Setiap Detik Waktu Kita


Impian menjadi Penulis

Impian menjadi Penulis

Sepotong roti, menjadi menu sarapan hari ini. Yes! Ada cokelat di tengahnya. Mmmm…. so sweet. Tidak sampai lima menit, sang roti sudah menghilang saja. Ia sembunyi di perutku. Melalui mulut, dari tangan, ia segera berpindah ke saluran pencernaan yang kedua. Untuk selanjutnya, melanjutkan perjalanan ke negerinya yang abadi. Kita pun begitu. Sesungguhnya, baik kita menyadari maupun pura-pura lupa sama sekali, saat ini juga kita sedang dalam perjalanan seperti roti. Kita juga akan mati. Kita pun akan menghilang tanpa jejak. Kalau kita tidak melangkah pada jalur yang memungkinkan kita untuk berjejak saat melangkah. Apakah kehadiran kita di dunia yang hanya sementara ini, akan menjadi seperti demikian? Tinggal menjawab sendiri, yaa. Karena saya yakin, setiap kita mempunyai jawaban yang paling masuk akal dan mudah untuk dimengerti.

Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mengingat kematian. Salah satunya adalah dengan mengingat perjalanan roti. Roti yang tidak bernyawa, ia yang tanpa rasa, tidak punya pikiran apalagi cita-cita. Roti yang dicipta, untuk memberikan manfaat bagi sesiapa saja yang memerlukan perannya. Roti yang tanpa cita, namun ia dicipta oleh orang-orang yang mempunyai cita. Sehingga, ia mampu memberikan makna dan arti. Apalagi kita? Insan istimewa yang Allah ciptakan dengan pikiran yang sempurna, bersama perasaan dan raga yang membersamainya. Dengan semua itu, kita menciptakan cita dan impian untuk kira raih. Seiring dengan perjalanan waktu yang terus juga berjalan, kita terus menempuh beraneka proses untuk meraih apa itu cita. Ini dimulai semenjak kita berkenalan dengannya, lalu membersamainya lebih sering dengan sebagian waktu yang kita miliki.

Sekalipun kematian bukan berada dalam cita dan impian kita, namun ia pasti kita alami. Kematian yang menjadi cita secara tidak langsung. Ai! Sudahkah kita menjadikannya bagian dari salah satu ujung perjalanan kita di dunia ini. Eits! Jangan salah, yaa… kematian tidak selalu berada di ujung cita kita. So, ia tidak boleh kita tempatkan pada posisi yang ke dua, yang ke tiga, yang ke empat, yang ke lima, ke enam, dan seterusnya. Apalagi untuk menempatkan kematian pada posisi terakhir. Ai! Sebegitu yakinkah kita akan usia yang hanya titipan ini?

Mengingat tentang cita, impian, dan kematian, saya teringatkan dengan seorang soulmate-ku di kota ini. Beliau yang saat ini tiada lagi di sini. Ya, kita belum lagi dapat bertemu, bersapa, bersama untuk menempuh cita bersama. Beliau yang begitu pemurah, baik hati dan sangat dermawati. Beliau yang sangat murah berbagi, gampang banget memberikan bantuan pada diri ini. Cucu, begini nama beliau. Seorang soulmate yang saya kenal ketika kami masih menempuh pendidikan di LP3I. Pada bulan-bulan awal masa pendidikan, kami tidak saling mengenali. Hingga satu tahun belum genap semenjak kami berada di salah satu lembaga pendidikan di kota ini, akhirnya kami berjodoh. Saya berkenalan dengan beliau. Bagaimana awal perkenalan kami? Seingat saya, tidak ada yang istimewa ketika kami berjumpa untuk pertama kalinya. Tidak ada pesta meriah yang menjadi jalan perjumpaan kami, sebelum berkenalan. Tidak pula melalui perantara siapa-siapa.

Cucu, pertama kali saya melihat beliau, karena tampilan yang menyejukkan pandangan. Dengan lembaran hijab yang menghiasi raga beliau, saya menjadi tertarik. Tidak sekali dua kali memang, saya melihat beliau berjalan, sebelum kita berkenalan. Kadang, beliau berjalan dengan sendiri, namun tidak jarang pula berduaan. Ai! Ini anak, kembaran atau bersaudara yaa. Seperti sepasang merpati yang tidak terpisahkan oleh cuaca, kemana-mana pasti terlihat berdua. Sangat sering ini terjadi. Sehingga, perjalanan dua orang remaja putri ini mencuri perhatianku lebih sering. Maskanah atau Diyah, adalah nama pasangan yang akhirnya saya kenali juga. Cucu dan Diyah adalah sahabat sejati. Dalam banyak kesempatan, saya sempatkan waktu untuk merangkai tanya, “Siapakah dua orang perempuan yang unik ini?” Dari waktu ke waktu, tanya demi tanya terus saja bertanya. Hingga tanpa saya sadari, sudah sekian banyak tanda tanya yang melingkupi ruang pikir ini. Hatiku bertanya pula, ikut-ikutan menanyai. Rasa penasaran yang super tinggi itu melebur, setelah kami akhirnya berkenalan. “Saya Cucu… Saya Diyah…,” eh, engga gini, ding… mereka memperkenalkan diri. Ini hanya ilustrasi. Kalimat sejenis sebagai awal perkenalan, menjadi pembuka jalan bagi saya untuk mengenal beliau lebih dekat.

Lama kelamaan, hari demi hari terus berganti. Satu bulan, dua bulan, tahun demi tahun pun berlalu. Sampai pada hari ini, beliau tiada lagi di sini. Kita tidak lagi dapat bersama. Karena di antara kami, telah mempunyai jalan yang berbeda. Setelah menyelesaikan pendidikan di LP3I, masing-masing pun meneruskan cita yang pernah tercipta. Cucu yang akhirnya kembali ke kampung halamannya, Cianjur, untuk mengabdi dengan sepenuh hati. Diyah, yang baru beberapa bulan yang lalu, telah menikah. Ai! Bagaimana kabarmu hari ini, teman-teman…? Saya rindu padamuuuuuuu… hiksss, (saya menangis dengan airmata yang tidak lagi mampu mengalir di pipi. Saya menangis, namun senyuman juga menebar indah. Saya menangis, tapi di mana bulir-bulir bening itu sekarang berada? Saya menangis, tetapi ada sejenis kelegaan yang melingkupi ruang jiwa. Saya menangis, menangis dengan gemuruh jiwa yang semakin menggebu. Namun, masih ada senyuman yang tersisa. Menangiskah ini? Ketika kerinduan tidak lagi dapat diungkapkan dengan kata-kata, hanya ada sebaris suara yang muncul dari jiwa, “Semoga beliau semua baik-baik saja.”)

Cucu dan Diyah, adalah soulmate-ku. Keduanya adalah para lulusan dari pondok pesantren al-Ma’sum di Cianjur.  Banyak kisah yang beliau sampaikan tentang warna-warni hari selama menjadi santriwati. Saya hanya dapat membayangkan tentang apa yang beliau alami. Karena saya, belum pernah mengalami. Hanya membayangkan dan mengalirkan pikir sejauh-jauhnya. Hingga, sampailah ia pada sebuah tayangan film berjudul, “Perempuan Berkalung Sorban.” Ya, saya pernah menonton film ini. Dan di sana, ada episode yang mengisahkan tentang kehidupan di pesantren. Dengan demikian, sedikit walau tidak banyak, saya mengerti bagaimana kehidupan yang beliau jalani selama masa remaja, dulu.

Cucu dan Diyah, mengenalkan saya pada organisasi-organisasi yang beliau ikuti  lebih dahulu. Ya, ketika masa pendidikan di LP3I, kami memang tidak satu program studi. Beliau berdua mengambil program studi komunikasi, sedangkan saya akuntansi. Kami berbeda semenjak semula. Kami tidak akan pernah saling mengenal, kalau kami tidak berkenalan. Kami juga tidak akan menjadi akrab, kalau tidak sering bersama. Pada berbagai kesempatan waktu yang luang, kami manfaatkan untuk berjumpa. Termasuk ketika jam istirahat menyapa. Saya ingat, ketika itu Cucu membawa bekal dari rumah. Ketika pada jam istirahat tiba, kami berjumpa dan makan bersama. Ai! Ketika mengingat semua kisah itu, saya terharu lagi. Saya pun menangis, tanpa airmata. Saya menangis dengan jiwa yang menggelora. Saya menangis, dan menangis lagi. Kemanakah beliau saat ini? Cucu yang baik hati, adakah engkau baik-baik saja, teman…

Ingatanku pada Cucu, belum akan pernah berakhir. Ia akan selamanya hadir. Terlebih lagi, ketika beberapa bulan semenjak kita menamatkan pendidikan, beliau pun pindah ke daerah lain, namun masih di kota ini.  Beliau memilih pindah agar lebih dekat dengan lokasi tempat beliau beraktivitas. Berhubung, beliau bekerja di tempat tersebut. Di Cibiru, beliau sempat menetap untuk beberapa lama.  Walaupun jarak membatasi pertemuan raga, kami pun menerjangnya dengan segera. Karena, kami sangat ingin berjumpa untuk melepas kerinduan yang selalu saja menggoda. Lebih sering kerinduan menyapa, setiap kali itu pula, kami saling mengunjungi. Adakalanya, Cucu yang datang ke sini, tidak jarang pula saya yang pergi ke tempat beliau. Yes! Dengan begini, semakin akrablah persahabatan kami.

Saling berbagi cerita, tersenyum dan tertawa dan merenungkan keberadaan diri, inilah aktivitas-aktivitas yang kami lakukan ketika kesempatan jumpa kembali terjadi. Saling berbagi meski suara hati, menjadi jalan bagi kami untuk saling memunculkan motivasi lebih sering lagi. Agar, kehidupan yang sedang kami jalani menjadi semakin terasa hidupnya. Ada waktu di mana kita mempunyai kelebihan rezeki, berbagi adalah solusi untuk melonggarkan jiwa. Berbagi tidak hanya materi, namun nasihat, pesan dan kesan yang tercipta selama kebersamaan, dapat menjadi jalan bagi sahabat yang lain untuk dapat kembalikan senyuman. Ya, ada kesan tersendiri yang terpetiki, setiapkali kami bersilaturrahim.  Pun, banyak makna dan hikmah yang dapat menjadi bahan pelajaran, kalau saja kita berkenan untuk memetiknya. Ya, hikmah itu tidak datang dengan sendirinya, kalau kita tidak menghampirinya. Ia akan berlari meninggalkan kita, kalau kita tidak segera menangkap sebelum ia pergi. Hikmah itu akan hilang tanpa bekas, sekiranya kita tidak menitipkannya di ruang jiwa. Ia akan menjadi tiada, tanpa kita tuliskan walau satu kata.

Pada suatu hari, saya berkunjung ke kostan Cucu. Setelah beberapa bulan semenjak kita berjarak raga, semenjak pertemuan kita yang terakhir. Saya masih ingat, beliau sangat suka mengingat kematian. Cucu yang eks santriwati, tentu lebih mempunyai pengetahuan agama melebihi saya yang tamatan dari sekolah umum. Beliau yang lebih paham dengan agama, mempunyai hapalan yang lebih kuat. Oleh karena itulah, alasan mengapa saya mau berkenalan lalu berteman akrab dengan beliau. Agar saya dapat menjadikan beliau sebagai jalan yang menghantarkan saya menjadi seorang yang lebih baik lagi. Karena sebelumnya, saya mengerti dan paham sangat, bahwa dengan siapa kita berteman, maka secara tidak langsung akan menjadi jawaban bagi siapapun yang bertanya tentang, “Siapakah kita?”

Cucu, adalah salah seorang sahabat saya yang suka menulis. Beliau sangat senang merangkai catatan-catatan penting. Saya juga pernah melihat beliau mempunyai diari. Keakraban yang tercipta di antara kami, memberikan keleluasaan bagi saya untuk mengenal Cucu lebih dekat lagi. Dari diari ataupun catatan penting yang singkat sekalipun, saya pun memetik buah ilmu. Pernah, pada suatu hari, ketika kunjungan ke kostan Cucu di Cibiru, saya melihat ada sebuah kertas menempel di dinding. Kertas ukuran A-4 yang telah penuh berisi tulisan tangan beliau, tersenyum padaku. Kertas tersebut seakan berkata begini, “Hai… lihatlah pada kami, di sini kami punya pesan untukmu. Bagaimana? Maukah engkau berkenalan pula dengan kami?”

“Hiiy…? Cucu, mengapa menulis kalimat-kalimat yang seperti ini?,” tanya saya pada Cucu, ketika itu. Ya, karena saya sangat merasa aneh. Ketika beliau menulis baris-baris kalimat tentang kematian. Selain itu, juga ada kalimat-kalimat indah yang intinya tentang cita dan impian. “Iyaa, agar kita selalu ingat pada kematian, selagi kita menempuh jalan dalam merangkai cita,” begini jawaban yang saya terima dari Cucu. Kalimat yang hanya terdiri dari beberapa kata, namun ia bermakna. Ditambah lagi dengan penegasan yang sahabat sampaikan, ketika saya mengajukan tanya. Sahabat, selamanya ia menjadi jalan bagi kita untuk senantiasa terjaga. Karena sahabat yang baik, adalah beliau yang membuat kita merasakan penjagaannya tiada henti. Walau sekalipun, tiada lagi beliau di sisi.

Dalam catatan yang memenuhkan kertas berukuran A-4 dan menempel indah di dinding, Cucu mendeskripsikannya dengan gambar, pula. Beliau menggambar sepasang insan yang sedang tersenyum bahagia, terdiri dari laki-laki dan perempuan, di bagian ujung. Diilustrasikan dengan tulisan (PEREMPUAN + LAKI-LAKI = SUAMI + ISTRI). Kemudian, di samping kiri gambar tersebut, ada seorang muslimah yang sedang tersenyum. Beliau menempelkan foto beliau sendiri. Perempuan berjilbab pinki. Saya masih ingat senyuman itu, indah sekali. Dengan tarikan kedua bibir yang seimbang ke samping kiri dan samping kanan. Lurus. Simetris. Yes! Inilah senyuman yang sejati. Senyuman yang mengesankan. Setelah itu, di bagian kiri foto wajah tersebut, ada tulisan lagi, “MASA KECIL.”

Tampilan yang sederhana dan sepertinya tanpa makna, kalau kita tidak memperhatikannya dengan saksama. Ya, oleh karena itulah saya bertanya, pada Cucu, ketika menyaksikan gambar demi gambar beserta tulisan yang berbaris. Ya, lihatlah teman…. di antara tulisan, dari gambar ke gambar, beliau membentangkan sebuah garis lurus dengan posisi vertikal. Garis tersebut, terletak sebelum tulisan (PEREMPUAN + LAKI-LAKI = SUAMI + ISTRI). Lalu, di ujung garis tersebut bagian bawah, ada tulisan yang terukir dengan warna berbeda dari yang lainnya. “KEMATIAN.”

Saya terkaget saat menyaksikannya untuk pertama kali. “Wahai, bagaimana ini… teman? Mengapa engkau menciptakan catatan yang seperti ini?” Kemudian  beliau menenangkan saya, dengan kelembutan tutur kata yang sahaja, cerminan pribadi beliau. “Karena kita tidak pernah tahu, kapan kematian menyapa. Apakah saat kita sedang tersenyum, ataukah ketika kita sedang berbahagia. Ia akan datang kapan saja. Bisa jadi kita mencita-citakan hari-hari yang indah pada kemudian hari, namun yakinkah kita akan mempunyai kesempatan untuk menempuhnya? Ketika tiba-tiba, kematian datang sebelum kita sampai pada waktu yang telah kita tetapkan. Misalnya, kita bercita-cita untuk menamatkan pendidikan satu tahun lagi. Dalam masa satu tahun tersebut, kita tidak dapat memastikan apakah akan mempunyai usia ataukah kita sudah tiada. Begitu pula dengan rencana untuk membangun rumah tangga. Ketika kita telah merencanakan dengan sangat sempurna dan merancangnya sedemikian rupa. Bagaimana dengan perjalanan yang sedang kita tempuhi? Itulah makna dari catatan ini,” kata beliau mengakhiri penjelasan diiringi dengan senyuman yang beliau tebarkan pada saya.

Cucu, dimanakah dikau kini, Nduk…?  Semoga kita dapat berjumpa kembali ya, agar ada makna dan bahan pelajaran selanjutnya yang engkau sampaikan pada diri ini. Karena saya tahu, siapa engkau, teman… Buat Diyah yang sedang berbahagia, selamat melanjutkan langkah, teman… Semoga bahagianya terus berangkaian hingga dalam waktu yang tiada dapat ditentukan.  Selamat, yaa.

🙂 🙂 🙂

Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seumpama bangunan saling mengokohkan satu dengan yang lain. (Kemudian Rasulullah Saw merapatkan jari-jari tangan beliau). (Mutafaq’alaih)


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s