Quote

Bersama Mak Wo, Amak dan Mak Wo lagi

Bersama Mak Wo, Amak dan Mak Wo lagi

-Wahai kaum perempuan, engkau adalah yang terbaik, kalau saja engkau beriman dan menjaganya.-

Perempuan, ia adalah makhluk yang sensitif pada waktu-waktu tertentu. Begitu mudah menangis dan menderaskan airmata tanpa sebab. Bahkan dengan hal-hal yang sepele saja, ia menganggapnya luar biasa. Meski sudah mengupaya dengan sekuat jiwa, akhirnya menetes saja airmatanya, tiba-tiba! Perempuan, ia adalah makhluk yang aneh. Ia sangat membingungkan. Sebagai seorang perempuan saya mengakui akan hal ini. Bagaimana tidak? Belum juga mendung memberati tampilan langit, tiba-tiba titik-titik permata kehidupan, sudah mengalir deras di pipi ini. Belum juga ada gerimis yang menetes ke bumi, sesenggukan sudah diri ini. Ai! Terkadang, ia sungguh tidak dapat saya mengerti. Mengapa ia menangis tanpa alasan yang jelas? 😀  Ada-ada saja, yaa.

Perempuan. Ia perlu mengerti dirinya terlebih dahulu, sebelum orang lain memengertinya. Ya, agar derasnya hujan tidak berlama-lama mengguyuri bumi. Agar segera ia mereda. Kan, kasihan juga ya, para pejalan yang belum membawa payung sebelum hujan. Karena, ketika hujan turun dengan derasnya, ia belum lagi dapat melanjutkan perjalanan. Ya, agar tidak berlama-lama ia berteduh. Semoga segera pula ia melanjutkan langkah-langkah lagi bersama senyuman. Setelah wajah itu kebasahan oleh tetesan permata kehidupan, semoga ia bertaburan senyuman yang lebih indah lagi. Senyuman yang ia tata dengan sebaik-baiknya, ketika langkah-langkah yang selanjutnya menjejak persada.

Perempuan, dengan segala perasaan yang lebih sering eksis dari dalam dirinya, ia sangat mudah terbawa suasana. Bahkan, tanpa ia sempat menyadari akan hal ini, sebelumnya. Begitukah? Wahai kaum perempuan. Pernahkah engkau mengalami akan hal ini? Atau, memang kehidupan dari waktu ke waktu yang engkau jalani, begitu menawannya. Sehingga engkau belum berjumpa dengan rasa yang serupa. Ai! Maksud saya adalah tentang gejolak rasa yang menggelegakkan pikir dan membuncahkan jiwa saat ia merenungkan takdir. Lalu, perlahan airmata mengalir, mengalir…. mengalir…. semaunya. Ya, ia mengalir ke muara rasa yang bersiap menyambutnya. Rasa yang dahaga akan makna yang aliran bawa menujunya. Kemudian, segalanya ia kemas dalam samudera kehidupan yang masih berlangsung. Gemericik suaranya, menderukan sebuah nada yang pada akhirnya ia perdengarkan jua pada sumbernya. Itulah suara jiwa.

Perempuan, ia begitu pandai dalam mengelola rasa. Ketika sebuah senyuman mesti ada pada wajahnya, ia senyumkan juga. Padahal, nun jauh di relung jiwa, ada gelak canda tawa nan mentertawakannya. Jiwanya tidak terima dengan segala yang wajah laksana. Namun, apa hendak dikata, kalau memang untuk hal yang demikian ia ada. Untuk kembali tersenyum, meskipun hatinya ramai bersuara. Ai! Saya selalu salut pada beliau-beliau yang menjadi sedemikian tegar. Ibunda, kapan terakhir kali engkau tersenyum seraya berlinangan airmata di kedua telaga bening itu. Dan buliran bening itu tidak jadi menetes di hadapan kami. Meski bagaimanapun juga, sebaris senyuman tetap menampakkan wujudnya yang perkasa, dari wajah-wajah beliau yang mulia. Ada senyuman penuh keharuan dan bahagia yang terpancar pada wajah beliau. Senyuman yang kita tidak pernah tahu, ada makna apa di sana. Senyuman yang beliau lukiskan dengan sederhana. Sungguh, sahaja. Wahai Ibunda, lukisan serupa ingin ku pandangi lagi, segera.

Perempuan. Dengan segala kelebihan yang ia bawa semenjak awal hadirnya ke dunia ini, ia kembali mau menatap dunia. Pun, bersama kekurangannya yang menandakan lembut perasaannya, ia pun mau untuk bangkit lagi, setelah terbuai rasa. Kelebihannya yang tidak terlihat dengan tatapan mata yang memandang, hanya mampu dirasakan oleh jiwa yang tenang. Begitu pula dengan kekurangannya karena begitu gampang menangis, bukankah setiap tetesan airmata mengandung makna? Bulirnya yang bak permata, sangat berharga. Maka beruntunglah sesiapa saja yang mampu menjadi jalan tersenyumnya jiwa para perempuan. Bukan dengan permata ia membalasinya, bukan pula dengan perhiasan bernilai tinggi ia menggantinya, namun senyuman yang ia rangkai adalah jawabannya. Siapa yang tidak senang hatinya, ketika melihat seorang perempuan tersenyum?

Perempuan, ia tidak disebut papa karena tiadanya harta yang ia punya, namun dengan keimanan yang melekat erat pada hatinya, ia adalah yang paling kaya. Walaupun berlian ia tak punya, apalagi dunia dan seisinya. Sungguh, ia tidak mengenal hal yang serupa. Meski sebenarnya, dunia sedang berada di dalam genggamannya. Sosoknya yang jelita, bukanlah berarti apa-apa, tanpa jiwa yang menawan. Karena kecantikan sesungguhnya bagi seorang perempuan bukanlah terletak pada keindahan penampilan apalagi suara elok yang mampu menyentuh keimanan. Namun, ketika semua itu memang seharusnya ada, karena pancaran cahaya dari dalam kalbunya, mengapa tidak? Sebagai bahan pertimbangan.

Perempuan, dengan karakternya yang penuh kelembutan, mampu mengakrabkan keadaan. Suasana yang harmonis dan penuh dengan ketenangan akan segera ia ciptakan, kalau jiwanya senang. Namun, bagaimana mungkin hal yang serupa akan terjadi, kalau ia belum mampu mengkondisikan suasana jiwanya? Keimanan adalah kuncinya. Dengan adanya kunci, maka ia dapat membuka ruang jiwa yang barangkali pengap dan penuh sesak! Wah! Jendelanya bernama hati. Mari kita melihat-lihat alam semesta dan bintang-bintang yang bertaburan di atas sana. Yuuukss.. kita damaikan jiwa yang sempat berduka.

Perempuan, begitu rapuhnya ia terlihat, ketika sedang meneteskan airmata. Namun, yakin dech… ia mengurai seperlunya saja. Karena saat itu, ia memang memerlukannya. Bukankah airmata adalah senjata untuk menangkis terjangan rasa yang datang semaunya? Dengan rasa yang ia punya, perempuan tidak dapat memprediksi kapan ia mesti mengeluarkan airmata. Kalau mau menangis, ya menangis saja. Agar lega dalam jiwa. Airmata masih gratis, kann… Hehehee… Namun, jaaaaangan pernah menangis tanpa alasan yang jelas. “Kasihan airmata, kalau ia terbuang percuma. Bukankah mubazir itu namanya. Airmata juga harta, lho.

“Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak akan seseorang memberat-beratkan diri dalam beragama melainkan akan mengalahkannya. Maka, berlaku luruslah, berlaku sedanglah, bergembiralah, dan mintalah pertolongan pada waktu pagi, sore, dan sedikit pada akhir malam.”

 Perempuan, kalau saja ia tidak menyempatkan sebagian dari waktu dalam hari-harinya untuk belajar dan mengulangi lagi bahan pelajaran yang telah ia pelajari, maka ia akan lemah. Oleh karena itu, menyediakan waktu untuk mengasupi diri dengan makanan yang bergizi adalah penting. Namun yang lebih penting lagi adalah mengendalikan hasil pikir dengan memikirkan jauh ke depan. Bahwa ia ada untuk melakukan yang terbaik pada hari. Karena hari ini adalah awal dari hari-hari selanjutnya yang akan ia hadapi. Meski sebenarnya, ia ada hanya pada hari ini saja.

Perempuan, dengan sedaya upaya yang ia perjuangkan, melangkah lagi adalah pilihan terbaiknya. Karena, kalau ia tidak melakukannya, maka ia tidak akan pernah mengetahui apa yang ia belum tahu. Dan apa yang terjadi selanjutnya? Pengetahuannya tidak akan bertambah dan bertumbuh. Namun, dengan usaha untuk terus berbuat yang terbaik, maka ia dengan lepas mengatakan, “Aku bisa.” Hingga akhirnya, apa yang ia kata, mensenyuminya seraya mengedipkan mata, clingk… 😉 Selamat berbahagia atas apa yang engkau usahakan. Bukankah hasil akan tercipta setelah para siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari soal-soal ujian yang ia terima? Kita, siapapun ia akan menjadi lebih percaya diri dalam menempuh ujian, kalau ia sudah siap dengan segala perbekalan dan bank soal yang ia kerjakan sebelumnya. Berlatih, dengan penuh kesungguhan adalah kunci sang juara. Ia tidak cerdas dari sananya, ia hanya rajin dan tekun dalam belajar.  Meskipun ia tidak jenius sedemikian rupa, namun sang juara sangat pintar dalam mengelola waktunya. Sehingga ia menambah jam untuk belajar, setelah jadwal belajar yang semestinya ia jalani. Ia adalah seorang yang gigih. Begitu pula dengan perempuan, ketika kegigihan untuk mengelola rasa menjadi subjek yang ia jadwalkan dalam hari-harinya, maka tersebutlah ia sebagai perempuan yang bernilai istimewa.

Perempuan, dengan kelebihan perasaan dan kekurangan daya nalar, maka semaunya saja ia mencurahkan perasaan dari pada menggunakan logika. “Ai! Seperti ada putaran nan berkeliling ria di kepala, ini,” begini tanggapan pikir yang menyela. Lalu, sang jiwa mengiyakan. Bersama hati, yang tersenyum keduanya pun berlalu. Tinggalkan pikir yang kembali bertanya, “Ada apa dengan mereka?.”

Perempuan, adalah insan yang mulia. Ia tercipta bukan dengan sendirinya. Ia tercipta bukan pula tanpa makna. Ia ada bukan untuk menjadi yang pertama, namun perannya sangat utama. Tanpa seorang Ibu yang melahirkan, mana mungkin kita menemukan para pemimpin yang bijaksana. Kalau bukan atas peran perempuan dalam kehidupannya, dapatkah kita meyakinkan diri akan menjadi seperti yang kita damba? So, jangan sia-siakan beliau, para perempuan yang berjasa pada kita. (tersenyum bahagia….  🙂 😀 🙂 saya bersyukur menjadi seorang perempuan)

Perempuan, mungkin saja pada suatu hari kita menemukan ia bersuara untuk membuktikan bahwa ia ada. Bahkan seringkali kita membenarkan atas segala partisipasi yang ia berikan. Kontribusinya yang terlihat nyata dan kita tahu, itulah emansipasi. Namun, dapatkah kita merasakan ada suara lain yang tidak dan atau belum mampu kita tangkap, dari beliau-beliau yang saat ini tidak ada di hadapan kita untuk menyampaikan suara, meski sekata saja? Adakah kita merasakan suara tersebut tetap sampai pada indera pendengaran kita, lalu nada yang mengalir dan membawa kesejukan, menyemaikan benih-benih senyuman pada jiwa kita. Wahai, siapakah beliau-beliau semua? Para perempuan yang sebenarnya ada?

Perempuan, dengan segala tekad dan kekuatan yang ia kerahkan sebelumnya, kita dapat menikmati bagaimana hasil dari usaha yang beliau laksana, kini.  Yang kita tidak pernah tahu, bagaimana kisah tersebut terangkai, hingga ia ada. Tentang bagaimana gerakan kaki yang beliau langkahkan dengan kekuatan yang kita juga tahu, kaki-kaki tersebut penuh dengan kelembutan. Pun tentang ayunan tangan-tangan yang gemulai itu. Ai! Perempuan, memang sangat tidak kekar. Bahkan kekuatannya pun terbatas, hanya raga. But, dapatkan kita membayangkan seperti apa kekuatan yang beliau munculkan dari jiwa yang penuh dengan taburan keimanan? Sungguh, tidak dapat kita mendeteksinya dengan selayang pandang.  Yes! Memerlukan waktu yang cukup kiranya, untuk dapat mengetahui akan hal ini.

Perempuan, sudah sejauh mana telapak kaki-kakinya yang melangkah dengan ringannya. Kaki-kaki yang menimpa alam yang luas ini. Buatnya yang sedang melangkah, untuk meninggalkan jejak-jejak dalam perjalanan? Apakah ada tujuan yang sedang ia pandang di hadapan? Sungguh! Jangan pernah melangkah, kalau tanpa tujuan. Karena di tengah jalan, akan banyak godaan, halangan dan rintangan yang menghadang. Jikalah tujuan belum lagi ia pancangkan, maka akan begitu mudahnya kelelahan itu mengalahkan. But, ketika tujuan yang walaupun satu jumlahnya, telah ia intip sebelumnya, maka tolong perhatikan bagaimana ia melangkahkan kaki-kakinya yang masih menginjak bumi. Walaupun sebenarnya, ia tiada. Hanya jiwanya saja yang masih hidup. Dan kaki-kaki jiwa sajalah yang tidak akan pernah lelah. Kalau kita sangat ingin memperhatikan bagaimana rupanya? Ai! Tidak mudah bagi kita untuk memandang pergerakannya yang secepat kilat. Akan tetapi, kalau kita masih mau menyaksikan upaya yang ia lakukan, adalah jejak-jejak yang melekat di hamparan hari-harinya.

Perempuan, di tengah lautan hari yang membentang luas, ia terus berlari. Karena begitu besar dan kuatnya keyakinan yang ia tumbuhkan untuk dapat sampai ke pulau harapan nun jauh di seberang sana. Ai! Tanpa kaki, mana mungkin ia dapat berlari? Lha? Berlari di tengah luasnya lautan, bagaimana bisa kalau hanya bersama dengan kaki-kakinya yang ringan. Pasti ada kekuatan lain yang sedang membimbingnya. Yang Selalu Ada kapanpun, buatnya. Adakah kita meyakini?

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Q.S Ar Rahmaan [55]: 33)

 Perempuan, dengan ketegaran yang ia perjuangkan dari waktu ke waktu, sungguh tidak mudah memang. Namun, dengan keyakinan yang ia pancangkan dengan penuh kekuatan semenjak semula, dapatlah kita memandangi kehalusan pekertinya saat ini. Perempuan yang mempunyai kekuatan itu adalah ia yang kembali siap melangkah setelah tertusuk jemari kakinya oleh duri yang sempat mengganggu ketenangannya, sejenak, tadi. Jemari yang sangat mudah tergores, dan tercabik-cabik. Namun, ia tidak pernah mengizinkannya berlama-lama dalam kondisi yang mampu meruntuhkan kokohnya jiwa. Ia bersegera mengamati luka yang belum sempat menganga, lalu meniupnya. Kemudian meniupnya lagi, seraya membersihkan.  Engga berdarah, hanya periiiih. So, kecelakaan kecil yang seperti ini, mampu ia atasi. Yes! “Sang duri hanya menyapa, untuk berkenalan dengannya”. Semoga perkenalan singkat yang sangat mengesankan tersebut, menjadi jalan untuk persahabatan mereka pada hari-hari yang selanjutnya. Duri yang tidak lagi mengagetkan ketenangan sang perempuan dalam melangkah. Namun, menjadi pengingat dan alarm baginya, agar menjadi lebih berhati-hati lagi dalam perjalanan ini. Karena tidak dapat dipungkiri, kejadian serupa akan terjadi lagi. Kalau ia tidak berusaha mengantisipasi sebelum terjadinya. Waih! Setelah ia menyadari, ternyata perempuan yang sedang berjalan tadi, belum menyempurnakan pemasangan sepatunya. Sepatu yang menjadi jalan pelindung bagi kaki-kaki jiwanya yang sedang melangkah. Semoga ia selalu ingat dan mengingat dengan baik akan peristiwa yang baru saja berlangsung.

Perempuan, tidak sedang melangkah dengan sendiri, namun ia sedang bersama dengan para sahabatnya yang lain. Para sahabat yang menjadi teman terbaiknya. Teman yang terkadang, bersikap iseng dan sengaja, berlaku tegaaaaa padanya. But, tidak mengapa. Karena temannya bermaksud baik. Perempuan sangat yakin dengan hal ini. Perempuanpun tersenyum pada para sahabat yang membalasi senyumannya dengan senyuman yang lebih indah lagi. Baiklah teman, mari kita melanjutkan langkah-langkah lagi. Di jalan berikutnya yang telah siap untuk kita tempuhi. Yuuuksss..?!

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundakku dan bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau penyeberang jalan.” Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore, manfaatkanlah masa sehat. Sebelum datang masa sakitmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari)

🙂 🙂 🙂

Siapakah Perempuan?

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s