Quote

The top 10 US travel destinations for 2012
The top 10 US travel destinations for 2012

Bermimpilah lagi, walaupun masih pagi. Mimpi terbesar apa yang sedang engkau ciptakan saat ini, teman?

Pagi dan mimpi. Kalau engkau mendengarkan dua kata ini berkumpul menjadi satu, apa yang sedang engkau pikirkan, teman? Apakah setumpukan pasukan perehat raga yang empuk? Apakah awan gemawan dengan kelembutannya yang mampu membuat kita merasa nyaman berada bersamanya? Ataukah engkau membayangkan ketika pagi itu, tiada sinar mentari yang menerpa wajah. Akibatnya, engkau mau berlama-lama dalam buaian mimpi. “Oaaaaaammmmmm, masih pagi…… saatnya tidur lagiii,”  seraya menarik selimut, engkau pun menutup mata. Kemudian engkaupun terbang ke dunia lain, yang penuh dengan mimpi-mimpi. Lalu engkau berlama-lama di sana, enjoyourtime.

Pagi adalah awalnya hari. Bersama pagi, kita dapat melakukan banyak hal-hal besar yang akan membuat kita tersemangati hingga siang menjelang. Terlebih lagi dalam nuansa libur seperti ini. Bagaimana? Apakah engkau sudah melakukan hal-hal terbesar saat ini, teman? Ya, apapun yang sedang engkau lakukan untuk mengukir senyuman, adalah bagian dari hal-hal besar tersebut.

Pagi, ketika burung-burung bercakap-cakap dengan para sahabatnya, adalah kesempatan yang indah untuk membersamainya. Kebersamaan yang mereka pertontonkan kepada kita yang memandangnya, memberikan pelajaran yang sangat bermakna. Dalam keluarga beburung, pun ada senyuman yang tercipta. Sebait kalimat yang mereka ucapkan, mungkin kita tidak mengerti. Walau satu kata yang mereka perdengarkan, bisa jadi kita tidak memahami. Walaupun mereka berkomunikasi dengan bahasa yang kita tidak mengenal artinya sama sekali, tapi begitu senangnya kita mendengar suara-suara yang mereka perdengarkan  kepada kita. Apakah tema yang sedang mereka perbincangkan? Sepenuh keinginan yang menyelimuti ruang jiwa, saya sangat ingin menyapa mereka, lalu terlibat percakapan yang mampu mengubah hari-hari menjadi lebih berseri.  Ai! Saya jadi pengen tahu saja urusan burung, yaa. Padahal, kita belum berkenalan, belum berteman, dan saya saja yang begitu inginnya membersamai kehidupannya. Siapa saya?

Pagi ini, sebelum mentari bersinar dengan membawa senyumannya yang mengembang indah. Seiring dengan semilir angin yang sepoi-sepoi menyejukkan, saya sangat ingin melanjutkan mimpi-mimpi yang sedari tadi sempat terputus sejenak. Yach, sesaat setelah saya siuman dari lelap buaiannya, saya pun merasa ada yang hilang. Kapankah lagi saya akan meneruskannya, kalau bukan saat ini? So, begitulah alasan yang saya ciptakan sendiri, mengapa saat ini saya kembali hadir di sini, untuk berjumpa denganmu, teman… Please, tolong izinkan yaa. Walaupun engkau tidak mengizinkan sekalipun, saya masih akan berada di sini untuk beberapa lama. Agar sebuah catatan terindah pada pagi ini, tercipta. Lalu, mimpi apa yang akan saya cipta pada kesempatan terbaik ini?

Pagi, adalah anugerah terindah yang dapat kita manfaatkan untuk merangkai senyuman yang sempat kita tebarkan di alam mimpi. Ketika keheningan suasana alam tidak lagi seperti semalam. Saat beraneka suara telah datang dengan nada-nada yang ia bawa. Tertata. Termasuk kicau beburung yang saat ini pun masih ramai bernyanyi. Ai! Betapa asyiknya kehidupan yang sedang mereka jalani. Ehhhh…. ehee.. 😀 mereka malah semakin ramai berteriak-teriak dengan suaranya yang walau melengking, namun mampu meneduhkan jiwa. Seperti ia tahu, bahwa saya sedang memperbincangkan tentang kehidupannya di sini. “Sorry, ya birds,… Ini bukan rumpi. Namun, hanya mensuarakan isi hati. Karena ia berbicara tentang hal ini, untuk saat ini. Kalau engkau menyetujui, tolong izinkan kami untuk menatapmu lebih lama lagi. Wahai burung-burung pagi yang mendendangkan melodi pembuka hari,”  pinta jiwaku yang berharap.

“Ingin dech rasanya,…

Saya menangkap salah seekor dari burung-burung yang sedang beterbangan di hadapan. Untuk  menyentuh lembut bulu-bulunya yang bak permadani itu, (padahal saya belum pernah menyentuh selembut apakah permadani itu? Hohoo.. Lalu menerbangkannya lagi. Ya, untuk beberapa lama saja, saya sangat ingin membiarkan burung-burung itu bertengger di atas telapak tangan ini. Kemudian kami bercakap mesra untuk beraikan aneka rasa yang saya punya. Bisa meminta saran darinya, bagaimana proses yang ia tempuh agar menjadi seperti dirinya, yang bebas terbang kian kemari untuk melayangkan sayap-sayapnya dengan ringan. Selain itu, saya juga sangat ingin memperoleh tips dan trik dari beburung itu, bagaimana bisa mereka begitu gembiranya berlompatan dari satu sisi ke sisi lainnya. Sesekali mereka bertengger di pagar, pada kesempatan lain, tiba-tiba sudah ada di atas atap. Kemudian, melebarkan sayap dengan semaunya. Dan sekarang, ia sedang bertengger tenang di sebaris kabel listrik. Oups! Sebuah pemandangan yang mengingatkan saya akan arti kebebasan. Itukah kebebasan yang sesungguhnya?”. Benar-benar! Alam dengan apapun yang ia tampilkan, dapat membuat kita segera mensenyumkan wajah ini. Ya, ketika kita mau memperhatikan dan menghayati pergerakannya dengan baik. Maka pertunjukan yang seringkali kita tonton dari suasana alam, tidak akan pernah tergantikan oleh apapun juga. Subhanallah. Dari aktivitas burung pada pagi hari saja, kita dapat mengukir senyuman. Lalu, bagaimana dengan pesona ciptaan-Nya yang lebih wonderful lagi? Saya sungguh kagum dengan alam ini.

(…mimpipun buyar, seiring dengan alunan suara munsyid yang sedari tadi telah mengalun dari VLC media player. Sedangkan saya, baru menyadarinya…)

“Jagalah hati jangan kau kotori… jagalah hati lentera hidup ini,

Jagalah hati, jangan kau nodai… jagalah hati cahaya Ilahi,”

(Aa Gym – Jagalah hati)

Pagi, detik-detiknya begitu berharga. Detik waktu yang kita miliki bersama pagi, akan segera pergi kalau kita tidak memanfaatkannya dengan baik. Mmmm, bagaimana dengan bermimpi pada waktu pagi? Apakah aktivitas ini bermanfaat, ya? Walau bagaimanapun, saya masih akan meneruskan mimpi-mimpi ini. Meskipun apa yang terjadi, selama hari masih ada, maka mimpi ini akan terus menunjukkan siapa dia. Mimpi yang menjadi nyata. Meskipun sebelum ini ia terhenti lagi, karena alunan nada-nada indah “Jagalah hati”. Semoga lirik ini menjadi jalan yang mengingatkan diri, akan pentingnya menjaga hati selalu. Termasuk dalam merangkai mimpi. Karena hati itu, maunya pergi ke mana. Ya, dengan kebebasannya, ia mengajak pikir untuk melihat-lihat aneka pemandangan yang alam berikan. Lalu, ia ingin membersamainya pula. Sungguh, kalau kita tidak menjaganya, maka hati akan bertindak semaunya.

Pagi. Akan menjadi lebih baik rasanya, kalau kita segera membuka cakrawala pandang tentang makna mimpi yang sebenarnya. Mimpi adalah harapan, adalah juga tentang bayangan yang hadir di hadapan. Namun, ia belum lagi menjadi kenyataan. Ada masanya mimpi hanyalah mimpi yang selamanya akan menjadi mimpi. Bahkan, tidak sedikit dari  mimpi-mimpi tersebut yang menjadi kenyataan. Yach, tentu saja kalau dengan penuh keyakinan, kita terus melangkah dan bergerak untuk menjadikannya nyata. Kalau bukan kita, siapa lagi? Bukankah mimpi-mimpi yang kita ciptakan tersebut adalah mimpi kita?

Pagi, banyak orang mengambil inspirasi dari suasana alam pada waktu pagi. Ketika mentari mulai menampakkan wajahnya yang penuh dengan kehangatan, saat tetesan embun perlahan mulai memuai, dan gerakan rerumputan bergemulai. Romantis. Ketika belum banyak suara-suara aneh nan bergemerisik pada waktu pagi. Kecuali hanya ada suara-suara dari alam, alami indahnya. Benar-benar, pagi menjadi jalan bagi kita untuk bermimpi lagi. Walaupun dengan mata yang tidak  terpejam, mimpi-mimpipun dapat kita rangkai. Mau ke mana kita melangkah? Apakah kita ingin berkunjungan ke negeri-negeri impian? Apakah kita inginkan pertemuan dengan sesiapapun yang saat ini memang jauh di mata? Pagi adalah waktu yang tepat untuk memulai semua itu.

Pagi, bersama karunia yang penuh dengan kedamaian yang ia bawa. Ketika kesejukan terasa begitu jelas. Ketika dinginnya alam segera berkurang seiring dengan meningginya sang mentari, kita dapat merangkai mimpi-mimpi, yes! Tentu saja untuk melanjutkan mimpi-mimpi kita pada malam hari. Karena tanpa mimpi yang kita cipta, tidak akan menjadi lebih indah kehidupan ini. Untuk dapat bermimpi, tidak mesti dalam lelap, kaan?

Pagi, ketika kesadaran penuh menyelimuti jiwa. Bersama pikiran yang sangat segar, kita dapat memulai untuk meneruskan mimpi.  Saat jiwa kita masih dalam kondisinya yang stabil. Ketika kita belum bersua dengan banyak insan. Saat kita belum berinteraksi dengan aneka karakter yang akan kita temui pada jam-jam yang berikutnya. Maka mengapa kesempatan yang paling berkesan ini, tidak kita manfaatkan untuk bermimpi? Yuuuks, mari kita bermimpi tentang berbagai hal yang ingin kita wujudkan dalam nyata.

Pagi, kebanyakan waktunya mengalirkan motivasi pada kita. Agar bersamanya, kita menemukan semangat hidup. Ya, dengan motivasi yang datang dan semangat yang kita hidupkan semenjak pagi ini, semoga untuk selanjutnya, ia terus dapat kita jaga. Seperti halnya mimpi-mimpi yang kita cipta, ia tidak boleh hanya tinggal mimpi. Karena kita perlu terus dalam upaya terbaik untuk menjadikannya nyata. Karena kalau hanya bermimpi tanpa menempuh proses untuk mencapainya, tiada mimpi yang mau berteman dengan kita dalam nyata.

Pagi. Tentang pagi, setiapkali ia hadir lebih awal pada hari-hari yang berikutnya, saya selalu teringatkan pada Ibunda nun yang saat ini berada jauh di seberang pulau. Pulau Sumatera, tempat raga beliau berada kini. Rindu hati yang seringkali menampakkan godaannya, membuat saya sangat ingin selalu merangkai kata tentang beliau. Ibunda, ketika kami masih bersama-sama di kampung halaman. Pada waktu saya, Onna, Own, Ody masih dalam usia sekolah, setiap pagi Ibunda senantiasa menyalakan radio untuk kami. Adapun salah satu dari siaran radio yang beliau putar setiap pagi adalah BBC. Maka, dalam rangka bernostalgia ingatan dengan Ibunda, maka pagi-pagi sekali, saya mengulik-ngulik tentang BBC. Alhasil, sampailah saya pada sebuah judul kalimat yang menakjubkan di dunia maya. Saya sangat ingin berkunjung ke sana. Saya ingin menikmati langsung suasana alamnya. Saya bermimpi menjelajahinya. Berkeliling dunia. Inilah mimpi yang saya tuliskan pagi ini. Dan salah satu negara yang ingin saya kunjungi berikutnya, adalah US.

Pagi ini, saya baru saja sampai di sana. Ya, saya tiba pada wilayah yang sangat tenang. Suasana alamnya yang penuh dengan kesejukan. Ada bentangan air yang berwarna biru, akibat pantulan dari langit yang berwarna biru pula. Eyyy…, tidak hanya biru saja, warna yang ada. Lihatlah teman, lebih ke atas. Ada putih-putih awan yang sedang bergerak pelan. Terlihat pergerakannya, meski hanya dalam bayangan. Selain itu, ketika mata melayangkan pandangan ke bumi, juga ada hamparan hijau di sekitaran. Bumi, dengan segala pesonanya, membuat mata ini ingin berlama-lama memandangnya.  View yang sungguh indah. It’s very wonderful. Fantastic moment, really. Saya ingin menyentuh airnya, apakah hangat, atau dingin bak salju?

Pagi, ketika masa mulai membuka hari, menjadi jalan bagi kita untuk kembali mengingatkan diri. Diri yang seringkali terlupa akan siapa ia. Dari beberapa detik yang lalu, adakah kita mengingati sedang berada di mana kita kini? “Kalau kita masih ingat dengan mati, maka tentu kita mempersiapkan untuk menemuinya. Lalu, kalau kita terlupa dengan janjian diri yang satu ini? Apakah kita masih sudi mempersiapkan diri sebelum ia menyambut?”, begini pesan Ibunda pagi ini. Ketika kami berkomunikasi dengan sepenuh hati. Ceria. Bahagia. Aha! Ternyata juga ada tetangga kami yang sedang berkunjung ke rumah. Akhirnya, terjadilah reuni bersama. Uwo! Baa kabanyo? Hohooo.. 😀 Beliau masih seperti yang dulu. Walaupun sudah sekian lama kami tidak berjumpa, namun keeratan yang terjalin di antara kita, selamanya ada. Dengan suara yang tidak lagi terkesan muda, namun terdengar renyah dan belia. Saat ini Uwo kurang enak badan. “Semoga Uwo cepat sembuh, segar dan baikan lagi yaa.” Ai! Selalu saja begitu. Dalam kondisi yang sedemikian, beliau masih saja berjalan-jalan. “Kalau kita merasakan kurang enak badan, maka berjalanlah. Nikmati alam dan sekitarnya. Niscaya ada kesegaran yang ia sampaikan. Dengan demikian kita akan segera baikan, setelah raga merasakan hal yang berbeda, sebelumnya.” Meskipun jarak memisahkan raga, jiwa kita selalu mendamba pertemuan. But, ketika segalanya ingin kita cipta, pertemuan suara dapat menjadi jalan. Saat berbincang-bincang via telepon, kami merasakan pertemuan.

Pagi dan mimpi. Seperti halnya komunikasi yang kembali tercipta saat berjauhan raga. Maka rasanya sudah ada pertemuan seketika itu juga. Begitu pula halnya dengan pagi dan mimpi ini. Walaupun saat ini saya belum menginjakkan kaki di bumi nun yang berada di ujung samudera. Namun dengan perantara lembaran ini, saya dapat segera berada di sana. Hingga menjadinyatalah mimpi walau masih dalam bayangan, untuk saat ini. So, sweet. I wish to meet you, … “The US Virgin Islands.”

Pagi. Mengalirkan hasil pikir dan suasana hati dapat kita lakukan pada waktu pagi.  Karena pagi adalah gambaran tentang waktu-waktu yang selanjutnya akan kita jalani. Ketika pagi ini kita mulai merangkai senyuman, semoga hingga siang hari, senyuman senantiasa menemani kita sebagai teman dalam berbagi. Begitu pula dengan waktu yang berikutnya. Ai! Bukankah ini bagian dari nikmat yang perlu kita syukuri, wahai diri? Buat apa menyibukkannya dengan hal-hal yang kurang berarti. Bukankah hanya hari ini kita ada. Lalu, bagaimana dengan mimpi yang sedang kita rangkai saat ini? Apakah ia akan menjadi nyata? Dengan keyakinan, mari kita ikut apa Mau-Nya.

Pagi. Setiapkali pagi menyapa, ada seberkas lembar yang perlu kita tulisi bersamanya. Lembaran yang akan menjadi lebih banyak lagi, kalau setiap pagi kita menulisinya satu lembar saja. Lembaran yang akhirnya berganti nama menjadi catatan perjalanan kita dalam rangka mengumpul mimpi, kemudian menebarkannya ke seluruh alam. Agar kita pun tahu, bahwa mimpi itu bukan hanya untuk keperluan kita saja. Namun, siapapun juga yang sangat ingin bersama-sama dengannya, silakan saja. Bukankah dengan begini, kita menjadi lebih mudah untuk berbagi?  Berbagi mimpi. Xixixiii…

🙂 🙂 🙂

“Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S Al A’raaf [7]: 128)

Keliling Dunia, Ini Mimpiku

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s