Serius?


“Serius ini, kapan aku bercanda,” jawab Nai yang kemudian menitikkan airmata di kedua pipinya.

“Lho, kok Nai tiba-tiba berubah? Biasanya engga pernah begini,” sapa sahabat yang masih tidak mengerti dengan sikap Nai.

“Karena memang ini yang sedang aku alami. Harus bagaimana lagiiiiiiiiii…… Tolong beri aku waktu untuk menenangkan diri,” diantara isak yang semakin menggemuruh, airmatanya kembali tumpah. Membanjir.

“Sabar, yaa. Engkau memang perlu penenangan. Saya akan pergi,” sahabat bergerak dari tempat ia berada tadi. Tatapan matanya yang teduh, masih tertuju pada Nai yang sedang menunduk.  Ia meninggalkan Nai sendiri. Sahabat memang penuh dengan pemahaman. Ia belum kembali lagi, sampai akhirnya Nai tertidur di kursi.

Malam terus beranjak. Gulita yang menemani Nai, turut membisu. Tidak ada yang berani membangunkannya, untuk menyarankan pindah ke kamar tidur. Nyamuk-nyamuk juga enggan menyapa. Nai terlelap, sungguh nyenyak.

Keesokan harinya…

 Pagi telah datang. Seraya menyibakkan rambut yang teruntai menutupi wajahnya, Nai membuka mata perlahan. Ia tidak segera bangkit dari pembaringannya, karena tatapannya masih samar. Ia belum dapat melihat sekitaran dengan jelas. Ia pun mengucek kedua matanya yang sembab. Ai! Menangis semalam, ini yang sukses ia lakukan.  Menangis dalam jangka waktu yang panjang dengan menutup kedua mata, mengakibatkan pemandangannya menjadi buram. Kembali ia pejamkan kedua matanya. Untuk meyakinkan diri, bahwa ini telah pagi.

Tidak berapa lama kemudian, ia telah berada di kamar mandi. Untuk menyikat gigi, membersihkan wajahnya yang sembab, dan kemudian mengelapnya lagi. Entah sudah berapa tetes air yang ia basuhkan pada lembaran pipi di wajahnya. Sampai akhirnya, terdengar sebait kata yang ia ucapkan pada dirinya sendiri, “Aku tidak boleh hanya mentangisi apa yang terjadi. Saatnya menemukan solusi.” Segera ia alirkan lagi bening-bening nan sejuk itu pada kedua pipinya. Mengusapnya sebentar, kemudian meneteskan lagi. Ia merasa lebih segarrrrrrr, kini. Setelah berwudu, ia pun melanjutkan langkah.

Seperti hari-hari sebelumnya, pagi ini Nai kembali tersenyum. Dengan bernyanyi-nyanyi kecil ia menyusuri lorong yang membentang dari arah kamar mandi menuju kamarnya. Terdengar juga suara-suara samar dari kamar sebelah. Rupanya, tetangga kamar Nai juga sudah bangun. Siti. Mereka bertetangga semenjak beberapa tahun terakhir. “Sejak kapan, yaa?,” coba tanya Siti dan atau Yani. Karena mereka adalah teman-teman Nai akhir-akhir ini.

***

Nah! Hahhaa… cuplikan di atas adalah potongan kisah yang sangat ingin saya rangkai (lagi). Akan tetapi, untuk saat ini, saya ingin mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya. Karena saat ini saya ingin menulis tentang hal yang lain saja. Bukankah apa yang kita lakukan perlu bersesuaian dengan kehendak diri? Dan ketika saya ingin menulis hal yang berhubungan dengan aktivitas dan nuansa alam saat ini, why not? Lagi pula sekarang adalah masanya untuk bermain-main. Bermain merangkai huruf, sungguh menyenangkan. Sedangkan untuk menciptakan lanjutan kisah di atas, memerlukan keseriusan. Hehee, (saya memikirkan ini, sudah sejak lama. Terutama satu tanya yang terus menaungi ruang pikir. Apakah setiap hasil yang indah berupa kisah yang menawan, beliau-beliau menciptanya dengan penuh keseriusan?) Apakah memang begitu, teman? Apakah engkau mempunyai pengalaman tentang hal ini?

Sekarang, di sini, saatnya menulis bebaas.😀

Hayy… teman. Hari ini adalah hari libur. Jadi, saya akan berada di sini untuk beberapa waktu. Seraya menikmati pemandangan yang sedang mempertontonkan keindahan di hadapan, saya sedang tersenyum sangat indah. Karena  hari ini, mentari bersinar ceraaah sekali. Ai! Senangnyaaa. Saat ini, kita kembali jumpa dalam senyuman.

Mentari, ketika ia hadir dengan kehangatan nan berlebihan, akibatnya ya begini. Saya hanya mampu menatapnya dari kejauhan. Seraya menyipitkan kedua mata ini, masih saya sempatkan waktu untuk bertatapan dengannya. Meski untuk beberapa detik saja. Mentari di hati, mentari hari ini. Mentaripun tersenyum berseri-seri. Xixii..xixiiii…

Mentari, menata hati setiap hari. Begini tema yang selalu ingin terukir dari waktu ke waktu. Lalu, aktivitas tersebut menjelma menjadi kalimat demi kalimat yang saling berangkaian. Untuk selanjutnya, terciptalah tulisan. Begitu,.. hu um. Saya ingin bergiat dalam menjalani hari ini. Karena hanya dalam hari ini, kesempatan itu ada. Ya, kesempatan untuk tersenyum lebih indah lagi. Hoaaammm…. lebih sering terbangun dari lelap nan melenakan, adalah salah satu jalan yang dapat kita tempuh untuk dapat mencapai negeri impian. Karena ia tidak mesti berada dalam harapan saja. Ia perlu kita buktikan menjadi kenyataan yang mengesankan.

Mentari,

Di bawah terikmu saat ini…

Terbersit sebuah inspirasi untuk kembali berbagi…

Meski suara hati…

😀

Mentari. Ada banyak manfaat yang dapat kita petik dari satu kata ‘mentari’. Apakah berupa motivasi, ataupun semangat yang telah kita perbarui. Berhubung saat ini mentari sedang menebarkan gemilang sinarnya, maka saya ingin memperbincangkan ia saja, ah. Terutama mentari di hati yang sedang tersenyum. Mentari itu adalah engkau, teman.

Mentari. Sudah sekian lama kita berada di sini. Apa sajakah manfaat yang dapat engkau petik dari kebersamaan ini? Adakah engkau menemukan senyuman setiap kali kita bersua (lagi), hari ini? Ataukah, engkau malah menyipitkan matamu seperti sedang menatap mentari yang begitu menyengat? Bukankah mentari adalah sinar yang paling terang ketika siang hari? So, untuk apa berlama-lama memandangnya, segera saja mengalihkan perhatian ke arah yang horizontal. Niscaya, engkau dapat menikmati view yang berbeda. Ada pepohonan yang meneduhkan tatap mata, ada semilir angin yang mensegarkan kulit ini. Wahai, untuk apa menyalahi mentari hari ini?

Justice Voice – Ikhtiar

Hari ini mentari bersinar cerah
Iringi langkah kakiku
Menuju jalan yang pasti

Hari ini beri harapan yang baru
Akan karuina Ilahi
Yang tak putus karena Cinta-Mu

Reff:
Oh Tuhanku…
Takkan ku siakan saat ini
Untuk meraih rahmat-Mu untukku
Oh Tuhanku…
Tunaikan syukur atas karunia-Mu
Tuk sambut pagi di esok hari

Cahya jingga
Merelung di batas senja
Di penghujung jalanku
Ku bersandar hanya kepada-Mu

Saya menyimak lirik ini benar-benar. Suara lembut yang mengalir dengan syahdunya dari VLC media player, membuat saya merenung cukup lama. Dengan menggerakkan jemari yang terus saja berlari, seakan ia tidak peduli dengan apa yang saya pikirkan saat ini. Wahai, adakah engkau pun merasakan suasana yang sama, wahai jemari yang berbudi. Mengapa untuk menitipkan sebaris senyuman saja, engkau perlu bergiat dengan sepenuh ikhtiar. Adakah engkau memaafkan suara hati yang terus saja mengalir?

Mentari. Ia mengingatkan diri ini agar kembali menggerakkan jemari. Walaupun saya tahu, ia sudah sedari tadi beraktivitas. Cape yaa. Hahaa. Perlahan dan pasti, ia menyentuh satu persatu huruf yang tersusun rapi. Tujuannya sich, untuk dapat menitipkan sebaris senyuman lewat sebaris kalimat. Dan tentunya, kalimat tersebut akan bernama suara hati setelah ia sampai ke halaman ini. Bagaimana ia bisa tahu huruf apa yang mesti terlebih dahulu muncul pada awal sebuah kata? Bukankah jemari tidak dapat melihat? Ai! Lagi-lagi, pikiran yang tiba-tiba hadir, membuat saya tidak habis pikir. Mengapa jemari bisa tahu suara isi hati?

Mentari. Cerah sinarnya yang membayang dari cahaya terang yang memenuhi ruang hari ini, membuat saya ingin bangkit dari tempatku berada kini. ….. Untuk tujuan yang pasti, “Mengabadikan senyuman mentari hari ini. Yes. Jepret! Jepret!.”  Xiixiixixiiii….😀

Beberapa saat kemudian…  

 :D Hai, saya kembali dengan senyuman yang menebar indah. Karena baru saja sukses mencuri perhatian mentari. Sehingga senyumannya nan meriah, saya titipkan pada lembaran catatan siang ini. Manis tampilannya, semoga menjadi salah satu bukti bahwa hari ini ia masih ada. Mentari ada untuk menyinari dunia. Agar sesiapa saja yang tersinari olehnya, mendapatkan manfaat segera. Lalu, bagaimana denganmu teman, apakah yang sedang engkau lakukan di sela-sela waktu berliburmu? Apakah engkau juga senang menatap mentari yang bersinar?

Justice Voice – Kesejukanmu

 Mencari kesejukan di jalan yang amat panjang
Panas membakar jiwa sebabkan luka dan dahaga
Mencari kesejukan dalam sujud di peluk malam
Tafakuri ciptaanMu ya Allah
Diiringi dzikir dan doa
Reff: Ilahi basuh aku dalam kesejukanMu
Dari air mata batinku ya Robbi
Ilahi basuh aku dalam kesejukanMu
Tanggalkan angkuhku untuk kembali
Menapaki jalanMu.

Lirik pengiringpun berganti satu persatu. Hingga akhirya sampai pada nada-nada yang di atas. Kesejukan mulai terasa kini. Meskipun mentari bersinar sangat cerah, namun ada keteduhan yang menaungi ruang jiwa. Ia tidak terjadi dengan tiba-tiba dan tanpa proses.

Mentari. Sudah lama kiranya, saya mengalami suasana seperti hari ini. Setelah beberapa masa berganti, akhirnya hari ini mentari kembali dengan senyuman yang lebih indah lagi. Seingat saya, sudah lama belum menangkap senyuman mentari yang seindah ini. Senyuman yang mampu membuka mata ini lebih lebar lagi, setiap kali menatap padanya. Senyuman yang mengingatkanku pada satu keping hati yang perlu terus mendapat penjagaan. Senyumannya itu terlalu indah untuk ku berpaling walau sejenak saja.

Mentari. Bagaimana engkau bisa tersenyum sebebas itu? Bukankah ada yang merasakan ketidaktenteraman saat engkau menunjukkan diri. Bukankah kehadiranmu memesankan pada kami untuk segera berteduh dan tidak berlama-lama berada di bawah pancaran sinarmu.

Mentari. Ia tidak akan pernah mau memberikan jawaban dengan segera. Karena ia ada saat ini, untuk mengabdi dan menyampaikan bakti. Dengan bekal tersebut, ia tidak akan memberikan jawaban kepada siapa saja yang berjuang keras untuk mendapatkan jawaban darinya. Karena mentari hanya akan tersenyum lebih cemerlang lagi. Kemudian, menyampaikan jawaban melalui apa yang ia lakukan. Itu saja.

Mentari. Sepenuhnya, ia mempunyai kepedulian yang tinggi kepada semesta. Lihatlah… bagaimana upaya yang ia lakukan untuk menunjukkan kepedulian tersebut. Ketika ia bersinar, maka setiap pelosok dapat merasakan kehadirannya. Begitu pula ketika ia tiada untuk beberapa lama. Akan ada suasana berbeda yang berlangsung.

Mentari, ada dan tiadanya ia, memberikan bukti. Bahwa memang itu yang terbaik. Ketika teriknya menyengat pada siang hari, maka jemuran menjadi lebih cepat keringnya. Ai! Saya teringat dengan jemuran yang semenjak pagi tadi sedang menanti sinar mentari untuk pengeringan diri. Kasian mereka, berpanas-panasan…

Mentari. Banyak yang membutuhkan kehadiranmu. Begitu pula dengan ketidakhadiranmu. Pasti ada yang merindui selalu. Mentari yang bersinar dengan gagahnya, menitipkan kesan yang selalu ada dalam ingatan. Mentari yang berselimutkan awan, juga menitipkan pesan untuk kita agar segera mengembalikan ingatan. Adakah kita membawa payung ‘sebelum hujan?”.

Mentari. Tidak selamanya ia bersinar terik dan mencerahkan. Pada masanya, ia akan menyembunyikan diri untuk memberikan keteduhan dan kesejukan pada alam. Karena mentari sangat tahu dengan waktu. Kapan ia perlu menyinari, dan kapan pula ia tiada untuk bumi.

Mentari, meskipun setiap hari ia berkeliling untuk menyampaikan bakti, namun tidak setiap waktu ia menemani. Karena memang begitu takdir yang telah tertulis dengan rapi. Antara mentari dan kita tentu akan menjadi seperti ini pada waktu yang selanjutnya. Terkadang kita bersama, pada masa yang lain berjarak pula.

Mentari. Ciptaan Allah yang satu ini, memang sangat tidak mudah untuk kita prediksi. Ketika pagi ia bersinar dengan cerah, ini tidak berarti hingga sore nanti tetap seperti itu. Karena ada ciptaan Allah lainnya yang berinteraksi dengannya. Pada suatu waktu, mentari dapat tersenyum dengan senang, sumringah dan mewah. Ia menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Ia berkuasa dalam waktu yang sama. But, setelah itu, gemawan akan berarak menuju padanya. Di bawah sinarnya yang terik tadi, awan-awan berbaris sangat rapi. Hingga akhirnya, bumi pun mendadak temaram. Walaupun, belum malam.

Saat ini, masih siang teman.  Sedangkan waktu siang masih panjang kiranya. Beberapa jam yang selanjutnya, akan saya isi dengan berjalan-jalan ke wilayah yang selain di sini. Yes! Saatnya jali-jaliiii…. untuk menikmati lingkungan yang mulai teduh. Ketika kebersamaan kita di sini terhenti sejenak, itu pertanda saya sedang melanjutkan langkah-langkah lagi. Karena memang tidak di dunia maya ini. Namun, menikmati keindahan alam nyata yang banyak warna-warninya pula. Bersama para sahabat yang telah siap untuk menemani, maka catatan yang tercipta saat ini, akan berakhir dulu, yaa. But,  sebelum kita berpisah untuk sementara, masih ada yang ingin saya tanyakan lagi, “Apakah engkau yang berhasil merangkai kalimat indah dan menawan, melakukannya dengan serius, teman?”. Ataukah engkau perlu pergi kemana-mana dulu, sebelum meneruskan perjuanganmu dalam merangkainya? Seperti yang saat ini akan saya lakukan. Karena saat ini, saya merasakan pikiran ini perlu untuk di- refresh.  Hmmmm… gimana? Ada yang mau ikutan….?  Yuuksz kita ke Pesta, di Jl. Braga no. 129 Bandung.

Mentari. Selama waktu yang saya gunakan untuk merangkai catatan ini hingga ia tersusun, tidak selalu ada mentari yang bersinar. Ia yang pada awalnya cerah, ceria dan berseri-seri, kini tidak terlihat lagi. Walaupun belum mendung, namun awan-awan yang memutih seperti kapas, menjadi bukti bahwa sebentar lagi mendung akan hadir. Adalah mendung, untuk mengingatkan kita pada suasana hati. Ketika pada suatu hari ia bahagia, pada hari yang lain ia akan hadir dengan warna yang berbeda. Seperti cuaca gitu… hohohooo…

Mentari. Sudah berapa kali saya menuliskan kata ini semenjak tadi? Ai! Sebanyak apapun mentari yang bersinar di sini, namun mentari di hati ini hanya satu. You. Seperti halnya mentari yang saat ini kembali bersinar dengan terangnya di sini. Langit kembali cemerlang. “Kemana perginya gemawan yang berarak tadi?” Ai! Subhanallah… beginilah kehidupan. Kadang cerah, terkadang teduh. Menikmati setiap suasana dan kondisi yang kita temui, adalah pilihan. Agar kita dapat mensenyuminya kapanpun kita mau untuk tersenyum.

Mentari. Kalau saja engkau tiada, bagaimana kondisi alam tempat kami berada kini, yaa. Engkau sungguh bermakna. Tanpa mentari yang bersinar, tentu kita merasa seperti ada di kutub ya. Dengan salju dan es yang membeku, kita akan merasakan kedinginan. Wahai mentari, terima kasih yaaa. Untuk sinar yang engkau tebarkan lewat senyumanmu hari ini. Esok hari, pagi-pagi kami akan kembali menantimu. Semoga usia ini masih tersisa, meskipun untuk menatap senyumanmu yang mampu mensenyumkan.

Mentari, setelah sekian lama engkau bersinar untuk bumi, tempat kami berada kini, namun sinarmu tidak pernah berkurang kualitasnya yaa. Ai! Darimu, hari ini kami dapat merangkai senyuman lagi, “Menjadilah seperti mentari yang bersinar. Walau sudah sering menyampaikan kemilaunya, namun ia terus benderang.  Ia tetap dirinya yang dulu. Walaupun keadaan di sekitar membuatnya tidak terlihat untuk berberapa waktu, namun yakinlah hari ini ia ada. Menjadilah mentari di langit hatiku.”

–“… sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,” (Q.S Asy Syams [91]: 9)-

 :)🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s