Tersenyumlah, Sayang…


Lalu tersenyumlah, setelah menemukan solusi

Lalu tersenyumlah, setelah menemukan solusi

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan hak, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Sesungguhnya hari keputusan (hari kiamat) itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya, yaitu hari yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikitpun, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (Q.S Ad Dukhaan [44]: 38-42)

Yaa Allah, golongkan kami menjadi hamba-hamba-Mu yang Engkau beri rahmat pada hari keputusan nanti. Kumpulkan kami dengan para karib yang sangat dekat dengan kami di dunia ini, hingga ke akhirat nanti. Agar kami dapat merasakan keindahan waktu demi waktu yang sedang kami jalani. Agar bertambah tumbuh rasa syukur ini atas beraneka nikmat, anugerah dan karunia yang Engkau titipkan. Agar bermekaran bunga kesabaran di dalam relung jiwa kami, atas berbagai hal yang kami tidak ingin ia terjadi. Yaa Rabbana, Engkau Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Kami lemah tanpa Bimbingan-Mu. Kami begitu mudahnya terbawa suasana yang mampu menghanyutkan arah pikir tanpa kami sempat tahu, kemana ia pergi??

Terkadang, kita sangat tidak ingin menyaksikan lagi apa saja yang telah terjadi. Apabila ia terlihat, terkadang kita tidak ingin melihatnya untuk beberapa lama. Begitu pula dengan apa saja yang pernah terdengar, terkadang kita sangat tidak ingin mendengarnya lagi. Namun, tiba-tiba ia memperdengarkan suaranya tepat ke indera pendengaran kita. Untuk hal yang telah tercipta, terkadang kita sangat tidak ingin ia ada. Namun, apa hendak dikata, ia telah memprasasti. Dengan kokohnya ia berdiri di hadapan kita, tanpa sanggup lagi mengelak darinya. Ia sedang menunjukkan dirinya. Prasasti yang terkadang tidak ingin kita temui itu, menghampiri kita yang hanya bisa terpana atas kehadirannya.

Tidak hanya yang terlihat, terdengar dan tercipta saja, terkadang kita sangat tidak ingin merasakan untuk beberapa lama, apapun itu yang pernah terasa sebelumnya. Terkadang kita tidak ingin memikirkan apa yang sebelumnya juga pernah memenuhi seluruh ruang pikir kita. Akan tetapi, ia pernah ada bersama kita, karena kita merasakannya dan memikirkannya pada masa yang sebelum ini. Nah! Ketika terkadang itu muncul, apa yang engkau lakukan teman, dalam menghadapi semua ini?

Seperti yang akhir-akhir ini saya alami dengan diri sendiri. Untuk berbagai suasana yang terkadang muncul tiba-tiba saja. Padahal, sudah lama ia berlalu. Bahkan sudah hitungan tahun yang terlampaui. Waktu yang tertinggal itu, semestinya telah melenyapkan semua yang terkadang menyapa lagi. Ai! Ada apa dengan semua ini? Specially buat rasa  dan pikir yang selayang pandang tidak pernah terlihat sebelumnya. Namun, ketika ia memenuhi ruang jiwa dan lapangan pikir, akhirnya saya hanya bisa bertanya dengan sendiri, “What should I do?.” Meskipun belum ada jawaban yang memberikan pertolongan, saya sangat yakin akan adanya solusi.

Untuk pemandangan yang terkadang sangat tidak ingin melihatnya, namun ia ada di depan mata, apa yang engkau upayakan wahai teman? Untuk pendengaran, rasa dan buah pikir yang segera menggoda untuk membersamai kehadirannya, terkadang juga kita sangat ingin untuk tidak bersamanya. Lalu, mau kita kemanakan semua itu?

Ini catatan semalam…

***

Keesokan harinya…

Pagii….

Setelah sebelumnya terbuai oleh perasan anggur rehat yang menghadirkan kenikmatan sesaat.  Pagi ini adalah kesempatan terbaik untuk kembali melanjutkan perjuangan. Yes! Meskipun pagi ini saya tidak jadi berangkat ke gerai Flexy untuk membenahi no. 022-70640012-ku yang beberapa hari terakhir koma, akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke sini saja. Ya, karena ini adalah sebuah keputusan. So, bagaimana dengan kondisi itu nomor yang telah koma? Semoga ia terus terjaga. Sampai akhirnya nanti, takdir memutuskan apa yang terbaik untuknya. Ai! Kecelakaan kecil yang telah merenggut kenyamanan kami selama ini. Kebersamaan yang kami jalin semenjak lebih dari tiga tahun yang lalu, akhirnya menemui detik-detik yang mendebarkan. Istirahat yang cukup ya friend,… semoga engkau kembali sembuh, segar dan baikan lagi.

But, sebelum melanjutkan perjalanan di sini, saya ingin menelepon Ibunda dan keluarga dulu, dengan nomor yang lain.  (Aku kan punya dua hapeeee.. heheheee..😀 Yes!)

Beberapa puluh menit kemudian…

Alhamdulillah, Ibunda sudah lebih baikan. Setelah beberapa hari yang lalu, kesehatan raga terbang ke angkasa. Semoga kedamaian jiwa senantiasa membersamai beliau yang jauh di sana. Suara beliau mulai terdengar bening dan jernih lagi. Cerah senyuman yang menebar, terdengar dari bentang kata yang beliau rangkai menjadi kalimat. Bercurhat ria dengan sepenuh hati, mendekatkan kita serasa berhadapan. I miss you so much, wahai Ibunda sayang. Meskipun jauh di mata, Ibunda senantiasa ada di hati. Ya Rabb, tolong jaga beliau selalu tetap dalam lindungan-Mu. Aamiin.

Seiring dengan pergerakan mentari pagi yang semakin meninggi, bertemankan canda tawa dan percakapan burung-burung yang menyanyikan kebebasan, saya kembali ke  halaman ini. Untuk memberaikan beraneka rasa yang saat ini sedang menaungi ruang jiwa. Masih tersisa kerinduan pada beliau di sana. Ada banyak harapan yang beliau titipkan. Banyak doa yang beliau alirkan, dari waktu ke waktu. Beraneka jenis kepercayaan yang beliau sematkan dan sampaikan. Terutama satu pesan penting yang seringkali beliau sampaikan, “Tolong ingat mati, ya Nak…!.” Karena selama kita mengingatinya, maka kita akan lebih siap menghadapi. Bukankah persiapan yang matang adalah jalan bagi kita untuk kembali mau memunculkan harapan akan hasil yang lebih baik lagi?

Kicauan beburung masih terdengar jelas. Bergantian, mereka mengeluarkan nada-nada terbaik dari pita suara yang mereka bawa. Karena dengan mengeluarkan suara terindah, akhirnya kita tahu bahwa saat ini ada burung-burung di sekitaran. Kalau mereka tidak melakukan hal yang serupa, mana kita tahu, kalau ternyata mereka sedang bercengkerama dengan sesamanya.  Aku hanya menyimak saja, setiap bait yang meluruh satu persatu. Melalui nada yang tertata, beburung tiada henti bersuara. Entah apa yang mereka perbincangkan. “Menghibur sayakah? Semoga,” suara jiwa.

Memang, ada kata yang sebenarnya ada, namun tidak mampu terucapkan oleh bibir yang menyapa. Juga, ada suara yang terdengar, namun tidak selamanya ia meresonansi lewat daun telinga, sebelum akhirnya menabuh gendang telinga. Yah! Suara-suara yang tidak terkatakan, lebih baik kita tuliskan saja, yaa. Agar, tidak luput ia dari perhatian kita. Karena ia ada, karena ia menyapa, karena ia ada untuk menemui kita. Suara jiwa.

Berulangkali kicauan beburung terdengar oleh indera pendengaran ini. Mungkin ada pesan yang ia tebarkan untuk sesiapa saja yang menyempatkan waktu untuk menyimak pesan-pesan itu. Lalu, bagaimana dengan kita? Bukankah segala yang ada di sekeliling kita, adalah ciptaan-Nya yang menjadi bahan pelajaran bagi kita. Bukankah tiada yang tercipta dengan tanpa makna. Termasuk pula beraneka suara yang tidak mampu tersuarakan. Ia ada.

Baiklah, pada catatan yang ke empat ratus lima ini, saya hanya ingin melanjutkan kisah tentang perjalanan diri. Wah! Are you sure? Ini berarti, sudah tiga puluh lima buah catatan yang karakternya lebih dari dua ribu dua belas yang tercipta ya..  ? Aaaaaaa, surprised!  Memang sengaja, saya menghitung mundur. Dari total catatan sebanyak empat ratus empat puluh buah, ia mesti tercipta sebelum saya berganti katepe, tahun depan. Setelah dipikir-pikir, ini buat apa ya? Ai! Kembali saya berpikir. Lalu, dari mana saya mendapatkan ide untuk menulis semua itu? Bagaimana pula dengan temanya? Apakah ia akan menjadi sebuah novel? Ataukah hanya catatan bebas yang menebar dari hari ke hari, sesuai dengan suara hati? Ataukah, dunia akan menjadikannya sebagai salah satu referensi atas bukti keberadaan diri ini, bersamanya? Oh, suatu mimpi yang indah. Padahal masih pagi, teman. Apapun jadinya nanti, semua itu tidak akan pernah terjadi, kalau tidak bermula dari catatan hari ini. So, “Lebih baik kita tersenyum saja, yuukss  jemari,” sebuah suara kembali mengingatkan jemari yang terus saja memijit tombol demi tombol ini. Oh, namanya tuts, yaa.😀 Jemari yang berhiaskan sebuah cincin kemenangan. Cincin sebagai prasasti persahabatan kami di sini. Semoga, ia juga ikut menikmati dan menyaksikan bagaimana ujung dari catatan ini nanti. Ya, ketika catatan sampai pada angka satu. Kapan yaa? Mari kita terus menghitung mundur.

Bukan waktu yang sebentar kiranya, untuk meraih mimpi hingga ia menjadi nyata. Bukan juga usaha yang biasa saja, rupanya, untuk dapat menciptakan sebuah prasasti yang paling kokoh dari hari ke hari. Ada banyak sapa yang menitikkan pesan, berbagai suara yang terdengarkan. Ada banyak wajah yang berpapasan dengan diri, juga beraneka hikmah yang sedang menebar. Semua itu adalah bukti bahwa kehadiran kita diperhitungkan. Kalau bukan untuk menyampaikan suara hati, engkau tidak akan pernah mengenali siapa diri ini. Kalau bukan untuk menjadi lebih bermanfaat, aku tidak akan pernah ada di sini.

Apakah kehadiran catatan demi catatan ini mengusik kehidupanmu, teman? Apakah semua ini berarti bagimu? Bagaimana dengan selembar wajah yang mengeksiskan diri? Di sini, dari halaman ini saya sangat ingin memberikannya kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi. Berpikirlah, pikirkanlah. Engkau bukan siapa-siapa, hanya insan yang inginkan hidupmu berarti. So, tersenyumlah sayang, setelah solusi itu ada. Tidak baik berlama dalam pikiran yang sama. Memberikan kesempatan untuk berpikir yang lain lagi, adalah salah satu solusi. Bagaimana kalau saat ini, kita berpikir tentang berbagi? Ya, berbagi meski suara hati.

 Sebuah suara yang terdengar tadi, mengajak saya untuk meneruskan perjalanan ini. Berehat terlalu lama, hanya akan membuat pikiran kita terlarut oleh rasa. Berpikir terlalu lama, menjadikan kita tidak mampu melakukan apa-apa. Hanya berpikir, tanpa berusaha, apalah artinya. Berpikir saja, tanpa mengajukan tanya, maka kita belum akan sampai pada tujuan yang kita inginkan. Selama kita mau bertanya, maka jalan yang baru siap menyambut kita. Ya, berpikirlah, lalu bertanya. Maka senyuman yang lebih indah, menjadi sahabat yang sangat setia.

“Kami hanya ingin, kalian menanyakan apa yang belum diketahui, itu saja,” sebuah suara yang terdengar baru saja, membangunkan ketenangan jiwa kami, segera.

“Allah menitipkan akal yang menjadi pembeda kita dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Maka gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Kalau tidak tahu, maka bertanyalah, maka kita akan menjadi tahu,” suara yang sama kembali terdengar, namun dengan nada yang lebih rendah.

Sesuap demi sesuap, saya melanjutkan bersantap. Menulis sambil sarapan, itulah yang saya lakukan saat ini. Ya. That’s right, true, yes sure. It’s yummyyyyy…😉

Untuk memberi gizi pada akal yang sedang berpikir, kita membutuhkan ilmu pengetahuan. Sedangkan raga yang mengajak kita untuk melangkah, juga perlu memperoleh gizi yang baik. So, sarapan pagi adalah salah satu pilihan yang dapat menjadi jalan semangatnya raga dalam melangkah. Ai! Ini adalah rahasia bagi para sahabat yang melakukan aktivitas dengan kebugaran. Ketika sarapan pagi dijalankan, maka tidak ada lagi pikiran untuk makan saat menjalankan aktivitas, serius. Nah! Inilah pentingnya sarapan pagi. Karena energi baru akan kita miliki lagi, dengan sarapan pagi.

Ketika akal pikiran dan raga telah kita cukupkan keperluannya. Masih ada satu lagi sahabat kita yang perlu mendapatkan perhatian kita setiap hari. Ya, hati. Bahkan, setiap saat kita perlu menanyainya,  “Lagi apa friend.”  Apakah kita menyadari keberadaan hati dan akal yang sedang membersamai kita kapanpun, kemanapun? Apakah kita merasakan kehadirannya setiap kali kita menjalankan aktivitas? Mereka yang kita bawa ke mana-mana, juga perlu kita tanyai.

Bertanya dan menanyakan adalah salah satu jalan hadirkan senyuman.  Karena dengan bertanya, kita menjadi tahu apa saja yang sebelumnya tidak kita ketahui. Kalau kita ingin tahu, ya, bertanya dong.

Teman, catatan saat ini masih belum selesai. Oleh karena itu, ia akan kembali saya lanjutkan pada kesempatan terbaik. Berhubung saat ini telah tiba waktunya untuk melakukan aktivitas yang lain lagi, maka saya sampaikan terima kasih atas kesempatan waktu yang engkau habiskan selama berada di sini, untuk menyimak curhatku. Hohooo… Semoga pada kesempatan yang indah itu, kita dapat pula berjumpa dan saling bertanya tentang banyak hal. Agar pikiran kita senantiasa plong dan segar bugar setelah bertanya. Betulkah begitu?

Oke, saat ini, waktu terus bergerak maju. Sedangkan jadwal selanjutnya telah menunggu. Untuk itu, tolong maafkan atas segala khilafku. Buatmu sahabat, yang pernah saya kenali di dunia maya ini, mungkin kita tidak akan pernah bertemu di alam nyata. Namun demikian, sebagai sahabat saya sangat ingin bersama-sama denganmu pada hari yang telah Allah janjikan pada paragraf awal tadi. Ya, semoga kita dapat bersua untuk berreuni di sana yaa. Aku akan selalu merindukanmu, sampai pertemuan itu datang.

Sebelum saya menutup catatan saat ini, ada sebait tanya terlintas di dalam pikirku saat ini,

Siapakah engkau yang saat ini sedang berkunjung di halaman diariku?

Siapakah namamu?

Di mana tempat tinggalmu?

Apakah engkau baik-baik saja?

Selamat beraktivitas yaa, good luck selalu.

Selamat menjalani hari yang tentu saja perlu lebih baik lagi dari hari kemarin, yaa.

Oke, see you.

***

Beberapa jam kemudian…

Coba kamu kirim kapan trus kamu gak monitor harus diingatkan saja terus.
Saya kan sudah amanahkan ini supaya dibereskan. Kalau tidak saya tanya kamu juga lupa.

Yani kamu tidak bisa begitu terus terhadap semua pekerjaan yang saya berikan.
Tolong lebih perhatian dan fokus.

Lima buah kalimat yang sukses menjadi jalan menetesnya mutiara-mutiara kehidupan, membasahi kedua pipiku (lagi), hari ini. Ai!

Terkadang, kita sangat tidak ingin untuk melihat lagi apapun itu, yang telah terjadi. Terkadang memang… memang begitu inginnya, (saya). Lha, kok bisa, yaa. Menurutmu gimana, teman? Apakah engkau juga pernah mengalami hal yang seperti ini? Ya, seperti yang terkadang saya alami itu, lho. Hohoo…

Namun, walau bagaimanapun, yang terjadi telah terjadi. Apabila kita ingin menghapusnya, tentu tidak akan bisa. Ia telah memprasasti. Akhirnya, meninggalkannya adalah pilihan. Begitu pula halnya dengan apa yang telah menjadi dan ada. Ia akan selamanya ada. Untuk menghilangkannya, juga tidak semudah membalik telapak tangan. Hanya saja, kita bisa mengakalinya. Karena Allah menitipkan kita akal. Akal yang menjadi pembeda kita dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Kalau ia terlihat, kita bisa menutup mata, darinya. Kalau ia terdengar, kita bisa menutup indera pendengaran. Namun, kalau ia terasa? Ai! Memang tidak mudah untuk menghilangkannya.  Syahdu.  Lalu, bagaimana pula halnya dengan apapun itu yang teringat? Padahal terkadang kita sangat tidak ingin untuk mengingatnya. Wah! Inilah dilema, (kata saya).  Dilema yang memenuhi ruang pikir. Ia hadir menemui diri ini. Astaghfirullaahal’adziim.

Mengapa semua ada? Apakah karena dengan adanya hal yang begitu, hidup kita menjadi terasa  hidup, ya? Dan masing-masingnya membawa warna tersendiri. Baik yang terlihat, tapi kita terkadang tidak ingin melihat. Yang terdengar dan terkadang kita sangat tidak ingin mendengarnya. Termasuk yang terasa, rasa yang terkadang kita sangat ingin tidak bersamanya. Begitu pula dengan yang terpikir. Ketika terkadang kita tidak ingin memikirkannya, tiba-tiba saja ia hadir. So sweet.  Haru yang bercampur dengan entah apa lagi namanya, hinggap begitu saja di ruang pikir.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s