Lifetime Friend


Intermezzo

Intermezzo

Siapakah teman yang paling mengerti engkau, wahai sahabat? Adakah engkau telah menemukan dirinya? Lalu, kapan terakhir kali engkau menghubunginya? Untuk membangun komunikasi terbaik dengannya? Ya, teman yang paling mengerti atas apa yang sedang engkau alami. Teman yang selamanya akan menjadi teman terbaikmu. Dia adalah your lifetime friend.

Teman. Banyak diantara kita yang mempunyai teman. Ada banyak juga jenis teman yang saat ini dekat dengan kita. Mereka semua adalah salah satu jalan yang menjadikan kita seperti saat ini. Ya, karena bergaul dengan teman-teman tersebut, maka kita dapat menemukan siapa diri kita yang sesungguhnya. Namun, diantara banyak teman yang mengelilingi kita, tidak semuanya yang mampu dan mau mengerti kita. Karena keterbatasan dan kemampuan yang beliau miliki memang demikian. Tidak ada yang sempurna sedemikian rupa, sebagai hamba-Nya. Namun, yakinlah teman, ada yang mau mengerti diri kita. Beliau masih mengusahakan beraneka cara untuk membuat kita mengerti pula, tentang diri kita ini. Yang tanpa kita sadari ataupun kita sangat menyadari dengan sesungguhnya, terkadang kita menjadi tidak mengerti dengan apa yang kita alami. Maka, teman tersebut, datang menyapa kita. Lalu menyampaikan beberapa bait kata yang ia susun sedemikian rupa. Hingga secara tidak langsung, kita dapat membaca pesan-pesan tersirat yang beliau kirimkan teruntuk kita khususnya. Ai! Dia adalah our lifetime friend.

Teman. Ketika kita masih mempunyai kesempatan bersama-sama dengan beliau dalam menjalani hari, kita mesti menikmatinya. Karena, tidak pernah kita tahu kapan usia masing-masing akan berakhir. Adakah sang teman yang akan mendahului kita untuk segera menjawab panggilan-Nya, atau kita yang mendahului beliau dengan tujuan yang sama. Waih! Semoga usia kita sama-sama masih tersisa, ya friend, untuk melanjutkan langkah-langkah ini bersama. Karena masih banyak keinginan yang terangkai di dalam relung jiwa, untuk kita abadikan di sela-sela perjalanan ini. Salah satunya adalah keinginan untuk mensenyumkanmu lebih indah lagi. Ya, bukan hanya senyuman terindah yang sedang engkau rangkai saat ini. Akan tetapi, lebih indah dari saat ini. Engkau adalah my lifetime friend. Aamiin.

Teman. Banyak kata yang akan menebar lewat senyuman demi senyuman yang terus saja bermunculan. Karena setiap baitnya adalah kuntum-kuntum bunga yang akan menjelma taman nan menghiasi hati kita. Membayangkan semerbak yang ia tebarkan ketika semuanya bermekaran pada saat yang bersamaan, membuat hati ini berkata dengan santunnya, “Salah satu kembang itu adalah senyuman yang tercipta hari ini.” Sekuntum demi sekuntum, kita merangkainya dengan sangat hati-hati. Dari waktu ke waktu yang masih tersisa ini, kita menitipkan lebih banyak senyuman lagi. Semoga semuanya menjadi lebih berbahagia. Karena senyuman adalah our lifetime friend.

Teman. Ketika siang hari datang menyapa bersama hadirnya mentari yang bersinar dengan ceria, maka kita pun turut terbawa suasana yang ia cipta. Lalu, kita menjalani waktu yang sedang berlangsung dengan sebaik-baiknya. Setiap kesan yang menyangkut di dahan pohon harapan, kita pandangi dengan sepenuh hati. Ia menggantung di atas tempat kita berada kini. Ia berayun dengan tenangnya, bak bandul yang bergetar dengan nada yang teratur. Kita  menikmati pemandangan yang sedang ia tebarkan. Kemudian, perlahan sang bandul pun berhenti dari geraknya, seiring dengan perjalanan waktu yang terus bergerak menuju sore hari.  Bagaimana rasa yang engkau alami saat ia melambaikan jemari hari ini dengan gemulai? Lalu ia tenggelamkan wajahnya di balik gemawan yang segera merengkuh sang mentari ke dalam dekapannya. Mentari, kini tenang bersamanya. Untuk beberapa lama, ia tidak akan mensenyumi alam tempat kita berada kini. Ia ingin meneruskan perjalanannya di negeri yang lain. Wahai… kami sendu dengan batasan yang menjadi jarak kebersamaan kita. Engkau membawa sinar yang membuat kami berani melangkah lagi. Lalu kini, saat engkau tiada untuk beberapa waktu, akhirnya kami pun mengalami nuansa yang lain. Gelap dan temaram, menjadi benderang oleh pelita yang berkelipan. Banyak wujudnya, ia pun benderang. Namun, tidak secerah sinar yang engkau pancarkan, wahai mentari. Walaupun saat ini, engkau tiada di sisi, engkau tetap my lifetime friend. Setuju or not, engkau mesti setuju.  Ok?

Teman. Tenang. Selama tanpa sinar cerahmu yang megah itu, kami masih terus melanjutkan perjalanan ini. Karena perjuangan yang engkau teladankan dalam mengabdi, telah  mengurat dan mendaging pada pikiran kami pula. Bukankah engkau tidak pernah henti dalam menebarkan sinar? Meskipun tidak dapat terlihat langsung oleh kami di sini. Namun, satu kata ‘revolusi’ itu menjadi saksi. Bahwa engkau sedang  bergerak mengelilingi bumi, benarkah? Ketika masih es-de dulu, kami belajar tentang hal ini. Tentang perjalananmu dalam berbakti. Engkau sungguh baiiiiik sekali. Lalu, salahkah kami yang menjadikanmu sebagai salah satu inspirasi? Bukankah memang begitu yang engkau teladankan? Ai! Mentari yang senantiasa berbudi.

Teman. Bukan hanya engkau teman kami di sini. Saat ini, dalam suasana yang tanpa rembulan di langit hati, ada kerlipan cahaya yang kecil-kecil di ujung arah pandang ini. Jauuuuh sekali. Dengan wujud berbentuk titik-titik kecil dan bercahaya tersebut, kami tiada akan pernah peduli, sudah sejauh apa malam ini bergerak. Karena kami masih sangat ingin memperhatikan aktivitasnya saat ini. Bintang-bintang kecil di langit yang tinggi. Begini namanya. Engkau juga pasti tahu tentang mereka, iya, kaann. Bebintang yang bertaburan di atas sana, juga sedang bersenyuman kiranya.

Teman. Selama malam masih bersedia meneduhkan bumi tempat kami berada kini, selama itu pula kami akan meneruskan perjalanan pikir hingga menyentuh bebintang. Agar kami merasakan pula, bagaimana suasana alam yang sedang mereka alami. Indaaaahnyaaa, dapat memperhatikan aktivitas sesama bintang yang berkelipan. Apalagi kalau lokasinya sangat dekat dengan kita. Tentu detik ke detik masa menjadi semakin menakjubkan, yaa.  It’s the memorable moment. Setinggi bintang yang sedang bertaburan di langit asa. Di sana adalah tempat harapan berada. Ia adalah my lifetime friend. Walaupun jauh, namun ada kerinduan yang menyapa setiap kali membayangkan ia dalam genggaman.

Teman. Sampai saat ini, sudah sejauh apakah engkau melangkah? Sudah berada di bagian negeri yang manakah engkau sekarang? Masih cerah dan berseri, kan ya teman… Masih ada peduli yang engkau teladankan pada sekeliling, kan yaa. Seperti siang yang kami jalani bersama benderang yang sempurna, seindah itu juga kan, teman… keadaan alam yang sedang engkau temui kini. Apakah di sana banyak insan yang tersenyum pula menyambut kehadiranmu? Bahkan lebih indah, semoga yaa. Meskipun belum lagi dapat kembali ke hari-hari kami, tetaplah lanjutkan bakti. Karena engkau berarti. Mentari, engkau adalah my lifetime friend.

Teman. Apapun jenis suara yang sampai pada indera pendengaran ini, kami berusaha untuk menyimaknya dengan saksama. Kalau kami belum yakin akan mengingatnya lebih lama, maka kami segera mencatatnya pada selembar note yang berbaris. Dengan olesan suara jiwa yang memperindahnya, kami tersenyum saat mengabadikannya. Ya, karena catatan yang berasal dari rangkaian suara yang terdengar tersebut, perlu kami senyumi terlebih dahulu. Bahkan sebelum ia tercipta sekalipun. Ai! Begitu senang kami menyambut kedatangannya. Meski sebait catatan, ia sangat berarti bagi kami yang sedang melanjutkan langkah-langkah di sini. Karena ia adalah our lifetime friend.

Teman, ketika malam telah menjelang lalu  menepi menyambut dini hari, apa yang sedang engkau kerjakan? Apakah engkau sedang asyik dengan mimpi-mimpimu yang segera datang bersama wajah barunya? Ataukah engkau pun sedang menggerakkan jemari jiwa yang sedang melangkah meneruskan perjuangan? Ataukah, dalam gelap malam yang sedang sunyi dan senyap sebegini, engkau malah bersenandung berteman sepi? Membuka lembaran diari, kemudian merangkai catatan tentang hari ini? Apakah engkau sedang mengabadikan eksistensi? Xixiiixiiii… Kapanpun engkau dapat melakukannya, mengapa mesti sekarang? Bukankah engkau perlu berehat raga ini? Ingatlah, tolong jaga kesehatan yaa. Karena ia adalah your lifetime friend.  Sampai nanti, engkau membutuhkannya. Untuk menemanimu dalam meneruskan aktivitas yang sangat engkau senangi. Bersamanya, engkaupun tersenyum dalam menjalani hari.

Teman. Detak jam berbunyi mengeluarkan nada yang sama. Jarumnya yang terus bergerak ke arah kanan, menjadi salah satu bahan pelajaran untuk kita pahami. Ia yang terus berjalan, meneladankan kita agar teruskan perjuangan pula. Ia yang berkeliling ria dengan damai, memesankan kita agar terus mengitari arah yang mesti kita susuri untuk mewujudkan asa. Karena waktu selalu saja begitu. Ia yang menjadi jalan sampaikan kita pada hari ini. Ia pula yang memberikan jawaban atas segala tanya yang sempat kita cetuskan dulu. Waktu, dari dahulu sampai sekarang, ia masih begitu. Selalu menjadi dirinya yang satu. Bersama waktu yang mengingatkan, kita menjadi tahu jadwal yang akan kita lakukan. Ia ingatkan kita untuk menjadi pribadi yang tepat waktu. Bagaimana, tentang waktu itu? Masih ingatkah engkau saat pertama kali kita menyadari bahwa kehadiran waktu itu ternyata sangat penting? Ia yang mengajarkan kita bagaimana cara untuk mengetahui sesuatu. Sesuatu apakah itu?

“Orang yang menghargai adalah ia yang tepat waktu.”

Lalu, bagaimana dengan apa yang kita lakukan sampai saat ini? Tentang waktu. Masih tentang waktu. Kapan terakhir kali kita ingat akan waktu? Hingga kita menjalankan apapun itu, tepat pada waktunya.  Ya, karena ia terus saja bergerak. Tidak pernah menunggu. Sekali kita tidak ingat padanya, maka kita akan kehilangannya.

“Kemana saja dirimu selama aku menyapamu?,”  begini waktu akan menanyai kita kembali, saat kita mencarinya. Nah! Bagaimana kalau kita lupa waktu? Bukankah sesama teman tidak akan pernah saling melupakan? Ingatlah teman, bahwa waktu adalah our lifetime friend.

Teman.   Apa yang telah terjadi, tiada akan pernah terjadi lagi dengan waktu yang sama. Karena ia sudah menjadi masa lalu yang memprasasti. Untuk menghapusnya dan menghilangkannya, tidaklah mungkin. Ia telah tercipta secara permanen. Namun, hanya ada satu pilihan yang dapat kita lakukan saat ini, apabila yang telah terjadi ternyata bertolak belakang dengan  yang kita inginkan. Maafkanlah… Karena maaf adalah our lifetime friend. 

“Maafkan atas yang telah terjadi.”

Bersama sebaris maaf yang kita ucapkan meski untuk diri sendiri, membuat ia menjadi lebih damai. Berilah maaf padanya, ketika ia melakukan aktivitas yang melewati batas waktu. Karena kalau tidak memaafkannya, ia akan kembali mencari waktu yang telah berlalu. Bukankah kita perlu melangkah lagi.  Kalau tidak, bagaimana dengan waktu yang saat ini? Bagaimana kita menghargai kehadirannya yang tidak akan lama. Sebentar lagi, ia juga akan meninggalkan kita. Lho… terpana terlalu lama karena keasyikan menyaksikan indah penampilannya, hanya akan membuat kita terlena. Maafkan diri sendiri, karena ia adalah our lifetime friend. Lalu, ajaklah ia untuk meneruskan akitvitas bersama waktu. Bimbing ia dengan sepenuh hati. Karena ia perlu lebih baik lagi saat ini.

Teman. Pernahkah engkau berada di suatu tempat. Padahal jauh-jauh hari sebelumnya, tempat tersebut belum ada di dalam pikiranmu. Namun, tiba-tiba engkau sudah menginjakkan kaki di sana. Di manakah? Dan setelah berada di tempat yang menurutmu masih asing, engkau bertemu dengan orang-orang baru yang engkau belum kenali. Ya, tidak ada seorangpun di sana, yang engkau temui sebelum saat itu tiba. Apakah yang engkau pikirkan dalam kondisi yang demikian? Apakah engkau segera memilih untuk kembali saja ke asalmu. Dengan jaminan kenyamanan yang selama ini engkau nikmati. Sedangkan di tempat yang baru kini, engkau benar-benar merasa sendiri.

“Hiiiiiy,…, di mana kah itu?.”

Pikiran yang kita munculkan dalam berbagai situasi, pada berbagai tempat, sangat menentukan keputusan seperti apa yang akan kita ambil. Untuk segera memutar arah, kita tentu menemukan kemudahan-kemudahan yang menenteramkan. Akan tetapi, yakinkah kita akan mempunyai kesempatan untuk kembali lagi ke tempat di mana kita sedang berada di sana. Tempat yang walaupun sangat asing, sesungguhnya di sana juga ada kehidupan. Kita sedang tidak tinggal di negeri yang tanpa penghuni. Masih banyak kehidupan yang sedang berlangsung di sekitar kita. Hanya saja, maukan kita menjalankan pikiran yang indah ini? Untuk selanjutnya, kita melangkah bersamanya di negeri yang baru, tempat kita berada kini. Berpikirlah bahwa kebaikan masih ada, selama mentari masih berevolusi. Meskipun saat ini, ia sedang berada nun jauh di belahan bumi yang lain. Berpikirlah bahwa esok mentari akan kembali lagi. Tidak selamanya ia berada jauh dari bumi tempat kita berada. Berpikirlah, pikirkanlah. Karena pikiran yang hadir adalah our lifetime friend.

Teman. Setiap goresan makna yang engkau titipkan pada lembaran wajahmu berupa senyuman yang dapat kami pandangi, menjadi bukti bahwa engkau masih ada hingga saat ini. Perjuanganmu yang masih berlangsung hingga saat inipun, menjadi salah satu bukti bahwa engkaupun sedang mengeksistensikan keberadaan diri. Ai! Selamanya memang perlu begitu. Selagi kesempatan masih ada. Kita mampu menjadi seperti apa yang kita harapkan, dengan terus melangkah menuju padanya. Kalau saja ada onak duri dan bebatuan berupa kerikil tajam yang menyelingi jalan yang sedang kita lalui, segera tepis ia dengan niat yang telah terpatri. Karena selamanya ia dapat menjadi pemerhati tentang sejauh  mana kita mengingatinya dalam melangkah. Ya, niat adalah our lifetime friend.  Tanpa ia yang terus kita jagai, maka kita akan begitu mudahnya mencari alasan untuk tidak berbuat. Namun, selama kita membawanya untuk menjadi teman, maka pasti ada alasan yang mau kita ungkapkan mengapa kita berbuat. Ya, karena untuk berbuat, kita memang perlu alasan yang pasti.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s