Quote

DI hari bahagiamu teman... kami turut berbahagia
Pada hari bahagiamu teman… kami turut berbunga-bunga ceria

Cerah, Berbunga-bunga, Alangkah Indahnya Hari Ini

Awal yang indah untuk hari yang penuh dengan senyuman, dimulai dengan bangun pada pagi yang kelam. Ya, sebelum mentari menunjukkan wajahnya yang penuh dengan sinar, kita perlu bersiap-siaga untuk menyambutnya. Mentari itu adalah engkau, wahai teman.

Sebelum azan Subuh berkumandang syahdu dari masjid terdekat, kami sudah bangkit dari lelap bersama mimpi-mimpi semalam. Pagi ini, saya bangun lebih awal. Tidak seperti hari-hari yang biasanya, pagi ini saya bersiap lebih awal. Berberes apa saja yang belum beres, menata apa saja yang belum tertata, termasuk menyelesaikan apa saja yang belum selesai. Yach, dengan segala usaha dan upaya, saya usaha semampu yang saya mau. Dengan harapan, sebelum mentari pagi hadir dengan cemerlang senyumannya, semua sudah siap. Lalu, kami pun melanjutkan langkah-langkah yang berikutnya, bersama-sama.

Mentari, ia adalah penerang siang. Ia adalah jalan yang membuat alam ini menjadi lebih hidup. Termasuk saya, merasakan hal yang serupa setiap kali manfaat yang mentari sebarkan, sampai pula pada diri ini. Baik ketika saya memandangnya dari jendela hari ini, maupun saat ia mengalirkan sinar lewat celah-celah dinding hati yang terbuka. Dengan segala kelebihannya, ia berusaha untuk menebarkan kebaikan dari dalam dirinya. Yes! Mentari adalah jalan kebaikan.

Mentari, tidak selamanya ia mempunyai kelebihan. Karena, terkadang, ia juga dapat dikuasai oleh keadaan. Seperti yang dapat kita saksikan pada waktu-waktu tertentu. Kadangkala mentari tidak menunjukkan rupanya yang perkasa. Ya, sebentar-sebentar, ia tidak terlihat. Karena ada mendung yang menghalangi tatapan bola matanya yang begitu tajam. Siapapun engkau, wahai mentari, engkau masih bersinar di dalam hati ini. Karena engkau berarti.

Mentari. Saya sangat suka dengan ciptaan Allah yang satu ini. Dengan keunikan yang ia bawa, mampu mencerahkan hari-hari siapa saja yang tersinari olehnya. Begitu pula dengan sesiapa saja yang menyempatkan waktu untuk menatapnya meski sekejap.  Oia, tidak baik berlama-lama memandang padanya.  Karena mentari akan menunjukkan siapa ia yang sebenarnya. Yes! Lebih baik untuk menundukkan pandangan segera, setelah sekilas kita bertatap mata dengannya. Pribadinya yang tiada duanya membuat kita perlu mengenal ia lebih dalam lagi. Agar kita dapat menemukan hikmah dan manfaat dari apa yang ia tebarkan.

Mentari, setitik cahaya yang ia pancarkan, pasti berarti. Hal ini membuat seluruh alam, menantinya ketika ia tiada. Meskipun karena kehadirannya, ada tetesan keringat yang membanjiri raga para insan. Dengan kekuatan teriknya, ada kembang-kembang yang layu segera. Dengan keelokannya, banyak yang merinduinya saat ia belum lagi menyinari. Selamanya, akan menjadi seperti ini.

Mentari, ia membawa kehangatan. Bahkan, ia mampu meleburkan jiwa-jiwa yang dingin bak salju. Bersama karakter yang menjadi ciri khasnya, mentari hadir untuk menitipkan senyuman. Walau terkadang, ada keluhan yang hadir ketika ia menampakkan sengatannya. Sungguh, tidak selamanya ia menjadi seperti yang kita pinta. Namun ia sangat tahu diri. Dalam hal ini, mentari adalah ciptaan Allah yang sangat gemar memberi. Ia bersinar, bersama kelebihan sinar yang ia bawa semenjak mula jadi.

Mentari, ketika kita menyebut hari sebagai pagi, pasti diawali dengan adanya mentari. Ketika lagi mendung, ia tidak benar-benar menampakkan diri. Namun aslinya mentari ada untuk menyinari alam. Ketika kita menamai hari dengan siang, ini pertanda bahwa ia sedang giat-giatnya mengabdi. Banyak yang tersenyum bersamanya, banyak yang mensyukuri kehadirannya hari ini. Lalu, saat kita menamai hari dengan sore, maka bersiap-siaplah untuk melepas kepergiannya. Karena, tidak selamanya mentari ada bersama kita. Ya, mentari perlu menyinari bagian alam yang lain, di sana. Ya, lokasi tersebut bukan lagi tempat di mana kita berada. Nah! Bagaimana kalau kita menyebut bagian hari dengan malam? Suasana yang benar-benar gulita dan gelap menjadi bagian kita. Ya, karena sepenuhnya tiada lagi sinar mentari yang tadi ada. Namun, jangan cemas teman, masih ada benda angkasa yang dapat kita pandangi. Sesekali, tebarkanlah pandangan ke langit malam, di sana ada view yang berbeda. Memang, kita tidak dapat menangkap cahaya yang sangat benderang pada malam hari. Akan tetapi, bagaimana dengan titik-titik kecil yang berkedipan itu? Dan pada pertengahan bulan Hijriah, pada malam ke empat belas, pasti ada purnama. Hehee…  Walaupun tidak setiap bulannya ia terlihat, karena mendung menggelayut langit malam. Ya, kalau ada hujan maka tidak ada purnama pada malam ke empat belas, kannnn… 😀

Mentari, ia muncul tidak pada malam hari. Yes, that is right. Karena kalau munculnya pada malam hari, bukanlah bernama mentari. Mentari, hanya ada pada siang hari. Ya, waktu yang lamanya lebih kurang dua belas jam, dapat kita manfaatkan untuk menikmati pesona mentari. Sedangkan waktu yang berikutnya, adalah kesempatan rembulan ataupun bebintang untuk mencuri perhatian kita. Meskipun mentari bersinar pada siang hari dan benda-benda langit yang bercahaya pada malam hari tidak hadir pada waktu yang sama, namun mereka semua adalah bersahabat. Walaupun mereka tidak akan pernah berjumpa dalam masa yang sama di dalam pandangan kita, namun mereka begitu akur, ya? Yes. Begitu telatennya Allah dalam menunjukkan bukti Kekuasaan-Nya pada semesta. Ketika kita mulai merasakan aura yang berbeda sesaat setelah mentari tenggelam pada sore hari, maka malampun menyambut kita dengan tebaran bintang yang berkelipan. Untuk selanjutnya, saat kebersamaan kita dengan bebintang dan rembulan mulai terjalin sangat akrab, perlahan ia juga menghilang. Kemudian berganti dengan sebuah sinar yang begitu cerah. Ai! Masih adakah kesempatan bagi kita untuk tidak bersyukur pada hari ini?

Mentari, ia tidak bersinar untuk kita sendiri. Karena, ada banyak penghuni alam raya yang perlu ia sinari. So, buat apa kita menghalanginya untuk menyinari semesta? Padahal, mentari adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Begitu pula dengan kita, juga ciptaan Allah Yang Maha Baik. Allah Maha Adil, yaa.

Mentari, saya benar-benar mengenal siapa ia yang sesungguhnya, ketika saya sedang jatuh cinta. Dapat engkau bayangkan teman? Bagaimana rasanya jatuh cinta atau mencintai? Ai! Pasti berbunga-bunga, kan? Nah, bunga-bunga tersebut kalau sudah terlalu lama bermekaran, maka ia akan menunduk. Yes, setelah mekarnya menceriakan semesta yang memandang padanya, akhirnya ia akan kembali menjadi dirinya sendiri.

(Bunga yang paling saya sukai adalah Edelweis. Mengapa saya suka? Ya, karena suka aja. Walaupun saya belum pernah memetiknya langsung, dan mengalami bagaimana upaya yang perlu dikerahkan untuk dapat menggenggamnya. Namun saya sangat bahagia. Ketika pada suatu hari, Own, saudara laki-lakiku memperagakan betapa bahagianya beliau saat bersama dengan Edelweis. Tidak setangkai dua tangkai, namun sepenuh genggaman beliau, Edelweis semuanya. “Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………….. Yn sukaaa. Boleh Yn simpen picturenya ya Own, “ pintaku pada beliau saat itu. “Yo,” jawab beliau singkat. Hehehee… saya sungguh senangnya, apalagi kalau secara langsung, saya dapat berkunjung ke lokasi di mana ia bertumbuh, yaa. Entah apa yang akan terjadi. Ai! Saat ini, saya sedang membayangkan bagaimana usaha para pendaki untuk dapat berjumpa dengan Edelweis. Salut rasa hati, pada beliau semua. Terima kasih, untuk segalanya).

Mentari. Banyak hal yang dapat kita pelajari darinya. Dengan mempelajari karakter mentari, kita akan menjadi mengerti, bahwa tidak selamanya kita bersama. Ada saat-saat kita berjarak untuk beberapa lama. Kemudian, kita kembali bersama, walaupun masanya telah berbeda. Dari mentari juga, kita belajar untuk tidak mementingkan diri sendiri. Kita tidak boleh mengegois ria saat mencintai apapun itu. Karena mentari tidak seperti itu. Dalam masa-masa jatuh cinta dulu, saya sempat menyimpan beberapa bait kata di dalam diari, tentang mentari. Semoga dapat menjadi jalan yang mengingatkan diri, kapanpun ia memerlukannya lagi, begini:

“Semenjak dulu… awal aku mengenalmu, aku sudah yakin bahwa engkau adalah orang baik-baik. Namun, entah mengapa… beberapa saat engkau tidak ada di pikiranku. Tapi, tiba-tiba engkau kembali muncul saat itu. Engkau puji diriku! Mengapa semua itu? Aku tidak suka dipuji seperti itu. Karena aku merasa bukan apa-apa tanpa-Nya yang senantiasa menganugerahkan nikmat-Nya padaku. Aku tidak merasa tersanjung, karena aku memang tidak pantas untuk disanjung. Hanya Allah Yang pantas untuk menerima pujian dan sanjunganmu. Namun begitu, tetap ku ucap trim’s for you!

Aku engga merasakan apa-apa saat itu, awal engkau muncul di depanku. Tapi… siapa yang tahu perasaan seseorang, hanya Allah! Akhir-akhir ini bayanganmu senantiasa menemani hari-hariku. Suatu saat aku bisa mengingat kepribadianmu, pandanganmu, tutur sapamu, dan senyumanmu itu loh! Yang bikin aku makin mengagumimu. Selain masih banyak lagi hal-hal positif yang telah aku temukan dari sosok sepertimu. Terima kasihku kepada Allah, yang telah mengizinkan aku untuk mengagumi orang sepertimu, bukan yang lain.

Walau begitu, aku tidak akan kecewa kalau engkau tidak memandang seperti itu padaku. Aku juga tidak akan patah hati, kalau ternyata suatu saat nanti, engkau sudah melirik yang lain, bukan diriku. Karena aku menyadari ‘Yang Menentukan Segalanya adalah Allah subhanahu wa ta’ala.”

Tuhan…

Salahkah aku ? ? ?

Salahkah bila perasaanku mengatakan ini ? ? ?

Mengagumi seorang hamba-Mu?

Yang engkau ciptakan untuk memberi semangat hidupku? ?

Hamba-Mu yang akan melengkapi kehidupanku,

Kalau memang Engkau menilai dia hamba terbaik, maka serahkanlah dia padaku. Tapi… kalau dia tidak pantas bersamaku, dan aku juga tidak pantas untuknya, maka… biarlah dia menjauh dariku. Biarlah dia dimiliki orang lain, orang yang patut untuknya. Aku tidak akan kecewa karena Engkau selalu bersamaku. Aku yakin Engkau Selalu Melindungiku dan akan memberi yang terbaik bagiku, kelak!”

Mentari, semenjak saya mulai mengalami apa itu mencintai, saya menjadikannya sebagai inspirasi. Bukan nama seorang yang saya kagumi, yang saya tulis. Namun, mentari adalah perwakilan untuk menyampaikan suara jiwa. Ya, begitulah saya, mementarikanmu yang saya cintai dan sayangi. Namun, belum lagi membersamai. Yes! Hehheee…

Mentari. Dalam duniaku, lebih banyak mentari yang hadir pada siang hari. Begitu pula dengan masa yang berikutnya, hari menjadi lebih cerah dan berseri, ketika saya jatuh cinta. Ai! Saya juga sedang belajar untuk mengerti, mengapa semua ini terjadi. Begitu indahnya arti hadirmu, teman… bagi kehidupan yang sedang saya jalani. Sampai saat inipun begitu.

Mentari, selamanya ia bersinar di dalam hati ini, meskipun sore telah menjelang. Itu pertanda, tidak akan ada lagi mentari nan nyata di depan mata. So, dengan menyimpan namamu sebagai mentari di dalam hati, maka engkau selalu ada kapanpun saya mengingatimu. Semoga semua ini menjadi jalan bagi saya specially, untuk kembali menyadarkan diri, bahwa mentari ada yang menciptakan. Dan ia tidak muncul dengan sendirinya. So, setiap kali saya berbunga-bunga karena mengagumimu atas keelokan budi pekertimu, dan mengingatmu ketika rinduku hadir padamu, maka terlebih dahulu saya mengingat, dari mana asalmu. Dengan demikian, tidak akan ada lagi kekeliruan dalam mencintai ataupun mengagumi. Semoga menjadi pengingat diri untuk kembali pada Pemilik Sang Mentari yang ku kagumi.

Mentari, ia juga menyimpan beraneka ragam pesan dan kesan. Mentari itu penuh dengan senyuman. Mentari itu gemar berbagi, mentari itu baik hati. Mentari itu, sinarnya paling cerah pada siang hari. Mentari itu, menyinari hari untuk menyampaikan bakti pada semesta. Ia membuat hari-hari kita menjadi lebih ceria saat bersamanya. Mentari itu, adalah engkau yang selamanya tidak lelah memberi. Walaupun ragamu penat dan letih,  namun ada kebahagiaan tersendiri yang engkau rasakan di dalam hati, saat banyak manfaat yang dapat engkau tebarkan pada siapa saja. Yaach, mentari itu tidak pilih kasih. Ia begitu penyayang dan pengasih. Ia memberi karena ia meyakini bahwa ia mampu untuk itu. Sedangkan kehadirannya dalam hari-hari adalah sebagai jalan kebaikan bagi siapapun juga. Ia bukan sumber kebahagiaan, namun ia bahagia ketika kebahagiaan yang ada di sekitar, bersumber dari kebahagiaan yang ia tebarkan lewat senyumannya. Ia bukan juga sumber kebaikan, ketika menyadari bahwa dengan berbuat baik ia dapat menjadi lebih baik lagi, maka kebaikan itu ia teruskan. Begitu juga dengan yang sebaliknya. Selamanya, mentari ada untuk kita.

Mentari, seringkali membuat saya berbunga-bunga ceria setiapkali mengingatinya. Mentari di hatiku, adalah ia yang menjadi jalan tersenyumnya hati lebih sering lagi. Mentari dihatiku adalah para sahabat yang berkarakter bak mentari. Terkadang dengan tatapan mata yang cemerlang, ia ada di hadapan. Namun pada kesempatan yang lain, ia menyelinap di balik awan. But, saya yakin, hari ini mentari tetap ada. Buktinya, siang sedang menyenandungkan bahagia pada alam-Nya.

Mentari, ia adalah jalan bagi bunga-bunga itu untuk dapat menampilkan senyumannya. Bersama sinar mentari, ia bertumbuh dengan baik. Mulai dari benih yang semulanya sangat kecil dan tidak berdaya, akhirnya ia menjadi lebih kuat dan terus bertumbuh mengikuti arah mentari bersinar.

Mentari, jejak hari ini yang engkau tinggalkan walau tidak tampak, adalah bukti bahwa engkau masih ada. Ya, ketika sejenak, pada pagi yang sangat sejuk ini, saya melayangkan pandang ke langit nan memutih. Tiada matahari yang bersinar cemerlang saat ini. Namun, saya dapat merasakan kehadirannya, dengan tanda-tanda yang ia perlihatkan. Yes, ada terang di sekitaran, teman. Tidak lagi seperti beberapa jam sebelum ini. Ketika mata menatap ke luar dari jendela, hanya ada gelap dan gulita. Ditambah lagi dengan nuansa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

(Bbrrrrr…. masih pagi)

Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangan beliau radhiallahu ‘anhuma, dia berkata: ”Aku telah hafal (sabda) dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i. Tirmidzi berkata: Ini adalah Hadits Hasan Shahih)

🙂 🙂 🙂

Mengapa Mentari?


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s