Bersamamu Meraih Cita



“Jangan jadi orang biasa di komunitas orang-orang luar biasa” (Gin Gin Soleh Ginanjar)

 

Sebuah kalimat yang terdiri dari rangkaian beberapa buah kata ini, baru saja saya baca. Kalimat yang bagi saya, sangat istimewa. Sehingga saya tertarik untuk menitipkannya pada salah satu lembaran catatan ini. Meskipun ada beberapa kata dari kalimat tersebut yang disingkat dalam penulisan aslinya, namun saya menuliskan lagi seperti di atas. Aslinya, “Jangan jadi org biasa di komunitas org2 luar biasa”.  Ya, saya copy, gituu.. Hehee, buat Bapak Gin Gin, mohon restunya ya Pak, untuk saya simpan di sini. Karena bagi saya, ia sangat berarti. Terima kasih ya, Pak Gin, untuk kerelaan dan kebaikan dalam berbagi ilmu dan pengalamannya.

Kalimat. Walaupun ia terdiri dari beberapa kata saja, namun kalau kalimat tersebut ditulis dengan sepenuh hati, maka dapat dipastikan mampu pula menyentuh hati. Apalagi kalau kalimat tersebut tercipta dari pikiran yang mengalir karena adanya pengalaman sebelumnya. Ya, kalimat yang hadir atas dasar kehendak untuk merangkainya, dikarenakan terdapat sebait pesan yang ingin kita sampaikan. Kalimat yang kita yakin, dapat menjadi jalan bagi kita untuk menyampaikan kepada siapa saja, tentang ilmu yang telah kita peroleh sebelum ia tercipta. Karena tidak semuanya yang kita temui, kita jalani dan kita lakukan, orang lain juga mengalami hal yang serupa. Atas dasar munculnya keinginan untuk berbagi makna, maka kalimat tersebutpun, ada.

Kalimat, tidak ada cara yang dapat kita lakukan untuk dapat menciptakannya, kecuali merangkainya. Merangkainya baik dalam bentuk aliran suara yang terdengar, maupun menuliskannya langsung dengan jemari yang bersiap semenjak semula. Karena, ia tidak akan pernah ada, kalau kita tak merangkainya. “Kan, saya pernah memikirkannya?,” mungkin ini salah satu alasan yang kita ucapkan untuk membela diri. Namun, sekalipun kita memikirkan sebuah kalimat, tapi tidak segera merangkainya, maka ia tidak akan pernah ada. “Saya pernah berkata tentang kalimat ini,” hati pun ikut bersuara. Akan tetapi, mana mungkin kita tahu, bahwa hati pernah berkata tentang hal ini, kalau kita tidak pernah mau untuk menuliskannya.

Kalimat, walau sesingkat apapun ia, kalau kita mensuarakannya dari dasar jiwa, maka ia pasti bermakna. Jikalah kita bersedia untuk mendengarkan bait-bait nada yang ia sampaikan, lalu menangkapnya dengan cepat, agar tidak pergi, save it in our mind. Kemudian, alirkan ia dengan menggerakkan jemari. Alirkan ia lewat sebuah pena yang bergerak. Apapun warna tintanya, tuliskan saja. Tapi, jangan pernah menulis dengan pena yang tanpa tinta, karena akan sia-sia saja kerjaan kita. Ya, sia-sia karena kita tidak akan pernah dapat membaca kalimat seperti apa yang telah kita rangkai. Bukankah pekerjaan yang sia-sia itu perlu kita hindari dengan sesungguhnya?

Kalimat, ia bukanlah sesuatu yang tanpa makna. Karena kalimat, walau bagaimanapun juga ia tercipta karena ia ingin ada. Ia ada karena ada yang merangkainya. Kitakah yang menjadi jalan terciptanya sebuah kalimat yang bermakna? Satu makna saja belumlah cukup kiranya. So, kalau kita ingin memetik makna yang lebih banyak lagi, maka perlu bagi kita untuk menciptakan lebih banyak kalimat lagi. Karena kita tidak pernah tahu, sudah berapa banyak makna yang mampu dipetik dari sebait kalimat yang kita cipta. Sudah berapa orang yang membaca sebaris kalimat yang kita rangkai. Dan tentu saja, setiap orang mempunyai cara tersendiri dalam memetik makna. Sesuai dengan pemahaman beliau miliki.

Kalimat. Merangkai kalimat yang kita cipta adalah salah satu cara untuk mengabadikan pemikiran. Kalau saja kita berpikir lebih banyak, tentu akan semakin banyak kalimat yang kita cipta. Dan sekiranya lebih banyak lagi suara hati yang menyampaikan perasaannya, berarti kita dapat membaca lebih banyak kalimat juga, yaa. Ai! 😀 Indahnya hari-hari yang akan kita jalani ke depannya, bersama satu kata saja, ‘kalimat’. Ketika kita berpikir tentang satu cita, lalu kita menyampaikannya dalam kalimat, maka ia akan ada untuk selamanya. Begitu pula dengan sebait tanya yang hadir tiba-tiba, lalu segera kita tuliskan dalam berbagai kesempatan terbaik, tentunya. So sweet…

Kalimat, ia adalah kumpulan lebih dari satu kata. Sedangkan kata, hanya akan tercipta dari huruf-huruf dan angka yang tertata. Nah! Di sinilah pentingnya kita mempunyai kejelian dalam memilah dan memilihnya. Apakah kita akan menitipkan huruf ‘k’ terlebih dahulu sebelum sebuah kata tercipta, lalu memilih huruf ‘m’ untuk mengawali kata yang berikutnya? Semua terserah pada kita. Karena untuk merangkai sebuah kalimat yang terdiri dari banyak kata, kita tidak boleh semaunya. Kita perlu ciptakan kata-kata dalam kalimat yang lebih bermakna, kaan? So, keep in using our mind and our soul when we are arranging sentences. Dengan demikian, sebaris kalimat yang engkau rangkai sangat menentukan bagaimana isi pikiranmu dan tentang suara hatimu.

Kalimat. Untuk merangkainya dengan baik, kita memerlukan latihan yang berkepanjangan. Dari waktu ke waktu, kita perlu mengusahakan agar ia dapat tercipta dengan sempurna. Namun, adakah cara lain dalam menguraikannya, kecuali merangkainya segera? Kalau bukan dengan hasil pikiran yang hadir, bagaimana kita dapat menangkap makna sebuah kalimat? Kalau tidak ada yang menciptakannya, bagaimana kita dapat membaca meski satu kalimat sekalipun? Wahai teman, dapatkah kita membayangkan bagaimana proses yang penulis tempuh sebelum menuliskan sebuah kalimat yang saat ini kita baca? Adakah kita mengetahui harapan apa yang tersirat dalam sebaris kalimat yang tersurat?

Kalimat, ia tidak akan hadir dengan sendirinya, kalau tanpa makna. Begini. Ya, begini. Seperti sebait kalimat yang saya titipkan pada awal catatan kali ini.   Di dalam kalimat tersebut, terdapat satu pesan penting yang dapat kita petik, ee… 😀  yang dapat saya petik. Bahwa, ketika kita berada dalam suatu komunitas, maka menjadilah seorang yang istimewa. Ini adalah makna yang saya petik dari kalimat tersebut. Hohohooo… Karena setiap pembaca, mempunyai persepsi tersendiri dari kalimat yang ia baca. Kalau menurut engkau bagaimana, teman…? Apakah makna yang dapat engkau petik dari kalimat yang telah beliau rangkai, tersebut?

Kalimat. Kita akan dapat menggali ada pesan apa yang tersirat dari sebaris kalimat, kalau kita membacanya. Karena dengan membaca meski sebaris kalimat, kita dapat mengenali kalimat tersebut. Selain itu, kita dapat menangkap makna penting dari sebuah kalimat, kalau kita bersedia untuk memahaminya. Walaupun kita membacanya sekilas saja, sebelumnya. Namun saat kita merenungkannya lagi dengan sedalam-dalamnya setelah membaca, maka keingetan terus dech. Hehee, ini yang baru saja saya alami. Tadinya, saya inginkan bermain-main saja di dunia maya ini. Lalu, mampir di salah satu jejaring sosial yang logonya berinisial huruf “F” ini. Dengan backgroud berwarna putih yang bening, maka kita dapat melihat jelas huruf “F”-nya. Iya kaann? Fantastic…! Fun! 😀

Kalimat. Ketika sebaris kalimat dituliskan oleh beliau yang telah kita kenal, maka kita jadi tahu tentang perjuangan yang beliau tempuh untuk dapat merangkainya. Hingga akhirnya, sebuah kalimat pun tercipta. Walaupun satu kalimatnya, namun ia menjelma banyak makna. Sesuai dengan apa yang terpikirkan oleh sesiapapun yang sempat membacanya. Oleh karena itulah, menjadi penting bagi kita untuk menyempatkan waktu merangkai meski beberapa bait kalimat dalam  waktu-waktu yang tersisa ini. Karena kita tidak pernah tahu, kapan terakhir kali kita berkesempatan untuk merangkai kalimat yang terindah.

Kalimat. Apapun jenis kalimat yang sedang kita rangkai. Apakah ia bertema persahabatan, kekeluargaan, inspirasi, motivasi, pesan, kesan, perjuangan, dan lain-lain, bebas. Apakah kita ingin menyusun kalimat yang berhubungan dengan alam, cuaca, perubahan ataupun perkembangan apa saja yang terjadi di sekitaran, bebas. Apakah kita sangat ingin merangkai puisi, cerpen, atau sejenisnya, bahkan tentang kisah perjalanan bernama catatan harian, juga bebas. Apakah kita ingin mengabadikan waktu-waktu dan aktivitas yang kita jalani dengan menuliskannya? Itu terserah kita. Apakah kita ingin menyampaikan sebait sapa pada siapapun di sana? Boleh saja. Namun, inti dari kalimat adalah susunan dari beraneka kata yang terdiri dari huruf-huruf yang menyatu. Lalu, susunan huruf-huruf seperti apakah yang akan kita sampaikan? Ini perlu kita perhatikan. Apakah kalimat kita berarti bagi beliau di sana?

Kalimat. Meskipun sebaris saja, namun ia berarti kalau kita menyimpan pesan di dalamnya. Ia akan sampai pada sesiapapun yang menjadi tujuannya, ketika beliau membaca. Untuk itulah, perlu bagi kita menuliskan dengan bentuk kalimat, kalau kita ingin mengalirkan hasil pikir. Apa yang terpikirkan oleh kita? Niscaya ia akan selamanya bersemayam kalau kita tidak mengalirkannya segera. Ia akan mengendap, berlama-lama dan akhirnya begitu saja ia selamanya. Hanya kita yang tahu tentang keberadaannya. Dan ia tidak akan pernah sampai pada siapapun yang membutuhkannya, selain kita saja yang tahu. Akan tetapi, kalau kita merangkai apa yang kita pikirkan dalam bentuk tulisan, maka kita tidak pernah tahu, banyak yang memerlukannya juga, ternyata. Wahai, beruntungnya engkau yang menjadi jalan sampainya hasil pikir. Wahai kalimat…. you are so cool.

Kalimat, walau ia tidak bergerak ke mana-mana, namun ia mampu menggerakkan siapa saja yang mau bergerak bersamanya. Meskipun sebaris kalimat yang telah tercipta itu akan selamanya berada pada tempat kita menitipkannya, namun ia akan pergi ke mana-mana, kalau ada yang membawanya. Ai! Ia pun akan menjadi jalan sampaikan kita ke negeri di mana ia berada, sekalipun. Wahai kalimat-kalimat yang berbaik hati, ajak saya keliling dunia, dong… kan kita bertemaaaannnn… 😀 Bukankah sesama teman, kita mesti saling mensenyumkan? Bagaimana… bagaimanaaa…. bukankah salah satu mimpi yang pernah saya rangkai bersamamu adalah, “Keliling Dunia, Ini Mimpiku.”

Kalimat. Ia tidak akan pernah  menjawab apa yang kita sampaikan, sekalipun kita menanya dengan banyak tanda tanya. Namun, ia dapat menjadi jalan yang mampu menjawab tanya-tanya yang kita hadirkan. Karena kalimat tidak menjawab, maka tidak perlu menanyainya lagi. Namun, alirkanlah tanya yang muncul dari dalam pikiran kita, melalui baris-baris kalimat yang kita cipta. Kapan engkau mengajak saya keliling dunia, wahai kalimat-kalimat yang menawan. Saya sangat ingin, lho… menyaksikan dunia lain di sana. Seperti yang pernah saya saksikan di alam maya, pemandangan yang ada di luar sana, sangatlah indahnya. Ia begitu bening, bersih dan terlihat menyejukkan. Begitukah aslinya?  Alam yang kehijauan dengan dedaunan yang melambai-lambai tertiup angin, menjadi jalan hadirkan senyuman ini. Ya, untuk saat ini saya hanya mampu mensenyuminya dari kejauhan.

Kalimat, ia mampu memberikan jawaban tanpa jawaban. Namun kita tidak akan pernah mampu menemukan jawaban dari kalimat yang menjawab, kalau kita tidak segera menuliskannya. Karena, kalimat hanya akan tercipta kalau kita berusaha untuk merangkainya. Ia ada kalau kita berusaha untuk menjadikannya ada. Lalu, jawaban apa yang sedang kita rangkai, maka demikian pula jawaban yang kalimat berikan pada kita. Wah! Saya jadi heran dengan kalimat-kalimat ini. Mengapa ia membuat saya bertanya lebih sering, yaa. Ada apa denganmu, wahai kalimat? Mengapa engkau membuat saya menjadi begini? Saya tidak mengerti dengan semua ini. Ai! Saya mau menemukan jawaban dari tanya yang hadir, namun engkau malah memberikan jawaban yang tidak engkau jawab. Ooh, begitu, yaa…

Kalimat. Entah apa makna yang ingin ia sampaikan dalam catatan kali ini. Namun yang pasti, saya sedang berusaha untuk merangkai kalimat sebanyak-banyaknya. Karena, beberapa saat lagi, saya ingin membacanya kembali. Meski bukan saat ini. Namun, tenang. Dalam merangkai kalimat yang saat ini sedang engkau baca, wahai teman… saya menyelinginya dengan senyuman. Karena saya sangat tidak ingin kalau ia hadir lebih banyak. Tapi, wajah saja tidak tersenyum bersamanya. Padahal salah satu tujuan saya ada di sini lebih sering adalah untuk merangkai senyuman. So?

Kalimat yang kita cipta dapat menjadi jalan yang menggambarkan bagaimana isi pikiran kita. Termasuk saat ini, ketika saya merangkai catatan bertemakan kalimat. Ini terjadi, karena sedari tadi, saya terpikirkan oleh kalimat yang Bapak Gin Gin Soleh Ginanjar tuliskan. Ya, kalimat yang saya baca tanpa sengaja. Karena saya membacanya sekilas saja sebelumnya. Lalu, saya pun berlalu. Nah! Setelah itu, saya teringat-ingat tentang makna yang terlukis di sana. Akhirnya, saya balik lagi ke halaman tersebut. Untuk selanjutnya, saya mengabadikannya di sini. Agar tidak teringat terus, tentunya. Karena ingatan, kalau sudah kita alirkan maka ia akan abadi. Kecuali kalau pada kesempatan lain, saya menyempatkan waktu untuk membacanya lagi, maka ingatan tersebut akan kembali hadir. Ingatan akan makna yang terdapat pada sebaris kalimat yang tercipta.

Kalimat. Di mana pun kita menuliskan sebaris kalimat, maka ia akan selamanya ada. Meskipun pada selembar daun yang akhirnya akan mengering. Apalagi kalau kita menuliskan kalimat pada lembaran-lembaran yang memungkinkan kita keliling dunia. Ai! Kalimat adalah jalan yang menjadinyatakan mimpi-mimpi yang tercipta. Yuuks, kita merangkai kalimat dengan senyuman. Karena senyuman yang kita cipta saat ini, akan membuktikan bahwa persahabatan itu ada. Kita yang mempersahabati kalimat dengan sepenuh jiwa, maka ia pun akan mempersahabati kita dengan sebaik-baik baktinya. Sebaris kalimat adalah juga sahabat yang menemani kita. Karena kita menciptanya, maka ia ada. Kalau ia ada, bukan tanpa makna. Karena kita menciptanya, pasti dengan makna. Kalau tanpa makna, buat apa kita ada bersamanya, lalu menciptanya pula?

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (Q.S Al Furqaan [25]: 63)

🙂 🙂 🙂

    

 

  

 

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s