Untaian Kalimat Penuh Cinta


With Love

With Love

Selama ini kumencari – cari
Teman yang sejati
Buat menemani
Perjuangan suci

Bersyukur kini pada-Mu Ilahi
Teman yang dicari selama ini
Telah kutemui

Dengannya disisi
Perjuangan ini
Tenang di harungi
Bertambah murni kasih Illahi

Kepada Mu Allah
Kupanjatkan doa
Agar berkekalan kasih sayang kita

Kepada Mu Teman
Kupohon sokongan
Pengorbanan dan pengertian

Telah kuungkapkan segala – galanya

Kepada Mu Allah
Kupohon restu-Mu
Agar kita kekal bersatu

Kepada Mu Teman
Teruskan perjuangan
Pengorbanan dan kesetiaan

Telah kuungkapkan segala – galanya

Itulah tandanya
Kejujuran kita
a.. a.. a…..
Kumencari – cari teman yang sejati
Buat menemani perjuangan suci
o.. o… a.. a….

(Teman Sejati – Brother)

Selirik yang menyenandung dari VLC media player, adalah pembuka aktivitas Yani di lembaran nan bercahaya ini. Ya, karena ia akan melanjutkan langkah-langkahnya lagi, semenjak awal hari, pagi-pagi sekali. Masih gelap, kelam dan belum ada mentari, ketika ia memulai aktivitas di sini. Mengapa ia kembali ke halaman ini? Padahal, masih ada lembaran lain yang menyediakan kesempatan terbaik baginya untuk meninggalkan jejak. Namun, mengapa mesti di sini? “Mengapa? Mengapa? Mengapaaaaaaa? Mengapa, Yan?,” ku ulang tanya ‘mengapa’ beberapa kali padanya. Akan tetapi, awalnya Yani engga berkutik sama sekali. Ia tidak menanggapi, akan sapaku. Lalu, akupun melirikkan seraut tatap padanya. Dengan memiringkan wajah lima derajat ke kiri, ku tatap matanya dengan hati-hati. Ia yang terlihat sangat serius, terus saja menggerakkan jemari tanpa peduli. Ia mencuekiku. Ia tega padaku. Kemudian, akupun ingin berlalu darinya. Aku tidak ingin bersamanya lagi, meski untuk menyampaikan sebait tanya, berisi kata mengapa. Ai! Mengapa? Aku masih menyimpan tanya yang terus saja hadir. Namun, sebelum pergi meninggalkan Yani di sini, saya masih ingin membersamainya. Karena ia adalah sahabatku.

Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menghulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria

Kini dengarkanlah
Dendangan lagu tanda ingatanku
Kepadamu teman
Agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu

Kenangan bersamamu
Takkanku lupa
Walau badai datang melanda
Walau bercerai jasad dan nyawa

Mengapa kita ditemukan
Dan akhirnya kita dipisahkan
Mungkinkah menguji kesetiaan
Kejujuran dan kemanisan iman
Tuhan berikan daku kekuatan

Mungkinkah kita terlupa
Tuhan ada janji-Nya
Bertemu berpisah kita
Ada rahmat dan kasih-Nya

Andai ini ujian
Terangilah kamar kesabaran
Pergilah gelita hadirlah cahaya

Diselamanya

Lirik berikutnya kembali mengalun dengan indah, syahdu menyimaknya. Saya pun terlarut seketika. Ikut menyimak lirik demi lirik yang ‘Brother’ suarakan; Untukmu Teman.

Sudah lama saya engga berjumpa denganmu,  Yan. Namun kini, ketika kita kembali bersua, engkau  malah membiarkan saya begitu saja. Mengapa? Mengapa? Lagi dan lagi, tanya mengapa mengalir begitu saja, dari bibir ini. Pada Yani yang sangat saya sayangi, “Tolong, Yan…, jangan diamkan aku lagiii… please.” Saya memohon padanya dengan tatapan mata yang mengiba. Berlutut, bersujud, aiii…. engga sampai bersujud segala, koq, ini hanya hiperbola. Kalimat bersujud, hanya untuk menjelaskan, bagaimana upaya yang saya usahakan untuk membujuk Yani yang sedari tadi engga mau berekspresi sama sekali. Hohooo… Bukankah bersujud kita hanya kepada Allah saja. Only Allah, untuk kita bersujud.

Setelah beberapa saat kemudian, lirikpun berganti. Namun masih dengan munsyid yang sama. Sekarang, saya tahu bahwa ternyata judul dari lirik tersebut adalah; Warna-warna Cinta. Ai…  Yani harus tersenyum. Lalu, saya pun berpikir sepanjang jalan kenangan. Saya berdiri di samping kirinya, kemudian berpindah lagi ke depan. Kemudian ke samping kanannya. Saya muter-muter gitu, teman… Saya ingin membuatnya tersenyum. Namun, ia malah engga berekspresi sama  sekali. Saya akhirnya, duduk di sisi kirinya lagi. Kembali ke awal, lokasi saya berada tadi.  “Yaniiii…. Cintaakuuu,” seraya tersenyum, saya bergerak ke hadapannya. Saya tersenyum padanya. Eh, ia malah ikutan tersenyum. Ooh, ternyata dia senang dengan kata ‘Cinta’. Hahaaa…😀 “Kami pun tertawa bersama, kami berpelukan. Kami bereuni. Kami bergenggaman jemari.

Oiya, karena keasyikan, saya jadi terlupa mengopikan lirik warna-warna cintanya. Hahhaaa… Inilah liriknyaa yang tadi kami simak bersama, indahnyaaa…😀  Terima kasih, yaa “Brothers”.

Mereka berkata
Hidup perlukan cinta
Agar sejahtera aman dan bahagia
Andai tiada atau pudar warnanya
Meranalah jiwa gelaplah dunia

Warna-warna cinta
Yang terlukis di hatimu
Semat pada senyuman dan tangismu
Agar mewarnai
Jiwamu yang tulus
Seperti sang pelangi selepas gerimis

Mereka berkata
Cinta itu merah
Mengalir bersama titisan yang sempurna
Cinta berharga bila sudah tiada
Menjadi sejarah yang mungkin kan di lupa

Apa warna cinta
Bila hidup sengketa
Kabur warnanya

Warna-warna cinta
Yang terlukis di hatimu
Semat pada senyuman dan tangismu
Agar mewarnai jiwamu yang tulus
Seperti sang pelangi selepas gerimis
Uuuuu? selepas gerimis

 

 (Hening sejenak)

Saya melihat Yani mulai serius lagi. Ia menggerakkan jemarinya dengan cepat. Lalu, menuju VLC media player. Ia mengganti lirik menjadi, “Selamat Berjuang”. Inilah liriknya, ;

Malam siang berlalu
Gerhana kesayuan
Tiada berkesudahan

Detik masa berlalu
Tiada berhenti
Oh syahdunya

Sejenak ku terkenang
Hakikat perjuangan
Penuh onak dan cabalan

Bersama teman – teman
Arungi kehidupan
Oh indahnya o ooo

Berat rasanya
Di dalam jiwa
Untuk melangkah
meninggalkan semua

Kasih dan cinta
Yang terbina
Diakan selamanya
O ooo

Slamat berjuang sahabatku
Semoga Alloh berkatimu
Kenangan indah bersamamu
Takkan kubiar dia berlalu
Berjuanglah hingga ke akhirnya
Dan ingatlah semua ikrar kita

Hati ini sayu mengenangkan
Sengsara di dalam perjuangan
Jiwa ku merana dan meronta mengharapkan
Kedamaian dan jua ketenangan wo uwo

Tetapi kuatur pada hakikat
Suka dan duka dalam perjuangan
Perlu ketabahan dan kekuatan
Keteguhan hati berlandaskan iman

Slamat berjuang sahabatku(sahabatku)
Semoga Alloh berkatimu (berkatimu)
Kenangan indah bersamamu (bersamamu)
Takkan kubiar dia berlalu (ooooo)
Berjuanglah hingga ke akhirnya
Dan ingatlah (ingatlah) semua ikrar kita

O o ohooo ho o ohooo

Lirik yang menjadi jalan tersenyumnya ia lagi. Saya tahu, Yani sangat suka dengan lirik-lirik yang mengalun dari suara indahnya Brother. Entah mengapa… ia belum pernah memberikan alasan ataupun penegasan, tentang hal ini. Dan saya tahu aja apa-saja kesukaan Yani, apa yang ia tidak suka, dan lain-lainnya tentang Yani. Karena Yani, adalah sahabatku. Saya sangat menyayanginya dengan sepenuh hati. Meski selama kebersamaan kami, sangat jarang kami bersapa.  Namun saya begitu mencintainya. Karena Yani tiada duanya bagiku dalam kehidupan ini.  Xixiixiiii… bisanya hati berucap begini. Karena saya senang menciptakan keriuhan bersama pagi. Jadinya, tertawa sendiri, dech. Karena ulah suara hati, yang berkata seperti ini.😀

Memang, kami mempunyai sedikit waktu untuk bersama. Karena ia seringkali sibuk sendiri. Entah apa yang ia lakukan dalam menjalani hari demi hari. Saya juga engga mengerti. Ini terjadi, semenjak beberapa tahun yang lalu. Tepatnya, semenjak ia terlahir ke alam ini. Ia begitu pendiam, ia jarang bercerita tentang aktivitas yang sedang ia jalani. Jangankan untuk mengurai kisah, tersenyum saja sudah cukup baginya ketika kesempatan berjumpa. Hal ini sudah membuat ia bahagia sangat. Karena senyuman, sangat berarti baginya. Tapiiiii….. ketika ia belum lagi tersenyum, maka tugas saya untuk membuatnya tersenyum lagi. Seperti yang baru saja berlangsung. Ia yang awalnya begitu serius dan manyun, ternyata tersenyum juga akhirnya. Ai! Cinta adalah satu kata yang mampu mencairkan suasana. Inilah yang seringkali saya lakukan, untuknya. Dengan mencintainya, tidak hanya mengucapkan kata cinta, padanya.

Sebelum datang ke halaman ini, saya melihat Yani membaca sesuatu. Ketika saya bertanya, Yani sedang membaca apa? Ia tidak menjawab. Ketika saya menyapa, ia tidak menyahut. Ia konsentrasi dengan aktivitasnya. Lalu, sayapun penasaran dengan apa yang ia lakukan. Tidak terlihat jelas, apa tulisan yang terdapat pada lembaran yang ia baca. Kalau saya tidak memutar kepala seratus delapan puluh derajat ke arah bawah. Karena, lembaran tersebut sedang berada di atas pangkuannya. Lembaran tersebut terbuka. Ia sedang membaca, ketika saya mendatanginya. Di antara kedua telapak tangannya, ada barisan kalimat-kalimat yang saya sangat tidak mengerti, maknanya. Karena kalimat tersebut dalam bahasa Arab. Ai… Yani sedang mengaji.  Saya biarkan ia, saya tunggu sampai ia menyelesaikan bacaannya. Saya menyimak apa yang ia baca. Saya menatap matanya yang berkaca-kaca. Terkadang ia tersenyum, dan pada kesempatan lain ia terdiam lagi. Ia membuka lembaran yang berikutnya. Entah sudah berapa halaman yang ia baca semenjak tadi. Namun, saya yakin ia sudah membersamai lembaran tersebut semenjak lama.

“Lama ku menanti…. lama ku duduk di sini…..,” suara siapa, yaa.

Beberapa saat kemudian, saya melihat Yani meraih sebuah benda lain. Apakah itu? Setelah memperhatikan dengan saksama, saya pun menjadi tahu. Ia sedang membuka sebuah buku. Buku apakah itu? Wah! Indah tampilannya. Namun, ada keanehan yang saya saksikan, ketika Yani membuka lembar demi lembarnya. Masih ada tulisan dengan kalimat-kalimat seperti yang saya lihat pada lembaran sebelumnya. Yach, lembaran tersebut juga ada tulisan Arabnya. Akan tetapi, ada kalimat-kalimat lain yang bertuliskan bahasa Indonesia. Keciiil sangat. Entah berapa ukuran ‘font’ dari huruf-huruf tersebut. Yani pun membacanya dengan sangat hati-hati. Saya seringkali melihatnya terdiam begitu lama, ketika selesai membaca sebaris kalimat. Kemudian, ia melanjutkan lagi membaca, saat sebaris kalimat telah selesai ia baca. Begitu seterusnya, sampai akhirnya ia pun membalik lembaran, yes! Kini ia berada pada lembaran yang berikutnya. Ia sangat serius.

Lalu, tanpa membuang-buang waktu, saya sempatkan melirik ke salah satu halaman yang sedang ia baca. Ada baris-baris kalimat yang saya mengerti. Karena Yani sedang membaca terjemahan dari kalimat-kalimat berbahasa Arab yang telah ia baca dari lembaran yang sebelumnya. Dari rangkaian kata, saya yakin ini kalimat bukanlah kalimat biasa. Dari susunannya yang tertata, saya yakin banyak pesan, makna dan petunjuk di dalamnya. Meskipun Yani belum memahami bacaan bertuliskan bahasa Arab, namun ia terus berusaha untuk mengerti apa yang tadi ia baca. Oleh karena itulah, kini ia membuka lembaran yang berbeda. Ada dua bahasa dalam lembaran kali ini. Bahasa arab dan bahasa Indonesia. Subhanallah… banyak pesan cinta yang terkandung di dalamnya. Kalau saja Yani tidak membacanya, tentu ia tidak akan pernah tahu akan hal ini. Adapun kalimat-kalimat yang sedang ia baca adalah, firman-Nya ;

🙂🙂🙂

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.

Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.

Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.

Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.

Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Qur’an itu adalah kitab yang mulia.

Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Tuhan kamu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih.

Dan jika Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?”. Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh”.

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat lalu diperselisihkan tentang Taurat itu. Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan. Dan sesungguhnya mereka terhadap Al Qur’an benar-benar dalam keragu-raguan yang membingungkan.

Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya).

Kepada-Nya lah dikembalikan pengetahuan tentang hari kiamat. Dan tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuan pun mengandung dan tidak (pula) melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Pada hari Tuhan memanggil mereka: “Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu?”; mereka menjawab: “Kami nyatakan kepada Engkau bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang memberi kesaksian (bahwa Engkau punya sekutu)”.

Dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu, dan mereka yakin bahwa tidak ada bagi mereka sesuatu jalan keluar pun.

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.

Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya”. Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.

Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.

Katakanlah: “Bagaimana pendapatmu jika (Al Qur’an) itu datang dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?”

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?

Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.

(Q.S Al Fushshilat [41] : 30 – 54)


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s