Quote

Bapak dan Ibu Guru

Bapak dan Ibu Guru (Photo credit: SMAN 7 Yogyakarta)

Buku adalah guru yang penuh dengan sejarah. Guru adalah jalan menuju masa depan yang lebih cerah

Semenjak siang tadi hingga sore menjelang, saya berada di toko buku. Saya sampai di toko buku setelah jarum jam menunjukkan lebih dari pukul satu. Pertama-tama, saya menuju lantai satu. Kemudian beralih ke lantai dua, dan seterusnya sayapun sudah berada di lantai tiga, tanpa saya sadari. Ya, karena kaki-kaki ini terus saja melangkah menuju arah yang ia mau. Saya juga tidak mengerti, mengapa ia terus melangkah. Sedangkan saya, ikut dengannya. Hingga akhirnya, sampailah saya pada sebuah sudut toko buku di kota ini. Di mana saya saat ini?

Ketika kecil, remaja hingga saya menamatkan masa-masa pendidikan, sangat jarang saya ke toko buku. Bahkan bisa dikatakan tidak pernah sama sekali. Karena biasanya, kalau saya membutuhkan buku untuk belajar, maka Ibunda yang membelikan. Sedangkan saya, tinggal terima. Atau, buku dibelikan oleh guru dari sekolah, kemudian baru saya menerimanya. Untuk membeli buku sendiri, saya tidak pernah. Ai! Kok bisa, yaa? Entahlah, setiap kali mengingat masa-masa ketika sekolah dulu, saya menjadi malu sendiri. Ya, saya sangat sering membuat Ibu dan Bapak guru menjadi sibuk untuk melayani. Begitu juga dengan peran Ibunda yang sangat berjasa. Beliau sangat peduli dengan perkembangan saya dalam belajar. Makanya, setiap kali saya meminta beliau untuk mengeluarkan biaya demi membeli buku, beliau sangat mudah memenuhinya. Saya terharuuuu, saya piluuuu, saya ingin kembali ke masa laluuuu, namun buat apa? Ya, buat apapun juga, yang penting saat ini, saya ingin memutar arah perjalanan untuk beberapa puluh menit ke depan. Agar sebuah catatan terangkai, tentang buku dan masa kecilku.

Ketika masih es-de, saya tidak mengenal apa itu toko buku, apalagi untuk membeli buku sendiri. Oleh karena itu, tadi saya main-main ke toko buku untuk menghabiskan beberapa jam waktu. Kan hari ini libur, jadi saya bebas mau ke mana saja. Nah! Ketika tadi kaki-kaki ini melangkah menuju lantai tiga toko buku, di sudutnya, saya pun menghentikan langkah-langkah yang terus mengayun. Karena, kalau tidak, bisa jadi dia akan segera berbalik lagi atau berkeliling-keliling terus. Maka saya putuskan untuk stop dulu!

Setelah itu, segera, saya edarkan pandangan ke sekeliling. Ada banyak jenis buku di toko buku. Ada komik, ada buku bergambar,  ada buku cerita, ada children book juga. Akhirnya, saya memilih untuk berhenti sejenak di depan tulisan yang berjudul ‘Children Book’. Kemudian, saya memandang-mandang aneka jenis buku yang sedang membentang pada raknya. Ada banyak tema yang tersedia di sana. Awalnya, saya tidak ingin menyentuhnya, namun rasa ingin tahu yang meningkat, membuat jemari ini segera meraih satu dari sekian banyak buku yang ada. Salah satunya adalah buku bergambar. Ai! Saya ingat, ketika masa kecil dulu, saya tidak pernah melihat buku yang serupa. Mengapa?

Lembar demi lembar buku bergambar, saya bolak balik sesuka hati. Terkadang, saya berhenti sejenak untuk membaca rangkaian kalimat yang bertuliskan huruf yang gede-gede dan berwarna-warni. Selain itu, banyak gambar-gambarnya pula. Hehhee, segera saya tersenyum-senyum sendiri bersamanya. Ternyata, masa kecil itu sangat menyenangkan yaa. Apalagi kalau bertemankan buku-buku yang indah seperti ini. Tentu menjadi lebih berkesan lagi, kalau kita mampu menjadikannya sebagai teman dalam belajar. Hmmm, pastinya daya imajinasi kita akan sangat cepat bergerak, untuk bercerita dengan teman-teman ketika berkumpul pada waktu jam istirahat di sekolah. But,  berbeda dengan saya, yang tidak pernah menemukan buku yang serupa sejak semula. Sehingga, ketika teman-teman pada ngobrol tentang beraneka kisah yang mereka ketahui dari buku cerita yang mereka baca, maka saya tidak. Hikss! Masa kecilku yang mengesankan. Akibatnya, saya lebih sering menjadi pendengar yang baik,  ketika teman-teman sibuk mendongeng. Tersenyum dan tertawa ketika mereka berkisah tentang hal-hal yang menyenangkan, dan ikut prihatin atas kisah yang kurang mengenakkan. Pada umumnya, teman-teman saya pada pintar bercerita.

Lalu, bagaimana dengan hari ini? Saya juga masih sama seperti masa kecil dulu. Saya hanya memilih untuk menyimak apa yang buku ceritakan. Kemudian tersenyum bersama kelucuan yang ia tampilkan. Terkadang, saya tertawa tertahan bersamanya. Sungguh! Lucu… Agar tidak terlupakan dengan masa-kecil yang telah lama berlalu itu, maka saya pun mereuni toko buku bagian buku anak. Supaya, menjadi jalan bagi saya untuk dapat mengenali, ternyata dunia anak-anak itu penuh dengan sensasi. Tidak hanya yang telah remaja dan dewasa saja yang mempunyainya. Bahkan, masa anak-anak adalah masa-masa yang penuh cerita. Masa ketika kita belum berjumpa dengan apa itu problema. Masa ketika kita hanya tahu bagaimana cara agar dapat terpenuhi apa saja yang kita damba. Lalu, kita segera menangis kalau semua belum terkabul. Ai! Ingatkah kita, betapa cengengnya kita? Kecuali kalau pinta segera terjawab, bahagia segera menerpa ruang jiwa.

Walaupun ketika masa kecil dulu, saya tidak mengenal apa itu toko buku, namun saya selalu juara satuuuuuuuuuuuuuuu ketika masih es-de. Yes! Saya senang ketika mengingatnya. Bagaimana bisa? Itulah pentingnya peran guru. Ya, bersama guru dan teman-teman kecil yang giat belajar, kami saling membantu. Ketika di sekolah, kami belajar dengan rajin, maka di rumah pun kami belajar dengan baik. Ketika Ibu dan Bapak Guru menitipkan pe-er untuk kami selesaikan, maka segera kami kerjakan. Dan yang lebih berkesan lagi adalah, kami sangat suka mengerjakan tugas secara berkelompok, bukan dengan mencontek. Oleh karena itulah, kami menjadi anak-anak yang mendapat perhatian dari guru-guru yang baik itu. Buat Ibu dan Bapak Guru yang dengan ketulusan menitipkan ilmu, terima kasihku terus mengalir. Bukankah beliau adalah jalan yang menghantarkan kita menjadi seperti apa yang kita cita?

Ketika masa sekolah dasar dulu, saya mempunyai teman-teman yang baik. Bersama mereka, saya berangkat ke sekolah setiap hari. Kami saling mengabari, kalau akan pergi. Oia, pada waktu itu komunikasi kami tanpa telepon atau hape. Hanya, bersama insting yang telah terlatih, kami menjalin komunikasi ketika kami berjauhan. So, dapat dipastikan bahwa kami selalu berangkat pada jam yang sama.

Jarak antara rumah saya dengan rumah teman-teman, tidak ada yang dekat. Sehingga kami membutuhkan waktu beberapa menit untuk melangkah, sebelum akhirnya bertemu di jalan yang sama. Adapun teman-teman es-de yang suka berangkat bareng ke sekolah adalah Risnawati (entah di mana beliau kini), tiada lagi kontak yang terjalin di antara kami sampai saat ini, setelah kita menamatkan pendidikan dengan seragam merah putih itu. Selain itu, ada Atik yang sangat cantik. Sekarang, beliau telah menikah dan hidup bahagia dengan keluarga kecil yang beliau bina. Beliau menikah, beberapa tahun setelah menamatkan pendidikan dari bangku es-em-pe. Waih! Alangkah berbedanya kita, teman. Ketika engkau akhirnya membangun rumah tangga pada usia yang masih terlalu muda belia, namun tidak dengan saya. Sampai saat ini, saya juga kehilangan informasi tentang beliau, salah seorang teman es-de-ku.

Selain Risnawati dan Atik, juga ada seorang lagi. Namanya siapa yaaaa… Aw! Saya lupa. Tapi, saya dapat menggambarkan bagaimana beliau. Seorang putri dengan wajah yang agak lonjong, berkulit hitam manis dengan tahi lalat di hidung, dan sangat suka tersenyum. Oia, saya ingat! Beliau bernama Widiya Wati. Wiwit, panggilannya, atau Iwit. Yes! Dengan berhasil mengingatmu teman, saya dapat tersenyum saat ini.😀

 Hanya ada tiga orang  teman masa kecil ketika es-de yang seringkali pulang dan pergi ke sekolah, bersama saya. Karena memang arah tempat tinggal kami sama. Sedangkan teman yang lainnya, berbeda arah. Bahkan bertolak belakang. Kami berempat ke selatan, sedangkan yang lainnya ada yang ke arah utara, timur dan atau barat. But, ketika di sekolah, kami bersahabat.

Bersama tiga orang teman tersebut, kami seringkali berjalan kaki ketika pulang dan pergi ke sekolah. Karena jarak antara sekolah dan tempat tinggal kami membutuhkan waktu sekitar dua puluh sampai tiga puluh menit perjalanan (dihitung dari langkah-langkah kecil para gadis berusia dibawah sepuluh tahun). Sehingga, kami perlu berangkat setengah jam lebih awal, dari jadwal yang seharusnya. Agar tidak terlambat mengikuti pelajaran.

Oia, salah seorang guru es-de saya, bertempat tinggal sangat dekat dengan rumah saya. Beliau adalah (Alm. Ibu Hamida). Beliau kini telah tiada. Saya terharu ketika mengingat beliau. Ya, setiapkali saya ingat beliau. Walaupun beliau telah berpulang, namun jasa-jasa dan kebaikan beliau tetap ada di ruang jiwa. Semoga amal jariyah yang beliau tinggalkan menjadi jalan tersenyumnya beliau di alam sana. Ya Allah, lapangkan kubur beliau, guru-guru kami yang telah menemui-Mu. Balasilah amal kebaikan beliau dengan pahala yang terindah dari-Mu. Semoga kami dapat meneladani pribadi guru-guru yang mengalirkan jasa hingga menjadi pahala ke ujungnya.

Kemudian, ada lagi guru es-de yang sangat erat di dalam ingatanku saat ini. Beliau adalah Ibu Nurrisma. Dengan wajah yang tidak lagi muda ketika itu, beliau mengajari kami bagaimana menulis dan membaca. Beliau adalah guru saya pada kelas satu dan kelas dua. Yach, selama dua tahun, beliau mengajari saya dan  teman-teman, tentang aneka jenis huruf. Huruf-huruf  itu ada banyak jenisnya. Huruf yang kita kenal dengan A s.d Z, saya kenali dari beliau. Termasuk juga angka-angka yang berjenis sepuluh itu. Angka satu sampai dengan nol, juga saya pelajari bersama beliau. Tanpa pengabdianmu yang tulus, wahai guru-guru yang berbudi, tentu kami tidak akan dapat merangkai kalimat seperti ini. Buat Ibu dan Bapak Guru semua, walaupun nama beliau tidak terukir nyata di halaman ini, namun jasa-jasa beliau akan selamanya terukir indah di singgasana-Nya. Walau bingkisan ini tidak terkirimkan untuk nama-nama yang tersurat, namun ia tersirat. Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin melukis sebuah ‘hiasan’ mewujud sebait sapa buat beliau semua;

Engkau ajarkan kami tulis dan baca,

bersamanya kami mengenal apa itu dunia,

Engkau kenalkan kami huruf dan angka,

yang menjadi jalan kami untuk merangkai suara jiwa satu persatu dari waktu ke waktu,

Satu, dua, tiga dan seterusnya, begini jenis angka-angka,

A, b, c, d, sampai z, huruf-huruf yang saat ini puuuuuuuun masih kami eja,

Mengenal dunia bersama tulisan,

Mengerti kehidupan dari bacaan,

Begini pesan yang engkau titipkan,

Menghitung hari bersama angka,

Menata jiwa setiap masa, tidak mengenal berapapun usia,

Wahai guru-guru kami yang mulia, tanpa jasa-jasa yang engkau baktikan, kami bukanlah siapa-siapa. Kalau saja kami tidak bergiat mengikuti saran, pesan dan petuah darimu, belum tentu kami dapat menginjakkan kaki di sini, di toko buku berlantai tiga. Ya, walau jauh di mata, namun selamanya engkau ada di dalam hati kami. Ketika kami tahu bahwa engkau telah tiada, semoga segera kami mengenali diri, kami juga akan mengalami hal yang serupa. Tidak selamanya dunia menjadi tempat berpijak kita. Ya, seiring dengan berjalannya waktu, bergantinya usia, berkurang pula jatah kita di dunia.

Saya masih ingat, bagaimana langkah-langkah kecil ini mengayunkan kaki-kaki yang ringan di bawah terik siang yang menyengat. Untuk sampai di sekolah. Lalu berjumpa dengan para guru semua. Walaupun siang begitu terik dengan pancaran sinar mentari yang menguasai siang, namun semangat masa belia tidak terkalahkan oleh cuaca. Biarlah keringat menetes raga. Biarlah kaki-kaki ini lelah  melangkah, namun ketika kita mempunyai tujuan dan cita. Insya Allah, tercapai jua.

Ketika masa kecil dulu, saat melanjutkan langkah, saya pernah terjatuh dan kemudian berdarah. Yach, kedua lutut yang cidera karena lukanya parah, cukup membuat rasa sakit itu begitu mendera, perih dan tersiksa. Ai! Jiwa seperti teriris ketika mengenangkannya. Namun demikian, saya tidak pernah mau absen untuk berangkat ke sekolah. Agar tidak tertinggal materi pelajaran yang Ibu dan Bapak Guru sampaikan. Supaya kerinduan karena tidak berjumpa dengan beliau sehari-dua hari, tidak muncul. Maka, saya paksakan untuk terus berangkat ke sekolah. Padahal, kesakitan yang saya rasakan saat menggerakkan kaki-kaki ini, tidak terucapkan lagi dengan kata-kata. Hanya menjalani. Menikmati.

Berbeda dengan hari ini, ketika pada suatu hari saya terjatuh saat melangkah, begitu mudahnya ia berkata, saya lelah! Saya tidak mau lagi melangkah! Aha! Kalau ada satu pinta yang belum kesampaian, maka cengeng pun segera kambuh.  Saya lebih mudah menangis, seraya menikmatinya. Ai! Lalu, kapan saya berubah?

Setelah lama di sudut toko buku lantai tiga untuk menikmati buku bacaan anak, maka saya pun berpindah ke lantai dua. Di lantai dua, ada beraneka jenis bacaan yang berbeda. Kemudian, saya menuju pojok yang bertuliskan ‘Psikologi’. Ya, saya sangat suka dengan kata yang satu ini. Entah mengapa pula, kedua kaki ini begitu ringannya melangkah menujunya. Dengan tanpa meminta persetujuan siapapun juga, ia terus saja berjalan. Lalu, saya pun meraih satu persatu buku yang bertemakan psikologi. Setelah sukses membaca beraneka kalimat yang tertulis rapi, sayapun tersenyum dengan indah. Dari satu judul, berpindah ke judul yang lainnya. Dari satu buku, berganti buku yang berikutnya. Sungguh sangat ingin saya berlama-lama di sini. Untuk memuaskan kehendak hati. Ya, berbagi tentang apapun yang ingin saya sampaikan. Namun, bukankah masih ada dunia lain yang perlu kita temui? Saatnya berehat sejenak. Setelah saya akhirnya, suksesssssss! merangkai sebuah catatan tentang perjalanan diri. Semoga ia abadi sampai nanti. Bagaimanapun kisah yang telah berlalu, kita hanya ada pada hari ini, wahai teman. Apa yang sedang kita perbuat pada hari ini, sangat mempengaruhi bagaimana kita setelah saat ini. Hingga akhirnya, jemari saya pun terhenti. Stop sampai di sini. Baiklah, selamat berjumpa pada kesempatan yang lainnnyaaaa.. yaaa… Karena saya masih akan terus menulis di sini, untuk mengukir senyuman hingga ke akhir usia nanti.  Karena saya menemukan ada nuansa tersendiri bersama aktivitas yang satu ini. I will miss you. Muach. Muach. Semoga selalu ada kemudahan yang menyertai, dalam prosesnya. Aamiin ya Rabbal’alamiin.

😀🙂😀

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya”. (Q.S Al Fushshilat [41]: 8)

Tentang Buku, Guru dan Masa Kecilku


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s