Alam Takambang Jadi Guru


Wahai guru menulisku, mari kita ke alam bebaaaass...
Wahai guru menulisku, mari kita ke alam bebaaaass…

“Sahabat teman suami saya baru saja meninggal. Padahal, semalam beliau masih ada. Dan sempat berolahraga. Akan tetapi, sekarang beliau telah tiada. Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan aktivitas yang kita lakukan pada malam hari. Terutama yang berhubungan dengan olah raga,” begini bunyi kalimat yang Ibu Dede sampaikan, sesaat setelah beliau membuka perkuliahan dalam kesempatan tatap muka pada awal malam tadi. Ternyata, hal inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa beliau hadir tidak seperti biasanya. Setelah lebih dari tiga puluh menit kami setia menanti kehadiran beliau. Akhirnya sang dosen datang, membawa senyuman yang beliau tebarkan kepada kami, gratis. Yes!

Saya berharap dapat mengikuti materi yang beliau sampaikan dengan baik.

Hari ini, Ibu Dede memakai kostum hijau toska. Dengan paduan warna yang senada mulai dari ujung kepala hingga ke mata kaki, beliau terlihat sangat modis. Sedangkan untuk bagian telapak kaki dan sekitarnya, beliau menggunakan sepatu pantovel dengan warna cokelat yang tidak terlalu gelap.  Tinggi sepatu yang tidak lebih dari tujuh sentimeter itu, membuat beliau begitu feminim. Keanggunan tampilan raga yang tidak lagi belia, menjadi semakin sempurna dengan polesan make up yang beliau taburkan sederhana pada wajah yang keibuan. Ai! Saya sangat ingin selalu menatap kedua bola mata beliau yang teduh dan menarik. Saya sangat ingin menyelam di dalamnya. Saya sangat ingin merasakan kesejukan alirannya. Saya ingin berendam di sana untuk beberapa lama. Agar saya mengerti, tentang arti penting perjuangan. Ya, agar saya juga dapat merasakan kebahagiaan yang terpancar dari kedua bola mata itu. Mata yang penuh dengan keceriaan. Hal ini dapat saya ketahui dari setiap kedipannya. Ya, ingin ku tak berkedip dari bola mata itu. Dua bola mata yang dilindungi oleh kelopak mata yang sudah mulai usang, karena telah lama beliau manfaatkan untuk menatap indahnya dunia. Saya merasa tidak asing lagi dengan kedua telaga bening itu. Saya merasakan pandangan yang beliau layangkan, hanya untuk saya. Begitu berharganya beliau… Ibu… Saya jadi ingat Ibu…

#Wahai dosenku sayang,

Meskipun usiamu tidak muda lagi, sekarang…

Dari aura yang engkau tayangkan,

Kami melihat di sana ada pancaran cahaya penerang,

# Titik-titik ilmu yang engkau guratkan melalui sorot matamu nan bersinar,

Menembus hingga ke ruang jiwa kami yang sedang belajar,

# Wahai dosenku sayang…

Bentangan alam yang engkau arungi saat belajar dulu,

Kini giliran kami untuk mengalaminya pula,

Menemuimu, menjadikanmu jalan ilmu,

Karena kebaikanmu, kami tahu apa yang kami tak tahu,

Guru… Saat kita berada jauh dari kedua orang tua, maka guru adalah orang tua kita yang berikutnya. Beliau adalah jalan yang terpilih untuk menspirit kita agar mau melakukan yang terbaik. Ya, guru adalah orang tua kita. Tolong jaga kami dalam melanjutkan cita ini. Tolong kembalikan harapan kami yang tertiup angin hari-hari. Agar ia kembali menyala dengan sempurna. Kami ingin menjadi sepertimu, guru. Kami ingin pula menjadi jalan ilmu. Jalan yang sedang engkau bentangkan untuk kami, hari ini, sedang kami tempuhi dengan senyuman. Agar jejak-jejak yang engkau tinggalkan sebelum engkau melangkah pergi, dapat kami ikuti dari hari ke hari.

Guru. Apakah saat ini beliau sedang tersenyum mendengar kabar kesuksesan kita? Apakah para guru kita sedang menyaksikan langkah-langkah yang sedang kita tempuh menyusul beliau yang telah berada jauh di sana? Apakah guru-guru kita sedang menyaksikan bagaimana perjuangan yang kita tempuh bersama teori yang beliau selipkan di dinding-dinding hati kita, lalu kita membaca, memahami dan menghayatinya. Untuk selanjutnya, kitapun mempraktikkan apa yang beliau teladankan. Ai! Guru, selamanya beliau tanpa tanda jasa.

Guru, walau saat ini beliau bukan lagi bergelar guru. Namun, ketika kita pernah menjadikan beliau sebagai guru kita dalam meneruskan perjuangan meraih cita, maka selamanya beliau adalah guru kita. Meskipun saat ini raga beliau tiada lagi, di alam dunia. Bagaimana dengan ilmu yang beliau tinggalkan untuk kita? Apakah ia akan tertelan pula oleh jasad yang beliau bawa? Bukankah segala yang tak tampak oleh mata, akan menjadi jelas dalam pandangan jiwa? Bukankah apa yang pernah terbersit di dalam pikiran kita akan menjadi nyata, baik dalam waktu yang lama ataupun segera. Lalu, bagaimana dengan peran guru yang tidak dapat kita tangkap dengan tatapan mata yang nyata. Bagaimana dengan beraneka nasihat yang beliau titipkan kepada kita pada waktu yang sebelum ini? Adakah kita menyadari akan ketulusan beliau dalam berbagi, meski ilmu dan pengalaman. Walau sekalipun kisah tentang bagaimana proses yang beliau tempuh untuk dapat menjadi seperti saat ini. Yach, beliau yang saat ini sedang berdiri di depan kita untuk menyampaikan bahan pelajaran, pasti sebelumnya juga menempuh beraneka proses yang penuh dengan warna. Beliau juga manusia biasa seperti kita. Namun, beliau lebih dahulu mengetahui. Sehingga menjadilah beliau sebagai guru kita.

Guru, mendengar kata yang satu ini, apa yang terbayangkan olehmu wahai teman? Apakah Ibu dan Bapak yang berpakaian seragam dan berpakaian kebangsaan atas nama profesi beliau sebagai guru? Apakah kita membayangkan sesosok wajah yang sedang tersenyum dengan ramah, saat memasuki ruangan kelas. Kelas di mana kita bersama teman-teman yang lainnya telah lebih dahulu hadir. Lalu, ketika Ibu / Bapak yang kemudian datang, menyapa kita dengan penuh kebaikan, “Assalamu’alaikum… bagaimana kabarnya anak-anak? / Bagaimana kabarnya Saudara-saudara / Bagaimana kabarnya Adik-adik? Atau beraneka sapaan lain yang kita peroleh dari beliau yang saat ini sedang berada di depan kita. Lalu, beliau mengeluarkan sebuah spidol berwarna hitam. Kemudian, memulai pelajaran hari ini dengan tidak lupa terus tersenyum dengan wajah yang menarik.  Atau, beliau segera mengeluarkan sarana mengajar yang telah beliau persiapkan sebelumnya, berupa infocus, laptop dan sejenisnya. Beliau berdiri seraya menjelaskan materi yang selanjutnya kepada kita.

Guru, ataukah beliau adalah sekumpulan pengamen yang tiba-tiba hadir di depan kita yang lagi berada di perempatan? Apakah beliau tidak mampu menjelma menjadi guru-guru yang mulia bagi kita? Ketika kehadirannya dengan suara yang berbaur dengan nada-nada yang beliau ciptakan sendiri. Dapatkan kita memetik beberapa bahan pelajaran dari pemandangan yang baru saja kita saksikan? Ai! Ketika kita tidak segera berbuat baik, masih banyak yang akan membaiki beliau. Lalu, dimanakah peran kita sebagai murid-murid yang berbakti kepada gurunya. Ya, karena “Alam Takambang Jadi Guru.” Begini bunyi pepatah yang ketika masa sekolah esde dulu, kami pelajari.

Guru, beliau tidak hanya yang berada di dalam kelas saja. Akan tetapi, guru kita adalah sesiapa saja yang mampu menitipkan bahan pelajaran bagi kita dalam berbagai kesempatan. Karena guru adalah alam yang sedang membentang dengan segala keragamannya. Apakah mentari yang bersinar setiap  pagi? Apakah angin yang bertiup membawa kesejukan? Ataukah gelapnya malam tanpa bebintang dan rembulan? Semua adalah bahan pelajaran bagi kita. Agar kita segera ingat, sedang di mana kita saat ini? Bukankah belajar adalah jalan untuk membuka cakrawala pikir kita menjadi lebih luas lagi. Agar ia dapat menatap dunia dan seisinya dengan lebih baik lagi.

(Sorimachi Takasi – Poison)

Everyday as we sit on our stairs,

considering our endless dreams,

until the very day breaks.

As the seasons just keep passing us by,

it creates an unconscious apathy,

In which our hopes and dreams just get washed away,

To not even see our small dreams come true in world like ours is just

To enjoy always being ourselves and make our own choices

oh oh

But in the real world we need to turn around and face the truth

in order to keep our pride.

There will also come a time when we’ll need to be ready to fight.

~~~~Beberapa menit kemudian….

Haaaiiiiiii, temannnn…..😀 Asyiiik amaaaat. Nyanyi-nyanyi- sendiri….  (Eh, siapa juga yang nyanyi yaa. Ini mungkin hanya perasaan saya saja, hehehheee… )

Konsernya udahaaaannnn……  dulu yuukkkkksssss, saya masih ada di sini, kuq.  Walaupun saya engga bisa mengikuti lirik-lirik tersebut dalam nada- namun saya sangat ingin menjadikannya sebagai bahan pelajaran. Itu saja alasannya, mengapa saya menitipkan bait-bait di atas pada catatan kali ini. Karena menurut saya, ada pesan-pesan penting yang tersirat di dalam setiap kalimat yang terdapat pada lirik tersebut. Oia, mengapa pula lirik-lirik tersebut mejeng di sini..? Xixixiii…. tadi itu, kan saya merangkai catatan ini diselingin dengan nonton Great Teacher Onizuka. Itu lho… hohooo, yang Mamy beri beberapa waktu yang lalu. Ternyata, kisah yang diperankan oleh para aktor dalam film tersebut, sangat bagus buanggetss… Makanya, Mamy beri ke Yn yaaa.. Hahaa. Makasih ya, Mamy yang selalu berhati Ibu. Engkau Bundaku di sini, Mam. Hiksss… Nangisnya masih ada. Oaaaaa…. Atau karena saya yang begitu serius menontonnya yaa. Hingga akhirnya, tetes-tetes bening ini berulang kali mengalir di pipiku yang dua lembar ini. Ia basah. Lalu, saya lap lagi. Ketika ia basah lagi, pernah saya biarkan airmata itu mengering saja di pipi. Agar saya dapat merasakan, ternyata menangis itu  mampu  membuat kita merenung lebih lama. Ai! Dari film juga kita dapat mengambil pelajaran, yaa. Guru ada di mana-mana.

Guru. Begitu berarti peran sebuah kata ‘guru’ bagi kehidupan kita saat ini. Hingga banyak cara yang dapat kita lakukan untuk dapat berjumpa dengan guru. Satu kata yang mengajarkan kita untuk kembali tersenyum dan tersenyum lagi. Kemudian mengulang kata yang sama lebih sering lagi. Agar kita menjadi terbiasa bersamanya. Apakah engkau seringkali bersama dengan senyuman, wahai teman. Bagaimana dengan waktumu saat ini? Apakah engkau sedang menjalaninya dengan senyuman yang menebar indah menenangkan mata yang memandang? Ataukah engkau sedang menikmati suasana yang sebaliknya? Wah! Walau bagaimanapun kondisi yang sedang engkau alami saat ini, wahai teman… enjoy it! Karena kita tidak pernah tahu, ada pesan dan bahan pelajaran sebagaimana indah yang sedang ia titipkan kepada kita, sesaat setelah akhirnya ia meninggalkan kita. Bukankah apa saja yang ada di alam ini adalah guru kita. Termasuk beraneka keadaan yang sedang kita temui.

Guru. Banyak negeri yang kita jelang, untuk dapat menemui seorang guru. Hingga ke negeri yang belum kita kunjungi sekalipun, kita menjadi begitu beraninya untuk melangkah. Karena kita yakin, di sana ada guru yang dapat menjadi jalan tersenyumnya kita lebih indah lagi. Walaupun  mesti berjauhan raga dengan keluarga dan orang tua sekalipun. Namun bersama bibit-bibit harapan yang kita semaikan semenjak semula, akhirnya kita melangkah ke alam sana. Jauuuuh jaraknya yang membentang, sejauh jala asa yang kita tebarkan. Banyaaaaaaaaaaaaaaak goda yang menyapa kita dalam melangkah, sebanyak impian yang terus kita tanam di relung jiwa. Tinggggiiiiiiiiiiiiiii tangga yang sedang kita naiki, setinggi harapan yang melambai-lambaikan telapaknya untuk kita rengkuh. Ai! Berguru pada alam-Nya adalah salah satu cara untuk lebih mudah tersenyum saat ini juga.

Guru itu mengajarkan kita tentang masa depan, karena beliau telah membaca arah yang akan kita jelang pula. Guru juga mengajarkan kita akan pengalaman pada masa lalu, ketika beliau menginginkan kita untuk menoleh padanya sesekali saja. Agar kita tidak berlama-lama memalingkan muka. Kemudian kita memutar arah lagi, setelah beberapa saat menggerakkan arah pandang ke sekeliling, termasuk ke belakang. Guru pun mengajarkan kita untuk menikmat waktu yang saat ini, karena beliau juga sedang menikmatinya. Guru adalah pengingat yang menjadi jalan tersenyumnya kita saat ini, tersenyumnya kita pada masa lalu, dan tersenyumnya kita saat menatap peta yang membentang di hadapan. Masa depan seorang murid, bukan berada di tangan gurunya. Namun, bagaimana cara pandang yang guru ajarkan pada sang murid, akan menentukan bagaimana murid menghadapi masa depan itu.

Guru, kebijaksanaan yang beliau ajarkan kepada murid, bermula dari pengalaman yang beliau peroleh dalam masa belajar dulu. Walaupun beliau saat ini telah menjadi guru, namun beliau tidak ingin menggurui. Beliau gemar meneladankan kepada muridnya. Teladan yang beliau tunjukkan tentang bagaimana cara mudah untuk berendah hati, bagaimana cara untuk menghargai, menyayangi dan menunjukkan kepedulian. Lalu, dengan cara yang beliau tentukan, semuanya mengalir tampak alami. Padahal, sang guru ingin mengajarkan pada muridnya, secara tidak langsung. Sehingga murid dapat menangkap makna yang guru sampaikan, tanpa merasa digurui. Ai! Guruku, I Miss You. Semoga beliau senantiasa dalam suasana yang penuh dengan keteduhan pikiran. Agar ketenangan hati dan ketenteraman jiwa menaungi beliau selalu, seperti saat menghabiskan waktu siang yang terik oleh panas mentari, di bawah sebatang pohon yang rindang. Angin sejuk yang bersemilir sepoi, sedang menerpa wajah beliau yang sedang mengalir keringat di atasnya. Ya, begitu gambaran suasana yang paling menyegarkan untuk beliau, saat ini.

Guru. Saat mata kami belum lagi terpejam, inginkan ia menitipkan bait-bait yang tercipta ini, sebagai buah tangan atas kunjunganmu hari ini. Agar, ada yang dapat engkau bawa selepas berehat di salah satu halaman kami ini. Supaya lega kiranya kami yang engkau tinggalkan untuk sementara waktu. Agar kelak kita dapat berjumpa lagi. Wahai guru…. buatmu rangkaian senyuman hari ini. Karena engkau adalah guru menulisku.

Guru. Dalam perputaran waktu yang terus saja bergerak maju, inginku terus bersama denganmu di sini, untuk melanjutkan perjuangan kita bersama-sama. Namun, ketika kita tidak berehat raga, apa yang akan terjadi, kita tidak tahu. So, walau bagaimanapun juga, saat ini I wish to say, “See you….”

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s