Menulis Itu Merangkai Senyuman


Aku tidak sedang berjalan sendiri, karena ada doa terindah dari Ibu yang mengiringi langkah-langkah ringanku,

Aku tidak berjuang sendiri, namun aku ada untuk melanjutkan perjuangan seorang Ibu,

Aku bukan Ibu untuk saat ini, namun aku adalah Ibu setelah saat ini,

Akulah Ibu pada hari ini,

Buatmu Ibu, kado senyuman dari wajah ini,

(Senyuman Buat Ibu – Sekepinghati)

Bagaimana anak-anakmu akan mempunyai mimpi, kalau Ibunya sendiri tidak pernah melakukan itu. Begini inti dari kalimat yang baru saja saya simak. Yes! Sekali lagi, aktivitas pagi ini menjadi jalan inspirasi. Entah mengapa, saya sangat suka dengan potongan-potongan episode yang saya tonton semenjak beberapa hari terakhir. Ai! Akhirnya, kisahpun berujung bahagia. Manny.

Menonton? Ohiya? Saya seringkali menonton akhir-akhir ini. Karena menonton adalah salah satu jalan bagi kita untuk dapat menemukan inspirasi. Begini inti dari sebuah kalimat yang pernah saya baca. Dan kalimat tersebut menjadi jalan bagi saya untuk kembali merangkai senyuman hari ini. Karena dengan menonton, berarti kita sedang menyaksikan. Menyaksikan apa? Ya, apa yang sedang kita tonton, kann? Nah! Setelah menonton, tentu kita terpikir akan berbagai hal. Termasuk unek-unek yang hadir selama waktu yang kita habiskan untuk menonton. Opz! Ternyata, dengan menonton, kita pun dapat menulis. Yes! Karena banyak hal yang dapat kita tulis kalau kita mau menyampaikan segala sesuatu dengan tulisan. Termasuk tentang hasil pikir yang hadirnya tidak diundang. Namun, ia akan  segera pergi dan melayang, apabila kita tidak segera menuliskannya. Menulis, adalah jalan bagi kita untuk mengabadikan ingatan. Agar ingatan kita yang tidak abadi ini, kembali teringatkan. Tentu saja setelah kita merangkainya dalam bait-bait kalimat bernama tulisan.

Menulis adalah salah satu aktivitas yang sangat menyenangkan. Dengan menulis, kita dapat menemukan sahabat seperjuangan. Ya, beliau yang juga sedang melanjutkan perjuangan. Beliau adalah teman kita dalam perjalanan ini. Ada yang gemar menulis untuk menyampaikan pesan, kesan dan atau mencurahkan perasaan. Ai! Lalu, ada pula yang menulis untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Selain itu, menulis juga merupakan salah satu jalan untuk merangkai senyuman. Kadang, menulis dapat mengalirkan bulir-bulir permata kehidupan yang semaunya saja berguguran. Padahal engga ada  hujan, engga ada angin, engga ada sinar mentari yang menerangi, tiba-tiba saja ia berjatuhan. Ai! Ternyata menulis dapat menjadi jalan bagi kita untuk mengenal pula, siapa yang sedang ada di hadapan? Lembaran bercahaya yang saat ini sedang engkau pandangi, adalah jalan untuk sebuah pertemuan. Buktinya, kita jumpa di sini saat ini, walaupun tanpa bersentuhan. Tapi sentuhan keindahan yang engkau tampakkan, menjadi jalan bagi saya khususnya, untuk tidak akan pernah meniadakan makna dari sebaris tulisan. Ya, engkau yang menuliskan dengan sepenuh perasaan. Engkau yang merangkai kalimat dengan tujuan yang menawan. Engkau yang ada untuk mengabadikan kehidupan.

Untuk dapat menulis dengan baik, memang tidak mudah, teman. Karena ada beberapa proses yang perlu kita perhatikan sebelum  melakukan. Seperti halnya aktivitas lain yang penuh dengan aturan, maka begitu pula dengan menulis. Ia perlukan rambu-rambu yang dapat memperingatkan kita agar tidak semaunya memunculkan hasil pikiran. Perlu pemahaman, perlu kejelian, perlu kehidupan.  Ya, kalau kita belum mempunyai kehidupan, maka bagaimana mungkin kita dapat menghadirkan sebuah tulisan? Nah! Lho? Hohooo… Lalu, sekarang kita lagi ngapain? Kita yang sedang menjalani kehidupan. So, kita dapat menyimpulkan, bahwa selama kehidupan masih berjalan, maka kita pun masih mempunyai kesempatan untuk dapat menuliskan kebaikan. Walau bagaimanapun, menulis adalah jalan bagi kita untuk mengingat dan mengingatkan.

Bersama teman-teman sesama penulis, kita akan mudah untuk menemukan berbagai gagasan, lalu kita merangkainya dalam bentuk tulisan. Lalu, bagaimana kalau kita belum lagi dapat bersama-sama dengan teman-teman yang seperjuangan? Akankah kita berdiri tegak begitu saja, lalu tidak mau berjalan? Bukankah gerakan adalah salah satu jalan untuk sebuah pertemuan? Ya, karena tidak selamanya kita kesendirian dalam berjalan. Selagi kita mau menghadirkan ingatan untuk teman, maka teman juga akan mengingat kita dengan ingatan terbaiknya. Yes! Alangkah indahnya perjuangan yang sedang kita tempuhi ini. Ketika semuanya berhiaskan keikhlasan. Tentu akan lebih banyak lagi senyuman yang akan kita temukan. Teman yang tersenyum, adalah penenteram pikiran. Lalu, bagaimana kalau saat ini, teman kita sedang tanpa senyuman? Apa yang dapat kita lakukan? Ai! Teman, saya mengerti bagaimana engkau dapat menjadi seperti dirimu hari ini. Karena engkau adalah seorang yang terpilih untuk menjadi jalan kebaikan. So, bagaimana mungkin engkau tidak dapat tersenyum saat ini. Padahal engkau sedang menjalani kehidupan. Bukankah kehidupan adalah tulisan? Dan meski sebaris tulisan, ia adalah jalan untuk hadirkan senyuman.

Ketika pada suatu waktu engkau berada dalam kondisi yang penuh dengan kekalutan pikiran, segeralah untuk menuliskan. Pun, apabila engkau sedang dalam suasana hati yang penuh dengan ketenangan, sampaikan ia dalam bentuk tulisan. Begitu pula dengan kebahagiaan yang engkau rasakan, cepat tuliskan! Setelah itu, engkau dapat membacanya kembali. Tulisanmu yang acak-acakan karena pikiranmu sedang berantakan, tulisanmu yang tersenyum menawan karena jiwamu dalam ketenteraman, atau tulisanmu yang mensenyumkan, karena sebelumnya engkau menulisnya penuh dengan kebahagiaan. Ai! Semua adalah jalan hadirkan ingatan. Ingatan yang tidak akan pernah hadir kalau kita tidak pernah mau untuk menuliskan, sebelumnya. So, it’s your live. Enjoy it.

Saat tulisan yang engkau hadirkan berasal dari kematangan pikiran, maka ia mampu menghadirkan kekuatan. Yes! Kekuatan yang kekokohannya akan abadi sepanjang zaman. Ia ada untuk menjadi jalan ingatan, bagi siapapun yang menemukannya. Tulisan yang menjadi jalan bagimu untuk memberikan senyuman pada beliau yang walau belum pernah engkau temui, namun sangat berarti. Karena setiap jiwa akan mencari jiwanya yang hilang. Mmmmm…. dengan menulis seperti ini, saya menjadi teringatkan kepada para sahabat yang jauh nun di sana. Beliau yang berjasa, walau tanpa nama. Beliau yang rela memberi, walau tidak mau terberi. Beliau yang mengerti dan berbudi. Wahai teman, engkaukah yang selama ini ada dalam ingatan? Teman yang menjadi jalan bagi saya untuk tersenyum saat ini. Yes! Teman berbagi suara hati, teman yang menginspirasi. Akhirnyaaaaaa kita kembali bersua saat ini. Bagaimana kabarmu hari ini? Adakah perubahan pada tulisan saya kali ini? Adakah engkau mengenali siapa saya? Ya, saya yang sebelum ini, pernah engkau kenali, walau kita belum pernah berjumpa. Bagaimanaa… bagaimanaaa… Ku selalu merindukanmu, selamanya. Meski tidak nyata, namun saya yakin akan kekuatan doa Ibunda. Beliau pernah memesankan begini, “Berterimakasihlah pada siapapun yang menjadi jalan untuk menjagamu di sana. Ya, berterimakasihlah, Nak…?!!”. So, ucapan terima kasih yang tidak dapat terucapkan, akhirnya saya rangkai dalam bentuk tulisan. Hehee…. lalu, saya menyampaikannya bersama senyuman. Buatmu teman, yang menjadi sahabat dalam perjalanan. Buatmu teman, yang menjadi jalan hadirkan ingatan. Bersamamu teman, selamanya saya akan merangkai tulisan. Walau bagaimanapun kondisinya, selagi saya masih mempunyai kehidupan, maka selama itu pula saya akan menghadirkan tulisan. Tulisan yang mensenyumkan, kita.

Dalam perjalanan kehidupan ini, ada hari-hari di mana kita dapat melangkah bersama. Pun ada masanya bagi kita untuk kembali mengambil jarak dalam melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, ketika kini kita sedang tidak bersama. Masih ada harapan, kan? Untuk sebuah pertemuan. Ya, begitu mudahnya kita merangkai kalimat untuk menghadirkan sebuah tulisan. Seperti yang terjadi sebelum ini, suara hatiku mengatakan, “Bahwa harapan itu masih ada. Dan harapan itu akan selalu ada. Kalau kita mau menyalakannya.” Wahai teman, tahukah engkau? Selama menulis paragraf yang sedang tercipta ini, saya teringat pada beliau, salah seorang guruku, Bapak Heddy Setiawan, S.Sos. Beliau pernah mempresentasikan kepada kami, tampilan beberapa slide. Adapun salah satu dari slide tersebut bergambar lilin-lilin yang terdiri dari empat batang. Dari semua lilin tersebut, ada yang menyala dan ada yang tidak. Nah! Akhirnya, kebanyakan dari lilin-lilin tersebut akhirnya padam. Namun ada satu yang terus menyala. Ia menerangi sekeliling dengan cahayanya. Beliau bilang, “Lilin yang masih menyala adalah harapan.”

Harapan, adalah ia yang menjadi jalan hadirkan senyuman dalam menjalani kehidupan. Kalau tanpa harapan, bagaimana kita dapat menjejakkan kaki-kaki jiwa pada hari ini? Kalau saja harapan itu telah tak menyala lagi, bagaimana mungkin kita dapat berjumpa di sini, wahai teman. Yach! Harapanmu dan harapanku adalah harapan kita. Kita bertemu di sini, saat ini dengan jalan harapan. Harapan yang semua kita mempunyainya. Hanya saja, maukah kita menjaganya agar terus menyala? Maukah kita menjaganya agar ia terus menerangi hari-hari kita. Walau, angin di sekitaran, mengusik ketenangan sang cahaya yang sedang menyala. Angin yang menggerakkan cahayanya, menggoda dan mengalihkan perhatiannya. Angin yang perlu kita kendalikan keberadaannya. Angin, yang kehadirannya dapat menambah kuatnya cahaya sang lilin. Yes, tiupannya pun menjadi jalan bagi kita untuk kembali berucap, “Terima kasih, yaa… Engkau berjasa.” Sehingga apapun keadaan yang sedang berlangsung di sekeliling kita, ia bermakna. Karena tidak ada yang tanpa arti di dunia ini. Allah menciptakan kita semua untuk menjadi jalan peringatan bagi yang lainnya.  Sebelum kita bertemu di sini, saya yakin bahwa engkau telah berjalan-jalan di daerah sana. Sebelum kita bertemu di jalan ini, tentu engkau telah menempuh jalan lain yang lebih menarik.  Engkau yang terus melangkah, saya pun terus bergerak. Ai! Akhirnya jalan ini, menjadi titik pertemuan kita

Teman, seperti halnya engkau yang berasal dari sana, saya juga demikian. Seperti halnya engkau yang pernah menempuh aneka jalan yang berliku, saya juga sama. Engkau yang bertemu dengan pendakian, jalan berbatu, berkerikil, lurus dan beraspal, jalanan becek yang bertanah, pun saya demikian. Karena kita masih ada di bumi yang sama. Ya, bumi yang sama. Seperti halnya engkau  yang mempunyai seorang Ibu, saya juga mempunyai Ibunda yang berharap. Seperti halnya engkau yang seringkali memohon pada Ibunda untuk mendoakanmu dalam perjalanan, saya juga demikian. Seperti halnya engkau yang seringkali menangis karena rindumu yang tidak tertahankan, ai! Ternyata kita sehatiiiii….😀 Engkau yang mengalami bagaimana rasanya ketika bahagia itu menyapa, engkau yang mengalami aura yang sebaliknya. So, engkaudanaku adalah kita.

Engkau yang seringkali menyempatkan waktumu beberapa lama untuk mendengarkan merdunya suara alam pada pagi hari, bersama kicau burung yang bernyanyi, saya juga menikmatinya. Engkau yang senang ketika mentari menyinari bumi, saya lebih senang lagiiiiiiiiiiii karena mentari itu adalah engkau, teman. Sinar akhlakmu yang mampu mencerahkan hati sesiapa saja yang tersinari olehnya, tidaklah sebanding dengan kekuatan mentari yang bersinar hari ini. Yes! Terik sangat di sini, friend. Walaupun jarum jam masih menunjukkan angka delapan pagi. Walaupun mentari belum terlihat lagi pada hari-hari yang bermendung kelabu, namun mentari tetap bersinar setiap  hari.  Ia yang berbakti, ia yang menyampaikan bakti. Ia ada untuk semesta ini.

Setiapkali ingatku pada mentari, bertambah tumbuh meninggi ingatanku pada Ibunda nun yang sedang berada jauh di sana. Beliau yang bersuara sungguh ceria setiap kali kami bersua dalam nada-nada yang mengalir. Kami yang belum dapat lagi bersama untuk berpandangan mesra, untuk kangen-kangenan. Kami yang saat ini sedang berada di alam yang sama, namun membentang jarak antara kami. Dari cara Ibunda menitipkan pesan, setiapkali beliau  menasihati kami pada masa kecil dulu, kini terasa sangat. Ibunda hanya ingin, kalian menjadi anak-anak yang berkehidupan lebih baik, Nak…. Tidak seperti Ibunda dan Ayah. Ya, kalian tidak perlu berpanas-panasan di bawah teriknya mentari, dalam menjemput rezeki. Kalian tidak perlu berlumuran lumpur setiap kali aktivitas kalian jalani. Kalian perlu menjadi anak-anak yang berpendidikan. Yang dengannya, kalian menjadi lebih mudah dalam menempuh hari-hari. Tidak lagi seperti Ibunda dan Ayahanda, yang mesti begini. “Belajar yang rajin ya, Nak…??!”, begini salah satu pesan Ibunda yang mampu  menderukan gemuruh dahsyat di relung jiwaku kini. Aku terharuuuuu……, “Wahai Ibunda, pesan-pesan yang Ibunda sampaikan, meskipun sudah usang dan lama, namun kini ia terus menyala. Ya, selamanya ia ada.”  Karena pesan Ibunda adalah peneduh jiwa yang membara oleh teriknya mentari hari ini. Pesan-pesan yang pernah Ibunda sampaikan, adalah bagian dari rangkaian doa yang akan terus ada. Ia hidup. Ia tumbuh. Ia terus bertumbuh.

 “Jangan melangkah sendiri, ya Nak…?!”, sebuah pesan lagi yang Ibunda sampaikan pada kesempatan kami bercakap ria. Pesan yang penuh makna. Pesan yang Ibunda sampaikan meski hanya dalam suara tanpa rupa. Lalu, kalau saat ini saya tidak menuliskannya kembali, maka ia tidak akan ada. Karena, ingatan ini perlu diperingatkan lebih sering. Ia yang tidak selamanya ada, kalau tidak dituliskan. Ai! Adakah Ibunda kita tenang dengan apa yang kita laksana? Adakah Ibunda tersenyum setiapkali menatap wajah kita? Adakah Ibunda yang doa-doa beliau selalu menemani kita dalam melanjutkan langkah-langkah ini sedang berbahagia?  Ibunda, setiapkali ingatan ini menyibukkan pikiran akan beraneka pertanyaan. Maka setiap kali itu pula, jawaban terhadirkan segera.

Aku sedang menanya,

“Adakah jalan bagi kita untuk dapat berjumpa kapanpun kita mendamba pertemuan?”,

Ibunda menjawab segera, dengan tatap mata lekat meyakinkan,

“Ada, berdoalah, Nak….?! Karena doa adalah jalan pertemuan. Tempuhlah ia dengan memperkuat kaki-kaki jiwamu yang sedang melangkah”,

“Jika demikian,  apakah berdoa saja sudah cukup, Bun?”, kembali saya menanya.

Ibunda memandang wajahku dengan penuh kasih sayang. Lalu beliau mendekap tubuh mungil ini,,

“Melangkahlah, Nak…?! Bersama jiwamu yang tersenyum”.

Sesaat setelah kalimat-kalimat tadi saya tuliskan, lalu saya menempelkan kedua telapak tangan ini pada wajah. Wajah yang tersenyum di balik jemari. Telapak tangan yang akhirnya menutupi hampir seluruh mukaku. Ia bersama dengan jemari. Jemari yang sebelum ini melangkahkan kaki-kakinya dengan sepenuh hati.  Jemari ini pasti perlu asupan gizi. Yes! Saatnya sarapaaaaannnn….

😀

Hijau kecil-kecil yang enaaaaakkkk.....

Hijau kecil-kecil yang enaaaaakkkk.....

“(Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan.”  (Al Mursalaat [77]: 43)

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s