Quote

 “Kebebasan adalah ketika ada sahabat yang mengirimkan pesan singkat, “Assalamu’alaikum, hai Bu, gimana kabar? Lagi Apa?”. Kemudian balasannya adalah, “Wa’alaikumsalam, baek2 saja, makin cantiiik. Sekarang lagi duduk2 sendiri, merenung…😀 ” (pesan terkirim)

Beberapa saat sebelum memulai catatan kali ini, perasaan saya engga enak banget. “Ada apa denganmu, teman….? Apakah engkau baik-baik saja? Please, tell me something about you. Agar ketenangan dan ketenteraman segera menaungi hati ini lagi. Hayoo-laaah, kan kita berteman sudah sedjak lama. Mengapa kini saya merasakan keheningan namun menggemuruh jiwa. Yach, sejenis dag-dig-dug gitu…,” suara pikirku menyampaikan pesan pada semesta yang sedang menjalin persahabatan dengannya. Padahal, saya merasakan semua baik-baik saja, sebelumnya. Apakah karena engkau menyangsikan tentang perjalanan saya hari ini? Tenang, say… saya hanya melihat-lihat saja, di sekeliling. Memang dari tingkat yang lebih tinggi. Namun, ada pagar-pagar yang melindungi saya, tadi. Tidak akan terjadi apa-apa dengan diri ini, selama doamu menyertai langkah-langkah ini. Saya masih mempunyai mimpi, yang akan menjadi penyemangat diri untuk meneruskan perjuangan dalam kehidupan. Sudahkah engkau  menyimak mimpi yang saya paparkan lengkap di dalam catatan yang sebelumnya? Itulah mimpi yang saya bangun di dalam duniaku, teman.  Lalu, bagaimana dengan mimpimu? Sudahkah engkau merangkainya, pagi hari?

Hmm… saat ini, ingin ku merangkai berbait-bait kalimat tentang kebebasan. Ya, sebagai salah satu jalan yang dapat saya tempuh untuk menenangkan lagi hati ini. Hati yang tiba-tiba saja menjadi tidak menentu seketika. Ya, saat saya merasakan ada keanehan padanya. Mengapa ia berubah sedemikian cepatnya? Saya juga sedang belajar untuk memahami semua ini. Lalu, mulai memetik beberapa buah makna yang ia sampaikan. Buah yang semestinya berasa manis, ketika saya sudah mencicipinya. Semoga buah hikmah atas apa yang baru saja ia alami, menjadi bukti bahwa ia memang ada. Hati yang berdebar segera, hati yang berdetak lebih cepat. Hati atau jantung, kah? Ai! Intinya, ada satu bagian dari tubuh ini yang bereaksi segera, ia bertempat di dalam rongga dada.

Hingga paragraf yang ke tiga ini mulai tercipta, masih ada sedikit getaran yang saya rasakan. Getaran yang tersisa dari sekian banyak getaran yang menyapa sebelumnya. Adakah ia sudah mulai menemukan ketenangannya lagi? Ai! Seringkali saya begitu peduli dengan perubahan apa saja yang terjadi dengan rongga dada ini. Ia yang suka banget membuat saya terkaget! Lalu, pikirpun beterbangan mencari-cari solusi untuk menenangkannya lagi. Mengapa engkau begitu, wahai sahabat? Bukankah sahabat yang baik itu, senangnya menitipkan ketenangan kepada sahabat yang sedang bersama-sama dengannya. Namun saat ini, engkau tidak seperti biasanya. Engkau berubah. Hikss..?!

Semaunya, saya akan segera menitikkan airmata, kalau merasakan ada yang tidak beres dengan diri ini. Yaach, karena saya ingin mengungkapkan segala yang ia rasa dengan mengurai bulir-bulir bening yang segera membanjir. Biarlah ia menetes sebanyak-banyaknya. Agar lega kembali saya rasakan di dalam jiwa. Namun kini, airmata itu belum lagi mau berfungsi dengan baik. Kemanakah ia berangkat? Ataukah tidak ada lagi yang mau menemani saya dalam menepis rasa dag-dig-dug yang tidak menentu seperti ini? Lalu, kemana perginya sahabat yang selama ini menjadi tempat untuk berbagi? Bagaimana ini? Akhirnya, saya menangis di dalam hati. Tanpa airmata di pipi.

***

Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk merasakan kebebasan. Salah satunya adalah dengan mengungkapkan apa saja yang sedang kita alami, segera! Yach, kapanpun kita menginginkan kebebasan, maka kita dapat mengalaminya saat itu juga. Seperti halnya orang lain yang mempunyai cara tersendiri dalam menemukan kebebasannya, maka begitu pula dengan saya. Bukankah kita adalah insan yang merdeka. Dengan kemerdekaan yang kita punyai, maka kita adalah penikmat kebebasan. Ada yang berteriak sekuat-kuatnya, di tempat yang sepi, di atas perbukitan, sendiri, lalu memandang jauh ke hadapan, dan ia sampaikan satu kata yang mengaliiiiir, panjaaaaaang, dan kuaaaat. Hingga terdengar seperti lengkingan saja. Itu yang mereka lakukan. Ya, karena ada beraneka cara yang dapat kita lakukan untuk membebaskan diri dari gejolak dalam jiwa. Karena emosi akan tercurahkan dengan cara mengeluarkannya.  Dan gejolak jiwa yang tidak dapat dinetralisir itulah yang bernama emosi! Huh! Mengapa pula saya merangkai semua ini? Memangnya saya lagi emosi? Yes! Saya marah-marah di sini saat ini. Karena saya mau menangis, tapi tidak ada lagi airmata yang mau mengalir. Akhirnya, saya marah. Saya tulis MARAH dengan huruf kapital, yang berwarna merah. Tuch, kan? Artinya saya marah! Marah pada siapa? Saya juga engga tahu. Pokoknya, saya lagi mau menulis marah dengan warna merah saja. Titik.

Teman, pernahkah engkau mengalami hal yang sama seperti kejadian ini? Lalu, apa yang engkau pikirkan saat ini? Marahkah engkau? AhA! Keep smiling, dear…😀

***

Tidak seperti hari-hari keberangkatan sebelumnya, hari ini saya berangkat sendiri ke pasar baru. Yes! Tanpa teman, tanpa sahabat. Hanya bersama Allah subhanahu wa Ta’ala Yang Tercinta. Bersama cinta yang terus terjaga, saya pun melangkahkan kaki-kaki ini dengan anggun sekali. Pertama-tama, saya telah menentukan lokasi bagaimana yang akan saya tuju lebih awal. Berhubung saya belum makan siang, maka tentu saja, tempat makan adalah objek yang utama. Tanpa banyak bicara, dengan rasa lapar yang sudah mulai meninggi, akhirnya saya mampir di sebuah tempat makan. Ampera, begini judul yang terpampang pada pintu, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk masuk. Belum pernah saya ke tempat ini. Walau sekalipun. Namun demikian, karena ada yang sangat membutuhkan bantuan saya, maka dengan sepenuh hati, sayapun menuju pintu yang terbuka. Beberapa langkah sebelum kaki-kaki ini menjejak di dalam ruang ‘Ampera,’ sudah ada sebaris senyuman yang menanti hadirku. Saya pun tersenyum pada pramusaji yang langsung menanyakan, “Nasinya berapa, Teh?.” Tanpa berpikir untuk kedua kalinya, saya langsung menjawab,”Satu saja, cukup.” Karena saya berangkat tanpa sesiapa di sisi. Jadi, pesenannya satu aja. “Baik, silakan, Teh…,” dengan keramahan yang bertambah-tambah, sang pramusaji menyerahkan satu bungkus nasi yang beliau simpan di atas sebuah piring agak lebar. Seraya menyerahkan satu piring lagi yang lebih kecil. “Ini untuk lauknya,” kata pramusaji yang sama.

Kemudian, saya segera memilih menu yang saya suka. Untuk selanjutnya, menuju kassa dan menyerahkan selembar uang berwarna ijo muda. Ai! Masih ada kembaliannya, ternyata. So kind, person, pikirku. Setelah itu, sayapun memilih tempat yang paling menarik. Yes! Ada lesehan di bagian kanan, ketika saya melangkah menuju pintu berikutnya. Masih kosong. Meja yang sekelilingnya seharusnya dapat diisi oleh empat orang, kini hanya ada saya sendiri di sana. Wah! Begitulah pengalaman baru saya saat lunch siang tadi.

Beberapa menit lamanya, sayapun sibuk menyantap menu yang tersedia. Menu yang sungguh-sungguh membuat saya perlu meng-huwah!-huwah!  atas kelakuannya. Ada apa dengan menu yang ada? Mengapa menu begitu tegaaaaaa…? Ai saya mau menangis saja. Tapi, bagaimana bisa menangis, sedangkan airmata tiada mau berkompromi untuk saat ini. Ia tiba-tiba menepi. Ia meninggalkan pipi. Ia berbalik arah, dan tenggelam di dalam bendungan tipis ini. Ia jatuh ke dalam hati. Hatiku periiih, hiksss. ‘Sambel Sangat Pedes’, ini namanya. Nama yang sudah saya kenali sebelumnya, namun kini ia hadir dengan pesonanya yang berbeda. Ia sangat mengesankan. Kesan yang sangat ingin saya ingat selamanya. Kesan yang akhirnya menjadi tema dalam catatan saat ini. Kesan yang menjadi jalan bagi saya untuk akan kembali lagi ke sana. Untuk merasakan pedasnya ‘Sambel Sangat Pedes.’ Pedasnya bikin ketagihan. Lha, gimana tha…?.

Kisah yang menyenangkan, dan penuh dengan cerita adalah ketika kita bebas berhuwah-huwah ria saat makan. Ketika tidak ada airmata yang mampu menetes lagi, padahal kita sangat ingin menangis pada saat yang sama. Itulah kebebasan penuh dan berkesan. Seperti yang saya alami. Ada perih terasa di dalam hati, namun ia meninggalkan jejak-jejak cinta. Terima kasih Ampera, atas pelayanannya. Terima kasih juga atas senyumannya. Senyuman yang menawan jiwa untuk menikmati hidangan dengan senyuman pula. Ini adalah bait-bait kalimat tentang kita yang pernah berjumpa, meski hanya beberapa menit saja. Akan tetapi, bukan lama pertemuan yang menjadikan ia bermakna. Hanya makna yang terpetiki dan kita simpan saja, yang menjadi bukti  pertemuan kita. See you… Semoga untuk pertemuan kita yang berikutnya, saya tidak lagi memesan satu nasi, tapi dua atau lebih dan lebih banyak lagi…. dan lebih banyaaaak lagi. Aamiin. ^^

Sebelum usai menyantap semua menu yang terhidang, ada sebuah pemandangan di hadapan. Saya sempatkan waktu untuk mengabadikan pemandangan ini. Sebuah keluarga juga sedang menikmati menu makan siang, rupanya. Ada seorang Bunda dengan Ayahnya anak-anak. Oia, anak-anak yang berkeliling di meja makan, berjumlah empat orang. Satu orang gadis berusia sekitar belasan tahun, dua orang di bawah sepuluh tahun, dan satu orang lagi, bayi mungil yang baru bisa merayap. Hup! Langsung di tangkap! (Bukan cicak-cicak di dinding). Saya sangat menyukai pemandangan ini. Apalagi ketika beberapa saat setelah saya menyadari kehadiran keluarga ini, dan mengambil sebuah picture, ada yang terlihat bergerak, merayap. Eeeeeyyyssss! Ada seorang bayiii… Ia tersenyum sendiri, ia berusaha berpindah dari tempat di mana ia berada kini. Ia sedang menatap ke atas. Ia berusaha dan terus bergerak. Ia menjadikan saya ingin memandangnya lebih lama lagi. Saya sangat sukaaaa. Ai! “Ke sini, sayang…,” pintaku yang disambut dengan kepakan tangannya. Kayak lagi berenang gitu, tapi engga ada airnyaaa. Hahahaaa.. Lalu, sang bayi bergerak lagi. Lucccuuu, sangat! Bundanya tersenyum gembira, karena sang buah hati sudah mulai mengerti arti sapa.

Kebahagiaan apa lagi yang ada di dunia, melebihi kebahagiaan seorang Ibunda, ketika melihat buah hati tercinta, ‘tersenyum’.  Melihat pemandangan ini, segera saya teringat pada Ibunda yang jauh di sana. Begini pula kiranya, beliau merawat saya ketika masih balita dulu. Ibunda sungguh sangat baik. Sampai saat ini, beliau selalu menyampaikan harapan begini, di antara pesan-pesan yang beliau alirkan pada diri ini, “Semoga baik-baik saja, orang lain pada kita, ya Nak. Di manapun engkau berada.

Ketika prosesi makan siang benar-benar selesai, kemudian saya melanjutkan perjalanan menuju lantai paling atas pasar baru. Yes! Dengan lift tentu lebih cepat sampainya. Karena memang tujuan yang ingin saya capai adalah tempat parkir dan sekitarnya. Kemudian, dengan menaiki satu tangga lagi, maka kita akan bertemu dengan tempat parkir yang berikutnya. Selain itu, juga ada masjid di sekitaran. Nah! Euforia kebebasan pun bersambung, di tempat ini. Segera saya menuju pinggiran tempat parkir, hingga hembusan angin yang mengalir, menjadi sangat terasa. Ia menerpa wajah ini dengan sangat kuat. Ai! Alhamdulillah, saat ini lagi tidak terik dan panas. Ya, tiada mentari yang bersinar teman. Ketika kita memandang datar ke hadapan, ada hamparan awan bermendung kelabu di tepi langit. Saat kita menengadahkan wajah ini sedikit lebih tinggi, awan hitam semakin jelas saja. Tapi, belum hujan pula. Ya, beginilah suasana sebelum hujan dan tanpa terik mentari. Setengah-setengah. Suasana yang sangat sejuk dan tenteram. Tidak ada tujuan lain, setelah tempat ini.  Yang berarti, saya mesti segera pulang dan kembali ke istana hati.

Sebelum menempuh perjalanan menuju pulang, saya sempatkan waktu untuk melihat-lihat dari ketinggian, terlebih dahulu. Ai! Aktivitas ini sangat berkesan kiranya. Ia merupakan salah satu cara untuk terampi insomnia. Memangnya saya takut ketinggian? Iya, makanya ditherapy. Biar engga lagi. Hehee… (memang bisa, gitu?).

Setelah sekian lama melebarkan pandangan hingga sampai ke sudut-sudut arah tatap, maka saya pun pulang. Dalam perjalanan, saya menemukan beberapa bait kata yang terangkai di dalam pikiran. Bagaimana kalau saya menuliskannya di sini? Ya, agar pada suatu hari nanti, saya kembali dapat membuka catatan yang berkisah tentang perjalanan hari ini.  Agar, saya teringatkan lagi akan satu rencana untuk memesan nasi di Ampera, menjadi lebih dari satu.  Agar, bayi-bayi yang tadi merayap, teringat selalu. Agar saya terkenangkan dengan para Ibunda yang baik. Karena tanpa peran beliau, mana mungkin kita sampai se-GedE ini?  Bagaimana? Apa yang sekiranya terjadi, kalau Ibunda tidak menjagai kita yang sedang berenang tanpa air? Pasti, ke mana saja kita akan bergerak, masuk ke kolong meja, kemudian akhirnya tertidur di sana. Trus, digigit nyamuk, dan nanti badannya jadi me-MERAH plus ada titik-titik kecil, semerah tulisan MERAH ini.  Marahkah kita?

Euforia kebebasan adalah ketika kita mau dan mampu berekspresi atas segenap rasa yang mau kita keluarkan. Ya, karena ia tidak selamanya perlu bersemayam berlama-lama di ruang jiwa. Dan ia mesti keluar dan menjauh, kalau memang kehadirannya tidak semestinya ada bersama kita. Hal ini dapat kita lakukan, agar kita dapat mengetahui bagaimana wujudnya. Dengan kebebasan, kita mampu mengenal aneka rasa yang kita ciptakan sendiri. Maupun aneka rasa yang kita petik dari kehidupan. Yach, selagi kehidupan masih kita alami, maka selama itu pula kita perlu mengekspresikannya. Agar, kapanpun kita ingin merasakan kebebasan, maka kita dapat meraihnya segera. Karena kebebasan itu tidak perlu kita cari kemanapun juga. Hanya perlu kemauan dan keberanian kita untuk menciptakannya terlebih dahulu dari dalam diri. Karena kebebasan yang sesungguhnya adalah tentang kemampuan dan kemauan untuk berekspresi. Sejauh apapun kita pergi, namun kalau kita belum mampu berekspresi, maka kita tidak akan pernah merasakan kebebasan. Akan terasa berbeda, walaupun kita tidak pergi kemanapun juga, namun ketika ekspresi tersalurkan, maka kebebasan yang sejati sedang menjadi sahabat dalam menjalani hari. Yes! Selamat datang, kebebasan. Selamat menjadi bagian dari hari-hari kami. Karena engkau sangat berarti.

🙂🙂🙂

“Ya Allah, Engkaulah teman kami dalam perjalanan dan yang kami serahi urusan keluarga kami. Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kekurangan (biaya perjalanan dan kawan) dan kesusahan sepulang ke rumah. Ya Allah, dekatkan jarak bumi dan ringankan perjalanan kami.” (HR. Ath-Thabrani)

Euforia Kebebasan


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s