan pada sebuah nama. Ya, beliau yang menjadi jalan hingga saat ini, para jemari dapat bergerak sesuai dengan fungsinya. Bapak Desmen Afriadi, adalah guru mengetikku ketika masih esmeya dulu. Ya, beliau mengajari kami para siswa beliau, tentang bagaimana cara mengetik sepuluh jari. Terima kasih Bapak. Saat ini, ilmu yang telah Bapak berikan, sedang saya praktekkan. Namun, ada satu jemari yang hanya mengamati. Bagaimana ini??  Anda bingung? Anda mempunyai masalah? Anda sangat suntuk? Anda menemui rintangan di hadapan? Padahal jalan masih ada. Lalu, mengapa kita tidak menemukan jalan tersebut? Ya, jalan yang masih ada tersebut, pasti saat ini masih ada. So, let’s bergerak untuk menempuhnya.

Sepanjang kita mau untuk bergerak, selama kita berupaya untuk menggerakkan jemari-jemari ini, maka kita mampu merangkai beberapa baris kalimat. Namun, kita perlu mengkondisikannya ketika ia sedang bergerak. Ya, mengendalikannya. Karena ia tidak boleh bergerak semaunya. Perlu ada satu hal penting yang mesti ia susun. Dan susunan huruf yang ia bentuk tersebut, akan kita baca lagiii.. Hayoooo…. kita mau membaca rangkaian kalimat yang seperti apa, wahai diri? Pikirkanlah itu. “Eps… sorry, sorry, jangan kelamaan mikirnya. Nanti bisa-bisa tergoda oleh keadaan. Let’s… kita lanjutkan lagi perjuangan ini. Karena dalam bergerak, kita tidak boleh setengah-setengah. Mesti full. Yach. 😉

Sebenarnya, ada banyak jalan yang dapat kita tempuh untuk dapat mencapai tujuan. Ketika tujuan telah kita tetapkan, maka pasti ada jalan menuju ke sana. Kalau kita berusaha dengan sangat gigih dan sepenuh hati, yakinlah ada kemudahan dalam prosesnya. Ini berlaku untuk semua hal yang sedang kita hadapi. Seperti halnya yang saya alami sendiri. Dengan pengalaman pagi ini, saya mau berbagi sebuah kisah. Begini. Berhubung saya perlu menulis diari, maka artinya saya perlu menghadirkan sebuah catatan setiap hari. So, keberadaan saya saat ini di sini, adalah untuk menulis diari. Ya, diari yang pada suatu hari nanti, akan kembali saya nikmati. Dan ia akan menjelma istana di dalam hati ini. Istana yang menjadi rajanya adalah hati. Hati yang berkuasa di dalamnya. Nah! Catatan hari ini semoga bisa kembali mensenyumkan sang raja yang sedang menduduki singgasananya. Ha? Iya, karena diari adalah istana hati kami. Tempat di mana kami bebas berekspresi, lalu menikmatinya. Karena diari hari ini adalah bagian terkecil dari istana megah yang sedang kami impikan. Istana yang dapat menjadi sarana bagi kami untuk berrehat, ketika hujan membasahi alam yang indah ini. Maka, di dalam istana ini kami berteduh agar tidak kebasahan. Begitu pula dengan cuaca terik yang mentari alirkan melalui panas sinarnya. Di istana ini, kami kembali bersinggah untuk dapat merasakan kesejukan. Istana ini, tidak akan selamanya kami tempati. Kami ada di sini, hanya pada hari ini saja. Ya, hanya hari ini. Untuk merawatnya, untuk menatanya, untuk mengkondisikannya lagi, sesuai dengan permintaan sang raja bernama hati. Yes! Raja. Siapa yang akan menjadi raja yang sesungguhnya?  Kalau saya, lebih tepatnya bukan raja, namun ratu. Hohoo… 😀 Kan saya perempuan. Hehee.

Catatan ini hadir hanya untuk mensuarakan isi hati dan untuk mengalirkan hasil pikir. So, apabila terdapat hal-hal yang seperti gimanaa gitu, memang demikian yang sedang terjadi hari ini. Apalagi kalau nanti saya membacanya lagi yaa… pasti wajah saya akan tersenyum-senyum sendiri. Karena ia mensenyumi jemari-jemari yang berusaha dengan sepenuh hati. Wahai jemari, pada suatu hari saya akan menghadiahimu lagi dengan sebuah permata untuk menghiasimu. Permata yang di sekitarnya ada lingkaran yang mengitari satu dari temanmu. Ya, agar engkau menjadi lebih cantik lagi. Lalu, bersama kecantikanmu itu, engkau mensenyumi sang raja kita di sini. Raja yang akan menemanimu dalam melanjutkan langkah-langkah ini. Ia akan menjadi sahabatnya sahabatmu. Karena saat ini, engkau telah mempunyai sahabat yang pada dirinya, telah melingkar manis sebuah lambang persahabatan. Cincin manis di jari kelingking, untuk saat ini.

Ada yang lelah melangkah, lalu ia pun pasrah. Ada yang terus melangkah, meskipun ia pernah lemah.  Yang pernah merasa lelah, lalu pasrah maka ia tidak akan pernah sampai pada tujuan. Adapun yang pernah lemah, namun ia berupa untuk kembali melangkah, maka ia mempunyai kekuatan tambahan. Seterusnya, kita mau memilih yang mana? Apakah alternatif pertama atau yang kedua? Apakah kita mau sampai pada tujuan yang telah kita tentukan? Ataukah kita membiarkan sang tujuan merindui diri? Padahal ia telah lama kita ciptakan. Akankah kita tinggalkan istana ini dengan tanpa upaya dan usaha lagi? Akankah kita begitu mudahnya terbuai oleh keadaan, wahai diri. Lalu, kalau engkau telah menjawab semua tanya ini, maka sampaikanlah sebuah kalimat saat ini, “Anda putus asaaaa? Ga kenaaaaal.”

“Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Q.S Shaad [38]: 35)

🙂 🙂 🙂

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s