Quote

Senja

Senja

Sebenarnya, hari ini dan saat ini, saya lagi tidak ada keinginan untuk menulis apapun. Karena lagi engga mood aja. Namun, saya masih ingin bereksis ria di sini dalam rangka mengabadikan jejak-jejak langkah pada hari ini. Makanya, dengan segala ketidak-mood-an tersebut, saya pun menitikkan beberapa jejak jemari saat ini. Yach. Gitu dech. Setelah seharian kemarin saya engga hadir untuk merangkai sebuah catatan yang mesti berjumlah lebih dari dua ribu dua belas karakter saja. Akhirnya, hari ini saya perlu menyelesaikan catatan yang jumlah karakternya minimal dua ribu dua belas. Wah! Ini tugas atau apa yaa…😀 Hahaaa… Karena memang begitu yang semestinya. So, bagaimanapun juga, saya memerlukannya. Karena sebuah catatan pada hari ini adalah sangat mahal nilainya. Mmm…. But, saat ini saya lagi engga mood banget. Apa yang perlu saya lakukan? Dalam kondisi yang seperti ini, maunya saya berjalan berkeliling untuk memandangi alam dan sekitarnya. Ya, agar pikiran menjadi lebih segar. Akan tetapi, ini kan sudah malam, sedangkan saya sudah mesti berada di ruangan istana hatiku, sebuah ruangan yang selama lebih dari lima tahun terakhir, menjadi tempatku berlindung dari teriknya mentari pada siang hari. Dan menjadi sarana berehat sejenak pada malam harinya. Di kostan beliau, salah seorang orangtuaku di sini, Bapak Darsono dan Ibu.

Berulangkali, saya mencoba mengumpulkan mood yang saat ini sedang entah berada di mana. Ia meninggalkan saya. Hiks..?!! Setelah sekian lama kami bersama, kini ia tiada. Saat saya membutuhkannya untuk membantu agar catatan yang super panjang dapat tercipta, ia belum rela menyapa. Nah! Bagaimana kalau saya mengingat-ingat tentang banyak hal yang selama ini ada bersama saya. Yes! Sahabat! Baiklah, wahai para sahabat, dalam kesempatan yang terbaik kali ini, saya akan merangkai bait-bait kalimat tentang engkau. Sudikah engkau mengikutinya? Mari… kita beraikan lebih banyak tentang engkau. Tentangmu sahabat.

Sahabat itu seperti pagar-pagar pada sebuah taman bunga. Ia ada untuk melindungi bunga yang sedang tumbuh dan bermekaran, dari gangguan tangan-tangan jahil yang ingin memetiknya sembarangan. Pun, pagar berfungsi sebagai pembatas antara area yang boleh dilalui oleh para pejalan, maupun yang tidak boleh dilewati. Pagar adalah pelindung taman dari langkah-langkah para pejalan yang sedang melintas. Karena peranan pagar, banyak tanaman yang berada di dalam sebuah taman, menjadi terjaga.

Sahabat, ia adalah Ibu dalam hari-hari kita. Bersamanya, kita merasakan sentuhan yang walau tidak terlihat nyata, namun ia bersama segenap cinta, kasih sayang dan pengertiannya, kembali menumbuhkan cita di dalam jiwa kita. Ia berbuat atas dasar perhatian yang tulus tiada dapat dibandingkan dengan apapun juga. Sehingga kita dapat merasakan bahwa keikhlasan seorang sahabat yang menemani dapat terlihat, walau mata ini tertutup sekalipun. Ya, ketika kita memejamkan mata, wajahnya hadir bersama senyuman untuk mensenyumkan kita.

Sahabat, adalah jiwa yang terbuka. Seumpama hati yang mendendangkan nada-nada nan merdu, ia menghibur diri dengan segala daya yang ia upayakan. Gerakannya yang cepat dan cekatan, menimbulkan sebaris tanya untuk kita jawab, “Bolehkah kami menjadi bagian dari hari-harimu?”.  Dan tanpa menjawab sekalipun, ia sedari semula telah terbuka. Hanya kita, maukah bergerak untuk menjadikannya berarti dan bermakna?  Bersamanya, kita dapat melakukan apa saja yang kita mau. Namun, ketika kita berada pada kawasan yang tidak seharusnya, ia kembali merengkuh kita untuk tetap bersama dengannya. Awalnya, ia memberikan kebebasan kepada kita, namun kebebasan yang ia berikan adalah yang bertanggungjawab. Karena pedulinya, ia rela mengingatkan ketika kita melangkah terlalu jauh darinya.

Sahabat, ia adalah kesejukan yang mengalir dalam sungai kehidupan. Ia mendamaikan dan menenteramkan bagi siapa saja yang berada bersamanya. Bersama gemericik suara yang berasal dari alirannya yang tiada henti, ia sedang menyampaikan pesan buat kita. Suara itu tidak mesti selalu kita dengarkan dengan kedua telinga yang sedang bersiapsedia. Namun, melalui gerakannya yang terlihat, lewat sikapnya yang penuh makna, kita dapat mengetahui apa yang sedang ia sampaikan.

 Sahabat, rela membimbing ketika kita berada dalam kondisi yang sempoyongan karena lelah berjalan. Ia menyediakan kekar lengannya untuk menopang kita agar kembali kuat melangkah. Ia bahkan sediakan pundaknya untuk menggotong raga kita yang terkulai lemas dan tak bertenaga. Ia melakukan semua agar kita tetap sama-sama berada pada jalan yang sama. Ia tidak meninggalkan begitu saja, ketika kita belum lagi mampu mensejajarkan langkah dengannya. Malah, ia mensejajarkan langkah-langkahnya yang lebar, dengan gerakan kaki-kaki kita yang berayun anggun. Ia sungguh peduli terhadap siapa yang sedang berada di sekitarnya.

Sahabat, ia adalah seorang yang merdeka. Karena ia terus berjuang untuk memperoleh kemerdekaan tersebut. Namun, setelah meraihnya, maka ia memanfaatkan bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Karena ia yakin dan menyadari, bahwa sebelum semua itu ia dapati, ia tidak berjuang sendiri. Ada banyak pihak yang berkontribusi padanya. Meski tidak terdeteksi dengan pasti, namun ia merasakan peran yang benar-benar pasti dari beliau semua. Oleh karena itulah ia pun seringkali mudah menghadirkan ingatan kepada siapapun yang pernah hadir dalam kehidupannya. Meskipun raganya telah tiada lagi di bumi, namun arti yang ia terima terus menghinggapi relung hati. Ia menyadari, bahwa ia bukanlah siapa-siapa tanpa beliau semua.

Sahabat, ia adalah yang memesankan kita ketika kita terlupa, bahwa “Ada satu cinta yang senantiasa perlu kita pupuk, agar ia bertumbuh dan subur di dalam hati kita.” CINTA kepada Allah subhanahu wa Ta’ala adalah seindahnya cinta yang ada di dunia ini. Dengan mencintai-Nya lebih dari apapun juga, maka kita dapat terhindar dari cinta palsu. Aiiii…!😀 Hari gini? Masih ada cinta palsu? Bukankah zaman telah lama berubah, sedangkan waktu terus bergulir. Akankah kita mensia-siakan kesempatan waktu saat ini untuk mempalsukan cinta? Ya Rabbana, bimbinglah kami untuk senantiasa ingat pada-Mu, Pemilik Cinta Yang Sangat Mencintai hamba-hamba yang mencintai-Nya.

Sahabat, dengan kelembutan tutur katanya, bersikap sopan penuh dengan tatakrama, maka ia selalu ada dalam ingatan. Wahai, sudah sejauh apakah kita mengenal beliau-beliau yang kita persahabati? Adakah peran sahabat sangat berkesan bagi kita, meskipun dalam tegur dan ucap bicaranya sekalipun? (aku terharuuu….saat menulis rangkaian paragraf ini. Bagaimana aku mengenal para sahabatku? )

Sahabat, meskipun raganya telah tiada. Namun, bekas-bekas karsa dan karya yang ia tinggalkan, menjadi bukti bahwa ia punya cinta buat kita. Ia tidak pergi dengan sendirinya, ia tidak berangkat dengan tangan hampa, namun oleh-oleh senyuman yang kita ukir setiapkali mengingati kebaikannya, ia genggam dengan erat. Untuk menjadi bekal dalam perjalanannya yang selanjutnya. Lalu, ia pun tersenyum seraya menerima kiriman paket berupa doa-doa terindah yang kita bingkiskan untuknya. Dengan mengingat beliau yang telah mendahului kita, semoga kita segera tersadarkan bahwa kita pun akan mengalami hal yang sama. Entah kapan…

Sahabat, ia adalah hati yang terus kita jaga. Bagaimana mungkin kita mempunyai sahabat terbaik, kalau kita belum mau membaiki sahabat kita? Dapatkah kita membayangkan bagaimana hari-hari ke depannya, kalau tanpa sahabat yang menemani kita? Ai! Sunyi dan sepi dalam sendiri, maukah kita? Ataukah kita menginginkan hal yang sebaliknya? Hari yang berseri, bertaburan siang dengan sinaran mentari. Di tambah dengan gemerlap bintang menerangi langit malam? Ai! Hati yang tertata itu adalah purnama di langit jiwa. Sedangkan para sahabat yang menerangi hari-hari kita, adalah mentari yang cerah senyumannya.

Sahabat, ia seperti buku bacaan yang banyak jenisnya. Pada suatu waktu, kita tertarik dengan satu tema tertentu, maka kita membacanya dengan lahap. Kita nikmati apapun yang ia tampilkan kepada kita. Namun, pada kesempatan yang lain kita menginginkan tema yang berbeda, maka kita pun meraihnya untuk memenuhi kebutuhan kita akan bahan bacaan. Begitu pula dengan para sahabat. Ia dengan karakternya yang beraneka jenis, menjadi jalan bagi kita untuk memperkaya ruang imajinasi. Ketika pada suatu hari kita bertemu dengan sahabat yang tulus berbagi, kita dapat tersenyum ceria membersamainya. Namun, sebagai insan, manusia yang mempunyai kekurangan dan kelebihan diri, tidak ada yang dapat menyamai. Hal yang sebaliknya akan kita temui. Lalu, bagaimana tindakan kita terhadap karakter sahabat yang seperti ini? Apakah kita akan meninggalkannya begitu saja, dan ini berarti kita meninggalkan satu kesempatan untuk menambah pengetahuan. Bukankah semua bermakna dan mengandung arti, kalau saja kita peduli dan mau menghayati. Memahami sahabat, adalah memahami bahan bacaan yang sedang kita tekuni. Karena seorang yang cerdas dan pandai, bukan membaca satu jenis buku saja. Ia selalu mempunyai waktu untuk membaca banyak tema tulisan.

(Siaran Langsung. Sebaiknya, paragraf ini tidak dibaca saja. Paragraf ini hanya limpahan suara hati yang saat ini lagi tidak menentu. Karena ia was-was dan tiba-tiba menyahut, Ai! Bagaimana kalau koneksi error lagi, sebelum kami-kami ini muncul ke permukaan?”, suara hati berkontemplasi) “Aih! Deg-degan dech! Dengan koneksi jaringan internet ini. Hihiii…😀 Akankah dia memutuskan untuk tidak konek lagi, sebelum saya berhasil memposting catatan ini. Saya berpikir. Berpikir. Berpikir jauh nun ke ujung dunia. Saya berpikir, lama sekali. Hingga akhirnya, saya belum menulis lagi. Saya pandangi kedipan modem yang berekspresi begini, “Aha!”. Saya terpana menatapnya. Saya mulai curiga, jangan-jangan ia mentertawakan saya, yang menghiraukan kondisi dan keberadaannya. Lalu, ia berpikir begini, “Jangan-jangan saya mulai mempertanyakan akan kesetiaannya. Jangan-jangan, semua ini akan berakhir.” Ai! “Hubungan kita masih berlanjut, kannn, Dem…Dem….Dem…..”, saya berteriak. Kuat! Hebat! Yes! But, saya akhirnya tenang. Setelah ada ketukan di pintu, beberapa saat kemudian.

Sahabat, walaupun saat ini ia tiada di sisi, dalam artian jauh di mata. Yes! Namun kehadirannya terasa mendekat segera. Ia datang, setiapkali kita menghadirkan ingatan tentang ia. Lalu sahabat menyampaikan sebaris tanya, “Adakah engkau merindukanku?”. “Iyaaaaaaaaaaaaaaaaaa….”, jawab saya. So sweet rasanya. Karena saat merangkai tulisan ini, saya lagi menyepi, sendiri, di kamar empat sisi, tanpa beliau-beliau yang berada di sisi. Ai! Saya sangat serius, tadi. Namun, kini. Ada seseorang mengetuk pintu kamarku.

“Bundo, malam ini daku nginep di sini, yaa,” sapa Shanty setelah beliau menampakkan wajah dari pintu.

“Baik… boleh, boleh, mariiiiii… kita menginap,” jawab saya seraya tersenyum bahagia. Akhirnya, oh, akhirnya.

“Tapi, sekarang Nty ke atas dulu, ya. Mau makan dulu”, tambah Shanty, salah seorang temanku di sini. Sebenarnya beliau berkamar di lantai dua. Sedangkan saya di lantai satu. Namun, kamar Shanty tepat di bagian atas kamarku. Yes! Shanty adalah tetangga atas.

“Oww… gimana kalau di sini saja, makannya Shan? Bawa aja menunya. Gimanaa.. gimanaaa..?,”  saya menawari Shanty seraya menampakkan ekspresi seperti ini di wajah.😀  (Tertawa senang).

“Engga, Nty lagi makan bareng sama Siti dan yang lainnya”, jawab beliau. Setelah beberapa saat ini, kami deal. Saya pun melepas kepergian Shanty dengan pandangan mata yang kosong. Namun, masih ada harapan. Shanty pasti kembali lagi. I am waiting you, friend. Lalu, sayapun melanjutkan catatan yang sempat terhenti untuk beberapa lama. Kemudian, Shanty pun menghilang, seketika.

Sahabat adalah, …….. Eits! Sesaat setelah saya menulis catatan pada paragraf yang di atas tadi, sebelum catatan pada paragraf ini terangkai, terdengar satu ketukan lagi dari arah pintu. “Tok…tok…tok… Buuuuuun, Buuuuunnn,” sapa sebuah suara sopran yang saya kenal jelas siapa pemiliknya. That is my neighbour voice, Siti. Wajah beliau yang super cute itu langsung hadir, membayang, seiring dengan jawaban yang saya layangkan, “Iyyyyaaaaa… What happen, Ndukk?”.

“Aku, aku, aku minta lem, dobel tip, atau selotip, atau…. Apalah, buat nge-lem ini,” ungkap Siti seraya memperlihatkan selembar kertas bertulisan yang sedang ada di tangan kiri beliau.

“Hw… wha… ‘’’aaa….. ?,” saya belum ngeh dengan apa yang Siti pinta. Saya pandangi wajah Siti dengan penuh tanda tanya.

“Beliau mau apa yaa..?,” timbul tanya di dalam hati.

Lalu, saya menanya lagi, “What is, Sitiii…”.

 “Bundo, punya dobel tip, atau selotip?,” Siti memperjelas permintaan.

“Oooh, itu, yang untuk nempelin kertas, yaaa. Adda engga yaach? Gimana yaa…? Coba liat-liat di meja, kalau engga salah masih ada,” saya mulai konek.

Kemudian, Siti pun memandang ke meja, melihat di atas lemari, kemudian…. “Gimana kalau dalam laci. Ada engga ya..”, pinta saya sambil mengingat-ingat keberadaan Si Lem. Lalu, Sitipun menarik laci hingga terbuka.

“Engga ada Bun”, jawab Siti, seraya terus melihat-lihat ke sekitaran meja.

“Ooooowh, atau bagaimana kalau itu aja, yang warnanya putih, perasaan masih ada tersisa. Terakhir Yn pake buat nge-lem kado saat ke nikahan Hanna. Gimana?,” tanya saya pada Siti.

“Iyaaaaa, itu yang aku maksud,” jawab Siti.

“Heheheeee…, cari sendiri aja ga pa pa yaa” saya senyum-senyum, namun meneruskan pikir.

“Iyyaaa… udah biasa,” jawab Siti sekenanya. Tega, tega, tega, memang terkadang, sahabat berlaku tega terhadap sahabarnya. Saya sudah sangat pewe. Saya engga mau berdiri, saya lagi duduk di hadapan kalimat-kalimat ini.  Saya sedang menulis catatan. So, gimana lagiiii. Ai! Saya tahu siapa Siti. Beliau adalah seorang yang juga tahu siapa saya.

Beberapa lama kemudian saya meminta Siti untuk menatap meja lebih lama.

 “Di meja ada lingkaran, yang warnanya putih. Ada engga Bu?,” kali ini, saya meng-ibu-kan Siti.

“Mana. Manaaa…,” tanggap Siti penuh harap.

“Itu, di meja, ada lingkaran. Di dalamnya ada jarum-jarum,” saya memandang sebuah lingkaran yang sedang melengkung di meja.

“Hah? Manaa..,” Siti mencari dan mencari lagi. Hingga akhirnya, beliau baru menyadari. Bahwa telah melewatkan pandangan dari sebuah benda berbentuk lingkaran, sedari tadi. Yang aslinya, sang double tip sedang tersenyum padanya. Ia tersenyum. Ya, saya dapat menangkap senyuman yang ia tebarkan, ketika perlahan, ia di sobek oleh Siti, kemudian ditempelkan pada selembar kertas yang beliau bawa. Ai! Sahabat itu, begitu sabarnya terhadap sahabatnya yang lain.

🙂🙂🙂

Dari Ibn ‘Abbas RA., dia berkata, “Suatu hari aku berada di belakang Nabi SAW., lalu beliau bersabda, ‘Wahai Ghulam, sesungguhnya ku ingin mengajarkanmu beberapa kalimat (nasehat-nasehat), ‘Jagalah Allah, pasti Allah menjagamu, jagalah Allah, pasti kamu mendapatinya di hadapanmu, bila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah dan bila kamu minta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa jikalau ada seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfa’at bagimu, maka mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu, dan jikalau mereka berkumpul untuk merugikanmu (membahayakanmu) dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa melakukan itu kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena (pencatat) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. at-Turmudzy, dia berkata, ‘Hadits Hasan Shahih’. Hadits ini juga diriwayatkan Imam Ahmad)

Catatan Malam Jum'at


3 comments

  1. nice post uni…

    Gimna klo kita yg selalu menydiakan lengan tuk membantu shabat, tpi ketika kita butuh. dia tak bisa. apakah itu bisa disebut sahabat?
    maaf, saya saat uni meragukan sahabat. setelah, org yg sya anggap shabat. hilang entah kemana..

    • Yourha Sayang…

      Seorang sahabat, walau bagaimanapun, ia tetap sahabat kita.
      Dengan mengingat kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan sebelumnya untuk kita, insya Allah kita dapat merasakan kehadirannya saat kita memerlukannya. Walaupun nyatanya, ia tiada di sisi pada saat-saat genting, tersebut….

      Yourha, Uni juga seringkali merasakan hal yang sama, …🙂

      • iyaaa unii…
        makanya yr sellu mncoba mengingat kbaikan ssorang kpda yra biar bsa ttap membantu.
        yura ykin, Allah akan bantu yura wlpun bkan dri shbat. mungkin dri org lain yg tak disangka2…


        Iya, Cantiiik. Sayang yach, kalau ngbuang waktu untuk berfikir yg engga-engga.
        Baiknya kita segera kembali kepada-Nya. Niscaya lebih baik-an. Dan kita bisa bahagia kapanpun kita mau. Hehee..😀



“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s